NovelToon NovelToon
Asisten Magang TUAN MESUM

Asisten Magang TUAN MESUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Balas Dendam
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,

Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.

Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,

"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,

Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.

Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Tuan Max

Niel Maxime, pria berusia 32 tahun. Saudara tiri Ragil Sidney, sang pewaris sekaligus direktur perusahaan Sidney.

Ayah Ragil menikahi seorang janda anak 1 yang berusia tak jauh berbeda dari putrinya. Namun sebuah kecelakaan mobil membuat Ragil dan ayahnya tewas,

Polisi mengatakan jika ada sabotase yang menyebabkan kecelakaan. Berita itu sempat gempar sampai masuk berita koran, menuduh jika ibu tiri Ragil dalangnya.

Untuk membersihkan tuduhan dan melindungi nama baik putranya. Dia rela menandatangani surah perjanjian, jika mereka tidak berhak mengambil sepeserpun aset keluarga Sidney, dan hanya menjaga aset tersebut sebagai wali sampai pewarisnya mencapai umur dewasa.

Sampai akhirnya Reta tumbuh menjadi anak manja yang tiba-tiba minta dinikahkan dengan pria tanpa asal usul jelas.

Demi cintanya, dia tega mengusir Max dan ibunya, memutus hubungan keluarga mereka. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu, Reta hanya mendengar kabar jika Max menjadi pengusaha di luar negeri.

Sampai tiba di saat akhir hidupnya. Reta baru menyesal, setiap penghinaan yang dia berikan, Max masih sudi menghadiri pemakaman Reta.

Di kehidupan dulu, rasa kerinduan terhadap Max membuat Reta enggan menandatangi surat alih kuasa. Karena memang sejak kecil dia berharap Max lah yang meneruskan perusahaan,

Namun terlambat, nyatanya setelah kematian Reta, seuruh aset keluarga telah beralih ke tangan suaminya.

Sebab Ryan Bimantara berhasil menyerahkan surat ahli waris dengan tanda tangan Reta yang telah dipalsukan.

Tujuan Max kembali, hanyalah ingin merebut kembali aset milik keponakannya.

Max rela mendirikan perusahaan baru dan untuk menjalin kerja sama,

Bertindak seperti ikan teri, tanpa mereka ketahui bahwa pria itu adalah pemilik perusahaan global yang namanya terkenal luas di negara tetangga.

TANIL sebuah perusahaan global, bergerak dalam bidang teknologi informasi dan elektronika.

"Catatan apa saja yang kamu berikan padanya?" celetuk Max,

Melirik datar pria yang tengah sibuk mengatur jadwal pertemuan.

"Hm?" Fero menoleh, berhenti menekan papan keyboard lalu menutup ambang laptop putihnya.

"Cuma catatan biasa. Seperti barang kebutuhan, jadwal, dan beberapa aturan penting saat menemani anda."

"Soal alergiku pada bawang putih...apa kamu juga menambahkan itu ke dalam catatan?"

"Oh ya, saya lupa! HH?! A-apa terjadi sesuatu saat makan malam kemarin?" sontak Fero terbelalak,

Melewatkan hal sederhana yang cukup penting, terlebih lagi mereka sempat keluar berdua demi keperluan pekerjaan.

"Tidak ada. Lanjutkan saja kerjamu,"

Max beranjak pergi meninggalkan ruang, kakinya melangkah menuju pantry. Berusaha menenangkan pikiran kalut yang menganggu,

"Dari mana dia tahu?"

Gumaman itu terhenti, saat berbalik masuk ke dalam ruang. Mendapati gadis sederhana yang tengah duduk, menyesap gelas minuman di tangan.

Wajah polos Ana menerbitkan senyum kecil, sambil menghela nafas lega, bersandar santai pada bangku empuk.

"Hh!" Max terkejut,

Matanya membulat sempurna, mengenali gelang manik mata biru yang pernah dia berikan pada seseorang.

Sebagai hadiah ulang tahun, model dan rantai gelang yang sama. Tidak mungkin hanya sebuah kebetulan,

GREP!

"Kenapa kamu bisa memakai gelang ini?!" tegur Max menarik kasar lengan Ana,

Membuat gadis itu berdesis kesakitan. "His...apa yang bapak maksud?"

"Jangan pura-pura bodoh. Gelang ini! Ini gelang yang sama...beraninya kamu memakai gelang ini,"

Dengan spontan Max melonggarkan pengait guna melepas, berusaha merebut paksa gelang tadi. Rautnya tampak kesetanan,

"Cepat, kembalikan gelang ini kepadaku."

"Aw...sakit! Lepaskan," seru Ana menggeliat menarik paksa tangannya.

"Berikan gelang ini kepadaku. Atau kupatahkan tanganmu?" ancam Max,

Giginya menggertak geram, menatap lekat manik hitam Ana.

"Tidak mau. Ini hadiah dari seseorang,"

Ana menolak, menyembunyikan lengannya sendiri dalam pelukan.

"Bohong! Aku sendiri yang membelikannya untuk Reta saat ulang tahunnya yang ke 20. Kamu pasti mencurinya!"

"Kak Reta sendiri yang memberikannya kepadaku!" sanggah Ana, membalas pria yang terus membentak.

Mengepalkan tangan, memberanikan diri guna menyadarkan Max yang tampak berlebihan.

"Padahal cuma gelang. Ga kusangka, dia masih inget gelang ini..." batin Ana mengusap lembut gelang di tangannya,

"Apa maksudmu? Kenapa Reta memberikan gelang itu kepadamu..."

"Waktu itu, kakak saya membawa teman-temannya ke rumah."

"Di sana lah, Kak Reta memberikan gelang ini."

"Katanya mata biru ini bisa menghalang energi negatif, dan membuat pemakainya terhindar dari nasib buruk."

Dia menunduk mengingat pertemuan pertama dengan Ana yang asli.

Dongeng mistis yang tak bisa dijelaskan logika. Ana masih tak menyangka jika takdir benar-benar membantunya kembali dari kematian,

"Leo Prawira..."

"Bapak tahu, kalau saya adik kak Leo?" sahut Ana terkejut mendengar nama yang atasannya sebutkan,

Ana tersenyum lega, mungkin dari awal Max hanya ingin bersikap profesional sebagai atasan.

"Kemarin saya tidak sengaja menemukan gelang ini di lemari. Saya ingat, gelang ini dilepas sama perawat saat kondisi saya memburuk dan harus dirujuk lagi."

"..." Max hanya diam.

Tak berani menatap, merasa bersalah sebab telah menuduh sembarangan bahkan bersikap kasar.

"Saya paham, Bapak baru saja kehilangan..." ujar Ana merendahkan suara,

"Tapi tidak baik kalau Bapak melampiaskannya dengan cara yang buruk,"

Bangkit dari duduk, membenahi roknya yang sedikit terlempit ke atas. Ana kembali mengusap pergelangan yang masih terasa panas,

"Kalau terlanjur berbuat, tak ada salahnya Bapak minta maaf karena sudah menyakiti saya..."

DEG!

"..." Max tertampar oleh nasehat gadis kecil,

Matanya mendongak mengikuti punggung yang telah pergi.

"Dasar setan tua." umpat Ana berjalan pelan menuju lift,

Menekan salah satu angka yang mengantarnya ke lantai bawah. Ana memanfaatkan sisa waktu istirahat guna pergi ke kantin,

"His...tenaganya kuat sekali, untung saja tanganku tidak patah." menekuk bibir,

TRING...

Pintu lift terbuka, segerombolan karyawati menjejal masuk ke dalam. Mereka tampak terburu-buru, mendepak Ana hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan,

Nyaris tersungkur, beruntung Ana sempat berpegangan. Satu dari mereka hanya melirik santai tanpa rasa bersalah,

"Hh...yang benar saja," batin Ana tersenyum sepat.

Menatap jengkel para wanita yang sibuk berceloteh.

"Kalian tahu kan, perusahaan Sidney? Katanya minggu depan Pak Direktur ada perjalanan bisnis bersama mereka!"

"Hah? Beneran? Dapet info dari mana?"

"Saudaraku ada yang kerja di perusahaan Sidney, dia yang ngasih info ke aku. Katanya sih mau ke Bali selama 3 hari..."

"Wah, berarti perusahaan kita bakal lebih maju ga sih? Bau-bau naik gaji nih...hahaha!"

Pembicaraan mereka mengundang rasa penasaran Ana. Tak menyangka kalau kerja sama mereka akan berjalan,

Sebab di pertemuan kemarin, Ana merasa telah melakukan kesalahan.

...----------------...

...FLASHBACK...

......................

Aroma manis memenuhi ruang, cahaya lilin serta gemerlap lampu yang tak menyilaukan, membuat suasana semakin tenang.

Di depan mereka baru saja terhidang masakan pesanan masing-masing.

Ana memilih menu sup ayam yang tak menambahkan bawang putih di dalamnya, juga seporsi bakpao kuah.

Sedangkan di depan, tampak pasangan lain memesan semua menu termahal di restoran. Sup sirip hiu, hidangan kepiting, bebek peking dan berbagai hidangan manis,

"Apa mereka yakin bisa menghabiskan semua ini?" pikir Ana menggeleng lirih,

Tak sanggup memandang pria yang begitu lahap, sedangkan wanita di sebelahnya masih kesulitan memakai sumpit.

"Lebih baik aku menutup mata, biar gak muntah..."

Ana menunduk menikmati pesanannya sendiri, dengan anggun dan rapi. Sangat lihai menggerakkan sumpit tanpa mejatuhkan secuil remahan,

Sikap tenangnya mengusik Syla. Membandingkan pada baju dan mejanya mulai dipenuhi noda,

"Biar saya bantu ambilkan," imbuh Ana tersenyum remeh.

Meraih tisu guna diberikan pada Syla yang tampak tertekan. Tak ingin dicap kampungan, segera dia menyeka noda di bajunya,

"Ehem..." Ryan berbenah sikap, menyeka kedua tangannya yang dipenuhi makanan.

Menyadari perbedaan, saat melihat Max duduk tegap menyuap setiap makanan tanpa tumpah.

Ryan melirik sekilas piring temannya. "Apa yang kamu pesan? Bakpao?"

"Apa enaknya...di jalanan juga bayak yang menjual bakpao seperti ini,"

Tak sungkan merebut 1 bakpao dengan tangan telanjang, langsung dijejalkan masuk ke dalam mulutnya.

"HAH?! Hah...panas sekali," pekik Ryan seketika melepeh.

"Pft..." Ana tak mampu menahan tawa,

"Namanya juga bakpao kuah. Anda tidak bisa langsung memakannya,"

Dengan kelembutan Ana menunjukkan, menggunakan sumpit lalu membuat lubang kecil dipinggir bakpao.

"Lihat, di dalamnya ada kuah panas." imbuh Ana merendahkan suara,

"Aneh sekali. Masa pria kaya seperti anda, belum pernah makan bakpao kuah..."

1
Lili
Untung cuma om tiri naa😍🤣
Anonymous
Tuan Maxime😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!