Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Abang Rama
Bab 1
“Gue break dulu ya, pahit nih,” pamit Rama.
“Oke.” Rekan Rama menunjukan ibu jarinya.
Rama membuka loker mengeluarkan ponsel dan rokok. Keluar dari area OK. Agak menjauh dari koridor, apalagi kalau bukan merokok. Baru dua kali his4p ia meneg4ng mendapati banyak panggilan tak terjawab. Dari Ibunya juga pekerja di rumah.
Menghubungi balik ibunya, tidak dijawab. Ia pun menghubungi kontak lain.
“Cing Rohman, tadi nelpon? Ada apaan?”
“Bapak lo dibawa ke RS kita lagi di UGD. Ibu maunya ke SM tempat lo kerja.”
Rokok yang baru terbakar separuh ia lembar ke selokan, Rama berlari di koridor menuju UGD. Masih dengan scrub nurse dan sandal karet yang biasa digunakan di ruang operasi. Nafasnya terengah saat mendorong pintu UGD.
Menatap sekeliling mencari keberadaan ….
“Dok, gimana bapak saya?” Edward menoleh lalu melanjutkan arahannya pada perawat.
“Bapak kamu harus dirawat, kita observasi lebih lanjut.” Edward menepuk bahu Rama saat melewatinya.
Menghampiri ranjang di mana pria paruh baya itu terpejam dengan nafas terengah, perawat sedang memasangkan oksigen.
“Pak, ini aku pak.”
Bapak menoleh sambil membuka pelan matanya.
“Ram … Bapak nggak mau di sini, bawa bapak pulang,” lirih permintaan pria itu.
“Disini dulu pak, nggak kasihan sama ibu. Kalau di sini ada dokter dan perawat yang bantu ngobatin. Sabar ya.”
Rama menandatangani berkas rawat inap lalu mengurus kamar. Sempat menemui ibunya di luar UGD.
“Ram,” ujar wanita itu sambil terisak.
“Nggak pa-pa bu, nanti juga sembuh. Aku urus kamar dulu ya.”
***
“Ram, ibu ke kantin ya. Lihat-lihat bapak, takut butuh sesuatu.”
Rama yang berbaring di sofa panjang pendamping pasien menoleh dan mengangguk. Hampir saja tertidur, ia menguap lalu beranjak duduk.
“Rama aja yang jalan, mau beli apa?”
“Biar ibu, kamu disini sambil istirahat.”
Rama menghela pelan, lalu menatap ranjang di mana bapaknya tertidur. Cairan infus, selang oksigen terpasang di tubuh ringkih pria itu. Akhir-akhir ini kondisinya bapak memang tidak baik, mau tidak mau ia harus membackup urusan dan usaha yang selama ini dikerjakan.
Sepulang dari rumah sakit, harus mengecek kontrakan, kosan atau ruko. Kadang komunikasi dengan para pekerja saja kadang harus dikunjungi. Di rumah ia kan mengecek pembukuan untuk memastikan keuangan usaha itu masih aman.
Ada hal yang masih menjadi beban karena sampai saat ini belum bisa dia kabulkan, permintaan bapak agar ia segera menikah. Siapa yang tidak mau, hanya belum ketemu jodohnya. Pernah dekat dengan Yuli, tapi hubungan mereka lebih cocok menjadi sahabat. Sahabat menghujat dan mengumpat, kini Yuli sedang serius dengan dokter Rendi. Di tim pencari kitab suci, tinggal ia yang masih jomblo. Sapri sudah menikah dua bulan lalu, Lisa sedang menikmati kehamilan dan kebahagiaan bersama Asoka. Kadang menjadi bulan-bulanan dari Beni dan Sapri, biasanya ia yang biang rusuh.
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Lisa Kanaya : Lekas sehat kembali untuk Om Dedi, ayahnya Rama. Sabar ya, Ram. Kamu sama Tante Mira jaga kesehatan jangan ikut sakit
Yuli Imut : Lekas sehat lagi mantan mertua nggak jadi
S4pri : Mau saya temenin mas? Saya shift dua nih
Beni Ganteng : Lekas sehat lagi. Yuli suka bener mulutnya, sungkem sana
Asoka Harsa : Jadwal operasi udah keluar Ram?
Lisa Kanaya : Harus Op?
Yuli Imut : Ya ampun om sakit apa sampai harus OP?
Rama P. : Makasih doanya. Jule, lo harusnya sungkem sama gue kalau mau duluan nikah. Bapak sakit hati
S4pri : Sakit hati sama siapa? Mbak Yuli?
Yuli Imut : Ram, lo udah cerita apa aja tentang gue sampai beliau sakit hati
Beni Ganteng : Mulai pada ngaco
Rama P. : @Yuli, sayang bibir gue ngomongin lo. Sakit hati ya sakit hati. Coba dok, kasih paham si Jule sama Sapri. Heran gue, nggak pinter-pinter
Rama menyimpan ponselnya lalu kembali berbaring menatap langit-langit kamar rawat inap. Membayangkan gadis manis yang sempat ia temui di koridor ternyata teman dari salah satu penghuni kosan. Tidak bisa mencari tahu apalagi mengejar gadis itu, fokusnya terpusat untuk keluarga.
“Sabar ya neng, kita pasti ketemu lagi. Abang siap mencintai eneng.”
***
“Ikut ngumpul lagi di rumah Bela?”
Gita menoleh setelah memasukan tabletnya ke dalam ransel. Kelas hari ini sudah selesai, ajakan Leni untuk gabung dengan circle Bela memang menarik. Selama ini hidupnya terlalu flat, Mama Sarah dan Papa Arya agak mengekang. Tentu saja demi kebaikannya.
Belum ikut ke tempat Bela, katanya tinggal di kosan. Bisa-bisa Pak Iwan, supirnya langsung jemput dan ceramah dari orang tuanya pun harus rela dia dengarkan.
“Ikutlah, nggak akan sampai malam kok. Mereka udah jalan, kita nyusul aja.”
“Tapi aku ….”
“Git, please deh. Hidup itu jangan kaku, dinikmati sih. Emang nggak bosan, aktivitas lo Cuma kampus sama rumah. Gaul Cuma sama gue doang.”
“Pak Iwan, nunggu di parkiran.”
“Ya bilang aja lagi belajar kelompok, besok mau presentasi. Nanti sore lo balik ke sini lagi. Beres ‘kan?”
Gita agak ragu, tapi dia suka bergaul dengan teman seusianya. Merasakan hidup normal seperti gadis lain yang seumuran dengannya.
“Ayo, gue anter nemuin pak Iwan.”
Gita pasrah saat Leni mengajaknya ke parkiran. Pak Iwan awalnya ragu bahkan mencecar banyak tanya, di gedung dan ruang mana dia berada.
“Ya ampun Len, deg-degan aku. Takut Pak Iwan curiga terus ngikutin kita,” seru Gita menatap sekeliling saat turun dari motor. Tidak pernah naik motor sejauh itu tanpa masker dan jaket.
“Nggak bakal. Ayo,” ajak Leni menarik lengan Gita memasuki bangunan kosan. Sempat mengangguk pada penjaga kos dan menunjuk ke arah lantai 2.
Kosan itu lumayan rapi dan mewah. Namun, di kamar Bela itu agak pengap karena asap rokok. Bela dan dua temannya sedang merokok sambil sesekali tergelak. TV layar datar menampilkan girlband korea yang sedang menari sambil menyanyi.
“Woi, baru nyampe sih. Masuklah. Eh, Gita, ikut juga lo?”
“Iya.” Gita duduk di karpet agak jauh dari ketiga perempuan itu, menghindar dari asap rokok.
“Pokoknya harus jadi, nanti gue jemput deh,” ujar Rani lalu menghis4p rokoknya dan mengepulkan asap. “Len, Git, lo ikut nggak?”
“Kemana” tanya Leni mengambil botol air mineral di atas meja, membuka dan meneguk isinya.
“Clubing dong,” sahut Bela.
“Kapan?” tanya Leni beranjak menuju lemari es yang ada di sudut ruangan.
“Malam minggu dong,” kali ini Rani yang menjawab. “Gue yang bayar semua, lo tinggal ikut.”
“Oke,” jawab Leni kembali membawa snack dan apel yang sudah digigit. “Git, lo ikut nggak?”
“Lain kali ya, aku ada acara.”
“Lain kali jangan sampe nggak. Seru tahu. Apalagi Club Mahalla, gila banget. Banyak cogan sama om-om tajir. Kalian tahu, Arlan ketua BEM tahun lalu?”
“Iya, kenapa dia?” tanya Leni sambil membuka snack dan disodorkan juga pada Gita.
“Arlan sering nongki di sana. Pokoknya malam minggu nanti, penampilan gue total sampai si Arlan tergoda terus gue cuekin. Balasan karena menolak perasaan gue,” tutur Bela.
“Balas dendam cinta tak terbalas,” ejek Sisil.
“Si4l loh.”
Gita hanya ikut tersenyum saat yang lain tergelak dan menggoda Bela.
“Tapi ya, bang Rama juga ganteng sih. Lebih ganteng dari Arlan.”
“Siapa lagi itu Rama? Anak jurusan apa?” tanya Rani menggerus batang rokoknya.
“Anak yang punya kosan, orang sini bilang anak juragan Dedi. Udah ganteng, mana tinggi terus … kerenlah. Kerjanya di rumah sakit. Pewaris usaha keluarganya, mantep bener. Baru ngeliat orangnya aja udah bikin gue gemetar, denger suaranya rahim gue langsung bergetar.”
“Itu sih lo belum makan, s4ngean pula. Sakit lo,” ejek Sisil.
“Tapi orangnya cuek, padahal pas ketemu gue udah kasih senyum termanis gue plus penampilan pah4 mulus pake hotpants. Ngelirik juga nggak.”
“Mungkin seleranya bukan lo yang mirip m0nyet bir4hi, kayak Gita yang adem ayem dan manggut-manggut doang,” seru Leni.
“Dih, apaan sih Len.”
“Mungkin idamannya spek ukhti. Bang Rama, jodohmu ada di sini,” ujar Bela, malah mendapat toyoran di kepala dari Rani.
“Gil4 lo.”
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....