NovelToon NovelToon
My Sexy Daddy

My Sexy Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / One Night Stand / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Careerlit
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.

Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.

Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.

Farris Delaney.

Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.

Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.

୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Date

...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...

Aku jalan naik ke arah perusahaan balet, menarik jaketku lebih rapat buat mengusir udara dingin yang menyerang Jakarta pagi ini.

Lebih dingin dari biasanya buat musim kayak begini, artinya musim hujan nanti bakal parah banget.

Tiba-tiba, mobil sport mahal dengan kaca gelap mengerem mendadak beberapa meter di depanku, dan saat pintu pengemudi terbuka, lalu seorang cowok keluar, aku langsung kaku.

Sial.

Farris.

Aku langsung memutar dan jalan secepat mungkin menjauh dari dia, tapi baru beberapa langkah, dia sudah lari ke depan aku. Dia menangkap lenganku, agak terlalu kencang buat selera aku.

"Akhirnya," ucapnya ngos-ngosan. "Aku kira aku enggak bakal lihat kamu lagi."

Ya, aku memang berusaha banget buat menghindari dia.

Aku lihat jari-jarinya yang melingkar di lenganku dan bilang, "Bisa lepasin aku?"

"Enggak!"

Jawabannya membuatku kaget dan langsung bikin dahi aku berkerut.

Farris melihat sekeliling, lalu detik berikutnya dia tarik aku menyebrang jalan ke arah Starbucks.

"Hei!" protesku.

"Temenin aku ngopi aja, habis itu aku lepasin kamu."

Aku menengok ke belakang ke arah mobilnya yang parkir di zona terlarang.

"Mobil kamu bakal diderek!" kataku, berharap bisa kabur dari ajakan ngopi karena aku harus bekerja.

"Aku enggak peduli," gumamnya.

Begitu masuk ke Starbucks yang hangat, aku ditarik ke sebuah meja dan hampir dilempar ke kursi.

Aku menatap Farris saat dia duduk di depan aku. "Kalau kamu nyakitin aku lagi, aku bakal tendang perkutut kamu pakai lututku!"

Di luar dugaan, dia malah tertawa geli. Matanya berkilat dengan tatapan jahil, membuatku merasa dia enggak menganggap serius ancaman aku.

"Kamu bukan cowok pertama yang bakal aku bikin bertekuk lutut!" gumamku sambil menyilangkan tangan di dada.

"Sayang, kalau aku bertekuk lutut di depan kamu itu karena aku lagi jilatin memew kamu, bukan karena kamu berhasil nakhlukin aku."

Anjing.

Mulutku terbuka dan aku cuma bisa melongo melihat ini orang dengan mulut kotornya.

Senyum menang melengkung di bibirnya. "Bagus. Sekarang aku udah dapat perhatian kamu, aku punya beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab."

Alisku naik dan akhirnya aku bisa ngomong lagi. "Apa yang bikin kamu yakin aku bakal jawab pertanyaan kamu?"

Tatapannya menyipit, dia serius waktu bilang, "Aku bakal ngiket kamu di kursi itu kalau perlu, tapi kamu enggak bakal pergi dari sini sampai aku dapat jawaban aku."

"Gila, ngatur banget?" Tubuhku santai di kursi dan aku lihat menu di dinding. "Aku mau cokelat panas." Mataku langsung ke meja kasir yang penuh berbagai jenis dessert enak. "Dan aku mau biskuit cokelat sama sepotong cheesecake. Dessert-nya buat dimakan nanti."

Aku mau kasih kue itu ke Nasrin buat mengucapkan terima kasih karena dia selalu ada di sisi aku, dan aku juga bisa saja bikin Farris yang bayar semuanya.

"Kalau kamu kabur, sumpah aku bakal jatuhin kamu!" ancamnya.

Aku melambai ke arah kasir. "Sana ambilin cokelat panas aku!"

Ada ekspresi capek di wajahnya waktu dia berdiri. Begitu dia jalan ke kasir, aku ambil HP dan cepat kirim pesan ke Cacha, satpam perusahaan.

...📩...

Eva: Aku bakal telat tiga puluh menit. Biskuit cokelat dari Starbucks buat kamu kalau kamu mau gantiin aku.

Aku lihat ke arah Farris yang lagi memesan, sebelum perhatian aku balik ke HP saat ada pesan masuk.

^^^Cacha: Aku urus.^^^

Aku simpan HP dan lihat Farris lagi. Baru sekarang aku berhenti sebentar buat menikmati pemandangan cowok itu. Walau aku menghindari dia, aku enggak bisa berhenti mikirin dia.

Atau ciuman kita.

Aku harus mengaku, ada bagian dari diriku yang merasa tersanjung banget karena dia kasih perhatian ke aku.

Saat dia balik ke meja bawa dua gelas dan dessert aku dalam kantong kertas, aku ambil gelasnya dan menyeruput minuman manis hangat itu.

Ya Tuhan, ini persis yang aku butuhkan.

Farris menambahkan gula ke espresso hitamnya dan bilang, "Pertanyaan pertama. Siapa nama kamu?"

Aku sempat kepikiran buat kasih nama palsu, tapi akhirnya aku bergumam, "Eva."

Senyum seksi melengkung di bibirnya. "Aku belum pernah ketemu orang dengan nama itu. Cocok buat kamu."

"Harusnya cocok. Aku bakal bawa nama ini seumur hidup." Aku mulai merasa enggak enak karena aku punya niat buruk, tapi memikirkan kerjaan dan enggak merusak penyamaran aku bikin stres aku meningkat.

Farris santai di kursinya, matanya menempel di wajahku, lalu bergumam dengan suara berat dan serak, "Eva."

Perutku langsung tegang sampai aku geser di kursi dan lihat ke mana saja, kecuali ke dia.

"Kamu tadi mau ke studio waktu aku berhentiin?" tanyanya.

Sial.

Aku cepat-cepat menggeleng. "Enggak, aku udah enggak ke sana lagi."

"Kenapa?"

Ya, karena aku harus kerja, lah.

"Ah … aku enggak punya waktu." Aku benci bohong, tapi bayar tagihan lebih penting daripada moral aku.

"Kenapa kamu hindarin aku?" tanyanya.

Mataku balik ke wajahnya yang ganteng banget. "Aku enggak hindarin."

Dia memiringkan kepala sambil bertanya lagi, "Kenapa kamu lari habis ciuman itu?"

Astaga, sial.

Aku langsung ngomong hal pertama yang muncul di kepala. "Karena pilihannya cuma lari atau langsung tidur sama kamu di lantai saat itu juga."

"Aku sih enggak masalah sama pilihan kedua." Mata Farris menyipit ke arah wajahku, sepertinya dia lagi mencoba melihat isi kepalaku. "Tapi kamu malah hindarin aku. Kenapa?

Karena kamu pemilik perusahaan tempat aku kerja.

Tekanan yang aku rasakan membuat tawa keluar dari bibirku, sementara aku coba memikirkan jawaban buat dia.

"Apa yang lucu?" tanya Farris.

Aku coba menahan tawa sambil menggeleng. "Ini kebiasaan aneh aku kalau lagi ada masalah atau merasa enggak nyaman."

"Kamu enggak lagi dalam masalah dan enggak kelihatan kayak orang yang gampang kikuk," katanya. "Ada alasan lain?"

Aku menyeruput cokelat panasku dan bergumam, "Bisa ganti topik?"

"Kamu masih utang jawaban ke aku!" Dia mengingatkan.

Sekarang aku sudah sempat mikir dan sadar aku enggak perlu bohong buat kasih tahu yang sebenarnya. "Aku hindarin kamu karena aku enggak lagi nyari hubungan santai."

"Siapa yang bilang hubungan santai?" tanya Farris.

Kesel sama semua pertanyaan dan karena aku harus bekerja, aku ambil kantong kertas, tapi sebelum aku bisa berdiri, Farris menangkap pergelangan tanganku.

"Aku harus pergi," kataku, nadaku tegang gara-gara pertemuan kecil ini.

"Aku bakal lepasin kamu kalau kamu kasih nomor telepon kamu!" pekiknya, mencoba bikin kesepakatan.

Aku mikir sebentar lalu menghela napas. "Oke."

Aku menunggu dia mengeluarkan HP dari saku sebelum aku menyebutkan nomor aku.

Aku kasih tatapan tajam ke tangannya yang masih melingkar di pergelanganku, lalu aku bergumam, "Kesepakatan tetap kesepakatan."

Saat dia melepasku, aku bertemu matanya sebentar, dan itu kesalahan, karena aku langsung merasakan tarikannya kuat banget.

"Aku bakal nelpon kamu secepatnya," katanya sambil mengambil gelas kopinya.

Aku tatap Farris beberapa detik lagi sebelum memutar dan buru-buru keluar dari Starbucks.

Begitu aku sampai trotoar, HPku langsung bunyi. Aku keluarkan dari saku, mengira Cacha yang nelpon buat menyuruhku mulai kerja. Tanpa lihat layar, aku jawab,

...📞...

"Hei."

^^^"Aku cuma mau mastiin kamu ngasih nomor yang benar sebelum kamu ngilang dari pandanganku!"^^^

Suara Farris terdengar di telingaku.

Aku menengok ke belakang dan lihat dia sedang memperhatikanku dari jendela.

"Oke. Dadah!"

Aku tutup telepon, masukkan lagi ke saku, lalu jalan secepat mungkin ke arah perusahaan balet.

Karena tahu Farris mungkin ke arah yang sama, aku lewat belakang, sambil kasih tatapan memohon ke kamera keamanan.

Semoga Cacha lihat aku di monitor.

Dan di sini, aku udah berusaha sebisa mungkin biar wajahku selalu tertutup dari kamera di sekitar gedung.

Tapi semua sia-sia.

Lima menit berlalu, aku takut kalau aku enggak punya pilihan selain lewat pintu utama.

Baru saja aku mau menjauh, pintunya terbuka dan Cacha bertanya, "Kenapa kamu pakai pintu ini?"

"Aku lagi hindarin seseorang." Aku masuk ke gedung dan mengeluarkan biskuit cokelat dari kantong kertas. "Nih, buat kamu."

"Pas banget sama waktu ngopi aku."

Aku lari ke ruang ganti karyawan dan cepat-cepat pakai celemek sama topiku.

Aku ambil troli bersih-bersih, aku cek apakah semua perlengkapan sudah ada, dan pas aku dorong troli ke arah auditorium aku bisa menghela napas lega.

Pikiranku langsung penuh sama bayangan interaksi aku sama Farris.

Ya Tuhan, aku sudah kasar banget sama dia.

Merasa enggak enak, aku ambil HP dan mengetik pesan cepat buat dia.

...📩...

Eva: Maaf kalau aku terlalu kasar. Kamu nemuin aku di momen yang lagi enggak pas.

Aku lihat dia langsung baca pesannya, lalu muncul tanda dia lagi mengetik.

^^^Farris: Setidaknya aku berhasil nemuin kamu.^^^

Senyum menarik bibirku.

^^^Farris: Makan malam bareng aku hari Jumat.^^^

Senyumku langsung hilang dan aku menatap pesan itu beberapa saat sebelum mengetik balasan.

Eva: Aku sibuk Jumat malam, tapi aku bisa kalau hari Minggu.

^^^Farris: Minggu cocok buat aku. Kirimin alamat kamu biar aku bisa jemput.^^^

Alisku naik dan aku geleng sambil jariku mengetik cepat di HP.

Eva: Aku enggak bakal ngasih tahu orang asing tempat aku tinggal. Kita ketemuan aja di suatu tempat.

^^^Farris: Jam enam sore di Yukhaejang.^^^

Aku belum pernah dengar tempat itu.

Aku cepat-cepat cari namanya di Google dan lihat ternyata itu restoran. Balik ke aplikasi pesan, aku kirim pesan lagi ke Farris.

Eva: Oke. Aku bakal datang.

^^^Farris: Biar enggak ada salah paham, ini kencan.^^^

Aku menatap kata-kata itu, antara merasa excited dan khawatir.

Kencan sama Farris Delaney.

Apa yang sedang aku lakukan?

1
Aditya hp/ bunda Lia
keluarga Marunda berkumpul dan Eva akan menjadi bagian nya nanti
Aditya hp/ bunda Lia
masa farris gak beliin baju?
Adellia❤
ya ampuun farriss ampe rela bersih" 😂😂
Adellia❤
sikap eva wajar bangett q yakin semua cewek polos yg enggak punya niat jahat akan bersikap sama kayak eva karna emang spt bumi dan langit minder pasti pesimis juga..
Adellia❤: hihi🤭🤭
total 4 replies
Adellia❤
duit emang bisa ngubah sikap orang😂😂
Adellia❤
enak bangett ya farrisss
Aditya hp/ bunda Lia
manisnya kaliaaaan ... 😍
Aditya hp/ bunda Lia
tuh kan farris gak apa-apa dia Nerima kamu apa adanya .... 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mati kalian .....
ollyooliver🍌🥒🍆
lanjuttt
Adellia❤
hujaan tapi panass🔥🔥
Adellia❤
mo sampai kapan vaa
Adellia❤
eva lagi jalan" di pulau kapuk😂😂
Adellia❤
yeeyyy enggak ada sif pagi tidur sampai besok evaa😂😂
Ita Putri
karya yg menarik Thor
JD penasaran Endingnya
DityaR 🌾: Hehe, maciii🙏
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
dingin gini ada yang panas 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: segelas teh manis
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
nyanyi dong Farris .... jatuh cinta berjuta rasanya .... ahay sang mafia akhirnya jatuh cinta
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... udah ada bodyguard bayangan Eva 👍
Adellia❤
Eva sekarang km aman termasuk dari sahara😂😂
Adellia❤
ngobrol ajah dulu iclik kemudian🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!