NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Frustasi

Langit London malam itu seperti kain hitam yang disulam ribuan lampu. Jalanan pusat kota masih hidup, suara kendaraan melintas, lampu merah yang berganti ritmis, dan orang-orang yang berjalan cepat dengan mantel panjang seolah dingin bisa mengejar mereka kapan saja.

Di salah satu sudut kota, sebuah toko kecil dengan etalase kaca, tempat Valeria biasanya merasa aman, malam ini justru terasa seperti perangkap.

Di dalam toko, Valeria berdiri mematung.

Tangannya dingin. Napasnya tidak teratur. Matanya terus menatap pintu kaca yang memantulkan bayangan dirinya sendiri, bayangan yang tampak rapuh, pucat, dan ketakutan.

Ia memegang ponsel dengan jari gemetar.

Anne sudah mengatakan ia akan datang. Tapi setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam.

Dan dalam pikirannya, hanya ada satu nama yang terus berputar seperti kutukan. Rodrigo. Mantan kekasih, masalalu dan racun yang terus membuat Valeria tidak berhenti memikirkan pria itu. Sosok yang sepertinya balas dendam karena sakit hati saat Valeria pergi meninggalkannya.

Sosok pria itu seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Meski tidak terlihat, Valeria selalu merasa seolah ada mata yang mengawasinya dari balik sudut-sudut gelap kota itu.

Dan malam ini, perasaan itu lebih kuat dari biasanya. Valeria menelan ludah susah payah. Ia mendengar suara langkah dari luar, atau mungkin hanya imajinasinya. Ia menahan napas, menempelkan telinga pada pintu, memeriksa apakah ada orang yang berdiri di sisi lain.

Hening. Tapi hening itu justru membuatnya lebih takut. Ia mengunci pintu etalase sekali lagi, meski ia sudah melakukannya tiga kali sebelumnya.

Lalu suara Anne terdengar. Anne tidak memperbolehkan Valeria mematikan panggilan telepon.

"Aku sampai!"

Valeria hampir menangis karena lega.

“Anne…?”

“Aku sudah di depan,” ujar Anne tegas, cepat. “Val, jangan lama-lama. Keluar sekarang.”

Valeria menutup matanya sebentar, seperti sedang mengumpulkan keberanian. “O-oke aku keluar.”

“Jangan matikan telepon. Aku di mobil. Aku nyalakan lampu hazard.”

Valeria mengangguk meski Anne tidak bisa melihatnya. Ia memegang gagang pintu etalase.

Tangannya gemetar parah. Knop pintu itu terasa dingin dan licin. Seolah pintu itu bukan jalan keluar, tapi gerbang menuju sesuatu yang bisa saja lebih buruk. Namun, Valeria tidak punya pilihan.

Ia membuka pintu.

Udara malam London langsung menyambarnya. Dingin, tajam, dan membuat tubuhnya meremang. Valeria menoleh cepat ke kanan dan kiri. Matanya liar, mencari-cari. Dan di pinggir jalan, ia melihat mobil Anne dengan lampu hazard menyala. Anne duduk di kursi pengemudi, wajahnya serius, tubuhnya condong ke depan seolah siap melaju kapan saja.

Valeria langsung berlari. Langkahnya terburu-buru, nyaris terjerembab. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang. Yang ia pikirkan hanya satu, masuk ke mobil itu. Sekarang. Anne menurunkan kaca sedikit.

“Val, masuklah! Cepat!”

Valeria menarik gagang pintu mobil, lalu masuk dengan tubuh gemetar. Begitu ia duduk, Anne langsung mengunci pintu. Terdengar bunyi klik yang keras. Dan bunyi itu. Seolah jadi suara paling menenangkan yang pernah Valeria dengar.

Valeria menahan napas, lalu menghembuskannya panjang. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Anne menatapnya sekilas, lalu segera menginjak pedal gas. Mobil melaju meninggalkan toko kecil itu. Meninggalkan tempat yang selama ini Valeria kira aman. Padahal ternyata, tidak.

Di dalam mobil, London bergerak seperti film di balik jendela. Lampu jalan. Lampu toko. Orang-orang yang berlalu lalang. Namun, bagi Valeria, semuanya terlihat kabur. Ia masih gemetar.

Anne mengencangkan cengkeraman pada setir.

“Aku benci saat melihatmu begini,” ujar Anne akhirnya.

Valeria menelan ludah. “Anne,"

“Kau harus cerita jujur kepadaku, soal perasaanmu Ini sudah keterlaluan.”

Valeria memeluk dirinya sendiri. Seolah itu bisa membuatnya hangat. “Aku takut,” bisiknya.

Anne menghela napas, tetapi suaranya tetap lembut. “Val, aku tahu kau takut. Tapi kau tidak mungkin terus begini.”

Valeria menatap ke luar jendela, lalu berkata pelan.

“Aku merasa, dia selalu ada. Seolah Rodrigo itu bisa muncul kapan saja.”

Anne menatap jalan di depan, rahangnya mengeras.

“Dia memang bisa. Karena dia obsesi kepadamu. Kenapa kau tidak kembali kepadanya saja? Aku tahu kau mencintainya Val.”

Valeria menggigit bibir. “Anne, aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia masih mengejarku? Aku sudah pindah, aku sudah menghindar, aku sudah—”

“Kau terlalu menantangnya,” potong Anne.

Valeria menatapnya. Anne menoleh sekilas, matanya tajam. “Kau terlalu menantang sampai kau lupa, di dunia ini ada orang yang tidak punya batas.”

Valeria menunduk. Ponselnya masih di tangannya, tapi layar itu gelap. Baterainya tinggal sedikit sejak tadi.

Anne melirik ponsel itu. “Matikan saja ponselmu!”

Valeria menurut, gadis itu mematikan ponselnya.

Anne mengumpat pelan.

“Sial. Dia memang sedikit berbahaya.”

Valeria menggeleng. Anne menghela napas lagi, lalu berkata cepat. “Oke. Kita ke apartemenku dulu. Kau istirahat. Besok kita urus semuanya. Kau tidak boleh balik ke rumah toko itu sendirian.”

Valeria mengangguk lemah. “Terima kasih.”

Anne melunak sedikit. “Kau tidak perlu berterimakasih. Aku sahabat kamu, Val."

Valeria menatap Anne. Matanya berkaca-kaca.

“Aku hanya lelah, aku takut.”

Anne menggenggam setir lebih erat. “Kamu tidak akan takut sendirian lagi.”

Kalimat itu membuat Valeria hampir menangis.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar aman. Atau setidaknya, lebih aman daripada sebelumnya.

***

Sementara itu. Di tempat lain. Rodrigo berdiri di seberang jalan, tersembunyi di balik bayangan gedung tua. Ia menatap toko Valeria. Matanya gelap. Napasnya berat. Tangannya di dalam saku mantel. Di sana, ada sesuatu. Sebuah kunci.

Kunci duplikat.

Rodrigo menunggu. Dan ketika lampu toko padam, ketika pintu terkunci, ketika jalanan sepi, Ia bergerak. Langkahnya pelan. Tenang. Seolah ia tidak sedang melakukan sesuatu yang salah. Seolah itu rumahnya sendiri. Ia sampai di pintu. Memasukkan kunci.

Klik.

Pintu terbuka.

Rodrigo tersenyum kecil.

“Good girl,” bisiknya.

Ia masuk, menutup pintu pelan, lalu mengunci kembali dari dalam. Toko itu gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu jalan yang menembus kaca etalase.

Rodrigo berjalan menuju bagian atas, tempat Valeria biasa tidur. Langkahnya semakin santai.

Ia melepas mantel. Melemparnya ke kursi. Lalu melepas jasnya. Membuka kancing kemeja. Napasnya terdengar lebih berat, seperti orang yang pulang setelah hari panjang.

Rodrigo menatap ranjang kecil itu. Ada gundukan selimut tebal. Matanya menyipit. Senyum tipis terbit di bibirnya.

Ia bersiul pelan.

“Baby kau sudah tidur?” ucapnya dengan nada lembut yang terdengar mengerikan dalam gelap.

Ia mendekat.

Duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh selimut itu. Hangat? Atau hanya perasaannya?

Rodrigo tertawa kecil.

“Kau selalu berpura-pura kuat,” gumamnya.

Ia membungkuk, lalu memeluk gundukan itu.

Seolah memeluk Valeria. Seolah akhirnya ia berhasil mendapatkannya lagi. Rodrigo menutup mata.

Menyandarkan wajahnya pada selimut.

“Baby,” Namun, Ada yang aneh. Terlalu keras. Terlalu kaku. Rodrigo membuka matanya.

Ia menarik selimut itu.

Dan detik berikutnya. Wajahnya membeku. Di bawah selimut itu bukan Valeria. Bukan tubuh hangat. Bukan gadis yang selama ini ia kejar.

Itu hanya—

Guling.

Rodrigo menatapnya lama. Seolah otaknya menolak menerima kenyataan. Lalu napasnya tersendat.

Dada Rodrigo naik turun. Matanya membesar.

“Apa?”

Suara itu keluar seperti erangan. Rodrigo berdiri cepat, membuat ranjang berderit. Ia merobek selimut itu, memastikan. Tidak ada. Tidak ada Valeria. Tidak ada jejaknya. Rodrigo menoleh ke kanan, ke kiri, ke sudut-sudut ruangan. Gelap. Hening. Kosong.

“Valeria?”

Suara Rodrigo kini lebih keras. Lebih tegang.

Ia melangkah keluar kamar kecil itu, menuju ruang depan toko. Mencari. Membuka pintu kamar mandi.

Kosong. Membuka lemari. Kosong. Rodrigo berjalan lebih cepat. Membuka pintu belakang. Mengintip keluar.

Tidak ada siapa-siapa. Hanya lorong sempit yang gelap. Rodrigo menutup pintu itu dengan keras.

Dadanya terasa sesak. Matanya memerah.

Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya kering.

“Tidak,” bisiknya.

Ia kembali ke ranjang. Menatap guling itu. Seolah guling itu menertawakannya. Rodrigo mengerang frustasi. Ia menendang kursi.

BRAK!

Kursi itu jatuh. Rodrigo mengacak rambutnya sendiri. Wajahnya berubah. Dari tenang, Menjadi panik.

“Apa kau pikir kau bisa lari dariku?” gumamnya kasar.

Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya, Rodrigo terlihat kehilangan kendali. Ia meraih ponselnya. Menelepon Valeria. Nada sambung.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu,

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Rodrigo menatap layar ponsel itu. Seolah itu penghinaan. Ia menelepon lagi. Dan lagi.

Dan lagi. Tetap sama. Tidak aktif. Tidak bisa dihubungi. Rodrigo menahan napas.

Matanya menatap kosong. Kemudian ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar tidak waras.

“Tidak aktif?” bisiknya.

“Tidak aktif?”

Ia menatap sekeliling toko itu. Seolah ruangan itu menyempit. Seolah udara di sana habis. Rodrigo meremas ponselnya sampai buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun cepat.

Dan di antara kemarahan itu. Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang ia benci. Takut. Karena ia sadar, Untuk pertama kalinya, Valeria berhasil lolos. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan jejaknya. Rodrigo berjalan mondar-mandir. Tangannya memukul dinding.

DUK!

Ia memejamkan mata. Napasnya berat.

“Baby,” ucapnya lagi, kali ini suaranya lebih pelan. “Kenapa kau membuatku seperti ini Val?”

Tidak ada jawaban. Hanya hening. Rodrigo menatap ranjang itu. Menatap guling yang ia peluk tadi. Lalu perlahan, wajahnya berubah. Matanya memerah. Napasnya bergetar. Dan tanpa ia sadari, Ada penyesalan yang menyesakkan dadanya. Bukan penyesalan karena menyelinap.

Penyesalan karena,Ia sudah membuat Valeria begitu takut sampai gadis itu memilih kabur daripada pulang. Rodrigo menutup wajahnya sebentar. Namun, detik berikutnya, Ia menurunkan tangannya. Tatapannya menjadi tajam. Dingin.

Obsesi itu kembali menyala.

“Tidak apa-apa,” bisiknya.

“Kalau kau tidak ada di sini!”

Rodrigo menatap pintu. Senyum tipis muncul.

“Aku akan mencarimu.”

***

Di dalam mobil, Valeria menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Lampu kota melewati wajahnya.

Anne menyalakan pemanas. Valeria memejamkan mata, tapi pikirannya masih kacau.

“Anne? ” panggilnya pelan.

Anne menjawab tanpa menoleh. “Hm?”

“Kalau dia masuk ke rumah tokoku?” Anne menghela napas.

“Kalau dia masuk, dia tidak akan menemukanmu.”

Valeria menelan ludah. “Dan kalau dia marah?”

Anne menatapnya sekilas. “Biarkan dia marah. Yang penting kau selamat.”

Valeria mengangguk pelan. Namun, dadanya tetap sesak. Karena ia tahu, Rodrigo bukan tipe pria yang berhenti. Rodrigo bukan tipe pria yang menyerah. Dan malam ini, Valeria baru saja membuatnya kehilangan sesuatu. Kontrol.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!