"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
"Apa kabar, Sahabat Literasi? Ada pepatah yang mengatakan bahwa ego adalah api yang membakar rumahnya sendiri. Di episode ini, kita akan melihat bagaimana Bima, yang seharusnya menikmati 'kebebasannya', justru terjebak dalam obsesi gelap. Bukan karena cinta yang tersisa, melainkan karena ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa wanita yang ia buang ternyata sanggup bersinar tanpa cahayanya. Mari kita saksikan awal dari pengejaran yang akan mengubah segalanya."
.
.
Kantor pusat Erlangga Group yang terletak di lantai 42 sebuah gedung pencakar langit Jakarta tampak suram meski diterangi lampu kristal yang mahal.
Bima Erlangga duduk di balik meja eksekutifnya, menatap nanar ke arah jendela besar yang menampilkan kemacetan kota di bawah sana.
Pikirannya tidak lagi pada laporan utang perusahaan yang menumpuk, atau pada rengekan Clarissa soal vendor dekorasi pernikahan yang mengancam mundur jika tidak segera dilunasi.
Pikirannya tertuju pada satu hal, sebuah unggahan di media sosial yang ia temukan secara tidak sengaja di akun sebuah panti asuhan di Jawa Tengah.
Di foto itu, tampak deretan kotak kue cantik dengan logo 'Saka's Kitchen'. Meski wajah pemiliknya tidak terlihat jelas karena tertutup masker dan sudut pengambilan gambar yang jauh, Bima mengenali mata itu. Mata yang selalu menatapnya dengan ketulusan sebelum ia hancurkan.
"Tidak mungkin dia bisa tertawa seperti itu," geram Bima pelan.
Tangannya mengepal. Rasa tidak terima menjalar di pembuluh darahnya seperti racun. Di benak Bima, Hana seharusnya merana. Hana seharusnya berada di titik terendah, menangis menyesali nasibnya yang kehilangan suami kaya.
Melihat kemungkinan bahwa Hana - wanita yang ia anggap sampah - justru memiliki bisnis dan tampak bahagia, adalah penghinaan bagi egonya.
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan pakaian safari abu-abu yang tidak mencolok masuk. Namanya adalah Heru, seorang mantan intelijen yang kini bekerja sebagai detektif swasta spesialis pencarian orang.
"Anda sudah membawa apa yang saya minta?" tanya Bima tanpa basa-basi.
Heru meletakkan sebuah map cokelat di atas meja. "Sulit melacaknya di awal, Pak Bima. Target benar-benar memutus semua jalur digital yang terhubung dengan identitas lamanya. Dia tidak menggunakan KTP lamanya untuk pendaftaran usaha, kemungkinan menggunakan nama kerabat atau pihak ketiga."
Bima membuka map itu. Isinya adalah beberapa foto satelit dan foto amatir dari jalanan kota kecil di kaki gunung.
"Namun," lanjut Heru, "setelah saya menelusuri pengiriman bahan baku tepung dan mentega skala menengah ke daerah tersebut, saya menemukan sebuah ruko yang baru saja dikontrak. Namanya Hana. Dia tinggal di sebuah rumah panggung tua warisan neneknya."
Bima menatap foto ruko putih yang bersih itu. Di sana, tertangkap kamera sosok wanita yang sedang menggendong bayi. Wajahnya terlihat segar, kulitnya merona, dan dia sedang tertawa bersama seorang asisten.
"Dia punya bayi?" suara Bima bergetar.
"Laki-laki, Pak. Menurut informasi warga sekitar, usianya sekitar dua atau tiga bulan. Namanya Aditya Saka," jawab Heru datar.
Bima terhenyak. Nama itu... Saka. Ingatannya melesat ke laci meja di rumahnya yang menyimpan foto USG yang sudah kotor.
Jadi, anak itu benar-benar lahir. Dan Hana memberinya nama tanpa berkonsultasi sedikit pun dengannya.
"Cari tahu semuanya," perintah Bima, suaranya kini terdengar dingin dan tajam. "Siapa saja yang sering datang ke rukonya? Apakah dia punya laki-laki lain? Saya tidak mau dia mencoreng nama baik saya dengan membawa anak itu ke lingkungan yang tidak jelas."
Heru mengerutkan kening. "Maaf Pak Bima, bukankah secara hukum Anda sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Ibu Hana?"
Bima memukul meja dengan keras. "Dia mengandung anak saya! Dia adalah mantan istri Bima Erlangga! Jika dia terlihat hidup melarat atau berhubungan dengan pria sembarangan, itu akan merusak citra saya. Saya ingin tahu setiap inci kegiatannya. Dan saya ingin tahu seberapa sukses sebenarnya 'toko kue' kecil itu."
Dalam hati, Bima tidak peduli pada citra. Ia hanya ingin menemukan celah. Ia ingin menemukan bukti bahwa Hana sebenarnya menderita, bahwa senyum di foto itu hanyalah kepura-puraan.
Ia ingin menghancurkan kedamaian yang Hana bangun, karena ia sendiri sedang tidak damai di Jakarta.
Beberapa hari kemudian, tanpa sepengetahuan Hana, sebuah mobil tua yang terparkir agak jauh dari tokonya mulai memantau. Lensa kamera jarak jauh milik Heru menangkap setiap interaksi.
Sore itu, lonceng toko Hana berdenting. Dr. Adrian masuk membawa sebuket bunga kecil, bunga liar yang ia petik dari pinggir jalan menuju puskesmas.
"Untuk mempercantik meja kasirmu, Hana," ucap Adrian dengan senyum yang sangat hangat.
Hana menerimanya dengan wajah bersemu merah. "Dokter ini ada-ada saja. Terima kasih ya. Saka sedang tidur di dalam, mau lihat?"
Adegan itu terekam sempurna dalam kamera detektif. Heru mencatat - Target memiliki hubungan dekat dengan seorang dokter lokal. Interaksi terlihat sangat akrab dan emosional.
~~
Kembali ke Jakarta, Bima menerima laporan terbaru. Saat ia membuka foto-foto yang memperlihatkan Hana sedang tertawa bersama Adrian sambil memegang bunga, kemarahan Bima mencapai puncaknya.
"Dokter? Dia menggantikan aku dengan seorang dokter desa?" Bima melempar foto itu ke lantai.
"Sepertinya dokter itu sangat menyayangi bayi tersebut, Pak. Warga bilang dia sering mampir hanya untuk memastikan kesehatan anak itu tanpa memungut biaya," tambah Heru.
Bima tertawa getir. "Tentu saja. Hana pandai memainkan peran wanita tertindas untuk menarik simpati pria. Dia benar-benar licik."
Bima tidak bisa lagi menahan diri. Rasa ingin memamerkan kemiskinan Hana yang dulu ia miliki kini berubah menjadi keinginan untuk merenggut kembali apa yang ia rasa miliknya.
Bukan karena ia menginginkan Hana kembali, tapi karena ia tidak mau Hana dimenangkan oleh pria lain.
Malam itu, Bima berdiri di balkon apartemennya. Clarissa datang memeluknya dari belakang, mengeluhkan soal cicilan kartu kreditnya yang ditolak.
"Bim, kenapa sih fokusmu tidak pernah ke aku lagi?" keluh Clarissa.
Bima melepaskan pelukan Clarissa dengan kasar. "Diamlah, Clar. Aku sedang mengurus sesuatu yang lebih besar."
Bima segera mengambil kunci mobilnya. Ia memutuskan untuk pergi ke kota kecil itu secara langsung. Ia ingin melihat dengan matanya sendiri bagaimana Hana bersandiwara dengan dokter itu.
Ia ingin menghancurkan kebahagiaan palsu yang menurutnya tidak pantas didapatkan oleh Hana.
Tanpa ia sadari, langkahnya ini adalah awal dari kehancurannya sendiri.
Di Sukamaju, Hana baru saja selesai menutup rukonya. Ia menggendong Saka, menatap langit malam yang tenang.
Ia merasa sangat aman, tidak menyadari bahwa di kegelapan, ada mata yang mengintai, dan dari Jakarta, badai bernama Bima sedang meluncur menuju ke arahnya dengan kecepatan penuh.
"Saka, besok kita buat kue talam durian ya. Dokter Adrian bilang dia suka sekali itu," bisik Hana lembut.
Hana sedang jatuh cinta pada kehidupannya yang baru, sementara Bima sedang jatuh ke dalam jurang obsesi yang akan menariknya ke dasar penderitaan yang sesungguhnya.
Apa yang akan dilakukan Bima saat ia tiba di ruko Hana dan melihat Adrian sedang menggendong Saka? Dan apakah Hana sudah cukup kuat untuk menghadapi konfrontasi langsung dari pria yang pernah menghancurkan dunianya?
Jangan lewatkan pertemuan yang akan menggetarkan hati di Episode selanjutnya yaaa....
...----------------...
**To Be Continue** ....