NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahnya Benteng Nino

Malam telah benar-benar mengambil alih langit Chiba. Suasana di dalam ruang klub relawan kini hanya diterangi oleh lampu neon yang berdengung rendah, menciptakan bayangan panjang yang statis di dinding. Yukino sudah pulang beberapa menit yang lalu setelah memberiku tatapan peringatan terakhir—sebuah isyarat bahwa aku bermain dengan emosi yang bisa meledak kapan saja.

Aku masih duduk di kursi kayu itu, jemariku perlahan membalik lembaran kertas milik Nino Nakano. Berbeda dengan draf Miku yang penuh keraguan atau Itsuki yang penuh air mata, tulisan Nino adalah sebuah serangan. Kata-katanya tajam, penuh dengan tanda seru yang dipaksakan, dan narasi tentang "perlindungan" yang terasa seperti jeruji besi.

Namun, di balik tinta hitam yang tebal itu, aku melihat variabel yang tersembunyi: ketakutan akan ditinggalkan.

[Keahlian Analitis: Master - Penelusuran Subteks]

[Variabel Tersembunyi: Rasa tidak aman yang terproyeksi sebagai agresi]

Aku baru saja hendak membereskan kertas-kertas itu saat pintu geser ruang klub terbuka kembali. Suaranya yang kasar memecah kesunyian malam. Aku tidak menoleh, karena aku sudah mengenali irama langkah kaki yang cepat dan hentakan sepatu yang penuh amarah itu.

Nino Nakano berdiri di ambang pintu. Napasnya sedikit memburu, rambut merah mudanya sedikit berantakan tertiup angin malam. Ia tidak membawa tasnya; ia pasti kembali ke sini setelah mengantar saudara-saudaranya ke stasiun.

"Aku tahu kau belum pulang, Saiba," suaranya serak, bergetar antara amarah dan keletihan.

Aku meletakkan naskahnya di atas meja, lalu berbalik perlahan. Aku menopang dagu dengan satu tangan, menatapnya dengan pandangan dewasa yang tenang. "Kembali untuk mengambil naskahmu, Nino-san? Atau kau baru sadar bahwa kau meninggalkan sebagian dari rahasiamu di meja ini?"

Nino melangkah masuk, mendekatiku hingga jarak kami hanya terpisahkan oleh meja kayu panjang itu. Ia menunjuk ke arah tumpukan kertas itu dengan jari yang sedikit gemetar. "Berikan padaku. Aku tidak seharusnya menulis sampah seperti itu. Itu bukan aku. Aku hanya terbawa suasana karena provokasi murahmu tadi."

"Sampah?" Aku menaikkan sebelah alis. "Justru sebaliknya. Ini adalah hal paling jujur yang pernah kau hasilkan seumur hidupmu. Kau menulis tentang bagaimana kau ingin mengunci saudara-saudaramu dalam sebuah kotak agar mereka tidak pernah berubah. Kau takut pada masa depan, Nino-san. Kau takut bahwa suatu hari nanti, kau tidak akan lagi menjadi 'Nino dari kembar lima', tapi hanya seorang gadis kesepian yang tidak punya tujuan."

"Diam!" Nino membentak, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang tajam. "Kau tidak tahu apa-apa tentang kami! Kau hanya orang asing yang datang dan mengacak-acak segalanya! Kenapa kau harus muncul? Kenapa kau tidak tetap mati saja saat kecelakaan itu?!"

Kalimat terakhirnya menggantung di udara, berat dan menyakitkan. Namun, aku tidak marah. Aku bangkit dari kursi, melangkah memutari meja hingga aku berdiri tepat di hadapannya. Aku jauh lebih tinggi darinya, dan kehadiranku seolah menelan ruang di sekitarnya.

Sifat protektifku muncul, namun kali ini bukan untuk melindunginya dari orang lain, melainkan melindunginya dari kebencian terhadap dirinya sendiri.

"Kau berteriak karena kau takut aku benar," ujarku dengan suara yang sangat rendah dan tenang. Aku mengulurkan tangan, mengambil naskahnya dan menyodorkannya tepat di depan wajahnya. "Lihat ini, Nino. Di halaman ketiga, kau menulis: 'Aku benci perubahan karena perubahan berarti perpisahan'. Itu bukan kata-kata seorang penguasa. Itu adalah rintihan seorang gadis kecil yang tidak ingin kehilangan rumahnya."

Nino mencoba menyambar kertas itu, namun aku mengangkatnya lebih tinggi. Ia kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja menabrak dadaku. Aku tidak mundur. Aku membiarkan ia bersandar di sana sejenak, merasakan detak jantungnya yang berpacu liar.

"Lepaskan..." bisiknya, namun ia tidak melawan. Kekuatannya seolah hilang begitu saja saat ia menyentuh realitas yang selama ini ia sangkal.

"Naskah ini adalah senjatamu, Nino," ujarku, kali ini lebih lembut. Aku menundukkan kepalaku agar bisa menatap langsung ke dalam matanya yang kini tumpah oleh air mata. "Jangan dibuang. Jika kau ingin melindungi saudara-saudaramu, lindungilah mereka dengan kebenaran, bukan dengan kebohongan bahwa kalian akan selalu sama. Kau harus tumbuh, agar kau punya kekuatan untuk merangkul mereka saat mereka berubah nanti."

Nino terisak pelan, tangannya mencengkeram kemeja seragamku. Benteng kokoh yang ia bangun dengan pita hitam dan sikap ketusnya kini runtuh sepenuhnya di depanku. Di ruang yang dingin ini, ia bukan lagi 'Nino yang tak terkalahkan'. Ia hanya seorang gadis yang butuh divalidasi identitasnya.

[Status Pekerjaan: 94%]

[Status Hubungan: Nino Nakano - Fase Keruntuhan Benteng]

[Variabel Baru: Kepercayaan Mutlak mulai terbentuk]

Aku membiarkannya menangis selama beberapa menit. Di duniaku yang analitis, ini adalah proses 'reset' yang diperlukan. Aku mengusap punggungnya perlahan, sebuah gerakan yang sangat manusiawi dan jauh dari kesan robot.

"Menangislah sepuasmu," bisikku. "Naskahmu akan aman bersamaku. Aku akan menjadikannya bab yang paling kuat dalam proyek kita. Tapi dengan satu syarat: kau harus berhenti berbohong padaku, dan pada dirimu sendiri."

Nino mendongak, wajahnya sembab namun ada kejernihan baru di matanya. Ia menatapku dengan pandangan yang tidak pernah ia berikan pada pria mana pun sebelumnya—sebuah campuran antara kebencian yang memudar dan ketergantungan yang baru lahir.

"Aku membencimu, Ren Saiba," ucapnya dengan suara parau, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya pada kemejaku. "Aku benar-benar membencimu karena kau membuatku terlihat begitu lemah."

"Kebencian adalah awal yang bagus untuk sebuah cerita romansa, Nino-san," balasku dengan senyum tipis yang nakal namun hangat.

Suasana di dalam ruang klub relawan perlahan-lahan mulai mendingin, menyisakan kehangatan yang canggung di antara kami. Isak tangis Nino telah mereda, berganti dengan napas yang lebih teratur meskipun bahunya sesekali masih bergetar. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya pada kemejaku, menyadari posisi kami yang sangat intim di bawah temaram lampu neon.

Nino membuang muka, jari-jarinya yang ramping sibuk mengusap sisa air mata di pipinya yang memerah. "Jangan pikir ini berarti kau menang, Saiba. Aku hanya... aku hanya sedang lelah secara emosional karena naskah sialan itu."

Aku menarik diri satu langkah ke belakang, memberikan ruang bernapas yang ia butuhkan tanpa memutuskan koneksi emosional yang baru saja terjalin. Aku mengambil sapu tangan bersih dari sakuku dan menyodorkannya padanya. "Menang atau kalah bukanlah variabel yang kucari di sini, Nino-san. Aku hanya ingin memastikan draf yang kau tulis tidak berakhir menjadi tumpukan kertas tanpa makna di tempat sampah."

Nino menerima sapu tangan itu, menatapnya sejenak sebelum menggunakannya untuk menutupi wajahnya yang sembab. "Ayo pergi dari sini. Aku tidak ingin tertangkap basah oleh penjaga sekolah dalam keadaan seperti ini."

Kami membereskan tumpukan kertas itu—harta karun emosional dari kembar lima—dan berjalan keluar dari gedung sekolah yang kini sudah benar-benar sunyi. Di luar, udara malam Chiba terasa lebih segar, membawa aroma laut yang samar dari kejauhan. Aku memutuskan untuk mengantarnya hingga ke stasiun, atau setidaknya sampai ia merasa cukup stabil untuk berjalan sendirian.

Langkah kami di atas trotoar terasa sangat lambat. Aku sengaja mengatur tempo agar tidak terburu-buru, membiarkan keheningan malam menjadi penyembuh bagi ketegangan tadi. Nino berjalan di sampingku, kepalanya tertunduk, tangannya memeluk tas sekolahnya erat-erat.

"Saiba," panggilnya setelah beberapa menit terdiam. "Kenapa kau melakukan semua ini? Maksudku, kau baru saja pindah. Kau bisa saja hidup tenang sebagai murid pintar, tapi kau malah memilih untuk masuk ke dalam kekacauan kami."

Aku menatap lampu jalan yang mulai menjauh di belakang kami. "Mungkin karena aku bosan dengan hidup yang terlalu stabil, Nino-san. Di duniaku, variabel yang paling menarik adalah variabel yang sulit diprediksi—seperti kau dan saudara-saudaramu. Membantu kalian menemukan identitas bukan sekadar proyek sekolah bagiku; ini adalah cara untuk membuktikan bahwa narasi hidup tidak harus selalu mengikuti garis yang sudah ditentukan."

Nino tidak menjawab, namun aku bisa merasakan auranya mulai melunak. Saat kami hampir sampai di dekat persimpangan menuju apartemen mewah mereka, aku melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di pinggir jalan. Sosok yang berdiri di samping mobil itu membuatku segera mengaktifkan mode analisis.

Maruo Nakano. Ayah tiri mereka.

Wajahnya yang dingin dan kaku di balik kacamata frame tipis itu tampak tidak senang melihat salah satu putrinya pulang selarut ini dengan seorang pria yang tidak ia kenal.

"Nino," suara Maruo terdengar seperti gesekan logam, tajam dan tanpa emosi. "Aku sudah menunggumu selama tiga puluh menit."

Nino tersentak, langkahnya terhenti. Ketakutan yang berbeda kini muncul di matanya—bukan takut akan perubahan, tapi takut akan otoritas yang selalu menekan mereka untuk menjadi sempurna. "Ayah... aku tadi ada urusan kelompok sastra di sekolah."

Maruo mengalihkan pandangannya padaku. Matanya menyipit, memindai penampilanku dari atas ke bawah seolah aku adalah virus yang mencoba masuk ke sistem keamanannya. "Dan kau? Murid pindahan yang kabarnya mulai sering terlibat dengan putri-putriku?"

Aku melangkah maju, memposisikan diriku sedikit di depan Nino—sebuah isyarat protektif yang halus namun jelas. "Ren Saiba. Saya adalah editor untuk proyek sastra mereka. Kami baru saja menyelesaikan sesi analisis karakter yang cukup mendalam. Mohon maaf jika hal itu membuat Nino-san pulang terlambat."

Maruo mendengus, sebuah suara yang sarat akan penghinaan intelektual. "Sastra. Sebuah hobi yang tidak efisien untuk masa depan mereka. Aku tidak ingin melihat mereka membuang waktu untuk hal-hal emosional seperti itu lagi."

Aku menatap Maruo langsung ke matanya, tidak memberikan ruang bagi dominasinya untuk menjatuhkanku. "Efisiensi tanpa pemahaman diri adalah mesin yang rusak, Nakano-san. Apa yang mereka lakukan hari ini adalah investasi jangka panjang untuk kematangan emosional mereka. Sesuatu yang mungkin tidak bisa Anda berikan dengan hanya menyediakan apartemen mewah."

Nino menarik napas tajam, terkejut karena keberanianku menantang ayahnya secara terbuka. Suasana di pinggir jalan itu mendadak menjadi sangat panas oleh ketegangan antara dua pria dengan prinsip yang bertolak belakang.

Maruo terdiam sejenak, rahangnya mengeras. "Kau punya lidah yang tajam, Saiba. Tapi ingat, aku tidak suka jika ada variabel luar yang mencoba merusak rencana yang sudah kususun untuk mereka. Nino, masuk ke mobil."

Nino menoleh padaku sejenak, matanya memancarkan rasa terima kasih yang bisu sebelum ia melangkah masuk ke mobil. Sebelum pintu tertutup, aku sempat membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar oleh Maruo. "Jangan lupa naskahmu, Nino. Itu adalah milikmu, bukan miliknya."

Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang kembali mencekam. Aku berdiri sendirian di trotoar, menatap lampu belakang mobil yang perlahan menghilang di tikungan.

[Status Pekerjaan: 96%]

[Variabel Baru Terdeteksi: Antagonis Otoriter - Maruo Nakano]

[Status Hubungan: Nino Nakano (Kepercayaan Mendalam)]

Aku menghela napas panjang, mengeluarkan ponselku dan melihat ada pesan masuk dari Utaha.

"Bagaimana sesi dramamu, Ren? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada salah satu dari mereka."

Aku hanya tersenyum tipis dan memasukkan kembali ponselku ke saku. "Cinta adalah variabel yang terlalu kompleks untuk saat ini, Utaha," gumamku pada angin malam.

Aku mulai berjalan kembali menuju rumahku sendiri. Perjalanan ini masih jauh, dan konfrontasi dengan Maruo barusan barulah bab pembuka dari konflik yang lebih besar. Namun, dengan naskah kelima gadis itu di tanganku, aku merasa memiliki senjata yang lebih kuat daripada pengaruh atau uang mana pun di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!