NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Sudut Pandang Rina

​Ibu mulai bercerita. Meskipun sudah tiga tahun berlalu, ingatan itu tidak memudar. Itu adalah noda terbesar dalam hidupnya.

​“...Hari itu, teman baikku berhasil memulai bisnisnya. Kami pergi ke rumahnya untuk merayakan. Aku memang membantunya sejak lama, jadi dia ingin berterima kasih. Tentu saja, aku sudah minta izin ayahmu.”

​“Tunggu sebentar! Ibu minum berduaan saja dengan laki-laki?!” potongku tajam.

​“E-eh... bukan itu!” Ibu buru-buru menyangkal. “Aku pergi ke rumah teman perempuanku, Kiki Susanti! Putranya sekelas dengan Rian, ingat?”

​Aku menghela napas. “Lalu bagaimana ceritanya Ibu bisa berakhir di hotel dengan laki-laki?”

​“Mulai dari sini... ceritanya akan terdengar sangat kekanak-kanakan dan memalukan bagi orang dewasa,” ucap Ibu sambil menunduk.

​Setelah meminum kopi buatan Ibu, aku memantapkan tekad untuk mendengar sisanya. Ternyata, karena mabuk berat, Ibu tidak sengaja memecahkan patung kesayangan putri Kiki. Mereka bertengkar hebat, dan Ibu yang sedang mabuk malah lari keluar rumah dengan perasaan marah.

​“Maaf, Bu, tapi ini jauh lebih memalukan dari bayanganku. Lari dari rumah orang hanya karena memecahkan barang? Kebiasaan minum Ibu memang yang terburuk!”

​Ibu menyesal sedalam-dalamnya. Sejak hari itu, dia tidak menyentuh alkohol setetes pun. Aku baru sadar sekarang alasan sebenarnya dia berhenti minum total.

​“Lalu, apa yang terjadi?”

​“...Aku sedang jalan pulang dengan marah saat dua laki-laki mendekatiku. Aku tidak ingat sisanya. Begitu sadar, aku sudah berada di dalam kamar hotel.”

​“Hah?! Itu penculikan!” seruku kaget.

​Ternyata mereka memasukkan obat tidur ke minuman Ibu saat dia sedang haus karena alkohol. Tapi, laki-laki itu salah pilih lawan. Ibu terbangun tepat sebelum mereka melakukan hal buruk. Dan karena Ibu adalah pemegang sabuk hitam karate, dia menghajar mereka habis-habisan.

​“Kenapa tidak lapor polisi?!”

​“Polisi tidak akan membantuku, Rina. Aku hampir membunuh salah satu dari mereka. Luka di wajahnya permanen. Aku menyerangnya membabi buta meski dia sudah minta maaf, jadi itu akan dianggap pembelaan diri yang berlebihan. Aku ketakutan.”

​Aku terdiam. Aku lupa kalau Ibu sebenarnya jauh lebih kuat dariku jika dia sedang sadar.

​“Laki-laki satunya lari. Aku mengejarnya sampai ke pintu keluar hotel, berniat menghajarnya lagi... dan tepat saat itulah, Rian berdiri di depanku.”

​Aku memegang kepala dengan kedua tangan. Timing yang sangat terkutuk. Sialnya lagi, malam itu ada festival, dan jalan di depan hotel itu adalah jalan pintas Rian untuk pulang. Semua kebetulan buruk ini menumpuk di satu waktu. Tapi yang paling parah adalah apa yang dilakukan Ibu setelahnya.

​“...Saat bertemu Rian, aku panik. Aku berbohong padanya.”

​“Bohong apa?”

​“Aku bilang aku akan membawa laki-laki itu ke polisi. Padahal sebenarnya aku ingin menyelesaikannya dengan kekerasan. Aku tidak mau Rian tahu kalau Ibunya baru saja menghajar orang sampai hampir mati. Aku ingin tetap terlihat sebagai Ibu yang baik... tapi Rian tahu aku berbohong.”

​Aku memejamkan mata. Itu kesalahan fatal. Berbohong di depan hotel dalam situasi seperti itu sama saja dengan mengakui perselingkuhan. Bagi Rian, kebohongan Ibu adalah konfirmasi dari kecurigaannya.

​Lalu Ibu menunjukkan ponselnya padaku. Aku nyaris tidak percaya melihat isinya.

​Ibu melaporkan setiap gerak-geriknya pada Rian setiap beberapa jam sekali. Foto lokasi, detail kegiatan, semuanya dikirimkan ke Rian demi membuktikan dia tidak berselingkuh lagi. Ini bukan lagi hubungan orang tua dan anak. Ini adalah hukuman yang Ibu buat untuk dirinya sendiri.

​“Rian sering menyuruhku berhenti, tapi aku tidak bisa. Aku sudah berjanji tidak akan mengadu pada Ayah atau siapa pun. Tolong, Rina... jangan benci Ibu. Aku hanya tidak ingin Rian membenciku lebih dari ini. Dia sudah tidak pernah tersenyum lagi padaku...”

​Ibu menangis tersedu-sedu di sampingku. Rasa marahku sirna, berganti dengan rasa iba yang mendalam. Ibu tidak selingkuh, dia hanya kurang cerdas dalam manajemen krisis dan terjebak dalam rasa bersalah yang akut.

​Kami berdiskusi sampai pagi, mencari jalan keluar yang tidak ada ujungnya. Begitu matahari terbit, aku langsung menuju kamar Rian.

​Aku duduk di tepi kasurnya, menatap wajah adikku yang sedang tertidur lelap. Hatiku perih membayangkan beban yang dia pikul sendirian selama tiga tahun ini. Aku mengusap kepalanya dengan lembut, penuh rasa bersalah karena tidak menyadarinya lebih awal.

​“--Hmm... Hah? Apa yang Kakak lakukan...?”

​Rian terbangun. Begitu melihatku sedang mengusap kepalanya dengan tatapan intens di keremangan pagi, dia tampak sangat ketakutan.

​“...K-Kak Rina? Kenapa menatapku seperti itu?”

​Saking kaget dan takutnya melihat ekspresiku yang mungkin terlihat "seram" karena habis menangis semalaman, adikku yang malang itu sampai sedikit mengompol di kasurnya.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!