Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARMA YANG MENJEMPUT
Matahari Jakarta terasa membakar kulit Laras yang kini tampak kusam. Tidak ada lagi mobil mewah ber-AC yang menjemputnya. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas besar berisi tumpukan "harta" yang dulu ia bangga-banggakan di depan Rangga. Laras berjalan terseok menuju sebuah pasar loak di sudut kota yang pengap. Bau sampah dan debu jalanan langsung menyerbu indra penciumannya, bikin dia ingin muntah, tapi perutnya yang keroncongan jauh lebih menyiksa.
Ia berhenti di depan sebuah lapak barang bekas yang pengap. Dengan tangan gemetar, Laras mengeluarkan tas bermerek dan kalung emas putih yang dulu ia beli pakai uang tabungan Rinjani yang ia curi. "Bang, ini... ini barang asli semua. Bisa hargai berapa?" suaranya serak, matanya menatap penuh harap pada si penjual yang sedang asyik merokok.
Si abang penjual cuma menatap sekilas sambil mencibir. "Ah, barang begini mah sudah banyak yang jual, Mbak. Tasnya juga sudah ada lecetnya sedikit tuh. Semuanya saya bayar dua juta deh. Mau nggak? Kalau nggak mau ya sudah, cari lapak lain sana."
"Dua juta?! Bang, ini belinya dulu puluhan juta loh! Kok murah sekali sih?" jerit Laras tak percaya. Air matanya nyaris jatuh. Angka itu bahkan tidak cukup buat bayar cicilan pinjaman online yang bunganya terus mencekik lehernya setiap jam.
"Ya sudah kalau nggak mau. Lagian siapa yang mau beli barang begini di masa susah? Ambil atau tinggalkan deh!"
Laras lemas. Dengan hati yang hancur, ia menerima lembaran uang itu. Uang yang dulu biasanya habis buat sekali makan siang mewah dengan Badru, kini harus ia putar otak supaya bisa bertahan hidup seminggu. Perjalanan pulang menuju kos-kosannya pun terasa seperti berjalan menuju liang lahat. Laras kini tinggal di sebuah kamar kos sempit di pinggiran rel kereta api. Kamarnya cuma seukuran liang lahat, pengap, dengan tembok yang berjamur dan atap bocor.
Begitu sampai di kamar, bau apek langsung menyengat hidungnya. Bau ini... bau yang dulu paling ia benci saat masih tinggal bersama Rangga di kontrakan lama. Dulu, ia selalu memaki Rangga karena tidak sanggup menyewa apartemen wangi. "Kamu itu nggak becus ya! Masa istri disuruh tinggal di tempat bau begini!" Kata-katanya sendiri kini terngiang-ngiang di telinga, seolah-olah tembok kamar itu sedang menertawakannya.
Seketika, pintu kamar kosnya digedor kasar oleh pemilik kos. "Laras! Ada polisi nyariin kamu di bawah! Katanya soal kasus penipuan si Badru!"
Laras tersentak. Jantungnya mau copot. Ternyata mimpi buruknya belum selesai. Badru sudah tertangkap polisi di perbatasan, dan karena semua dokumen pinjaman serta penipuan investasi bodoh itu memakai data pribadi Laras, ia ikut terseret. Meski cuma jadi saksi, kabar itu menyebar cepat ke kantor tempatnya bekerja sebagai tenaga kontrak. Esok harinya, surat pemecatan langsung mendarat di mejanya. Laras kehilangan segalanya. Nama baiknya hancur, hartanya habis, dan ia kini cuma seorang wanita malang yang dikejar-kejar penagih utang.
"Rangga... kok aku jadi begini sih?" isak Laras sambil memeluk lututnya di pojok kamar yang gelap. Ia baru sadar, saat ia menghina Rangga sebagai parasit, sebenarnya dialah yang selama ini hidup di bawah lindungan ketulusan suaminya. Sekarang, setelah pelindung itu ia usir dengan kejam, badai karma datang menghantam tanpa ampun.
Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang penuh kepalsuan, udara Bandung pagi ini terasa segar sekali. Di teras ruko yang kini sudah disulap jadi kafe angkringan yang estetik, Rangga sedang sibuk menata kursi. Wajahnya tampak jauh lebih cerah, badannya pun lebih berisi. Tidak ada lagi raut kelelahan yang menyedihkan di matanya.
Karena usahanya makin ramai, Rangga memutuskan buat memperkerjakan seorang pemuda yatim piatu bernama Galih untuk membantunya. "Lih, sate usus sama telurnya jangan lupa dibakar dulu ya sebelum jam buka nanti sore. Biar orang nggak nunggu lama," ujar Rangga dengan nada yang sangat berwibawa tapi tetap ramah.
"Siap, Mas Rangga! Beres deh!" sahut Galih penuh semangat. Rangga merasa senang bisa berbagi rezeki. Dia ingat betul rasanya susah cari kerja, makanya dia ingin jadi orang yang bermanfaat buat orang lain.
Lalu, perhatian Rangga teralihkan oleh suara tawa kecil yang sangat ia kenal. Dari arah depan, Syakira tampak datang menggendong tas sekolah kecil berwarna merah muda. Di sampingnya, Rinjani berjalan dengan melompat-lompat kecil. Hari ini adalah minggu kedua Rinjani masuk PAUD, dan Syakira yang paling semangat antar jemput anak itu kalau Rangga sedang sibuk di pasar pagi.
"Ayah! Tadi Rinjani dapat bintang empat loh dari Bu Guru!" teriak Rinjani sambil berlari memeluk kaki Rangga. Pakaian sekolahnya bersih sekali, sangat kontras dengan bajunya dulu yang sering kumal saat masih di Jakarta.
"Wah, hebat sekali anak Ayah! Kok bisa dapat bintang empat sih?" tanya Rangga sambil menggendong putrinya dan mencium pipinya gemas.
"Soalnya tadi Rinjani bisa gambar rumah, Ayah. Terus Kakak Cantik bantu Rinjani pilih warnanya," jawab Rinjani sambil menunjuk Syakira yang berdiri sambil tersenyum malu-malu. Rinjani sekarang sudah mulai memanggil Syakira dengan sebutan "Kakak Cantik", sebuah kedekatan yang bikin hati Rangga merasa hangat sekali.
Syakira mendekat, tangannya lincah merapikan kerah baju Rinjani yang sedikit terlipat. "Tadi di sekolah dia pintar sekali, Mas. Nggak nangis sama sekali pas ditinggal. Malah dia yang kasih semangat ke teman-temannya yang nangis," cerita Syakira.
Rangga menatap Syakira dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur yang mendalam. Gadis ini bukan cuma cantik parasnya, tapi hatinya tulus sekali. Dia tidak pernah memandang Rangga sebagai duda miskin atau kuli panggul pasar. Syakira menatapnya sebagai seorang lelaki yang berjuang, dan itu bikin harga diri Rangga yang dulu diinjak Laras perlahan-lahan pulih kembali.
"Mbak Syakira... terima kasih ya sudah repot-repot jemput Rinjani. Saya benar-benar nggak tahu harus balas pakai apa," ucap Rangga lirih.
Syakira menggeleng pelan, matanya menatap Rangga dengan ketulusan yang bikin jantung Rangga berdebar. "Kok ngomongnya gitu sih, Mas? Saya lakukan ini karena saya sayang sama Rinjani. Dan... saya senang kok kalau bisa bantu Mas Rangga."
Seketika, suasana jadi canggung tapi manis. Rangga bisa merasakan kalau hidupnya sekarang sudah benar-benar berada di jalur yang benar. Dia punya usaha yang maju, anak yang bahagia, dan seseorang yang tulus peduli padanya.
Namun di sisi lain, bayangan Laras sesekali melintas di pikirannya. Bukan karena rindu, tapi lebih ke arah kasihan. Rangga tahu betul watak mantan istrinya itu. Tanpa ada orang yang menyokongnya, Laras pasti akan hancur oleh gengsinya sendiri. Rangga menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kenangan buruk itu.
"Ayah, nanti kalau Kakak Cantik main ke sini lagi, kita makan sate bareng-bareng ya?" rengek Rinjani membuyarkan lamunan Rangga.
"Iya, Sayang. Apa pun buat Rinjani deh," sahut Rangga sambil tersenyum.
Roda kehidupan memang benar-benar berputar. Dulu Rangga yang menangis di terminal Jakarta di bawah guyuran hujan, kini ia tertawa di bawah langit Bandung yang cerah. Sementara Laras, yang dulu tertawa sinis dari balik jendela kaca, kini harus merasakan dinginnya lantai kos-kosan dan pahitnya karma yang datang menjemput tepat waktu. Rangga tidak membenci Laras, ia cuma sudah selesai. Baginya, Laras adalah bagian dari bab buku yang sudah ia tutup rapat dan tidak akan pernah ia buka lagi.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,