NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 30) Tanda-tanda

Langit jingga menandakan bahwa sore sudah berkumandang. Cahaya matahari mulai menembus dinding kaca tinggi milik gedung pusat ODM Company.

Di lantai paling atas tepatnya di ruang kerja David Mendoza, suasana terasa tenang dibandingkan lantai-lantai lain yang mulai ditinggalkan para karyawan. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung halus, serta bunyi samar lalu lintas kota yang terdengar dari kejauhan.

Di balik meja kerjanya, David duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Beberapa berkas terbuka di hadapannya, tetapi matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya sedang melayang pada banyak hal yang tidak berhubungan dengan angka atau laporan bisnis.

Pintu ruang kerja itu kemudian diketuk dua kali.

"Masuk," ujar David singkat tanpa mengangkat kepala.

Pintu terbuka perlahan dan seorang pria bertubuh tegap yang tak lain adalah Leo, melangkah masuk. Ia mengenakan setelan hitam rapi dengan sikap penuh hormat.

"Tuan…" sapa Leo sambil membungkuk sekilas.

David akhirnya mengangkat pandangannya dan mengangguk kecil sebagai balasan. Wajahnya kembali serius, seolah ia sudah tahu bahwa kedatangan Leo bukan sekadar untuk menyampaikan laporan biasa.

"Bagaimana?" tanya David dengan suara tenang namun tegas. "Apa kau sudah membawa informasi yang aku minta tadi?"

"Iya, Tuan.." jawab Leo segera. Ia melangkah sedikit mendekat ke meja kerja David, kemudian membuka sebuah map tipis yang sejak tadi ia pegang.

"Seperti yang kita ketahui bersama," ucap Leo perlahan, "sudah hampir setahun lebih Mario Eltocuyo berada di Venezuela sejak kematian Nona Julia Ferreira."

Tangan David yang semula memegang pena kini perlahan diletakkan di atas meja. Matanya menatap lurus pada Leo, menunggu kelanjutan penjelasan.

"Rumor mengatakan bahwa dia pergi ke sana untuk urusan bisnis," lanjut Leo.

Leo berhenti sebentar lalu menyampaikan, "tetapi... yang sebenarnya terjadi tidaklah demikian."

Kening David langsung berkerut. Garis di antara alisnya terlihat jelas, menandakan pikirannya mulai bekerja cepat. Ia tidak menyela, hanya memberi isyarat agar Leo melanjutkan.

"Satu tahun ia menetap di Venezuela bukan mengurus soal bisnis saja," kata Leo. "Melainkan.. Dia menggunakan waktu itu untuk mengumpulkan relasi dan kekuatan."

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Leo menutup map di tangannya dengan pelan sebelum berkata, "Jadi dapat disimpulkan bahwa kedatangannya kembali ke Brazil… adalah untuk membalaskan dendam kepada Anda."

David terhentak. Tatapannya mengeras, seperti kilatan logam yang baru diasah. Namun keterkejutan itu belum selesai, ketika Leo kembali membuka suara dengan nada yang lebih serius.

"Sebagai bukti... barusan saya mendapat informasi dari organisasi." Leo menarik napas pendek. "Pagi ini, kelompok Dark Wings milik Mario Eltocuyo telah melakukan penyerbuan terhadap anak-anak The Black Tiger yang berjaga di dermaga Aloha."

Pernyataan tersebut jatuh bagaikan sambaran petir. Mata David langsung melotot tajam. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah tegang. Rahangnya mengeras hingga urat di pipinya tampak menonjol.

"Kurang ajar…" desisnya. "Pantas aku tidak menerima sinyal apapun dari sana sejak tadi pagi hingga sekarang."

Tangannya terkepal kuat di atas meja hingga kuku-kuku jarinya memucat. Kemarahan yang selama ini terkendali kini mulai merambat naik, seperti api yang perlahan menyala dalam dada.

Dalam benaknya, berbagai potongan kejadian tiba-tiba terhubung satu sama lain.

"Aku memang sudah curiga ketika dia mengajak Laila bicara kemarin," pikir David dalam hati.

Ingatan itu muncul jelas di kepalanya. Tatapan Mario, senyum tipis yang penuh makna, dan cara pria itu memandang Laila seakan tengah memperkirakan sesuatu.

"Kabar pernikahanku lah yang membuatnya kembali." David menarik napas panjang, tetapi rasa berat di dadanya tidak juga hilang.

"Karena Mario... pasti ingin membuatku merasakan apa yang telah ia rasakan setahun lalu."

Mata David meredup sejenak ketika sebuah nama kembali muncul dalam benaknya.

Julia Ferreira.

Mantan kekasihnya yang meninggal dunia setahun lalu. Seorang wanita yang hampir diperistri oleh Mario Eltocuyo, bahkan mereka sudah bertunangan. Tetapi David telah merenggut kebahagiaan itu karena ego.

Kematian Julia menjadi suatu tragedi yang membuat David dicap sebagai pria kejam yang tega membunuh kekasihnya. Namun, entah tudingan itu benar atau tidak, hanya David, Julia dan Sang Pencipta yang tahu.

Yang jelas, peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Mario. Sehingga, reaksinya yang semula penuh kesedihan dan amarah, menjalar menjadi dendam kesumat.

David menghela nafas, batinnya kian bergulat. "Padahal… kami berdua sama-sama kehilangan Julia."

David memejamkan mata sesaat, lalu memijit keningnya dengan jari-jari yang sedikit gemetar. Pikiran yang selama ini ia tekan kini kembali berantakan, seperti gelombang yang menghantam dinding ingatannya.

"Tidak… tidak…" gumamnya pelan.

"Disini… akulah yang salah."

Sebuah suara dalam hati David berbisik tajam. "Sebab telah merebut Julia darinya."

"Haiikhhh..." deru nafas David keluar kasar dari hidungnya. Ia membuka mata lagi, dan kali ini sorotnya jauh lebih dingin.

Perasaan bersalah itu masih ada, tetapi ia tahu satu hal yang jauh lebih penting sekarang.

Matanya mendadak tajam seperti pisau. "Aku... harus melindungi Laila dari kebengisan pria itu."

**********

Malam datang perlahan, membawa udara yang lebih dingin dengan langit dipenuhi bintang samar. Ketika jarum jam menunjuk pukul dua belas lewat sedikit, mobil hitam milik David akhirnya berhenti di halaman rumah besar mereka.

Lampu-lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Suasana rumah tampak tenang.

David masuk ke dalam dengan langkah mantap. Jasnya masih melekat rapi di tubuhnya, tetapi wajahnya terlihat lebih lelah dibanding biasanya.

Ia tidak menuju kamar sendiri. Sebaliknya, langkahnya berhenti di depan pintu kamar Laila.

David mengetuk sekali, lalu tanpa menunggu jawaban ia membuka pintu pelan-pelan.

Pemandangan di dalam membuat sudut bibirnya terangkat. Di dekat jendela besar yang menghadap taman, Laila duduk di kursi empuk sambil membaca buku. Kilau lampu meja menerangi wajahnya yang tenang. Sementara tirai yang setengah terbuka, membiarkan cahaya bulan masuk ke ruangan. Wanita itu belum menyadari kedatangan David.

David tersenyum tipis. Kemudian ia melangkahkan kaki menghampiri Laila.

"Apakah bagian pinggangmu sudah sembuh?" tanyanya tiba-tiba.

"Ah!"

Laila langsung terlonjak kaget. Buku di tangannya hampir saja jatuh ke lantai kalau saja David tidak sigap menangkapnya lebih dulu.

"Astaga, sampai segitunya…" ujar David sambil mengangkat alis.

Laila menatapnya kesal dengan pipi yang sedikit memerah. "Habis... Anda tiba-tiba muncul sambil melontarkan pertanyaan aneh itu!" protesnya.

David terkekeh pelan. Ia mengambil satu helai rambut Laila yang terlepas dari belakang telinganya lalu memutarnya dengan santai di antara jari.

"Kau kan tinggal menjawabnya," katanya ringan.

Wajah Laila semakin mendidih. Ia menunduk sedikit, lalu menjawab dengan suara pelan yang hampir seperti bisikan.

"Lu—lumayan…"

"Intinya tidak sesakit tadi pagi."

David mengangguk puas. "Ooh..."

Laila tiba-tiba mengangkat pandangan lagi. "Anda sendiri…" katanya ragu.

David mengerutkan kening. "Aku?"

"Apakah anda sudah benar-benar pulih?"

David terperangah selama satu detik, lalu senyumnya perlahan melebar. Pipi pria itu bahkan merona ketika ia menjawab dengan nada menggoda.

"Seperti yang kau lihat," ujarnya santai. "Aku baik-baik saja berkat obat mujarab darimu."

Sebelum Laila sempat bereaksi, David mengangkat dagu wanita itu hingga membuat wajah mereka sangat dekat, dengan hanya dipisahkan oleh beberapa sentimeter udara.

Nafas Laila terasa tidak stabil.

"Cih…" decihnya sambil menepis tangan David.

Gerakan itu cukup tiba-tiba hingga membuat David sedikit tersentak.

Hening.

Selama beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang berbicara, tetapi suasana di antara mereka terasa hangat.

David kemudian memperhatikan Laila lebih lama. Tanpa sadar ia menyadari sesuatu.

Wanita itu sudah hampir dua bulan tinggal bersamanya. Selama itu pula Laila tidak melakukan apa-apa selain tidur, makan, berbelanja, dan sesekali jalan-jalan. Bagi orang lain mungkin kehidupan seperti begitu terdengar menyenangkan, tetapi David tahu Laila bukan tipe orang yang bisa hidup tanpa kesibukan. Sebab Laila adalah seorang workaholic (gila kerja). Sebagai contoh, sebelum menjadi istrinya saja, wanita itu bekerja habis-habisan demi uang. Bahkan di pesta black hot party sekalipun, tempat dimana mereka pertama kali bertemu.

Selain itu, ada alasan lain yang jauh lebih penting. David sedang mencari cara agar tetap bisa memantau Laila dalam jarak dekat, supaya wanita itu tidak menjadi sasaran Mario Eltocuyo.

Setelah bergumul cukup lama dalam pikirannya, David akhirnya membuka suara lagi.

"Apa kau bosan di rumah terus?" tanyanya.

Laila tidak bersuara. Ia menunduk sebentar, lalu mengangguk kecil.

David menghela nafas pelan, selepasnya berkata dengan nada santai yang seolah tidak terlalu dipikirkan.

"Bagaimana kalau awal bulan depan… kau bekerja di perusahaanku?"

Laila langsung terhenyak. "Bekerja?" ulangnya.

"Ya," jawab David. "Kebetulan aku membutuhkan seorang sekretaris." Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke meja dekat jendela. "Akhir-akhir ini, aku kasihan dengan Leo. Dia mengerjakan semua hal penting sendirian."

Laila masih terlihat ragu.

"So…" David menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya lagi. "Apa kau bersedia, Nyonya Laila Mendoza?"

Laila menggigit bibirnya pelan. Ia benar-benar berpikir.

Melihat keraguan itu, David menambahkan dengan nada menenangkan. "Tenang saja. Deskripsi pekerjaannya tidak banyak." Ia mengangkat bahu santai. "Dan yang paling penting… gajinya besar."

Laila mengangkat alis. "Berapa?" tanyanya curiga.

David berpura-pura berpikir. "Hmm… sekitar lima puluh ribu dollar, maybe?"

Deg!

"Lima puluh ribu dollar?!" ulang Laila hampir tidak percaya. Matanya langsung membulat lebar. Itu bukan nilai yang sedikit. Sangat fantastis. Yang bila di rupiahkan, menjadi tujuh ratus lima puluh juta rupiah!

Memang selama ini David selalu memberinya uang belanja setiap bulan. Belum lagi golden card yang limitnya tidak terbatas. Secara teknis, Laila bisa membeli apa pun yang ia inginkan.

Tetapi tetap saja rasanya berbeda. Uang dari hasil kerja sendiri selalu terasa lebih memuaskan. Selain itu, ia juga bisa menabung, untuk biaya hidup ketika kembali ke Indonesia nanti.

Memikirkan hal itu saja sudah membuat hatinya bersemangat. Tidak butuh waktu lama bagi Laila untuk mengambil keputusan. Wajahnya langsung berubah ceria.

"Iya!" katanya antusias. "Aku mau."

David tersenyum lega. Ia mengulurkan tangan ke arah Laila dengan sikap formal yang sedikit bercanda. "Kalau begitu, mohon kerja samanya, istriku..."

Laila menatap sesaat tangan itu. Ada sedikit keraguan di matanya, tapi akhirnya ia juga mengulurkan tangan dan membalas jabatannya. Toh semua demi gaji lima puluh ribu dollar. Jelas Laila takkan lari kemana kalau soal uang.

Sentuhan tangan mereka hangat. Di luar jendela, angin malam berhembus sepoi menggerakkan tirai putih. Dan di tengah keheningan malam yang syahdu itu, David dan Laila saling melempar senyum tanpa menyadari bahwa keputusan sederhana yang baru saja mereka buat… akan membawa mereka lebih dekat pada badai besar yang sedang menunggu di depan.

1
M
/Determined/
Wssshh🐳: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Masha 235
maaf ya author yg nulis cerita ini ..maaf kalo sekiranya ada kata kataku yg menyinggung🙏🙏ini secara tidak langsung cerita ini kn perselingkuhan ,1 wanita punya 2 suami..maaf nggak repect🙏🙏
M: yaudah kan tinggal gausah baca kak🙏 novel modelan begini juga banyak kali😂 anda datang-datang cuma ngasih komen begini. ngotorin karya orang aja😍🙏 pelit like dan cuma numpang baca aja banyak omong😍 hargai author. minimal sebagai pembaca ada etikanya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!