Demi tidak dijual pada pria beristri, Sienna Anindita nekat melakukan prosedur bayi tabung. Baginya, kehamilan adalah menuju kebebasan. Namun, kesalahan medis fatal mengubah hidupnya menjadi incaran maut. Benih yang tertanam di rahimnya ternyata milik Kalendra Elson, pemimpin sindikat Black Lotus yang kejam dan impoten. Sienna tidak tahu bahwa benih itu seharusnya sudah dimusnahkan. Dia juga tidak tahu bahwa bayi yang dilahirkannya memiliki kembaran yang kini berada dalam dekapan sang mafia.
"Kau pikir bisa lari setelah mencuri sesuatu dariku, Sienna?" desis Kalendra dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak mencurinya, dan anak ini bukan milikmu!"
Bagi Kalendra, siapa pun yang membawa darah dagingnya hanya punya dua pilihan: tunduk atau lenyap. Namun, ia tidak menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukanlah menghadapi musuh bebuyutan, melainkan menghadapi Rayna, putri kecilnya yang bermulut pedas. Kontras dengan kembarannya, Rayden, yang anti bau dan takut serangga.
"Om belisik telus kayak knalpot motol Bunda. Layna sumpel ya mulutnya pakai kaus kaki Layna yang belum dicuci kalo ndak belhenti malahin Bunda!”
“Lihat mataku, Rayna. Aku adalah alasan kau ada di dunia ini. Aku ayahmu."
"Ayah Layna sudah lama pelginya. Om jangan ngaku-ngaku ya, nanti didatangi hantu Papa asli bisa bikin Om kencing di celana. Om pulang saja, mandi yang belsih, bau ikan salden tau ndak?”
Di antara bayang-bayang maut Black Lotus dan rahasia masa lalu, akankah ia berhasil menjinakkan putri kecilnya dan menaklukkan hati es Sienna? Ataukah Sienna akan jatuh ke pelukan Mahesa yang sudah siap menjadikannya istri ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu
Di depan rumah bertingkat dua dengan halaman yang asri itu, motor Scoopy Sienna akhirnya terparkir. Udara sore Jakarta terasa sedikit lebih sejuk di area ini. Sienna segera turun, lalu membantu Rayden melepas helm dan merapikan rambut bocah itu yang sedikit berantakan.
“Rumah siapa ini, Tante?” tanya Rayden polos, matanya yang cerdas menyapu arsitektur rumah yang tampak hangat dan terawat.
“Sahabat Tante yang tadi telepon,” jawab Sienna singkat.
“Untuk apa datang ke sini? Mau bertamu, Tante?” tanya Rayden lagi, rasa penasarannya seolah tak kunjung padam.
“Iya, sekalian juga melihat seseorang yang sudah lama tidak pernah Tante temui,” jawab Sienna lirih. Ia meletakkan tangan di dadanya, mencoba meredam degup jantung yang kian kencang. Lima tahun ia menghindar, lima tahun ia mengasingkan diri, dan kini ia telah kembali ke titik di mana segalanya dimulai.
“Ayo, sini kita masuk dulu.”
Sienna mengulurkan tangan. Rayden sempat terdiam sejenak, menatap telapak tangan Sienna dengan saksama seolah sedang menimbang sesuatu.
“Hm, kenapa diam? Tangan Tante bau ya?” goda Sienna sambil membalikkan telapak tangannya yang bersih.
Bocah anti kotor itu menggeleng cepat. Tanpa ragu, ia menyambut uluran tangan Sienna dan menggenggamnya erat sambil tersenyum lebar. Sebuah keajaiban bagi seorang Rayden Elson; ia sama sekali tidak merasa perlu mengeluarkan tisu antiseptiknya. Baginya, tangan Sienna terasa hangat dan seperti tempat paling aman di dunia.
Sienna balas tersenyum, hatinya menghangat melihat senyum Rayden yang begitu tulus. Mereka pun melangkah bersama menuju pintu yang sedikit terbuka.
Tok Tok…
Sienna mengetuk perlahan. Tak butuh waktu lama sampai seorang wanita yang sedikit lebih tua muncul dari dalam. Begitu mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti berputar.
“Sienna?” suara wanita itu bergetar hebat.
“Caitlin!”
Kedua wanita itu langsung berpelukan erat, melepas rindu yang selama ini tertahan. Tangis haru pecah seketika di ambang pintu. Caitlin mendekap Sienna seolah takut sahabatnya itu akan menghilang lagi. Untungnya, Harris bersedia memberikan nomor baru Sienna hingga ia bisa menarik sahabatnya itu pulang ke pelukannya.
“Aku pikir kau sudah lupa padaku, Sie,” isak Caitlin sambil mengusap air matanya. “Dari mana saja kau selama ini? Kenapa hilang tanpa kabar?”
“Maaf, Cat. Waktu itu keadaanku sangat sulit. Aku tidak ingin kau ikut terseret ke dalam masalahku,” tutur Sienna dengan suara parau. Air matanya pun ikut tak terbendung.
Setelah suasana sedikit tenang, perhatian Caitlin teralih pada sosok kecil yang berdiri tegak di samping Sienna. Ia mengerutkan kening, menatap wajah Rayden yang terasa sangat familiar di matanya.
"Sie... siapa anak ini? Wajahnya... dia mirip sekali denganmu. Apa dia anakmu?" tanya Caitlin sukses membuat Sienna bungkam. Jika dilihat lebih dekat, bocah itu memang memiliki kemiripan yang nyata dengan dirinya—dan juga Rayna.
"Ini Eden. Aku menemukannya tersesat di restoran. Ceritanya panjang," Sienna menjelaskan singkat, meski dalam hati ia sendiri merasa ada ikatan aneh yang sulit ia jelaskan terhadap bocah ini.
“Kata Harris, kau melahirkan anak perempuan, tapi di mana dia?” tanya Caitlin, akhirnya mengalihkan tatapannya dari Rayden.
“Aku tinggalin dia di rumah. Dia terlalu lelah sampai tidak bisa bangun lagi,” jawab Sienna teringat putrinya yang tadi terlelap pulas.
Caitlin menatap Rayden sekali lagi dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu ia teringat tujuan utamanya memanggil Sienna ke sini.
"Sie, syukurlah kau datang sekarang. Ada seseorang yang harus kau temui. Dia sudah menunggumu sejak lama," bisik Caitlin serius.
Caitlin mengajak mereka masuk ke dalam ruang tengah yang nyaman. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan gurat wajah yang sangat lembut sedang duduk di kursi goyang sambil menatap ke luar jendela. Rambutnya sudah banyak memutih, namun auranya sangat tenang.
"Tante..." panggil Caitlin pelan.
Wanita itu, Scarlett, menoleh perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Sienna, tangannya yang memegang buku mulai gemetar hebat. Sejak Sienna hilang lima tahun lalu, Scarlett memutuskan pergi dari rumah keluarga Holland yang kejam. Ia kemudian diajak tinggal bersama Caitlin sambil menunggu kepulangan putrinya. Di sana, Scarlett tidak hanya tinggal cuma-cuma, ia juga membantu Caitlin mengasuh anaknya sebagai bentuk balas budi.
Mata Scarlett dan Sienna beradu. Keheningan menyergap, hanya suara detak jantung mereka yang seolah berlomba dengan air mata yang mulai mengenang.
Mata Scarlett berkaca-kaca, air matanya luruh membasahi pipi yang mulai berkerut. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit dari kursi goyangnya dan menghampiri Sienna. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh wajah putrinya dengan penuh keraguan, seolah takut sosok di depannya hanyalah bayangan.
“Sienna... putriku,” isak Scarlett pecah. Ia langsung menarik Sienna ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah ingin menebus lima tahun yang hilang dalam sekejap.
Sienna menangis sejadi-jadinya di bahu sang ibu. Rasa rindu, sesak, dan luka yang ia pendam selama di New York tumpah ruah. Rayden yang berdiri di samping mereka hanya bisa terdiam, tangannya masih menggenggam ujung baju Sienna, menatap pemandangan itu dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu.
Perlahan, Scarlett melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap memegang erat kedua pundak Sienna.
"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu yang pengecut ini," ucap Scarlett dengan suara parau. "Selama ini Ibu hanya bisa diam melihat Holland dan Marisa menyiksamu. Ibu terlalu lemah untuk menolongmu saat itu. Ibu tidak punya keberanian untuk melawan mereka..."
Sienna menggeleng cepat, ia mengusap air mata ibunya. "Tidak, Bu. Sienna tidak pernah menyalahkan Ibu. Sienna tahu betapa kejamnya mereka."
"Sekarang Ibu sudah lepas dari mereka, Sie," lanjut Scarlett dengan binar mata yang lebih tegas meski masih basah. "Sejak kau pergi, Ibu sadar bahwa bertahan di rumah itu hanya akan membunuh Ibu secara perlahan. Ibu memilih pergi, meninggalkan kemewahan palsu itu. Ibu tidak butuh apa-apa lagi selain bertemu denganmu."
Scarlett menarik napas panjang, wajahnya berubah sedikit getir saat teringat rumah terkutuk itu. "Hanya Marisa yang masih di sana. Nenekmu itu... dia tetap tinggal di rumah Holland tanpa rasa malu sedikitpun, menikmati semua harta haram itu seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada kita. Dia benar-benar tidak punya hati."
Sienna mengepalkan tangannya. Nama Marisa selalu membawa luka tersendiri baginya. Nenek yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi sosok paling dingin yang pernah ia temui.
Tiba-tiba, Scarlett menyadari keberadaan sosok kecil yang sedari tadi memperhatikan mereka. Ia menunduk, menatap Rayden yang tampak rapi dengan jas mininya. Scarlett terpaku. Ia mengerjapkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Sienna... anak ini..." Scarlett berbisik, jarinya menunjuk ke arah Rayden. "Dia... kenapa wajahnya sangat mirip denganmu? Garis matanya, bibirnya... dia benar-benar seperti dirimu saat masih kecil."
Sienna menoleh ke arah Rayden, lalu kembali menatap ibunya. "Ini Eden, Bu. Aku menemukannya di restoran. Dia... dia bilang tidak punya ibu."
Scarlett berjongkok di depan Rayden, menatap mata bocah itu dalam-dalam. "Eden... siapa nama lengkapmu, Sayang?"
Rayden terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara khasnya yang tenang namun berwibawa.
"Rayden Elson, Nenek."
"Elson?!" gumam Caitlin kaget. "Sie, jangan bilang dia putra dari keluarga Elson yang memimpin Black Lotus itu?"
Belum sempat Sienna menjawab, suara deru mesin mobil yang sangat bising terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah Caitlin. Lampu sorot mobil-mobil itu menembus jendela, membuat suasana rumah yang hangat mendadak berubah mencekam.
Daddy...
kelen kali