"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA DIGITAL DAN MALAM YANG DIBELI
Malam di kediaman Zhang tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu taman yang otomatis menyala saat senja tenggelam memberikan siluet kebiruan yang dingin pada dinding marmer kamar Alya. Namun, di dalam kamar itu, suasana terasa mencekam. Alya duduk di tepi tempat tidur, mengenakan gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat—pilihan Chen Yiren yang menurutnya terlalu tipis, hampir transparan di bawah cahaya lampu tidur.
Malam ini adalah malam yang ditentukan oleh kalender medis Mei Lin. Malam masa subur.
Pintu kamar terbuka. Tidak ada ketukan. Zhang Liang masuk dengan masih mengenakan kemeja kerja yang kancing kerah atasnya sudah terbuka. Ia tampak lelah, namun matanya tetap tajam dan waspada. Ia tidak menyapa. Ia hanya menutup pintu dan menguncinya dari dalam—sebuah suara klik logam yang bagi Alya terdengar seperti pintu sel penjara yang ditutup rapat.
"Kau sudah minum ramuan sore tadi?" suara Liang rendah, bergema di ruangan yang sunyi.
"Sudah, Mas Liang," jawab Alya pelan, jemarinya meremas kain gaun tidurnya.
Liang mendekat. Ia berdiri di depan Alya, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak ada gairah di sana. Hanya ada kalkulasi. "Ini bukan tentang cinta, Alya. Kau tahu itu sejak awal. Jangan berharap ada kelembutan yang tidak perlu."
Alya mendongak, matanya yang besar berkaca-kaca. "Saya tahu. Saya hanya... saya hanya takut."
Liang menghela napas panjang, sebuah gerakan yang hampir menyerupai rasa kasihan namun segera ia tepis. Ia mengulurkan tangan, menyentuh rahang Alya, memaksanya untuk menatapnya. "Rasa takutmu tidak akan menghasilkan ahli waris. Jadilah penurut, maka semuanya akan cepat selesai."
Malam itu, Alya belajar bahwa sentuhan tanpa cinta adalah bentuk kekosongan yang paling menyakitkan. Liang memperlakukannya seperti sebuah kewajiban yang harus diselesaikan secepat mungkin. Di tengah pergulatan batin itu, Alya hanya bisa menatap langit-langit kamar, membayangkan wajah ibunya agar ia kuat bertahan. Ia merasa jiwanya terlepas dari tubuhnya, mengambang di pojok ruangan, melihat dirinya sendiri menjadi korban dari kontrak yang ia tanda tangani demi keselamatan keluarganya.
Di sisi lain kota, di sebuah gedung pencakar langit yang dipenuhi dengan layar monitor dan server yang berderu pelan, seorang pria duduk dengan segelas kopi hitam di tangannya. Han Zhihao, sang jenius teknologi dan pilar ketiga dari Naga Timur, sedang menatap sebuah layar khusus.
Layar itu menampilkan denah kediaman Zhang yang dipenuhi titik-titik sensor suhu dan gerakan. Sebagai orang yang memasang seluruh sistem keamanan di rumah Liang, Zhihao memiliki akses "pintu belakang" yang bahkan tidak diketahui oleh Liang sendiri.
Ia melihat titik panas di kamar sayap kiri. Dua sosok manusia di sana.
"Jadi, kau benar-benar melakukannya, Liang," gumam Zhihao. Suaranya datar, namun jemarinya yang memegang gelas bergetar sedikit.
Zhihao telah melihat Alya melalui kamera pengawas di taman siang tadi saat Wei Jun mengobrol dengannya. Ada sesuatu pada wajah Alya yang terekam dalam resolusi tinggi 4K—sebuah kemurnian yang jarang ia temukan dalam dunia kode dan data yang dingin. Bagi Zhihao yang terobsesi pada simetri dan kesempurnaan, Alya adalah anomali yang indah.
Ia menekan sebuah tombol, memperbesar tangkapan layar dari rekaman CCTV sore tadi. Wajah Alya saat tertawa kecil mendengarkan burung di taman muncul di layar raksasanya.
"Terlalu cantik untuk hancur di tangan keluarga Zhang," bisik Zhihao pada kegelapan ruangannya.
Zhihao bukan tipe pria yang akan memberikan kartu nama seperti Wei Jun. Ia adalah pengintai. Ia mulai meretas sistem ponsel yang diberikan Liang kepada Alya. Dalam hitungan detik, ia memiliki akses ke setiap pesan, setiap foto, dan bahkan mikrofon ponsel itu. Ia ingin "menjaga" Alya dengan caranya sendiri—sebuah bentuk obsesi diam-diam yang mungkin lebih berbahaya daripada ketertarikan terang-terangan Wei Jun.
Keesokan paginya, Alya merasa tubuhnya remuk. Namun, ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Chen Yiren sudah berdiri di depan kamarnya dengan daftar jadwal baru.
"Bangun. Nyonya Mei Hua ingin kau menemaninya ke rumah sakit untuk sesi kemoterapinya," ucap Yiren dengan nada memerintah.
Alya mandi dengan terburu-buru, mencoba menghapus sisa-sisa aroma Liang dari kulitnya. Di dalam mobil menuju rumah sakit, Mei Hua duduk di samping Alya, menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
"Bagaimana semalam, Alya?" tanya Mei Hua dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Liang tidak terlalu kasar padamu, kan? Dia terkadang sulit mengontrol emosinya saat stres."
Alya menunduk. "Mas Liang... baik, Kak."
Mei Hua mengusap tangan Alya, namun matanya menatap tajam ke arah jendela. "Dia melakukannya demi kita, Alya. Demi keluarga ini. Oh, lihatlah... aku merasa sangat lemah hari ini. Mungkin setelah ini kau bisa membantuku meracik teh di dapur khususku? Ada ramuan baru yang harus kau coba juga."
Alya hanya bisa mengangguk patuh. Ia tidak tahu bahwa setiap sesi "kemoterapi" yang dijalani Mei Hua hanyalah sandiwara. Di dalam ruang perawatan VIP, Mei Hua hanya akan tidur atau membaca majalah sementara Dr. Kelvin Huang mengisi kantung infus dengan vitamin dan cairan saline biasa.
Saat mereka keluar dari rumah sakit, seorang pria bertubuh besar dengan pakaian santai namun rapi mencegat mereka di lobi. Pria itu adalah Luo Cheng, pilar keempat Naga Timur yang dikenal temperamental dan sangat loyal.
"Mei Hua, kau tampak... sehat untuk orang yang sedang kemo," ucap Luo Cheng dengan nada sarkastik. Matanya segera beralih pada Alya yang berdiri di belakang Mei Hua. "Dan siapa ini? Mainan baru Liang?"
Mei Hua tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat elegan. "Jangan kasar begitu, Cheng. Ini Alya, istri kedua Liang. Dia sedang mengandung masa depan keluarga Zhang."
Luo Cheng melangkah maju, membuat para pengawal Mei Hua waspada. Ia menatap Alya dengan pandangan yang sangat intens, seolah ingin menembus kepolosan gadis itu. "Istri kedua? Liang benar-benar sudah gila. Gadis semuda ini kau jadikan tumbal?"
Alya tersentak mendengar kata "tumbal".
Luo Cheng mendekat ke telinga Alya, mengabaikan tatapan tajam Yiren. "Dengar, Kecil. Jika pria-pria di rumah itu mulai menyakitimu, cari aku. Aku tidak suka melihat orang lemah ditindas oleh mereka yang merasa punya segalanya."
Luo Cheng pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan kebingungan yang semakin mendalam di hati Alya. Dalam satu hari, ia telah menarik perhatian tiga pria paling berpengaruh di lingkaran suaminya.
Kembali ke rumah, Mei Hua membawa Alya ke sebuah dapur kecil di sudut tersembunyi kediaman Zhang. Di sana, Mei Hua mulai mencampurkan beberapa bubuk ke dalam air mendidih.
"Alya, kau tahu kenapa aku memilihmu?" tanya Mei Hua tanpa menoleh.
"Tidak, Kak."
"Karena kau bodoh," ucap Mei Hua dengan suara yang sangat tenang namun tajam. "Gadis pintar akan banyak bertanya. Gadis pintar akan mencoba mencuri hati Liang. Tapi kau... kau hanya ingin menyelamatkan ibumu. Dan itu membuatmu mudah untuk dikendalikan."
Mei Hua memberikan cangkir teh itu pada Alya. "Minum. Ini akan memastikan kau tidak akan pernah punya keberanian untuk melawan aku."
Alya menatap cairan di dalam cangkir itu. Ia merasa ada sesuatu yang salah, namun ia merasa terjebak. Ia menoleh ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, tidak tahu bahwa di tempat lain, Han Zhihao sedang melihat kejadian itu melalui layarnya dengan tangan mengepal.
Alya meminum teh itu. Rasanya pahit, namun ada sensasi dingin yang merambat ke otaknya, membuatnya merasa sedikit linglung. Mei Hua tersenyum, mengusap pipi Alya dengan lembut. "Anak pintar. Sekarang, pergilah istirahat. Besok kita akan mulai persiapan untuk upacara keluarga."
Di kamarnya, Alya menangis pelan. Ia merasa dunianya semakin sempit. Di satu sisi ada Liang yang dingin, di sisi lain ada Mei Hua yang manipulatif, dan di luar sana ada tiga pria yang menatapnya dengan penuh motif tersembunyi. Ia merasa seperti domba kecil di tengah kawanan serigala yang sedang berpesta.