Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosipan Pagi
Pagi itu, suasana di sudut desa di mana Tukang Sayur keliling biasa mangkal terasa lebih riuh dari biasanya. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, menyinari embun yang masih menempel di daun-daun jati, namun kerumunan ibu-ibu sudah tampak memadati gerobak motor milik Kang Maman. Aroma bumbu dapur, ikan asin, dan tempe yang masih dibungkus daun pisang memenuhi udara, namun yang jauh lebih tajam dari aroma pasar itu adalah aroma gosip yang tengah hangat-hangatnya digoreng oleh warga.
"Ealah, Yu... kalian lihat tidak kemarin Mirasih lewat? Itu kulitnya kok bisa seputih susu begitu ya? Padahal dulu kan dekil, kena debu terus kalau bantu pamannya ke sawah," celetuk Bu RT sambil memilih-milih kangkung yang paling segar.
"Bukan cuma putih, Mbakyu! Wanginya itu loh... aduh, kalau dia lewat, aromanya itu mawar campur melati yang mahal sekali. Kayak bau-bau di keraton. Anggunnya itu loh, sekarang kalau bicara pelan tapi tegas. Kita yang dengar saja rasanya langsung mau bilang 'nggih nggih' saja," timpal Bu Nardi, seorang ibu-ibu yang biasanya paling kritis.
Semua ibu-ibu di sana mengangguk setuju. Mereka yang dulu sering kali memandang sebelah mata pada Mirasih , si anak yatim piatu yang selalu memakai baju lungsuran Siska ,kini berbalik memujinya setinggi langit. Perubahan fisik Mirasih yang kini lebih berisi, segar, dan terawat menjadikannya pusat pembicaraan yang tak ada habisnya.
"Ya pantas saja, wong dia itu keturunan orang baik," sahut Bu Maman, istri si tukang sayur, sambil memasukkan cabai ke dalam plastik. "Dulu almarhum Bapak dan Ibunya Mirasih itu kan orang paling dermawan di desa kita. Ingat tidak waktu dulu gagal panen? Almarhum Bapaknya yang bagi-bagi beras ke semua tetangga. Sekarang kebaikannya menurun ke Mirasih. Dia bangun balai desa, menyumbang masjid, irigasi juga diperbaiki. Mirasih itu bener-bener mutiara yang baru ketemu cahayanya."
Di tengah keriuhan pujian itu, dua sosok wanita dengan pakaian sederhana berjalan mendekat. Mereka adalah Mak Inah dan Siti, ibu dan adik dari Aditya. Mereka tinggal di ujung desa yang agak terpencil, jarang sekali keluar untuk bergosip karena Mak Inah lebih banyak menghabiskan waktu di ladang kecil di belakang rumah atau mengurus keperluan rumah tangga.
"Permisi, Kang Maman. Mau beli tempe sama bayamnya dua ikat," ucap Mak Inah dengan suara lembut.
Kehadiran Mak Inah dan Siti seketika membuat suasana sedikit berubah. Ibu-ibu yang tadinya menggebu-gebu memuji Mirasih mendadak terdiam sejenak, saling lirik, namun tak lama kemudian kembali melanjutkan pembicaraan mereka dengan nada yang sedikit disengaja.
Siti, yang masih remaja dan memiliki rasa ingin tahu yang besar, merasa asing dengan pembicaraan orang-orang tentang sosok yang namanya sangat familiar di telinganya.
"Maaf, Bu... saya tadi dengar ibu-ibu bicara soal Mbak Mirasih? Memang ada apa ya dengan Mbak Mirasih? Perubahan apa yang dimaksud?" tanya Siti dengan wajah polos. Terakhir kali ia melihat Mirasih adalah saat mengantar surat, dan ingatannya masih terpaku pada sosok Mirasih yang kurus, pucat, dan menangis histeris di halaman rumahnya.
Pertanyaan Siti itu justru disambut dengan tawa kecil dari beberapa ibu-ibu, seolah-olah Siti baru saja menanyakan hal yang sangat konyol.
"Weladalah, Siti... kamu ini tinggal di mana toh? Di dalam gua?" gurau Bu RT sambil tertawa lebar. "Mirasih itu sekarang sudah jadi ratunya desa ini, Nduk! Dia cantik sekali, wajahnya bersinar, badannya segar berisi, tidak lagi kurus kering kayak dulu. Pakaiannya saja sekarang sutra semua, kalau lewat wangi bunganya semerbak sampai ke ujung jalan!"
"Iya, Siti," tambah Bu Nardi dengan nada serius yang dibuat-buat. "Mbak Mirasih-mu itu sekarang dermawan sekali. Kemarin dia baru saja menyumbang uang banyak untuk pembangunan jalan di desa sebelah. Dia sudah seperti orang kaya dari kota, tapi tetap ramah. Hanya saja, ya itu... auranya sekarang anggun sekali, setiap ucapannya itu berwibawa. Kita saja segan kalau mau menyapa sembarangan."
Mak Inah tertegun mendengarnya. Ia memegang ikat bayam di tangannya tanpa sadar. Pikirannya melayang kembali ke beberapa hari yang lalu, saat Mirasih datang ke rumahnya dalam kondisi hancur, menangis meraung-raung seolah nyawanya dicabut paksa. Bagaimana bisa dalam waktu sesingkat itu, Mirasih berubah menjadi sosok yang begitu kuat dan berkuasa seperti yang diceritakan ibu-ibu ini?
"Apa benar begitu, Bu?" tanya Mak Inah dengan nada ragu. "Terakhir kali dia ke rumah saya... kondisinya masih sangat memprihatinkan."
"Ah, itu kan kemarin, Mak Inah!" seru seorang ibu lainnya. "Mungkin dia baru bangun dari kesedihannya. Sekarang dia sudah bangkit. Kalian harus lihat sendiri rumah Broto. Sekarang pagar besinya tinggi, rumahnya dicat putih mengkilap. Mirasih itu sekarang jadi Nyonyah di sana."
Siti dan Mak Inah hanya bisa saling pandang. Mereka segera menyelesaikan belanjaan mereka. Setelah membayar pada Kang Maman, mereka berpamitan untuk segera pulang. Hati Mak Inah terasa sangat berat, ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dadanya. Ia memikirkan Aditya di perantauan yang sedang sakit, dan ia memikirkan Mirasih yang tiba-tiba menjadi "kaya" dan berkuasa.
Begitu Mak Inah dan Siti menjauh dari gerobak sayur, suasana di sana kembali memanas. Ibu-ibu itu menatap punggung Mak Inah dengan pandangan yang penuh spekulasi.
"Kalian ingat tidak, dulu Aditya itu kan lengket sekali sama Mirasih? Katanya mau serius, tapi malah Aditya pergi merantau biar bisa melamar Mirasih janjinya" bisik Bu RT, memulai babak baru gosip.
"Iya, betul! Tapi lihat sekarang," sahut Bu Nardi sambil menyipitkan mata. "Mirasih sudah jadi orang hebat, tapi si Aditya malah tidak kelihatan batang hidungnya. Malah kabarnya yang saya denger dari Sumi bibinya Mirasih di Jakarta sana Aditya punya kenalan wanita lain, makanya Mirasih sampai menangis-menangis waktu itu."
"Wah, kalau benar begitu, berarti Aditya itu tidak setia ya? Kasihan Mirasih dulu ditinggal dalam keadaan susah, sekarang Mirasih sudah kaya dan sukses, mungkin Aditya malu mau pulang atau malah sudah lupa daratan," timpal yang lain.
"Mungkin saja Mirasih sekarang jadi begini karena sakit hati," duga Bu Maman. "Wanita kalau sudah disakiti itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Lihat saja, sekarang Mirasih malah jauh lebih hebat daripada Aditya. Kalau saya jadi Mirasih, saya juga tidak mau lagi sama laki-laki yang cuma janji-janji tapi malah main api di kota."
Desas-desus itu terus berkembang liar. Di mata ibu-ibu itu, Aditya kini adalah sosok antagonis yang meninggalkan kekasihnya demi janji dan akhirnya terpaut dengan wanita kota, sementara Mirasih adalah sosok pahlawan wanita yang bangkit dari keterpurukan dan membalas dendam dengan kesuksesan. Mereka mulai menduga-duga bahwa kekayaan mendadak keluarga Mirasih adalah "balasan" dari Tuhan atas kesabaran Mirasih menghadapi pengkhianatan Aditya dan kesabaran nya tempo dulu di sakiti keluarganya sendiri.
Sementara itu, di perjalanan pulang, Siti terus bertanya pada ibunya. "Bu, apa benar Mbak Mirasih berubah jadi secantik itu? Apa benar dia sekarang kaya raya?"
Mak Inah menghela napas panjang. "Ibu tidak tahu, Nduk. Tapi kalau semua orang bilang begitu, pasti ada benarnya. Tapi hati Ibu tidak tenang. Perubahan yang terlalu mendadak itu biasanya ada harganya. Ibu cuma takut sama Aditya... kalau dia pulang nanti dan melihat Mirasih sudah berbeda, apa dia sanggup?"
"Tapi kan Kak Adit sayang banget sama Mbak Mirasih, Bu," ucap Siti polos.
"Sayang saja tidak cukup, Siti. Apalagi kalau ada luka yang sudah telanjur dalam," jawab Mak Inah pelan.
Di ujung jalan, mereka berdua berjalan pulang dengan beban pikiran masing-masing. Mereka tidak tahu bahwa di Jakarta, Aditya benar-benar sedang berjuang antara hidup dan mati, sementara di rumah besar Paman Broto, Mirasih sedang duduk di depan cermin, mengoleskan minyak wangi melati ke lehernya, sambil menatap bayangannya sendiri dengan tatapan yang sudah tidak lagi mengenal kata ampun.
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya