NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : (WARNING 21+) Tanpa nama - Tanpa harga diri

Udara di kamar itu sudah tidak lagi terasa seperti oksigen, melainkan api yang membakar paru-paru. Raka mencoba mengatur napas, namun setiap inci kulit Bela yang bergesekan dengan tubuhnya justru memicu ledakan adrenalin yang lebih hebat. Raka benar-benar menggila. Wanita ini—yang namanya pun belum ia tahu—adalah perwujudan fantasi yang selama ini ia tekan. Tubuhnya, rintihannya, hingga caranya menuntut sentuhan, semuanya adalah tipe Raka sekali.

"Sialan... lo taruh di mana barangnya, bangsat?!" Raka menggeram rendah, tangannya mengacak laci nakas mencari pengaman yang tak kunjung ketemu. Suaranya parau, berat oleh gairah yang sudah di ujung tanduk.

Namun, Bela tidak memberinya waktu untuk berpikir. Di bawah kendali obat yang meracuni kesadarannya, ia merayap naik dan mengunci leher Raka, menarik pria itu kembali ke dalam pusaran gairah. Raka kehilangan kendali. Persetan dengan pengaman, persetan dengan aturan. Ia ingin memiliki wanita ini sepenuhnya, sekarang juga.

Dalam satu gerakan impulsif, Raka menyambar ponselnya di atas meja. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia ingin mengabadikan setiap detik kehancuran dan keindahan ini. Ia menyandarkan ponselnya di antara tumpukan buku di atas nakas, mengarahkan lensanya tepat ke arah ranjang, lalu menekan tombol *record*.

Kamera itu kini menjadi saksi bisu betapa buasnya Raka malam itu. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Bela, mengarahkan miliknya yang sudah menegang hebat ke gerbang keintiman wanita itu yang sudah basah dan siap. Tanpa basa-basi lagi, Raka menghujamkan dirinya masuk dalam satu dorongan kuat yang dalam.

"Auhh!" Bela memekik, tubuhnya melengkung kaku saat merasakan benda tumpul dan besar itu merobek paksa pertahanannya.

Raka tertegun sejenak. Ia merasakan hambatan yang nyata, sebuah selaput tipis yang baru saja ia terjang hingga hancur. Ia menarik diri sedikit, dan matanya menangkap bercak merah yang kontras di atas sprei putih yang berantakan.

Darah.

"Shit! Dia perawan?" Raka mengumpat rendah, rahangnya mengeras. Jantungnya berdegup kencang antara rasa bersalah dan sensasi luar biasa yang ia rasakan. Namun, panas yang menjalar di tubuh Bela membuatnya tak bisa berhenti. Bela justru menarik pinggang Raka lebih dekat, memohon dengan igauan yang tidak jelas agar Raka kembali mengisinya.

Melihat Bela yang begitu bernafsu di bawah pengaruh obat, Raka kembali bergerak. Kali ini lebih liar dan kasar. Ia memastikan kamera ponselnya menangkap setiap detail: wajah Bela yang mendongak dengan mata sayu penuh gairah, jemari Bela yang mencengkeram sprei, hingga bagaimana tubuh mereka beradu dengan suara yang nyaring.

Raka membawa tubuh Bela ke sofa beludru di sudut ruangan, posisi yang jauh lebih terbuka di bawah sorot lampu yang memperjelas setiap detail lekuk tubuh wanita itu. Hasrat Raka benar-benar mencapai titik didih. Selama ini, dia selalu bertanya-tanya seperti apa rasanya mencicipi langsung pusat gairah seorang wanita, namun baru kali ini ia merasa menemukan subjek yang begitu "pas" hingga ia tak tahan untuk tidak menenggelamkan wajahnya di sana.

Sambil tetap memegang ponsel untuk memastikan setiap sudut erotis ini terekam, Raka membuka lebar kedua paha Bela. Matanya menggelap melihat pemandangan di depannya.

"Tembem banget punya lu, enak dijilat. Gue masukin lidah sekarang, hmmm..." gumam Raka dengan suara parau yang penuh damba.

Awalnya ia hanya memberikan kecupan-kecupan ringan di sekitar pangkal paha, menggoda saraf-saraf Bela hingga wanita itu menggeliat tak karuan. Namun, rasa penasaran Raka menang. Ia menjulurkan lidahnya, menyapu lembut sebelum akhirnya memberikan jilatan panjang yang tegas dari bawah ke atas. Bela memekik, kepalanya terlempar ke belakang, sementara kakinya mencengkeram bahu kokoh Raka.

Tak puas hanya di permukaan, Raka menekan wajahnya lebih dalam, memaksa lidahnya masuk menyusup ke dalam liang yang masih menyisakan jejak darah dan pelumas alami. Suara decapan basah memenuhi kesunyian kamar itu, terekam jelas dalam video yang sedang diambilnya. Bersamaan dengan itu, Raka menyusupkan jari tengahnya. Meski terasa sangat sempit dan menjepit, ia menekannya perlahan hingga akhirnya jemari itu amblas sepenuhnya ke dalam lubang Bela.

Raka melakukan serangan ganda; lidahnya dengan lihai mempermainkan 'kacang' Bela dengan gerakan melingkar yang cepat, sementara jari tengahnya mengacak-acak bagian dalam yang hangat itu dengan tempo liar. Bela benar-benar *ngefly*, dunianya seolah meledak. Ia meracau tidak jelas, tubuhnya gemetar hebat sebelum akhirnya cairan bening menyembur seperti air terjun, membasahi wajah dan lidah Raka yang masih setia di sana.

Raka mendongak sebentar, menyeringai puas menatap lensa kamera sebelum beralih ke bagian atas tubuh Bela. Ia tidak menyia-nyiakan payudara Bela yang begitu indah di matanya. Puting merah muda yang menegang itu seolah memanggil untuk disiksa.

"Uhhh... dada lu berisi banget sial! Kenyal banget kayak jeli," umpat Raka, suaranya makin berat oleh nafsu yang tak kunjung padam.

Raka seolah kehilangan sisa-sisa kemanusiaannya, berganti menjadi sosok pemburu yang mendapati mangsa paling lezat dalam hidupnya. Sambil terus menghisap puting Bela dengan rakus, tangan kirinya meraih tangan mungil Bela yang terkulai lemas di atas sofa. Ia menarik jemari halus itu ke bawah, memaksa tangan Bela untuk melingkari senjatanya yang masih berdiri kokoh, berdenyut keras menuntut balasan.

"Kocok, sayang... jangan cuma diem," bisik Raka dengan suara rendah yang serak tepat di telinga Bela, sebelum ia mendaratkan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil di sepanjang leher jenjang wanita itu.

Bela, yang sudah benar-benar kehilangan kendali atas akal sehatnya akibat racun kimia di darahnya, hanya bisa mengikuti komando Raka. Ia merasakan betapa besar dan panasnya benda yang ia genggam. Jemarinya mulai bergerak naik turun secara naluriah, memberikan gesekan yang membuat Raka memejamkan mata dan mendongak, menikmati sensasi yang luar biasa nikmat itu. Semua adegan ini tersorot jelas oleh lensa kamera ponsel Raka yang masih setia merekam setiap sudut kemesraan yang penuh dosa tersebut.

"Ahhh... masukin lagi... please, masukin..." Bela meracau, tubuhnya melengkung meminta kepuasan yang lebih dalam. Suara memohon itu seperti bensin yang menyiram api di dalam dada Raka.

Raka tertawa nakal, sebuah seringai bejat menghiasi wajahnya yang tampan. "Sabar, cantik. Kita belum selesai."

*Plak!*

Raka memberikan tamparan keras di pantat Bela yang padat, menciptakan suara yang menggema dan meninggalkan bekas telapak tangan yang memerah di sana. Tanpa membuang waktu, ia menarik tubuh Bela agar bangkit dari posisi tidurnya.

"Nungging," perintah Raka singkat, namun penuh otoritas militer yang tak terbantahkan.

Bela patuh. Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang menipis, ia memposisikan dirinya menungging di atas sofa beludru yang empuk itu. Dari posisi ini, Raka bisa melihat dengan jelas pemandangan yang paling ia sukai: lekukan punggung yang sempurna dan bagian bawah yang terbuka lebar menantangnya.

Raka memposisikan senjatanya yang sudah berurat di depan lubang Bela yang masih basah kuyup. Dalam satu hentakan kasar yang bertenaga, ia memasuki Bela lebih dalam dari sebelumnya. "Ughh, sempit banget sial! Lu bener-bener bikin gue gila!" umpat Raka saat ia mulai memacu gerakannya dengan ritme yang lebih cepat, mengabaikan segala rasa bersalah, hanya demi menuntaskan dahaga yang membara di bawah rembulan malam itu.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!