NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: JEBAKAN BERKEDOK REZEKI

Hari ke-2.350. Toko Joko Bangunan. Jam 10 pagi.

"TANGAN KAU DARI ISTRIKU!"

Aku berteriak sekencang-kencangnya. Suaraku menggema di ruangan toko yang luas. Dua karyawan yang lagi ngepel lantai langsung menoleh. Kasir di belakang berhenti hitung uang.

Aku dorong Dewi ke belakang. Kuat. Sampai ia hampir jatuh. Lalu aku berdiri di depan Joko dengan mata merah. Darah mendidih. Tangan mengepal siap pukul.

Joko tenang. Terlalu tenang. Ia duduk manis di kursi direktur. Kopi di tangan. Senyum di wajah. Senyum yang sama seperti dulu. Saat ia kirim ular. Saat ia bakar rumah.

"Pak Aryo, santai. Saya cuma ngobrol. Ibu Dewi yang datang sendiri."

Aku lihat Dewi. Istriku itu menunduk. Lehernya merunduk dalam. Seperti malu. Seperti takut. Tapi juga... seperti tergoda. Matanya sayu. Tangannya gelisah.

"Ri, kita pulang."

Dewi diam. Tak bergerak. Kaku.

Joko berdiri. Jalan mendekat. Langkahnya pelan. Tenang. Seperti penguasa.

"Pak, saya serius. Saya mau berubah. Saya tawari Ibu kerja jadi kasir. Gaji 2 juta sebulan. Bapak jadi kepala gudang, gaji 2,5 juta. Total 4,5 juta sebulan."

Ia berhenti di depanku. Jarak satu meter. Cukup dekat untuk kuhajar.

"Cukup buat terapi Risma, sekolah Budi, hidup layak. Bapak pikir, berapa lama lagi bisa bertahan jadi kuli pasar? 30 ribu sehari? Buat makan aja pas-pasan."

Aku diam. Angka itu... 4,5 juta. Surga bagi kami. Gila.

Selama ini aku cari 50 ribu sehari aja susah. Kadang 30. Kadang 20. Kalau sepi, nggak dapat sama sekali.

Tapi aku lihat matanya. Mata iblis yang bersembunyi di balik topeng malaikat. Sinar yang sama. Kejam. Licik.

"TIDAK! Kita pulang, Ri!"

Aku tarik tangan Dewi. Kuat. Paksa.

Dewi nurut. Tapi matanya... matanya ke Joko. Penuh tanya. Seperti ada yang mengganjal. Seperti ada yang belum selesai.

Joko tersenyum. Melambai pelan. "Saya tunggu, Bu. Kapan pun Ibu butuh, pintu selalu terbuka."

Kami pergi. Meninggalkan toko itu. Meninggalkan senyum iblis.

Sepanjang jalan pulang, Dewi diam. Membisu. Tak berkata sepatah pun.

Aku juga diam. Tapi pikiranku kacau. Kenapa Dewi bisa ke sana? Kenapa ia pergi tanpa bilang? Apa yang Joko katakan padanya?

Sampai di rumah, Dewi langsung ke kamar Risma. Duduk di sampingnya. Pegang tangannya. Nangis.

Risma lihat ibunya. Matanya sayu. Lalu tangannya bergerak. Perlahan. Menyentuh pipi Dewi. Lembut. Seperti kapas.

"Bu... Bu... jangan... nangis..."

Suaranya lirih. Tapi jelas. Jelas sekali.

Dewi nangis makin keras. "Nak... maafin Ibu... maafin Ibu..."

Aku di pintu. Diam. Hancur.

Joko sudah mulai masuk. Bukan ke rumah. Tapi ke hati istriku.

---

Malam harinya, kami di kamar. Berdua. Budi tidur di samping Risma—sekarang mereka satu kamar, biar Risma nggak sendiri.

"Ri, ngomong. Kenapa kau ke sana?"

Dewi diam. Matanya ke jendela.

"Ri, aku tanya."

Dewi tarik napas panjang. "Mas, dia kirim orang. Tiap hari. Tawaran kerja. Kadang bawa sembako. Kadang bawa mainan buat Budi."

Aku kaget. "Kau terima?"

Dewi menggeleng. "Nggak. Tapi orang itu terus datang. Bilang Joko berubah. Bilang dia nyesel. Bilang dia mau perbaiki semua."

Aku diam. Joko main psikologis. Licik.

"Dan tadi... aku penasaran. Aku mau lihat sendiri. Apa benar dia berubah."

Aku pegang tangannya. "Lalu? Kau lihat apa?"

Dewi menatapku. Matanya kosong. "Aku nggak tahu, Mas. Dia baik. Ramah. Tawarin kerja. Ngajak ngobrol. Seperti... orang biasa."

Aku tarik napas. "Ri, ingat ular itu. Ingat api yang bakar rumah kita. Ingat Risma yang trauma tiap lihat dia. Ingat kau di rumah sakit jiwa."

Dewi nangis. "Aku ingat, Mas. Tapi aku capek. Capek banget."

Aku peluk dia. "Aku juga capek, Ri. Tapi kita harus kuat. Buat Risma. Buat Budi."

Dewi diam. Tapi matanya... matanya masih kosong. Masih goyah.

---

Hari-hari berikutnya, Joko makin gencar.

Setiap pagi, ada saja orang datang. Bawa ini itu. Kadang sayuran. Kadang susu. Kadang uang seratus ribu—katanya "sedekah".

Aku tolak semua. Tapi Dewi mulai goyah.

Suatu malam, Dewi bicara.

"Mas, mungkin ini jalan. Kita bisa hidup lebih baik. Risma bisa terapi lebih rutin. Budi bisa les. Kita bisa nabung."

Aku marah. Marah sekali.

"KAU LUPA TEROR DIA? LUPA ULAR ITU? LUPA API YANG BAKAR RUMAH KITA?"

Dewi nangis. "Aku nggak lupa, Mas! Tapi aku capek! Capek lihat kamu kerja banting tulang tiap hari, pulang capek, gaji pas-pasan! Capek lihat Risma terapi seadanya karena nggak punya uang! Capek lihat Budi pakai baju bekas terus! Capek, Mas! Capek!"

Aku diam. Tak bisa jawab.

Dewi benar. Aku tahu. Tapi menerima dari Joko? Iblis itu?

"Ri, dia Joko. Dia yang hancurkan kita."

"Mungkin dia berubah, Mas. Orang bisa berubah."

Aku geleng keras. "Nggak, Ri. Iblis nggak akan berubah jadi malaikat."

Dewi diam. Tapi matanya... matanya berkata lain.

---

Malam itu, kami bertengkar hebat.

Dewi teriak. Aku teriak. Suara keras memenuhi rumah.

"KAU NGGAK NGERTI PERASAAN AKU, MAS!"

"AKU NGERTI, RI! TAPI INI JOKO! JOKO!"

"MAKSUDMU AKU BODOH? MAKSUDMU AKU GAMPANG DIBOHONGI?"

"AKU NGGAK BILANG GITU!"

"TERUS? KAU TAK PERCAYA SAMA AKU?"

Budi nangis di kamar. Nangis keras. "PA! MA! JANGAN BERTENGKAR!"

Tapi kami tak dengar. Terus berteriak.

Risma di kursi. Matanya terbelalak. Tubuhnya gemetar. Napasnya cepat. Cepat sekali. Seperti orang kehabisan udara.

Ia tak bisa lari. Tak bisa tutup telinga. Hanya bisa dengar. Hanya bisa lihat. Orang tuanya, dua orang yang paling ia cintai, saling menghancurkan.

Air matanya mengalir deras. Membasahi pipi. Tapi tak ada yang lihat. Semua sibuk dengan amarah masing-masing.

Budi terus nangis. Risma terus nangis diam-diam.

Rumah yang dulu hangat, jadi medan perang.

---

Pertengkaran usai. Dewi di kamar. Aku di teras.

Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar. Dan isak tangis Budi yang mulai mereda.

Aku masuk ke kamar Risma. Ingin minta maaf. Ingin lihat mereka.

Budi tertidur. Lelah nangis. Pipinya masih basah.

Risma masih terjaga. Matanya sembab. Pipinya basah. Ia nangis. Nangis diam-diam.

Aku jatuh berlutut di samping kursinya. "Nak... maaf... maafin Bapak..."

Risma menatapku. Lama. Matanya dalam. Seperti membaca semua isi hatiku.

Lalu tangannya bergerak. Perlahan. Susah payah. Menunjuk ke arah kamar Dewi. Lalu ke aku. Lalu ke dadanya sendiri.

Aku tak paham. "Nak, apa?"

Risma mengulangi lagi. Menunjuk kamar Dewi, aku, dadanya. Tiga kali.

Aku mikir keras. Otakku bekerja. Mencoba mengerti.

Lalu aku lihat matanya. Matanya... seperti ingin bilang sesuatu. Sesuatu yang penting.

Kamar Dewi. Aku. Dadanya.

Ibu. Bapak. Aku.

Satu keluarga.

Jangan hancur.

Aku nangis. "Nak... maksud kamu... kita jangan hancur?"

Risma mengangguk. Pelan. Tapi jelas.

Aku peluk dia. "Nak... maaf... maafin Bapak..."

Risma pegang bajuku. Erat. Seperti takut lepas.

---

Besok paginya, Risma gelisah.

Matanya terus ke arah meja. Ke arah pensil dan kertas yang biasa dipakai Budi menggambar. Berulang-ulang.

Aku bertanya, "Nak, mau apa?"

Risma menatap pensil itu. Lalu lihat aku. Lalu lihat pensil lagi.

Aku ambil pensil. Letakkan di tangan Risma. "Ini, Nak. Mau gambar?"

Tangan Risma gemetar. Susah. Tapi ia coba pegang. Kaku. Jari-jarinya kaku. Tapi ia coba.

Aku pegangi tangannya. Bantu arahkan ke kertas.

Risma coret-coret. Satu garis. Dua garis. Tiga garis. Tangannya lelah. Tapi ia paksakan.

Lalu... huruf.

"B".

Aku tersentak. "Nak?!"

Risma terus menulis. Susah payah. Setiap goresan butuh perjuangan. Keringat di dahinya mulai keluar.

"U".

"B U".

Aku nangis. "Nak, kamu... kamu nulis?"

Risma tak berhenti. Ia tulis lagi.

"D".

"I".

"B U D I".

Budi.

Aku lihat Budi yang masih tidur. Lalu lihat Risma. Risma menatapku. Matanya berkata banyak.

Lalu ia tulis lagi. Satu kata. Lebih susah. Tangan makin gemetar.

"J". "A". "G". "A".

Jaga.

Budi jaga.

Aku nangis. Risma titip pesan: jaga Budi.

Aku peluk Risma. "Nak... Bapak janji... Bapak jaga kalian semua. Budi, kamu, Ibu. Bapak janji."

Risma tersenyum. Senyum tipis. Tapi di matanya, ada kelegaan.

Pintu kamar terbuka. Dewi masuk.

Ia lihat kami berpelukan. Lihat kertas di lantai. Ambil. Baca.

"BUDI JAGA".

Dewi diam. Lalu lihat Risma. Risma menatapnya. Matanya... matanya seperti bertanya, "Bu, kenapa Bapak dan Ibu bertengkar? Kenapa keluarga kita hancur?"

Dewi jatuh duduk. Nangis.

"Maaf, Nak... maafin Ibu... Ibu hampir... hampir..."

Risma meraih tangannya. Dengan susah payah. Tangannya yang lemah meraih tangan Dewi.

"Bu... Bu... aku... di sini..."

Dewi nangis makin keras. "Nak... Ibu sayang kamu. Ibu sayang Budi. Ibu sayang Bapak. Ibu nggak akan... nggak akan..."

Risma tersenyum. Senyum tipis. Lalu tangannya menunjuk ke arahku. Lalu ke Dewi. Lalu ke dirinya sendiri.

"Pa... Bu... aku..."

Satu keluarga. Jangan hancur.

Aku dan Dewi saling pandang. Lalu kami berpelukan. Bertiga. Risma di tengah.

Budi bangun. Lihat kami. Ia ikut merangkak. Ikut pelukan.

"Pa, Ma, Kakak... Budi juga."

Kami berpelukan. Berempat. Di kamar kecil itu. Di pagi yang cerah.

---

Hari itu, Dewi ambil keputusan.

Ia pergi ke toko Joko. Sendirian. Aku awasi dari jauh. Siap kalau ada apa-apa.

Dewi masuk. Joko sambut dengan senyum.

"Bu Dewi, datang lagi. Silakan duduk."

Dewi tak duduk. Ia berdiri. Tatap Joko tajam.

"Pak Joko, saya datang untuk bilang. Terima kasih atas tawarannya. Tapi saya tolak."

Joko berhenti tersenyum. Wajahnya berubah.

"Saya nggak akan kerja di sini. Suami saya nggak akan kerja di sini. Kami nggak butuh uang dari orang yang pernah hancurin keluarga kami."

Joko diam. Matanya mulai merah.

"Bu Dewi, pikir dulu. Ini kesempatan—"

"TIDAK ADA KESEMPATAN DARI IBLIS!"

Dewi berbalik. Jalan keluar. Tegap.

Di pintu, ia berhenti. Menoleh. "Oh iya, jangan kirim orang lagi ke rumah. Kalau masih kirim, saya lapor polisi. Saya punya bukti. CCTV di rumah."

Joko diam. Membeku.

Dewi keluar. Aku sambut di seberang jalan. Kami berjalan pulang. Bergandengan.

"Makasih, Ri. Makasih udah milih keluarga."

Dewi tersenyum. "Bukan milih, Mas. Ini rumahku. Ini keluargaku. Nggak ada harga yang bisa bayar itu."

Sampai di rumah, Risma lihat kami. Tersenyum. Senyum lebar.

"Pa... Bu... pulang..."

Aku cium keningnya. "Iya, Nak. Bapak dan Ibu pulang. Nggak akan pergi lagi."

---

Malam itu, kami tidur berempat di satu kamar. Seperti dulu.

Budi di samping Risma. Pegang tangannya. Risma pegang balik.

Dewi di sampingku. Tangannya di tanganku.

"Mas, kita bisa ya? Lawan semua ini?"

Aku usap rambutnya. "Bisa, Ri. Kita sudah lewati yang lebih berat. Risma, Budi, kamu, aku. Kita kuat."

Di luar, angin malam berhembus. Dingin. Tapi di dalam, hangat.

Kami tertidur. Bersama. Satu keluarga.

Tapi di kejauhan, di toko yang mulai gelap, Joko duduk sendiri.

Marah. Dendam. Merasa dipermainkan.

Ia ambil HP. Tekan nomor.

"Kumpulkan anak buah. Besok kita kerjain."

---

[BERSAMBUNG KE BAB 35: RUMAH JADI ABU]

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!