SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KODE
Kondisi Sasa yang tak stabil membuat Bu Anggita langsung menghubungi dokter Fandy dan diminta untuk membawa ke rumah sakit jiwa, dokter Fandy akan menunggu kedatangan Sasa.
Badan Sasa sangat dingin, tangannya gemetar, dan hampir limbung. Sakti melihat proses evakuasi Sasa ke mobil Bu Anggita. Dia tak tega sebenarnya, namun Bu Anggita memberi saran agar Sakti tetap jaga jarak.
Pak Ridho juga tak menyalahkan sang istri, karena siapapun perempuan akan protes dan marah bila sang suami mendapat chat seperti yang dilakukan Sasa.
Sakti juga memanggil Pak Ridho dan istrinya untuk klarifikasi, ia menunjukkan chat yang dikirim Sasa tadi malam. Sakti sendiri minta maaf atas nama Sasa telah membuat hubungan suami istri itu terganggu.
Beralih ke Sasa, dia seperti patung hidup. Matanya kosong dan tak berontak saat didorong menuju ruangan dokter Fandy. Asisten dokter Fandy yang mendorong kursi roda Sasa terus mengajak bicara, dan tak ada respon sama sekali. Setelah pengecekan tensi, dokter mencoba mengajak Sasa bicara dan sama sekali tak ada respon, terpaksa dokter Fandy menyuruh Sasa rawat inap. Kembali Bu Anggita mengurus semua administrasi, Sakti pun menyusul ke rumah sakit dan melihat dari luar kamar, kondisi mantan istrinya itu.
"Setidaknya kalau di rumah sakit, ada perawat yang menjaga Pak Sakti," ujar Bu Anggita saat melihat kekhawatiran pada Sakti, kok Sasa sampai dirawat di rumah sakit jiwa.
Memang di rumah sakit, Sasa akan dipantau kondisinya, tapi kalau dia mulai stabil apa gak kambuh lagi, bisa jadi lebih parah karena ada ketakutan dia pernah menjadi pasien di rumah sakit ini. Namun, Bu Anggita meyakinkan, hal itu dipikirkan belakangan saja, yang penting kondisi mental Sasa tertangani dengan tepat.
Dokter Fandy dan asisten mendapat data terbaru apa yang menjadi penyebab kambuhnya kecemasan pada Sasa. Pagi itu, perawat mengecek tensi Sasa, dia terus bergumam di restoran itu aku melihat Iswa, Mutiara dan mama Sakti. Mereka tertawa, dan kalimat itu diucapkan Sasa secara berulang.
Tentu saja observasi pagi ini diteruskan pada Bu Anggita, dan Bu Anggita segera melapor kepada Sakti.
"Ma, memang mama kemarin bertemu Mutiara?" tanya Sakti kebetulan masih di rumah, belum berangkat ke kantor.
"Kok tahu?" tanya mama heran, padahal kemarin beliau dan Iswa tak sengaja bertemu dengan Mutiara saat jalan bersama anak-anak, sekalian saja makan. Tapi mama tidak berniat memberi tahu pada Sakti, karena mereka katanya cuma teman, lagian obrolan kemarin juga gak penting hanya sekedar bahas pekerjaan Mutiara dan Iswa saja. "Cie, kamu dichat sama Mutiara ya. Gitu kalian mengaku teman doang, nyatanya sering chat gitu!" goda mama, dan membuat Sakti bingung.
"Bukan Mutiara yang cerita, Ma. Sakti tahu dari HRD kantor."
"Lah, emang kamu chat dengan HRD kantor masalah pribadi?" tanya mama curiga. Sakti menggeleng, karena ia belum cerita, side job yang diemban Anggita. Pagi itu, Sakti menceritakan hubungan dia dengan HRD kantor selain urusan karyawan, yakni terkait Sasa.
"Sasa kena gangguan mental, anxiety disorder. Sudah hampir satu bulan berobat dan ditemani oleh HRD kantor, karena Sakti gak mau terlibat lebih jauh dengan Sasa, dan dia kambuh karena melihat mama, Iswa, dan Mutiara kemarin."
Tentu saja mama kaget, dugaan beliau benar selepas peristiwa penamparan itu, malah sang putra masih sangat peduli. "Sakti mohon maaf ya, Ma. Kalau Sakti masih berhubungan dengan Sasa. Sakti gak tega dia sakit begitu, mau bagaimana pun ada pengaruh Sakti juga dia mengidap gangguan mental."
"Mama gak marah Sakti atas keputusan kamu, silahkan. Itu uang kamu, itu juga mantan istri kamu, wajar kamu masih peduli. Cuma kalau mau rujuk, mama belum kasih restu, Nak. Maaf, mama sepertinya sampai kapan pun tidak ikhlas punya menantu seperti Sasa."
Sakti menggeleng, ia sendiri tak ada niatan untuk rujuk dengan Sasa, dia hanya bertanggung jawab secara moril saja, membiayai pengobatan Sasa. Mama pun mengangguk setuju.
"Entah mengapa, mama tiba-tiba kepikiran, kok rasanya Mama suka ya sama Mutiara," ucap mama mengalihkan pembicaraan tentang Sasa.
"Gak berniat jodohin Sakti kan?"
"Ya kalau mau sih, mumpung mama dan papa masih dikasih umur. Queena dan Athar juga udah gede, mama masih terima kok kalau dititipi bayi!" ucap mama penuh harap.
Sakti tertawa, mamanya kok jauh mikirnya. Padahal Sakti dan Mutiara gak sedekat itu, hanya chat ala kadarnya saja. "Sakti duda belum juga sebulan, Ma! Masa' disuruh cari istri lagi."
"Ck, gayamu, emang gak takut expired!" ledek mama dan membuat Sakti semakin tertawa. Sangat wajar bila mamanya ingin Sakti menikah lagi, dengan proses yang benar. Mama tak permasalahkan status janda pada Mutiara, toh sepadan dengan sang putra. Melihat Mutiara, dan sempat berbincang, mama rasanya klik saja dengan perempuan itu. Bahkan mama sudah mengutarakan pada Iswa untuk menjodohkan Mutiara dengan Sakti.
Mama bukan jahat pada Sasa, tapi mama hanya ingin sebelum beliau menutup usia, Sakti hidup dengan benar. Hampir tiap hari mama Sakti chat Mutiara sekedar tanya kabar, dan Mutiara membalas dengan sopan dan ramah. Malah weekend besok, mama mengajak Mutiara ke salon, refreshing bersama Iswa. Mutiara pun setuju saja, tak enak menolak.
Sakti memang dikasih tahu mama soal Mutiara, dan Sakti tak melarang. Cuma anehnya, Mutiara gak pernah menyinggung kedekatan dengan mamanya. Aneh kan?
Ketiga perempuan itu ke salon, mama yang traktir, anak-anak Iswa sudah dibawa Opanya main, jadi mereka menikmati treatment dengan santai sekali. Keluar dari salon, mereka berpapasan dengan mantan mertua Mutiara dan seorang perempuan yang mungkin istri Karim.
"Mutiara," sapa mama Karim, Mutiara masih baik, ia bersalaman dan mengenalkan pada mama Sakti. Tak lupa mama Karim juga mengenalkan perempuan itu sebagai menantunya. Hati Mutiara langsung jleb, mantan mertuanya terlihat begitu menyanyangi istri Karim karena dia mau menjadi ibu rumah tangga. Tentu saja wajah Mutiara terlihat sedih, dan gongnya mama Sakti ikut terpancing emosi.
Dengan tenang mama Sakti menyinggung, "Ayo Sayang, kita makan," ucap mama memberi kode untuk pamit. Iswa bingung, kenapa tiba-tiba mama panggil Sayang.
"Mari, Jeng. Calon mantu saya sudah lapar," ucap mama Sakti lagi, dan Iswa menahan tawa, karena mama mertunya tak ingin Mutiara terlihat lemah di hadapan mantan mertua dan istri baru mantan suami.
"Tante maaf, kok?" Mutiara tak enak bila diperlakukan sebagai calon menantu beliau. Takut dia terbawa perasaan sedangkan Sakti juga tidak ada rasa sama dia.
"Doa tante buat kamu, yah. Gak usah diambil hati," ucap mama sembari menepuk tangan Mutiara lembut. "Tapi kalau mau jadi menantu tante beneran juga gak pa-pa, tante sangat senang!" lanjut mama Sakti, dan membuat Mutiara tersenyum kaku.
eh kok g enak y manggil nya