Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Mati Sang Naga
Langkah berani Bagas menolak tawaran Darwin Adi wangsa segera berbuah simalakama. Hanya dalam waktu tiga hari, surat-surat sakti dari kementerian mulai berjatuhan ke meja operasional perusahaan logistik tempat Bagas bekerja. Izin bongkar muat untuk beberapa klien besar di Pelabuhan Tanjung Priok mendadak ditangguhkan dengan alasan "audit teknis". Kontrak-kontrak strategis yang sedang disusun Bagas untuk pasar nasional mendadak diputus secara sepihak oleh vendor yang takut dengan pengaruh Darwin.
Bagas duduk di ruang kerjanya yang kini terasa sesak oleh tekanan. Ia melihat satu per satu rekan kerjanya di Jakarta mulai panik. Mr. Khan di Dubai terus menelepon, menanyakan mengapa operasional di Indonesia mendadak lumpuh.
"Bagas, I trust you, but the board is screaming. Mereka bilang kamu terlalu vokal melawan orang-orang di kementerian. Bisnis butuh kompromi, Bagas," suara Mr. Khan terdengar sangat tertekan.
Bagas hanya menatap layar laptopnya. "Kompromi dengan mereka artinya membiarkan kanker ini terus tumbuh, Sir. Jika saya mundur sekarang, semua anak SMK yang saya janjikan masa depan bersih akan melihat saya sebagai pengecut."
Sore itu, saat Bagas sedang merapikan berkas-berkasnya dengan perasaan gundah, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadinya. Isinya hanya sebuah alamat kedai kopi tua di daerah terpencil di Jakarta Utara dan sebuah instruksi “Datang sendiri. Jam 7 malam. Bawa nyali, jangan bawa gengsi. – B.”
Kedai kopi itu sangat sederhana, tersembunyi di balik tumpukan kontainer bekas. Di sudut ruangan yang remang, Pak Baron duduk dengan kaos polo sederhana, jauh dari kesan mewah saat ia masih menjadi bos galak di PT. Global dulu.
"Duduk, Gas," ujar Pak Baron tanpa menoleh. "Kamu sudah buat keributan besar. Darwin itu bukan macan, dia itu ular. Macan kalau marah teriak, ular kalau marah diam tapi bisanya membunuh pelan-pelan."
"Saya hanya melakukan yang benar, Pak," jawab Bagas tegas.
Pak Baron terkekeh, suara tawanya kering. "Benar saja tidak cukup di negeri ini, Gas. Kamu butuh peluru. Kamu tahu kenapa saya dulu bisa bertahan lama jadi pimpinan meski saya galak? Karena saya tahu rahasia orang-orang seperti Darwin."
Pak Baron menggeser sebuah flashdisk kecil di atas meja kayu yang berdebu.
"Isinya adalah data audit rahasia sepuluh tahun lalu saat Darwin masih menjadi direktur di perusahaan swasta sebelum masuk pemerintahan. Dia melakukan skema transfer pricing dan penggelapan pajak triliunan rupiah. Saya menyimpannya sebagai jaminan pensiun saya agar mereka tidak berani mengusik saya. Tapi melihat kamu sekarang... saya rasa data ini lebih berguna di tangan anak muda yang mau bertempur daripada di laci orang tua yang tinggal menunggu waktu."
Bagas menatap benda kecil itu dengan tangan gemetar. "Kenapa Bapak kasih ini ke saya?".
Pak Baron menatap mata Bagas dalam-dalam. "Karena saya dulu pernah merendahkanmu. Saya pernah bilang kamu nggak punya masa depan. Sekarang saya mau bayar kesalahan itu dengan memastikan masa depanmu tidak dihancurkan oleh orang yang lebih buruk dari saya."
Keesokan harinya, Bagas tidak pergi ke kantor. Ia meminta pertemuan darurat satu lawan satu dengan Darwin di sebuah ruangan VIP restoran hotel. Darwin datang dengan wajah penuh kemenangan, mengira Bagas datang untuk berlutut dan meminta ampun.
"Sudah menyerah, Bagas? Sulit ya bernapas kalau oksigennya saya tutup?" ujar Darwin sambil menyesap cerutunya.
Bagas tidak membalas sindiran itu. Ia hanya meletakkan tabletnya di meja, menampilkan grafik aliran dana dari sepuluh tahun lalu yang sangat detail. Nama Darwin tercantum jelas di sana, bersanding dengan tanda tangan yang sangat ia kenali.
Wajah Darwin yang tadinya cerah mendadak pucat. Cerutunya hampir jatuh dari sela jarinya.
"Dari mana kamu dapat ini?" desis Darwin, suaranya kini tidak lagi merdu, melainkan penuh ancaman yang bergetar karena takut.
"Itu tidak penting," jawab Bagas dengan nada yang sangat dingin dan tenang nada yang ia pelajari dari bertahun-tahun menghadapi auditor internasional. "Yang penting adalah: Dalam satu jam ke depan, semua izin operasional perusahaan saya harus kembali normal. Semua kontrak yang Bapak putus harus dipulihkan. Dan satu lagi... Bapak harus mundur dari komite seleksi vendor pelabuhan."
Darwin menggebrak meja. "Kamu mengancam saya?! Kamu tahu siapa saya?!"
"Saya tahu siapa Bapak," potong Bagas. "Bapak adalah orang yang sepuluh tahun lalu mencuri uang negara. Jika data ini sampai ke KPK atau media, bukan cuma jabatan Bapak yang hilang, tapi anak Bapak yang dulu masuk kerja pakai 'jalur orang dalam' itu juga akan malu seumur hidup."
Pertarungan mental itu berlangsung sangat intens. Darwin mencoba menggertak, namun Bagas tetap diam, menatap mata Darwin tanpa berkedip.
Bagas menyadari, orang seperti Darwin hanya kuat karena mereka merasa tidak ada yang berani melawan. Begitu mereka bertemu orang yang tidak bisa dibeli dan punya kartu as, mereka runtuh seperti bangunan dari kartu remi.
"Baik," bisik Darwin akhirnya. "Kamu menang untuk kali ini, Bagas. Tapi jangan pikir ini berakhir di sini."
"Bagi saya ini sudah berakhir, Pak," jawab Bagas sambil berdiri. "Saya tidak mau jabatan Bapak. Saya hanya mau Bapak menjauh dari jalan saya dan jalan anak-anak muda yang ingin bekerja dengan jujur. Selamat siang."
Bagas keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega yang luar biasa. Sore harinya, semua hambatan operasional perusahaannya mendadak hilang. Izin-izin yang tadi ditangguhkan kini keluar dengan status "Prioritas".
Bagas pulang ke rumah, disambut oleh Ibu dan Bapak yang sedang duduk di teras. Bapak sedang membersihkan sisa las di tangannya.
"Gimana, Gas? Ularnya sudah jinak?" tanya Bapak seolah sudah tahu apa yang terjadi.
Bagas duduk di lantai teras, menyandarkan kepalanya di kursi Bapak. "Sudah, Pak. Ternyata ular itu kalau dipukul pakai kebenaran, suaranya nggak lebih keras dari cicak."
Ibu mengusap rambut Bagas. "Kamu hebat, Gas. Tapi ingat, jangan pernah jadi ular yang sama di masa depan."
Bagas memejamkan mata. Ia menang satu babak lagi. Namun ia tahu, di dunia ini, kemenangan atas satu musuh seringkali mengundang perhatian musuh yang lebih besar. Di Dubai, Mr. Khan sedang menyiapkan sebuah kejutan Sebuah tawaran untuk Bagas memimpin ekspansi perusahan ke Amerika serikat.
Bagas dihadapkan pada pilihan Terus membangun Indonesia dari dalam dengan risiko politik yang tinggi, atau terbang ke New york untuk menjadi eksekutif global di pusat ekonomi dunia. Di saat yang sama, Tiara kembali muncul dan memohon bantuan Bagas karena ayahnya terlilit hutang pada jaringan bisnis Darwin! .