Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Mengapa harus kamu Bara
Malam itu, Aluna masih belum bisa memejamkan mata. Ia berbaring meringkuk di atas tempat tidur, masih memeluk jaket milik Bara. Aroma parfum Bara yang tertinggal di sana seolah menjadi obat penenang, namun sekaligus racun yang membuatnya terus terjaga.
"Kenapa harus kamu, Bara?" bisiknya pada kegelapan kamar.
Ia frustrasi. Kenapa hatinya harus jatuh pada laki-laki yang justru mencoba "membuangnya" demi orang lain?.
Tiba-tiba, suara ketukan di pagar rumahnya memecah keheningan. Aluna mengintip dari balik tirai jendela. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Brian berdiri di sana. Dengan ragu, Aluna turun dan menemui Brian di teras rumah.
"Brian? Kok ke sini? Ini udah malem," tanya Aluna, berusaha menyembunyikan wajah sembabnya.
Brian tampak cemas. Ia menatap Aluna dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Maafin aku kalau ganggu, Lun. Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik saja. Tadi sore kamu lari gitu aja pas hujan, aku takut kamu sakit."
Aluna terdiam. Brian memang orang baik, dan itu justru membuatnya merasa semakin bersalah.
"Aku nggak apa-apa, Bri. Kamu harusnya nggak usah repot-repot," sahut Aluna lembut.
Brian menarik napas panjang, tatapannya berubah menjadi lebih serius. "Lun... soal yang tadi di sekolah. Aku boleh tanya satu hal?"
Aluna menahan napas. "Tanya apa?"
"Tolong jujur sama aku... Kenapa kamu nolak aku? Apa yang kurang dari aku sampai kamu bilang sudah mencintai orang lain?" tanya Brian dengan suara yang terdengar begitu terluka. "Siapa orang itu, Lun?"
Aluna mematung. Di balik punggungnya, ia meremas ujung jaket Bara yang masih ia kenakan—jaket yang belum sempat ia lepaskan. Ia ingin berteriak bahwa orang itu adalah Bara, sahabat Brian sendiri. Namun, ia tidak sanggup menghancurkan persahabatan mereka.
"Aku nggak bisa kasih tahu kamu, Bri. Maafin aku," bisik Aluna sambil menunduk.
Brian menghela napas berat, matanya tanpa sengaja tertuju pada jaket yang dipakai Aluna. Ia merasa jaket itu tidak asing, tapi ia mencoba menepis pikirannya. "Apa karena orang itu lebih baik dari aku? Apa dia yang kasih kamu jaket itu?"
Aluna semakin bungkam. Setiap pertanyaan Brian terasa seperti pisau yang menguliti kebohongannya satu per satu. Di kejauhan, dari balik kegelapan jalan, sepasang mata memperhatikan mereka dari atas motor. Itu Bara, yang ternyata diam-diam mengikuti Brian karena khawatir terjadi sesuatu.
Bara melihat dari kejauhan bagaimana gadis yang ia cintai sedang diinterogasi oleh sahabatnya sendiri, sementara gadis itu masih memakai jaket miliknya.
Udara malam yang dingin mulai menusuk, namun ketegangan di antara mereka terasa lebih membekukan. Aluna sudah tidak sanggup lagi menahan beban rahasia ini di depan Brian. Ia merasa lelah, bukan hanya fisiknya, tapi juga batinnya.
"Brian, aku minta kamu pulang ya," ucap Aluna, suaranya terdengar sangat letih. "Aku capek, aku mau istirahat."
Brian terdiam sejenak, menatap Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia belum mendapatkan jawaban yang ia cari. "Oke, aku akan pulang. Tapi tolong, kasih tahu aku... siapa orang yang kamu cintai, Luna?"
Aluna memejamkan mata rapat-rapat.
Pertanyaan itu terasa seperti serangan yang terus menerus menghantam lukanya. "Brian, sudah berapa kali aku bilang sama kamu..." Aluna menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. "Aku gak bisa kasih tahu kamu. Tolong kamu ngertiin perasaan aku, ya?"
Melihat mata Aluna yang berkaca-kaca dan nada suaranya yang memohon, Brian akhirnya luluh. Ada gurat kekecewaan yang sangat dalam di wajahnya, namun ia mencoba untuk tetap tegar.
Brian mengangguk pasrah. "Oke, kalau itu mau kamu... aku pergi."
Brian berbalik, langkah kakinya terdengar berat meninggalkan teras rumah Aluna. Ia tidak menoleh lagi. Aluna berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung Brian yang perlahan menjauh dan hilang di kegelapan malam.
Hati Aluna mencelos. Rasa bersalah seketika menghimpit dadanya. Ia tahu ia baru saja mematahkan hati orang yang sangat baik kepadanya. Ia melihat bagaimana Brian berjalan dengan bahu yang lesu, dan itu membuatnya merasa seperti orang paling jahat di dunia.
"Maafin aku, Bri," bisiknya lirih, meski ia tahu Brian tak akan mendengarnya.
Aluna masuk ke dalam rumah dan menutup pintu perlahan. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu, kakinya terasa lemas. Di saat seperti ini, ia kembali merapatkan jaket Bara ke tubuhnya. Di satu sisi ia merasa bersalah pada Brian, tapi di sisi lain, ia tetap tidak bisa membohongi hatinya sendiri bahwa hanya Bara-lah yang ia inginkan.
*********
Pagi itu, kelas terasa seperti ruangan tanpa udara. Aluna melangkah masuk dengan bahu yang terasa berat. Hal pertama yang ia tangkap adalah pemandangan yang tidak biasa. Brian dan Bara duduk di tempatnya masing-masing, namun tidak ada suara. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan . Hanya kesunyian yang dingin.
Aluna duduk di bangkunya, tepat di depan mereka. Ia bisa merasakan atmosfer yang mencekam di belakang punggungnya.
"Pagi, Lun," sapa Brian. Suaranya serak, khas orang yang tidak tidur semalaman.
Aluna menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Pagi, juga Bri."
"Gimana? Udah nggak kedinginan lagi?" tanya Brian, mencoba bersikap perhatian seperti biasa, meski matanya memancarkan luka yang dalam karena penolakan semalam.
"Udah nggak apa-apa kok," jawab Aluna singkat. Ia kemudian melirik Bara yang sejak tadi hanya diam menatap layar ponsel yang bahkan tidak menyala.
Aluna mengeluarkan jaket dari tasnya yang sudah dilipat sangat rapi. "Bar, ini... jaket kamu. Makasih ya buat kemarin."
Bara menoleh, matanya sempat bertemu dengan mata Aluna sejenak sebelum ia membuang muka dan mengambil jaket itu.
"Iya, santai aja."
Brian yang melihat itu hanya bisa menatap dalam diam. Ia ingat betul semalam Aluna memakai jaket itu saat mereka bicara di depan rumah. Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dada Brian melihat perhatian kecil Bara kepada Aluna, padahal ia sendiri sedang berjuang mendapatkan hati gadis itu.
"Bar," panggil Brian tiba-tiba, suaranya terdengar lebih berat.
"Kenapa?" sahut Bara datar.
"Makasih ya, kemarin udah jagain Aluna dan anterin dia pulang pas hujan deras," ucap Brian. Kalimatnya terdengar tulus, namun ada nada getir di sana. "Gue ngerasa gagal jadi cowok karena malah biarin dia pulang bareng lo, sementara gue nggak tahu dia kedinginan."
Bara tertegun. Ia meremas jaket di tangannya. "Gue cuma kebetulan ada di sana, Bri. Namanya juga sahabat."
Mendengar kata "sahabat" dari mulut Bara, Aluna merasa hatinya seperti diremas. Ia segera berbalik badan, menghadap ke depan kelas, tidak sanggup melihat wajah kedua laki-laki itu.
Mereka bertiga kini terjebak dalam keheningan yang jauh lebih menyakitkan. Brian yang merasa bersalah pada dirinya sendiri, Bara yang merasa bersalah karena mengkhianati perasaan sahabatnya, dan Aluna yang hanya bisa meratapi kenyataan bahwa cintanya justru ada pada orang yang tidak bisa ia miliki.
Bersambung........
Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲♥️🥰