"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS PERTAHANAN SATYA
Satya membelokkan mobil ke area pom bensin yang cukup luas. Begitu mobil berhenti di posisi yang agak tersembunyi dari pantauan jalan raya, Satya mematikan mesin dan menoleh ke belakang.
"Lima menit ya, Mbak. Saya pura-pura cek tekanan ban di luar sambil jaga situasi," bisik Satya sebelum keluar dan menutup pintu dengan rapat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa senang bercampur takut, Nadine menekan tombol panggil pada kontak Ghava. Hanya dua nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.
"Halo, Na? Kamu bisa bicara?" suara rendah Ghava terdengar sangat jernih di telinga Nadine. Ada nada kerinduan sekaligus keterkejutan yang nyata di sana.
"Mas... iya, aku bisa bicara sebentar," jawab Nadine, ia tak bisa menahan senyumnya meski matanya berkaca-kaca. "Aku cuma mau bilang... semangat buat sidangnya lusa. Aku tahu Mas pasti bisa lewati ini semua."
Terdengar helaan napas lega dari seberang telepon. "Suara kamu benar-benar penenang buat saya, Na. Rasanya semua beban sidang besok hilang seketika. Kamu gimana di sana? Mas Surya nggak curiga?"
Nadine melirik Satya yang sedang berjongkok di dekat ban depan sambil memperhatikan sekitar dengan waspada. "Ada rekan Mas Surya yang jaga aku sekarang, namanya Mas Satya. Tapi Mas jangan khawatir, dia... dia orang baik. Dia yang bantu aku supaya bisa telepon Mas sekarang."
"Syukurlah," balas Ghava. "Jaga diri kamu baik-baik di sana. Begitu masalah Selya selesai, saya akan ke Bandung. Saya nggak mau lagi sembunyi-sembunyi begini. Saya mau minta izin resmi ke Kakak kamu untuk bawa kamu kembali, atau setidaknya... untuk bisa nemuin kamu tanpa rasa takut."
"Iya, Mas. Aku tunggu. Aku harus tutup ya, takut Mas Surya curiga kalau kelamaan," ucap Nadine saat melihat Satya memberikan kode ketukan kecil di kaca jendela.
"I love you, Na. Tunggu saya."
Nadine menutup telepon tepat saat Satya masuk kembali ke mobil. Jantungnya masih berdebar kencang, tapi kali ini debarannya terasa manis.
"Aman, Mbak?" tanya Satya sambil mulai menjalankan mobil kembali. "Mukanya langsung segar gitu kalau habis dengar suara kesayangan."
Nadine tersipu malu. "Makasih banyak ya, Mas Satya. Ini berarti banget buat aku."
Suasana lobi kantor Amara yang tadinya tenang mendadak tegang. Suara melengking Selya menarik perhatian beberapa staf yang mulai berbisik-bisik. Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, ia tampak seperti badai yang siap menghancurkan ketenangan yang baru saja Nadine bangun.
"Saya tahu dia di sini! Jangan coba-coba sembunyiin asisten amatir itu dari saya!" seru Selya lagi, menggebrak meja resepsionis.
Di dalam mobil, Nadine membeku. Tangannya dingin. Trauma saat kepalanya terluka akibat ulah fans fanatik yang dipicu oleh Selya kembali terlintas. Namun, sebelum Nadine sempat bereaksi lebih jauh, Satya yang tadinya santai langsung berubah menjadi sosok yang sangat dingin dan berbahaya.
"Mbak Nadine, tetap di dalam mobil. Kunci pintunya dari dalam," perintah Satya. Suaranya tidak lagi jenaka; itu adalah suara seorang perwira yang sedang bertugas.
Satya keluar dari mobil, merapikan kemejanya, dan berjalan dengan langkah tegap menuju lobi. Ia masuk tepat saat Selya hendak berteriak lagi.
"Mohon maaf, Mbak. Ada masalah apa ya sampai teriak-teriak di kantor orang?" tanya Satya tenang namun mengintimidasi. Ia berdiri tepat di depan Selya, menghalangi pandangan wanita itu ke arah parkiran.
Selya menatap Satya dari atas ke bawah. "Kamu siapa? Satpam baru? Saya mau ketemu Nadine. Bilang sama dia, jangan merasa menang karena Ghava belain dia di TV kemarin!"
Satya tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak terlihat ramah. ia mengeluarkan kartu identitasnya dengan gerakan pelan. "Saya Satya, anggota kepolisian yang bertugas memastikan tidak ada gangguan keamanan di sekitar sini. Mbak Selya, kan? Sepertinya Mbak lupa kalau Mbak sedang dalam status terlapor di Jakarta. Datang ke sini dan membuat keributan bisa memperberat posisi Mbak di sidang lusa."
Wajah Selya memucat seketika di balik makeup tebalnya. Ia tidak menyangka Nadine dikawal oleh polisi sungguhan.
"Saya... saya cuma mau bicara!" kilah Selya, suaranya mulai bergetar.
"Bicaralah di pengadilan lusa, bukan di sini," potong Satya tegas. Ia memberi isyarat ke arah pintu keluar. "Sekarang, silakan pergi sebelum saya panggil tim patroli wilayah sini untuk menjemput Mbak atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan."
Nadine melihat dari balik kaca mobil bagaimana Selya berbalik arah dan pergi dengan langkah terburu-buru karena malu dan takut.
Selya berhasil diusir, tapi ancamannya nyata! Amara keluar dari gedung dengan wajah khawatir dan menghampiri mobil. Sementara itu, Satya kembali ke mobil dan menatap Nadine.
"Dia nggak akan berani balik lagi hari ini, Mbak," kata Satya. "Tapi sepertinya dia makin nekat karena terpojok soal sidang lusa."
Satya berdiri di sudut parkiran yang agak sepi, matanya terus waspada mengawasi pintu masuk kantor Amara. Ia mengeluarkan ponsel pribadinya, mencari nomor yang tadi sempat ia lirik dari daftar panggilan Nadine. Ia tahu ini berisiko, tapi ia juga tahu bahwa jika masalah ini meledak di tangan Mas Surya, hubungan Nadine dan Ghava akan tamat selamanya.
Panggilan itu diangkat pada nada kedua.
"Halo, saya Satya. Rekan Kompol Surya yang menjaga Nadine," ucap Satya tanpa basa-basi.
Di Jakarta, Ghava yang baru saja selesai latihan vokal langsung memberi isyarat pada manajernya untuk keluar ruangan. Suaranya terdengar tegang. "Satya? Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Nadine?"
"Maaf kalau saya lancang menghubungi Anda," lanjut Satya sambil menurunkan suara. "Selya baru saja datang ke sini. Dia membuat keributan di lobi kantor mencari Nadine. Saya sudah mengusirnya, tapi ini peringatan buat Anda. Kalau Selya sampai buat kekacauan lagi dan Komandan Surya tahu, dia nggak akan segan-segan mengunci Nadine di rumah atau memindahkan tugasnya jauh dari sini."
Satya menjeda sejenak, memberikan penekanan pada kalimat berikutnya. "Kalau Anda memang serius sama Mbak Nadine, tolong urus 'sampah' Anda di Jakarta. Jangan sampai imbasnya kena ke sini. Kalau dia buat kekacauan lagi, Anda dan Mbak Nadine nggak akan bisa sama-sama nanti. Komandan Surya bukan tipe orang yang memberi kesempatan ketiga."
Ghava terdiam di seberang telepon. Rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka Selya senekat itu sampai mendatangi Bandung. Rasa bersalah sekaligus amarah bergejolak di dadanya.
"Terima kasih, Satya. Saya hargai informasi ini," jawab Ghava dengan nada dalam dan dingin. "Saya akan pastikan lusa adalah akhir dari semua gangguan Selya. Tolong... tolong jaga Nadine dua hari ini. Jangan sampai setetes pun air matanya jatuh karena wanita itu."
"Itu tugas saya," balas Satya singkat sebelum mematikan telepon.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰