Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali, Nathan dan Mahira
Naura tidak menyangka Nathan pulang jam tiga sore.
Biasanya Nathan pulang lewat tengah malam. Atau bahkan tidak pulang sama sekali. Tapi hari ini mobil Nathan masuk ke halaman mansion saat Naura sedang duduk di teras depan sambil baca buku.
Naura langsung berdiri. Jantungnya berdegup cepat. Entah kenapa setiap kali Nathan pulang, Naura selalu nervous. Seperti ada yang mencengkram dadanya.
Nathan turun dari mobil dengan wajah datar seperti biasa. Jas hitam masih rapi. Dasi masih terpasang. Tapi ada sesuatu di wajahnya. Lelah mungkin? Atau kesal?
Pandangan mereka bertemu sebentar.
Nathan melirik Naura dengan tatapan kosong. Lalu berjalan masuk tanpa bilang apa apa.
Tentu saja.
Kapan Nathan pernah sapa Naura duluan?
Naura mengikuti Nathan masuk. Jarak beberapa meter di belakang. Seperti bayangan yang mengikuti tuannya.
"Ada dokumen yang ketinggalan di ruang kerja. Aku ambil sebentar lalu langsung balik ke kantor" Nathan bicara tanpa menoleh. Seperti bicara ke udara. Bukan ke Naura.
"Oh... oke..."
Nathan berjalan ke arah ruang kerjanya di lantai satu.
Tapi sebelum sampai...
Pintu ruang tamu terbuka.
Dan Mahira keluar dari sana.
Waktu berhenti.
Semuanya berhenti.
Nathan membeku di tempat.
Wajahnya yang tadi datar berubah.
Pucat.
Sangat pucat seperti melihat hantu.
Matanya melebar. Mulutnya terbuka sedikit. Napasnya terdengar tercekat.
Tangannya yang memegang kunci mobil gemetar.
Gemetar sampai kunci itu hampir jatuh.
"Ma... Mahira..."
Suara Nathan keluar seperti bisikan.
Bisikan tidak percaya.
Bisikan seseorang yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Mahira berdiri di sana dengan dress cantik warna krem. Rambutnya terurai indah. Senyumnya lembut.
Senyum yang Naura tidak pernah lihat diarahkan padanya.
"Lama tidak bertemu Nathan"
Suara Mahira pelan. Lembut. Penuh dengan sesuatu yang Naura tidak bisa jelaskan.
Kerinduan mungkin?
Nathan tidak bergerak.
Tidak bicara.
Hanya menatap Mahira seperti melihat keajaiban. Atau mimpi. Atau... hantu masa lalu yang kembali menghantui.
Naura berdiri kikuk di samping Nathan.
Merasa seperti orang ketiga.
Merasa seperti tidak seharusnya ada di sini.
Merasa seperti mengganggu sesuatu yang sangat pribadi antara Nathan dan Mahira.
"Ka... kalian kenal?" suara Naura keluar terbata bata.
Bodoh.
Tentu saja mereka kenal.
Naura sudah tahu dari foto itu.
Dari foto Nathan dan Mahira di laci.
Tapi bertanya itu refleks. Karena Naura tidak tahu harus bilang apa.
Mahira tersenyum pada Naura. Senyum yang terlihat manis tapi entah kenapa membuat Naura merinding.
"Iya Naura. Aku dan Nathan teman lama. Kami dulu... sangat dekat"
Sangat dekat.
Kata kata itu terasa seperti pisau.
Nathan masih tidak bicara.
Masih menatap Mahira dengan tatapan yang membuat dada Naura sakit.
Tatapan penuh emosi.
Tatapan yang tidak pernah Nathan arahkan ke Naura.
Tatapan seseorang yang melihat cinta hidupnya.
"Kenapa... kenapa kamu di sini?" akhirnya Nathan bicara. Suaranya serak. Seperti lama tidak dipakai. Seperti habis menangis meski matanya kering.
"Aku berkunjung ke rumah Naura. Aku dan Naura sahabat sejak SMA. Aku tidak tahu kalau... kalau kamu yang jadi suaminya"
Bohong.
Naura bisa merasakan Mahira bohong.
Mahira pasti sudah tahu dari pertemuan di kafe kemarin.
Tapi kenapa dia pura pura tidak tahu?
"Sahabat?" Nathan melirik Naura sekilas. Tatapannya berubah jadi dingin. "Kamu tidak bilang sahabatmu bernama Mahira"
Kenapa terdengar seperti tuduhan?
Kenapa terdengar seperti Naura yang salah?
"Aku... aku tidak tahu kalau kalian kenal..." Naura membela diri dengan suara gemetar.
Nathan tidak jawab. Dia kembali menatap Mahira.
Dan tatapan itu...
Tatapan itu membunuh Naura pelan pelan.
Karena di tatapan itu ada cinta.
Ada kerinduan.
Ada segalanya yang tidak pernah ada saat Nathan menatap Naura.
"Aku... aku sudah mau pulang kok" Mahira meraih tasnya dari sofa. "Senang bertemu denganmu lagi Nathan. Semoga kita bisa bertemu lagi"
Mahira berjalan ke pintu.
Melewati Nathan dengan jarak sangat dekat.
Hampir menyentuh.
Naura bisa melihat tubuh Nathan menegang saat Mahira lewat.
Bisa melihat tangan Nathan mengepal erat di samping tubuh.
Bisa melihat rahang Nathan mengeras.
Seperti menahan sesuatu.
Menahan untuk tidak meraih Mahira.
Menahan untuk tidak memeluk wanita itu.
"Aku antar kamu ke luar" Naura cepat cepat ikut Mahira.
Butuh alasan untuk keluar dari ruangan yang penuh tekanan ini.
Butuh napas segar.
Butuh jarak dari tatapan Nathan yang membunuhnya.
Di depan mobil, Mahira memeluk Naura. "Terima kasih ya Naura. Aku senang banget bisa main ke rumah kamu"
"Sama sama Mahira..."
Mahira masuk ke mobil. Tapi sebelum tutup pintu, dia menatap Naura dengan pandangan yang aneh.
"Naura... kamu bahagia kan sama Nathan?"
Pertanyaan yang sama seperti di kafe.
Pertanyaan yang membuat Naura tidak bisa jawab jujur.
"Iya... aku bahagia..."
Bohong lagi.
Selalu bohong.
Mahira tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku senang kalau kamu bahagia"
Mobil melaju pergi.
Naura berdiri di sana sampai mobil hilang dari pandangan.
Lalu dia berbalik masuk ke mansion.
Nathan sudah tidak ada di ruang tamu.
Naura mencarinya.
Kamarnya kosong.
Ruang kerja...
Pintunya tertutup.
Naura mendekat pelan. Telinganya ditempelkan ke pintu.
Ada suara dari dalam.
Suara napas berat.
Suara langkah mondar mandir.
Lalu...
PRANG!
Suara kaca pecah.
Naura tersentak kaget.
"Nathan?" dia ketuk pintu pelan. "Nathan kamu tidak apa apa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas berat yang makin keras.
"Nathan kumohon... buka pintunya... aku khawatir..."
"PERGI!"
Suara Nathan menggelegar dari dalam.
Keras.
Kasar.
Penuh amarah.
Naura mundur selangkah. Tangannya gemetar.
"Pergi Naura! Jangan ganggu aku!"
Air mata Naura jatuh.
Tapi dia tidak pergi.
Dia duduk di lantai. Di depan pintu ruang kerja Nathan.
Bersandar di dinding sambil memeluk lutut.
Mendengar suara dari dalam.
Suara benda benda yang dilempar.
Suara Nathan yang berteriak entah pada siapa.
Suara kepedihan.
Suara seseorang yang tersiksa.
Dan Naura hanya bisa duduk di luar.
Mendengar.
Menangis.
Merasakan sakit yang luar biasa di dada.
Karena dia tahu.
Dia tahu Nathan tidak pernah bereaksi seperti ini karena Naura.
Nathan tidak pernah emosional karena Naura.
Tapi Mahira?
Mahira bisa membuat Nathan kehilangan kendali hanya dengan kehadirannya.
Mahira bisa membuat Nathan berteriak amarah hanya dengan senyumannya.
Mahira bisa menghancurkan Nathan yang dingin itu hanya dengan kata kata lama tidak bertemu.
Karena Mahira punya hati Nathan.
Punya jiwa Nathan.
Punya segalanya dari Nathan.
Sementara Naura?
Naura bukan siapa siapa.
Hanya istri kontrak yang tidak punya tempat di hati suaminya.
Hanya bayangan.
Hanya penghalang antara Nathan dan wanita yang dia cintai.
Jam berlalu.
Naura masih duduk di sana.
Kaki sudah kram. Punggung pegal. Tapi dia tidak bergerak.
Dari dalam ruangan, suara sudah mereda.
Tidak ada lagi benda yang pecah.
Tidak ada lagi teriakan.
Hanya hening.
Hening yang mencekam.
Naura mencoba ketuk pintu lagi. "Nathan... kumohon... keluar... aku buatin makan malam... kamu pasti belum makan..."
Tidak ada jawaban.
"Nathan..."
Hening.
Naura bersandar lagi ke dinding.
Air matanya sudah kering.
Tidak ada lagi yang keluar.
Hanya kekosongan di dada.
Kekosongan yang makin lama makin luas.
Bi Ijah lewat dan melihat Naura. Wanita tua itu menatap dengan pandangan iba.
"Nyonya... Nyonya tidak apa apa?"
Naura menggeleng. "Aku tidak apa apa Bi..."
"Tuan Nathan di dalam?"
Naura mengangguk.
Bi Ijah mendesah panjang. "Nyonya masuk kamar aja. Istirahat. Tuan Nathan pasti butuh waktu sendiri"
"Aku... aku mau nemenin di sini..."
"Tapi Nyonya..."
"Aku tidak apa apa Bi. Terima kasih"
Bi Ijah akhirnya pergi dengan langkah berat.
Meninggalkan Naura sendirian di koridor yang gelap.
Malam semakin larut.
Jam sembilan. Sepuluh. Sebelas.
Naura masih di sana.
Mata terpejam tapi tidak tidur.
Hanya lelah.
Sangat lelah.
Di dalam ruang kerja, Nathan duduk di lantai dengan punggung bersandar di meja.
Pecahan gelas berserakan di sekitarnya.
Foto yang dia lempar tergeletak di lantai.
Foto dia dan Mahira.
Nathan meraih foto itu dengan tangan gemetar.
Menatap wajah Mahira di foto.
Wajah yang dia rindukan lima tahun.
Wajah yang menghantui mimpinya setiap malam.
Wajah yang membuat dia tidak bisa mencintai wanita lain.
"Kenapa kamu kembali..." bisiknya serak. "Kenapa sekarang... kenapa saat aku sudah mencoba melupakan..."
Air matanya jatuh.
Jatuh ke foto itu.
Membasahi wajah Mahira di sana.
Nathan menangis.
Menangis untuk pertama kalinya sejak Mahira pergi lima tahun lalu.
Menangis untuk cinta yang tidak pernah mati.
Menangis untuk luka yang tidak pernah sembuh.
Dan di luar pintu...
Naura mendengar isakan itu.
Isakan pelan yang lolos dari bibir Nathan.
Isakan yang membuat hatinya hancur berkeping keping.
Karena Nathan menangis.
Tapi bukan untuk Naura.
Untuk Mahira.
Selalu Mahira.
Selamanya Mahira.
Dan Naura?
Naura hanya bisa menangis dalam diam.
Di luar pintu yang terkunci.
Sendirian.
Seperti biasa.
Selalu sendirian.