Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Ray masih ada keperluan dengan ayah dan kakaknya membahas tentang perusahaan keluarganya dan akupun pulang sendiri ke apart.
Betapa beruntungnya Melinda di keluarga Wilder, dia di terima dengan baik di sana apa aku juga akan merasakan hal yang sama jika bersama dengan Ray nanti?
(Sudah sampai apart Love?). Pesan Ray
(Iya baru aja, kamu kapan pulang?).
(Belum tau, aku mau temani ayah bertemu dengan clien kak Asa tidak bisa).
(Malam begini?).
(Iya).
(Ya sudah hati-hati, btw kamu pergi kemana?).
(Sebuah klub).
Betapa kagetnya aku dia bilang akan bertemu dengan ayahnya ke sebuah klub? Kenapa harus di klub.
Beberapa jam setelah dia mengirimkan pesan, dia mengirimkan sharelock dirinya kepadaku.
(Tolong jemput aku). Pesannya
Untunglah aku tidak mengantuk dan segera menjemputnya mungkin terjadi sesuatu padanya.
Sesampainya aku di tempat Ray dia sudah di bopong ayahnya dan di sana juga ada mama Ray datang menjemput suaminya.
"Mereka kenapa tante?". Tanyaku pada mama Ray
"Biasalah Le, mereka kebanyakkan minum".
Aku tidak heran sih, karena ayah juga sering minum sama mama.
"Ya ampun, ya sudah Lea bawa Ray dulu ya tante".
"Tolong ya Lea, mama handel ayah, kalau mama harus handel Ray juga pusing mama".
Akupun mengangguk tanda setuju.
Hah ya ampun membopong pria satu ini lumayan menguras tenagaku saja, untung saja ada pak satpam yang mau membantuku.
Setelah ku rebahkan dia di kasur tiba-tiba Ray memelukku dengan erat dan menarikku ke sampingnya.
Dan seperti biasa kami melakukannya, tapi kali ini berbeda dari biasanya rasanya dia lain dari biasanya, kali ini dia benar-benar membuatku lupa segalanya.
Paginya aku bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriku, tidak lama Ray juga menghampiriku pada akhirnya kami mandi bersama dan melakukannya lagi.
Gila Ray benar-benar membuatku gila, pantas saja mama suka ketika ayah pergi minum tapi pulangnya harus dengan mama.
"Makasih Love, kamu apa Love". Tanya Ray
"Sama-sama, ya aku nggak apa-apa sih beb asal pulangnya sama aku".
"Ya mau pulang sama siapa lagi aku Love".
"Iya iya".
Ray pergi ke perusahaannya dan aku kembali ke aktivitasku di apart, mencoba beberapa masakakkan di online.
Sementara itu Ray pergi ke perusahaan kakaknya untuk di perusahaannya sendiri dia meminta asistennya yang handel.
"Pagi kakak ipar". Sapa Ray pada Isabella
"Pagi Ray, ayah dan Asa sudah ada di dalam".
"Iya".
Di dalam ruangan Asael, ayah mereka terlihat serius.
"Kenapa kak?". Tanya Ray
"Biasalah anak kesayangan ayah berbuat ulah di kantor, baru jadi manager saja dia sudah berlagak seperti pemilik saja".
"Kenapa lagi?".
"Dia memecat orang-orang yang kinerjanya bagus di devisinya, lalu memasukkan orang-orang baru dan ternyata mereka adalah mata-mata perusahaan lain, dan beberapa dokumen penting juga hilang".
"Sudah ku bilang kan, dia itu tidak bisa di masukkan ke bagian penting di perusahaan dia akan seenaknya, jadi menurutku itu resiko yang harus ayah ambil bukan".
"Kenapa kamu begitu dengan adikmu Ray".
"Aku tidak akan pernah mengakuinya adik ayah, anak seperti dia itu harusnya di kasih pelajaran biar dia tidak seenaknya sendiri, lagian dia sudah mau punya anak itu harusnya belajar lebih dewasa lagi, bukannya mengharapkan sesuatu secara instan dan merugikan banyak orang". Marah Ray
Kerugian perusahaan ayahnya kali ini tidak main-main karena sebuah dokumen kerjasama penting berupa keuntungan besar dari sebuah proyek lenyap begitu saja dan dokumen itu jatuh kepada pihak lain yang membuat ayahnya harus membayar ganti rugi atas kebocoran dokumen tersebut kepada pihak lain.
Bahkan dia juga harus membayarkan kerugian tersebut karena keadaan keuangan ayah dan kakaknya sedang tidak baik- baik saja.
"Lalu ayah mau bagaimana dengan cecunguk tidak berguna itu".
"Lancang sekali cara bicara kamu Ray, bagaimanapun juga dia adalah adikmu".
"Siapa bilang dia adikku".
Asael menepuk jidatnya, dia sudah habis akal untuk mencegah adiknya itu untuk memberitahukan ayahnya tentang Reno.
"Maksud kamu apa Ray?". Marah ayah mereka berdua
Ray mengeluarkan sebuah surat yang di dalamnya hasil tes DNA ayahnya dan Reno.
"Lihat kan ayah, dia itu bukan adik kami. Ayah itu sudah terlalu baik padanya, membiarkan anak entah anak siapa itu tinggal bersama kita dan sekarang membuat masalah dalam keluarga kita". Ucap Ray
Ayah mereka hanya terdiam dan bertanya-tanya apa benar Reno bukanlah anak kandungnya, anak yang selama ini dia sayangi dan apapun keinginannya selalu di turuti.
"Ayah harus sadar sekarang, Reno itu bukan siapa-siapa ayah".
"Tapi ayah sayang padanya". Marah tuan Wilder
"Karena rasa sayang ayah juga yang membuatnya menjadi seseorang yang tidak tau diri kan". Ray semakin marah di ayahnya
"Sudahlah Ray cape, dan ini terakhir kalinya aku membantu anak kesayangan ayah itu".
Ray membanting pintu ruangan ayahnya, Asael yang masih berada di dalam ruangan hanya diam. Dia juga sangat marah pada ayahnya itu, namun dia tidak bisa mengungkapkannya untunglah dia memiliki adik yang seperti Ray.
"Asa apa ayah salah?".
"Tentu saja, ayah hanya peduli pada Reno sedangkan Ray berusaha sendiri walaupun ayah sudah memberikannya sebuah perusahaan, tapi sebelum ayah memberikannya pada Ray bukankah perusahaan itu telah jatuh bangkrut, tidak kh ayah melihat perjuangan Ray membangun kembali perusahaan itu? Ayah hanya memikirkan Reno saja".
Tuan Wilder terdiam dengan ucapan anaknya, memang benar dia menyerahkan perusahaan yang kolab pada Ray dengan tujuan agar anak itu bisa bertahan dari tekanan-tekanan yang akan datang dan Ray sudah membuktikan bahwa dia telah berhasil membangun kembali perusahaan tersebut dan kini menjadi lebih besar lagi.
Bahkan dia akan memiliki seorang mertua yang satu arah dengannya, bukankah itu membuang peluang Ray untuk berkembang semakin tinggi.
"Sekarang terserah ayah saja bagaimana dengan Reno, Ray sudah berbaik hati membantu ayah, aku pamit pulang dulu".
Jika benar Reno bukan lah anak kandung tuan Wilder bagaimana beliau akan menghadapi anak itu, dia sangat menyayangi anak itu karena ibunya adalah wanita yang paling dia sayangi, dia adalah cinta pertamanya sebelum dia menikah dengan ibu Asael dan Ray.
Ingin rasanya dia menanyakan pada ibunya Reno anak benarkah anak ini adalah anaknya atau bukan, atau dia sengaja mendekati tuan Wilder lagi supaya anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik, semua itu menjadi puzzle dalam benak dan fikiran tuan Wilder.
Betapa hebatnya anak dan istrinya selama ini menerima anak yang paling beliau sayangi itu, namun perasaannya menjadi goyah dengan test DNA yang Ray berikan padanya.
"Sebaiknya aku cari tau sendiri semua ini". Gumam tuan Wilder.
semangat ngetik thor sampe tamat..