NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zane yang Rapuh

Salena menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar. Ego dan gengsi yang selama ini ia jaga setinggi langit runtuh seketika oleh keheningan Zane selama sebulan terakhir. Ia menarik napas panjang dan menekan tombol panggil.

Panggilan pertama... tidak dijawab.

Panggilan kedua... dialihkan.

Pada panggilan ketiga, saat Salena hampir menyerah, suara berat yang sangat ia rindukan itu akhirnya terdengar.

"Kau merindukanku, Salena?" Suara Zane terdengar parau, seolah ia baru saja bangun tidur atau mungkin sudah lama tidak berbicara dengan siapapun.

Salena memejamkan mata, membuang jauh-jauh rasa malunya. "Ya... aku merindukanmu, Zane," jawabnya lirih namun tegas.

Hening sejenak di seberang sana. "Mau jalan-jalan hari ini?" ajak Zane tiba-tiba.

"Mau," jawab Salena tanpa pikir panjang.

"Bersiaplah. Aku akan menjemputmu."

Salena terduduk di tepi ranjangnya, menatap layar ponsel yang sudah gelap. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ratu Es Islandia yang kaku baru saja mengakui kerinduannya pada seorang berandal New York.

Satu jam kemudian, sebuah mobil sport hitam menderu di depan gedung apartemen mewah Salena. Pembantu rumah tangga Salena membukakan pintu apartemen saat bel berbunyi. Zane masuk dengan langkah santai namun auranya terasa sangat berat. Ia mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan sedikit tatonya. Ia dipersilakan menunggu di ruang tamu sementara Salena menyelesaikan dandanannya.

Namun, tujuan Zane hari ini bukanlah perpustakaan atau galeri seni. Ia membawa Salena ke sebuah klub malam paling eksklusif namun redup di pusat kota.

Di dalam klub, dentuman musik techno terasa menggetarkan dada. Cahaya neon warna-warni memantul di wajah mereka. Salena, yang biasanya menghindari tempat seperti ini, hanya duduk diam menemani Zane.

Zane memesan minuman keras berkali-kali. Ia minum dalam jumlah yang cukup banyak, namun anehnya, ia tidak terlihat mabuk. Kesadarannya masih utuh, tapi matanya menunjukkan kekosongan yang dalam. Ia hanya diam, menatap gelas kristalnya seolah sedang melihat bayangan Phoenix atau Kharel di sana.

Salena memperhatikan Zane dari samping. Di bawah lampu klub yang remang-remang, Zane terlihat sangat rapuh meski tubuhnya tampak kokoh. Pria ini tidak sedang berpesta, dia sedang mencoba menenggelamkan sesuatu dalam alkohol.

"Zane..." panggil Salena pelan di tengah kebisingan musik.

Zane hanya menoleh sedikit, menatap Salena dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak cerewet seperti di telepon waktu itu. Ia kembali menjadi sosok yang misterius, namun kali ini, Salena merasa ingin menariknya keluar dari kegelapan itu.

Di tengah dentuman musik techno yang memekakkan telinga dan lampu neon yang berkedip liar, pertahanan sang "Dewa New York" itu akhirnya runtuh total. Alkohol yang masuk ke tubuhnya tidak membuatnya mabuk secara fisik, tapi membuka pintu bendungan emosi yang selama ini ia tutup rapat dengan sikap urakan.

Zane meletakkan gelasnya dengan tangan gemetar. Tiba-tiba, ia menunduk, dan bahunya mulai terguncang. Pria yang biasanya berdiri angkuh dengan jaket kulit dan tatapan dingin itu kini menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Salena.

Zane menangis. Isak tangisnya tertahan, terdengar sangat menyakitkan di telinga Salena.

"Zane..." bisik Salena, tangannya yang kaku perlahan bergerak mengelus punggung Zane, membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata pria itu.

"Salahkah aku jadi begini, Salena?" suara Zane pecah, terdengar begitu putus asa. "Salahkah aku lahir dengan wajah ini? Dengan pesona yang bahkan tidak pernah kuminta?"

Salena terdiam, ia bisa merasakan kemarahan yang meluap dari tubuh Zane.

"Kharel... gadis gila itu yang membuat kami seperti ini," Zane mencengkeram lengan baju Salena, wajahnya yang sembab mendongak, menatap Salena dengan kebencian yang murni. "Aku sangat membenci gadis itu, Salena. Aku membencinya lebih dari apapun."

Zane tertawa getir di sela tangisnya, sebuah tawa yang terdengar sangat hancur. "Hubunganku dengan Phoenix... belasan tahun, Salena. Kami tumbuh bersama, berbagi rahasia, berbagi mimpi. Dan semuanya rusak hanya dalam semalam karena ego Kharel. Dia tahu Phoenix mencintainya, tapi dia malah memilih mengejarku hanya untuk membuktikan dia bisa memilikiku."

Zane memukul meja kecil di depan mereka hingga gelas-gelas berdenting. "Sial! Andai aku bisa jadi berengsek sehari saja, aku ingin mencekik lehernya, Salena. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan saudara karena ambisi cintanya yang sampah itu."

Salena merasa hatinya tersayat. Ia kini mengerti kenapa Zane sangat muak melihat wanita-wanita di kampus yang memujanya secara berlebihan. Baginya, kecantikan dan pesona adalah kutukan yang merenggut orang yang paling ia sayangi.

"Kau tidak salah, Zane," bisik Salena, menarik kepala Zane agar kembali bersandar di bahunya. Ia tidak lagi peduli dengan imej 'Ratu Es' miliknya. "Kau bukan penjahatnya. Kau hanya korban dari cinta yang salah tempat."

Zane memejamkan mata dalam pelukan Salena, menghirup aroma parfum Salena yang menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Manhattan, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Di tengah klub malam yang bising dan penuh kepalsuan, ia justru menemukan kenyamanan yang nyata di pelukan wanita yang dulu ia anggap kaku dan membosankan.

"Jangan tinggalkan aku, Salena," gumam Zane lirih, hampir tidak terdengar. "Hanya kau... satu-satunya orang di sini yang tidak melihatku sebagai 'Dewa'."

Salena mempererat pelukannya, memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam Islandia. "Aku di sini, Zane. Aku tidak akan ke mana-mana."

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰😍

1
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!