Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Ambang Batas Kesabaran
Gerimis yang turun perlahan berubah menjadi hujan yang menderu. Tania berdiri mematung di bawah lampu teras yang temaram, menyaksikan sebuah drama yang bahkan lebih buruk dari film picisan mana pun. Di depannya, Rey sedang bersimpuh di atas paving blok yang basah, mendekap Bianca yang tampak tak berdaya.
"Bianca! Bi, bangun!" suara Rey terdengar begitu panik. Ada nada ketakutan yang nyata di sana—nada yang tidak pernah Tania dengar saat ia sendiri sedang sakit atau sedih.
Mama Ratna ikut berlari keluar, wajahnya pucat pasi. "Astaga, Rey! Kenapa dia bisa ke sini? Bawa masuk, Rey! Cepat bawa masuk, hujannya makin deras!"
Tania masih tidak bergerak. Ia melihat suaminya mengangkat tubuh wanita itu dengan sigap, seolah-olah Bianca adalah porselen rapuh yang harus dijaga nyawanya. Saat Rey melewati Tania untuk masuk ke dalam rumah, bahu mereka sempat bersenggolan. Rey melirik Tania sekilas—hanya satu detik—dengan tatapan yang seolah berkata, "Tolong jangan sekarang, Tania. Dia sedang butuh aku."
Pintu depan tertutup, meninggalkan Tania sendirian di teras. Air hujan mulai membasahi ujung sepatunya, tapi ia tidak peduli. Ia merasa seperti baru saja menonton adegan terakhir dari pernikahannya sendiri.
Akankah kau temui hati sebaik dia...
Lirik itu terngiang lagi. Bukan untuk Rey, tapi untuk dirinya sendiri. Tania bertanya-tanya, apakah ada hati yang lebih bodoh dari hatinya yang tetap berdiri di sini?
Tania melangkah masuk ke dalam rumah dengan kaki yang terasa berat. Di ruang tengah, suasana menjadi kacau. Rey membaringkan Bianca di sofa panjang—sofa yang biasanya tempat Tania duduk menunggu Rey pulang. Mama Ratna sibuk mencari minyak kayu putih, sementara Rey terus menggenggam tangan Bianca yang pucat, mencoba menyalurkan kehangatan.
"Tania, ambilkan air hangat dan handuk!" perintah Rey tanpa menoleh. Suaranya terdengar mendesak, seolah Tania adalah pelayan di rumah itu.
Tania berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia tidak bergerak sejengkal pun. "Ambil sendiri, Rey."
Rey menoleh, matanya berkilat marah. "Tania! Kamu nggak lihat dia pingsan? Bisa nggak singkirkan cemburu kamu sebentar saja? Ini soal kemanusiaan!"
"Kemanusiaan?" Tania tertawa, tawa yang terdengar sangat kering dan menyakitkan. "Di mana kemanusiaan kamu saat aku menangis sendirian di kamar setiap malam karena ulah kamu? Di mana kemanusiaan kamu saat kamu lebih memilih menemui dia daripada menjaga perasaan istri kamu sendiri?"
"Tania, cukup!" Mama Ratna menyela, wajahnya tampak bingung tapi juga merasa tidak enak.
"Biar Mama saja yang ambil airnya. Kalian jangan bertengkar di depan orang yang lagi sakit."
"Dia nggak sakit, Ma," ucap Tania tajam. Matanya menatap lurus ke arah Bianca yang matanya mulai bergerak-gerak kecil di balik kelopak yang tertutup. "Dia cuma sedang memainkan perannya dengan sangat baik. Dan hebatnya, Rey selalu jadi penonton paling setia."
"Apa maksud kamu?" Rey berdiri, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Tania. "Kamu pikir dia pura-pura?"
"Buka matamu, Rey. Dia datang ke sini tepat saat kita sedang makan malam dengan Mama. Dia tahu jam berapa kamu ada di rumah. Ini bukan kebetulan. Ini rencana," desis Tania.
Tiba-tiba, terdengar rintihan halus dari sofa. Bianca mulai membuka matanya, mengerjap perlahan seolah bingung berada di mana. Saat melihat Rey, air matanya langsung luruh.
"Rey... maaf... aku nggak tahu harus ke mana lagi. Ayahku... dia marah besar karena aku menolak perjodohan itu... aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu," isak Bianca, suaranya parau dan terdengar sangat malang.
Rey langsung kembali ke sisi Bianca, mengabaikan Tania sepenuhnya. "Tenang, Bi. Kamu aman di sini. Kamu nggak usah takut."
Tania menyaksikan itu semua dengan dada yang terasa kebas. Ia tidak marah lagi. Rasa marahnya sudah menguap, berganti dengan rasa lelah yang teramat sangat. Ia merasa seperti orang asing yang sedang menonton pertunjukan di rumahnya sendiri.
Tania berbalik, berjalan menuju kamarnya—bukan kamar tamu, tapi kamar utama. Ia membuka lemari besar miliknya, menarik sebuah koper berukuran sedang yang selama ini tersimpan rapi di sudut paling atas.
Sret!
Bunyi ritsleting koper itu terdengar nyaring di tengah kesunyian kamar. Tania mulai memasukkan pakaian-pakaiannya. Tidak banyak, hanya yang paling penting. Tania tidak butuh gaun-gaun mahal pemberian Rey. Ia tidak butuh perhiasan yang dibelikan Rey sebagai "uang tutup mulut" setiap kali pria itu melakukan kesalahan.
"Tania? Apa yang kamu lakukan?"
Rey berdiri di pintu kamar, wajahnya tampak kaget melihat koper yang terbuka di atas ranjang.
Tania tidak berhenti. Tania melipat kemeja kerjanya dengan rapi. "Aku mau pergi, Rey."
"Pergi? Kamu gila? Ini sudah malam, hujan deras! Dan ada Bianca di bawah, kamu mau ninggalin aku dalam situasi kayak gini?" Rey berjalan mendekat, mencoba merebut pakaian dari tangan Tania.
Tania menghentikan gerakannya. Ia menatap Rey dengan tatapan paling datar yang pernah pria itu lihat. "Justru karena ada Bianca di bawah, aku harus pergi. Rumah ini sudah punya nyonya baru, kan? Untuk apa aku di sini?"
"Tania, jangan kekanak-kanakan! Dia cuma butuh perlindungan sementara!"
"Perlindungan yang seharusnya kamu kasih ke aku, Rey!" suara Tania naik satu nada, tapi tetap terkontrol. "Tiga tahun, Rey. Tiga tahun aku sabar. Aku kasih kamu kopi yang paling enak, rumah yang paling rapi, dan hati yang paling setia. Tapi bagi kamu, itu semua nggak ada artinya dibandingkan air mata palsu wanita itu."
Tania menutup kopernya dengan satu hentakan kuat. "Kamu bilang kamu suamiku, tapi kamu nggak pernah benar-benar ada. Kamu cuma pemilik sah dari sebuah raga yang jiwanya sudah mati. Sekarang, silakan ambil kembali rumahmu, ambil kembali statusmu. Aku keluar."
"Tania, aku nggak izinkan kamu pergi!" Rey mencengkeram lengan Tania, tapi kali ini Tania menyentaknya dengan tenaga yang tak terduga.
"Kamu nggak punya hak lagi buat izinkan atau melarang aku, Rey. Karena mulai detik ini, aku berhenti jadi istrimu."
Tania menyeret kopernya keluar kamar. Di bawah, Mama Ratna dan Bianca yang sudah duduk tegak menatapnya dengan pandangan berbeda. Mama Ratna tampak panik, sementara di sudut bibir Bianca... Tania bisa melihat sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis.
Tania tidak peduli. Ia terus melangkah menuju pintu depan.
"Tania! Berhenti!" teriak Rey dari atas tangga.
Tania membuka pintu depan. Udara dingin dan aroma tanah basah menyambutnya. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik satu pesan singkat untuk seseorang yang ia tahu akan selalu ada di sana.
Tania: "Yan, jemput aku sekarang. Di depan rumah."
Hanya dalam hitungan menit, sorot lampu mobil Adrian muncul di kejauhan, membelah kegelapan malam. Rey yang menyusul sampai ke teras melihat mobil itu berhenti di depan pagar.
"Jadi ini alasan kamu?" Rey tertawa hambar, matanya penuh dengan kebencian. "Kamu pergi sama laki-laki itu? Kamu selingkuh, Tania!"
Tania berhenti di depan pagar. Ia menoleh untuk terakhir kalinya. "Bukan aku yang selingkuh, Rey. Aku cuma pergi ke tempat di mana aku dianggap 'ada'. Selamat tinggal."
Tania masuk ke dalam mobil Adrian. Saat pintu tertutup, Adrian langsung memegang tangan Tania yang dingin. "Kamu baik-baik saja?"
Tania tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di sandaran jok, menutup matanya rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga saat mobil itu mulai melaju, meninggalkan Rey yang berdiri mematung di tengah hujan, menatap mobil itu sampai hilang dari pandangan.
Di dalam rumah, Bianca bersandar di sofa, menunggu kembalinya Rey dengan rencana baru di kepalanya. Tapi di luar sana, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rey merasakan jantungnya seperti ditarik keluar dari dadanya.