Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Resmi Menikah
Ogi yang sibuk mengambilkan piring kotor, mendadak disuruh pergi ke kamar Arisa. Dia pergi saja tanpa mengetahui alasannya. Saat sudah di kamar, Fedi langsung bicara padanya baik-baik.
"Nak, kamu mau nggak menikah sama Arisa?" tanya Fedi.
"A-apa?" Ogi tentu kaget. Dia langsung menatap ke arah Arisa. Gadis itu tampak sedih dan memasang tatapan penuh harap.
"Papa, bisakah kau tinggalkan aku berdua sama Ogi? Aku ingin bicara dengannya," pinta Arisa.
"Ya, tentu saja. Aku akan menunggu di depan pintu." Fedi segera keluar.
Kini tinggal Arisa dan Ogi berdua. Saat itulah Arisa mencoba menjelaskan semuanya pada Ogi. Termasuk alasan kenapa calon mempelai pria tidak datang.
Arisa terlihat berusaha keras untuk tidak menangis. Dia menarik nafas dan mencoba kuat. "Aku hanya nggak mau membuat papaku malu. Aku juga ingin pergi dari kota ini sejenak. Aku janji akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti. Kita akan bercerai di waktu yang tepat," tuturnya.
"Apa kau yakin ingin ikut aku ke tempat tinggalku? Aku tinggal di desa yang jauh dari kota, Neng..." balas Ogi.
"Aku akan lakukan apapun untuk membuang perasaanku pada lelaki sialan itu!" sahut Arisa.
Ogi sempat terdiam untuk sesaat. Membuat Arisa jadi merasa tidak enak.
"Kalau kau tidak mau, nggak apa-apa. Aku nggak mau memaksamu," ucap Arisa.
"Bukan begitu, Neng." Ogi cepat membantah. "Aku mau kok! Mau banget. Sekarang mana pakaian pengantinnya? Aku akan memakainya," lanjutnya.
Senyuman seketika mengembang di wajah Arisa. Dia segera memanggil perias untuk mengambil baju pengantin pria.
Dalam sekejap, akad nikah diucapkan oleh Ogi. Kala itu tentu saja banyak yang bingung dengan digantinya pengantin pria. Namun semua orang tak mau bertanya lebih banyak karena Arisa terlihat bahagia.
Sesi foto dilakukan. Arisa berusaha keras memasang topeng bahagianya. Namun berbeda dengan Ogi yang entah kenapa benar-benar merasa bahagia.
Dari kejauhan Fedi menatap putrinya dan Ogi. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, dia sebenarnya tahu alasan kenapa Arisa memilih menikah dengan Ogi. Yaitu karena tak mau membuat keluarganya malu. Tapi di sisi lain, Fedi sejujurnya merasa bahagia dan tenang melihat Arisa menikah dengan Ogi.
Fedi sangat mengenal Ogi. Dia yakin, siapapun wanita yang menikah dengan pria itu pasti akan bahagia.
Fedi bisa saja menghentikan pernikahan dadakan itu terjadi. Namun dia memilih membiarkannya. Lalu di hatinya Fedi berharap Arisa dan Ogi akan saling jatuh cinta seiring berjalannya waktu.
Setelah semua tamu pulang, Arisa dan Ogi berganti pakaian. Arisa menyuruh Ogi menunggu di depan. Sementara dia sibuk mengemas pakaian di kamarnya.
Arisa berniat ingin pergi langsung dari kota. Rasanya dia tak sanggup menanggung malu jika terus tinggal di sini.
Dengan perasaan dangkal, Arisa masukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Tanpa sepengetahuannya, dari ambang pintu Fedi berdiri.
"Menangis saja, Nak. Jangan ditahan... Jangan malu sama Papa..." ujar Fedi sambil mendekati Arisa.
Seketika tangis Arisa pecah. Dia langsung memeluk erat ayahnya. Arisa juga meminta maaf pada Fedi sambil terisak.
Cukup lama Arisa menangis. Tangisannya bahkan sampai sesegukan. Hatinya rasanya benar-benar sakit. Ia tidak pernah merasakan sakitnya dikhianati sampai seperti ini.
"Kau tidak usah mencemaskanku. Karena aku bahagia melihatmu menikah dengan Ogi," kata Fedi sambil mengelus punggung Arisa.
"Papa!" Arisa melepas pelukan dan menatap kesal ayahnya.
"Dia lelaki yang paling aku percaya. Aku akan pergi dengan tenang kalau kau hidup bersamanya. Mungkin inilah cara Tuhan menjawab doaku, Nak..." sahut Fedi.
"Papa, jangan bicara begitu. Memangnya Papa mau pergi kemana? Justru aku yang harus pergi sekarang," balas Arisa. Dia dan ayahnya kembali berpelukan.