Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Sebuah rahasia
Ervana menghentikan langkah kakinya ketika suara lembut milik Renita masuk ke indera pendengarannya. Sang anak angkat mendekat dengan gerakan memprovokasi. Renita mengenakan gaun panjang yang membalut sempurna tubuh indahnya. Ia terlihat seperti putri kerajaan yang siap dipersunting pangeran berkuda.
"Ada apa?" Ucap Ervana dengan pelan, terlalu malas untuk meladeni si anak angkat.
"Aku hanya ingin menyapa kakakku yang terlihat-"...Ervana menahan napas, siap mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir mungil Renita. "Menjijikkan". Renita berbisik tepat di telinga kanan sang kakak. Ervana mundur selangkah, berusaha menguasai diri. Sementara Renita terlihat begitu bahagia karena berhasil memprovokasi sang kakak.
"Jangan melewati batasanmu, Renita". Ervana berucap dengan suara bergetar.
"Melewati batasan? Aku tau jika kau menghabiskan malam panjangmu bersama seorang pria".
"CUKUP". Ervana berteriak nyaring. Kalimat yang diucapkan Renita sukses membuat jantungnya berpacu lebih kencang. Minggu lalu, ia diculik dan gadis itu begitu kaget ketika mendapati dirinya tertidur tanpa busana di sebelah pria yang tertidur memunggunginya. Ervana memilih pergi sebelum pria itu bangun, entah siapa pria itu Ervana tak peduli. Beberapa hari ini gadis itu mendapatkan teror menakutkan berupa ancaman pembunuhan yang nyaris membuatnya hilang akal.
"Cih, aku sungguh tidak menyangka jika gadis sok polos sepertimu nyatanya tak lebih dari seorang wanita murahan".
"Tutup mulutmu, Renita!" Ervana berteriak nyaring sambil menutup kedua telinganya. Suara kencang itu sukses membangunkan seluruh penghuni rumah. Lucas Moses terlihat berantakan dengan setelan piyama hitamnya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti orang gila?" Lucas menatap tajam sang adik yang memilih menundukkan kepalanya daripada menatap wajah intimidatif miliknya.
"A-aku tidak apa-apa". Ervana menjawab dengan suara bergetar khas orang ketakutan.
"Berisik sekali! Ada apa?" Efendi Moses yang baru saja bergabung menatap tajam wajah penuh ketakutan sang putri.
"Kakak berteriak seperti orang stres. Aku takut ia mengalami depresi karena tidak suka dengan kehadiranku". Renita menunduk sedih sambil menyeka air matanya, sungguh pintar bermain drama.
"Apa maksudmu, Nak?" Eva menyentuh pelan lengan putri angkatnya. Wanita paruh baya itu tak dapat me menyembunyikan raut penasarannya.
"Kak Ervana baru saja mengusirku. Ia tidak suka dengan kehadiranku di rumah ini. Ia mengaku mengalami depresi berat karena ayah dan ibu menyayangiku". Isakan pilu itu terdengar begitu menyedihkan. Renita mendudukkan tubuhnya di lantai dingin rumah itu. Gadis itu terlihat seperti seorang tawanan perang paling menyedihkan sekarang.
"Ervana, apa maksudnya?!" Lucas berteriak marah sambil mencengkeram kasar pergelangan tangan adiknya. Sementara Ervana menatap intens wajah sang kakak, berusaha mencari-cari sisa-sisa rasa sayang yang dulu menjadi miliknya. Sial, ia tak menemukan apapun di sana selain amarah yang siap meledak kapan saja. Ini seperti sebuah pengadilan. Ervana layaknya seorang tahanan yang siap dihukum mati. Ah, sejak dulu hidupnya memang tidak pernah beruntung.
"Aku tidak pernah iri hati-"..
"Kak, kenapa berbohong? Katakan kebenarannya selagi ada ayah dan ibu! Aku sungguh merasa bersalah karena menjadi penyebab kecemburuanmu". Renita menatap intens wajah Ervana. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyum licik yang hanya disadari oleh Ervana.
"Baiklah, karena kakak tidak ingin mengaku kurasa lebih baik kita memutar rekaman CCTV". Renita bangkit lalu menyeka air matanya dengan kasar. Selangkah lagi, sang putri kandung akan dibuang oleh keluarganya sendiri.
"JANGAN!" Ervana berteriak panik. Rekaman CCTV? Bukankah rekaman itu menangkap semua obrolan mereka barusan? Ini menakutkan! Bagaimana jika keluarganya mengetahui tentang rahasia yang disimpannya rapat-rapat itu?
"Kenapa? Kau takut keburukanmu terbongkar?" Lucas menatap adiknya dengan jijik. Pria itu melepaskan cengkeramannya dengan kasar, tak peduli tindakannya barusan menyakiti adiknya.
"Aku memang depresi! Aku cemburu karena kalian semua lebih memperhatikan Renita dan mengabaikanku. Aku nyaris gila karena kecemburuanku. Maaf, maafkan aku". Dengan suara bergetar, Ervana mengakui semua hal yang bertentangan dengan hati nuraninya. Setidaknya ini lebih baik daripada keluarganya mengetahui tentang rahasia besarnya.
"Dasar bodoh! Menjijikkan sekali Ervana". Lucas mendorong tubuh ringkih adiknya tanpa mempedulikan air mata kesakitan gadis itu.
"Kau selalu saja membuatku malu, sialan". Teriakan nyaring itu seperti sebuah deklarasi perang. Lucas kini menganggap adiknya hanyalah seonggok sampah tak berguna.
"Telpon dokter kejiwaan. Aku ingin memastikan sendiri kondisi mental gadis menjijikkan ini". Lucas berlalu sambil membawa sisa-sisa amarahnya. Sedikit tidak menyangka jika adik yang dulu begitu disayanginya kini seperti sosok asing dan menakutkan di matanya.
Renita tersenyum licik melihat wajah sedih kakaknya. Permainan sebenarnya baru saja dimulai, batin gadis itu.