Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Mahar Kehancuran untuk Sang Pelamar
Marah adalah emosi yang terlalu murah untuk situasi semahal ini. Aku memutar kemudi mobil dengan kasar, membiarkan ban berdecit di aspal jalanan yang masih panas. Madam Widowati benar-benar ingin menguji seberapa dalam jurang yang bisa kugali untuknya. Menjual Seeula pada pria asing hanya demi menyelamatkan mukanya yang sudah tercoreng adalah puncak dari segala kebusukan yang pernah kusaksikan. Di kehidupan sebelumnya, aku melihat Seeula menderita karena egoku, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan ibunya melakukan hal yang sama.
Aku menginjak pedal gas lebih dalam, melesat menuju kediaman keluarga Widowati yang kini dipenuhi mobil-mobil mewah tamu undangan dadakan. Aku tahu siapa pria asing yang dimaksud. Thomas van der Berg, seorang spekulan tanah licik yang di masa depan akan bangkrut karena kasus penipuan berskala internasional. Madam Widowati pikir dia sedang mendapatkan sekoci penyelamat, padahal dia baru saja mengundang hiu kelaparan ke dalam rumahnya.
Aku turun dari mobil tanpa mematikan mesin, melangkah masuk ke halaman rumah megah itu dengan tatapan yang bisa membuat nyali orang biasa menciut. Dua penjaga keamanan mencoba menghalangi jalanku di depan pintu jati yang besar.
"Minggir sebelum aku membuat kalian kehilangan pekerjaan secara permanen," ancamku dengan suara yang sangat rendah namun penuh penekanan.
Mereka ragu sejenak, melihat setelan jasku yang terlihat jauh lebih mahal daripada gaji mereka selama setahun. Aku tidak menunggu mereka memberikan izin. Aku mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, menciptakan dentuman yang cukup keras untuk menghentikan percakapan di dalam ruang tamu yang luas.
Di sana, di tengah kerumunan kecil kolega bisnisnya, Madam Widowati sedang berdiri dengan wajah yang dipaksakan ceria. Seeula ada di sampingnya, mengenakan gaun biru muda yang membuatnya terlihat seperti bidadari yang sedang disandera. Di depan mereka, seorang pria bule dengan perut sedikit buncit dan senyum menjijikkan sedang memegang gelas kristal.
"Yansya! Beraninya kau datang tanpa diundang!" teriak Madam Widowati dengan wajah yang mendadak merah padam.
Aku mengabaikan teriakannya, mataku langsung mengunci sosok Seeula yang terlihat sangat ketakutan. Aku berjalan perlahan melewati para tamu yang mulai berbisik-bisik, mengabaikan tatapan bingung mereka.
"Aku datang untuk membawakan hadiah pertunangan yang sangat istimewa untuk tamu agungmu ini, Madam," sahutku sambil berhenti tepat di depan Thomas.
Pria asing itu menatapku dengan dahi berkerut, mencoba menunjukkan wibawanya sebagai pria Eropa. "Siapa kau? Dan hadiah apa yang kau bicarakan?" tanya Thomas dengan aksen Inggris yang kental.
Aku mengeluarkan sebuah map kuning dari balik jasku, melemparkannya ke atas meja kopi di depan mereka. "Itu adalah berkas gugatan dari pemerintah Belanda atas kasus penggelapan pajak yang kau lakukan di Amsterdam bulan lalu. Aku baru saja membelinya dari informan di sana sejam yang lalu," jelasku dengan nada yang sangat santai.
Wajah Thomas yang tadinya angkuh mendadak berubah menjadi pucat pasi. Dia meraih map itu dengan tangan yang gemetar, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris dokumen yang kukirimkan secara khusus lewat bantuan Rian tadi. Madam Widowati tampak bingung, dia memandang Thomas dan aku secara bergantian dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apa maksud semua ini, Thomas?" tuntut Madam Widowati dengan nada suara yang mulai meninggi.
Thomas tidak menjawab. Dia justru melipat kembali dokumen itu dan menatapku dengan ketakutan yang luar biasa. Dia tahu bahwa jika dokumen itu bocor ke publik, karir dan kebebasannya akan berakhir saat itu juga. Dia tidak menyangka bahwa seorang pemuda di negara ini bisa memiliki akses informasi sedalam itu tentang urusan pribadinya di Eropa.
"Saya rasa ada kesalahpahaman. Saya harus pergi sekarang juga," pamit Thomas tanpa menoleh lagi ke arah Seeula atau ibunya.
Dia berlari keluar dari rumah itu seolah-olah baru saja melihat hantu. Para tamu undangan hanya bisa terpaku melihat calon pelamar yang tadi dipuji-puji kini lari terbirit-birit. Madam Widowati jatuh terduduk di kursi mahoninya, dia menyadari bahwa rencana terakhirnya untuk menyelamatkan finansial keluarga baru saja dihancurkan oleh pria yang paling dia benci.
Aku melangkah mendekati Seeula, mengulurkan tanganku dengan penuh kehangatan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan di kehidupan sebelumnya. "Ikut aku, Seeula. Tempat ini bukan lagi tempat yang aman untukmu," ajakku dengan suara yang jauh lebih lembut.
Seeula menatapku lama, mencari kepastian di mataku yang tajam. Dia tidak lagi ragu. Dia menyambut uluran tanganku dengan genggaman yang sangat erat, seolah-olah aku adalah satu-satunya pegangan yang dia miliki di tengah badai ini.
"Berhenti, Yansya! Kau tidak bisa mengambil putriku begitu saja!" teriak Madam Widowati dengan sisa tenaganya.
Aku berhenti sejenak, menoleh ke arah wanita tua yang sudah tidak memiliki kuasa apa-apa lagi di depanku. "Anda baru saja mencoba menjualnya, Madam. Mulai detik ini, Seeula berada di bawah perlindunganku, dan Anda tidak akan mendapatkan satu rupiah pun dari Bank Artha Kencana jika Anda masih berani mengganggunya," sergahku dengan tatapan yang sangat mematikan.
Aku menarik Seeula keluar dari rumah itu, melewati para tamu yang kini memberi jalan dengan hormat sekaligus takut. Kami masuk ke dalam mobil, dan aku segera memacu kendaraan itu meninggalkan kediaman Widowati yang kini terasa seperti kuburan kemuliaan.
Seeula duduk di sampingku dengan napas yang masih belum teratur. Dia menoleh ke arahku, menatap profil wajahku dengan binar mata yang campur aduk.
"Kenapa kau melakukan semua ini untukku, Yansya? Kau bahkan tidak benar-benar mengenalku," tanya Seeula dengan suara yang sangat pelan.
Aku tersenyum tipis, tetap fokus pada jalanan di depan yang kini terlihat sangat cerah bagiku. "Karena aku tidak ingin melihatmu menangis lagi, Seeula. Meskipun kau belum mengerti sekarang, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memberikan dunia yang terbaik untukmu," jawabku dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan.
Aku menghentikan mobil di pinggir sebuah taman kota yang sepi, tempat di mana kami dulu sering menghabiskan waktu di masa depan yang sudah kuhapus. Aku mematikan mesin, lalu memutar tubuhku menghadap Seeula. Aku tahu, momen ini adalah titik balik di mana takdir kami benar-benar berubah dari sejarah aslinya.
Namun, sebelum aku sempat bicara lebih lanjut, Seeula tiba-tiba memelukku dengan sangat erat, menumpahkan segala ketakutan dan rasa lelahnya di bahuku. Aku membalas pelukannya, merasakan detak jantungnya yang seirama dengan detak jantungku. Kali ini, aku benar-benar memilikinya bukan sebagai pria dingin yang haus harta, melainkan sebagai pelindung yang siap mati demi kebahagiaannya.
Aku mengelus rambutnya dengan lembut, membiarkan dia menenangkan diri di pelukanku. Namun, kedamaian kami terganggu saat aku melihat sebuah mobil hitam yang sangat kukenali berhenti tidak jauh di belakang mobil kami. Itu adalah mobil milik Pak Hermawan, direktur bank yang tadi siang kubungkam.
Rupanya, orang-orang ini tidak pernah benar-benar menyerah sebelum mereka hancur sepenuhnya. Aku melepaskan pelukan Seeula secara perlahan, menatap tajam ke arah mobil yang baru saja berhenti itu.
"Tunggu di sini sebentar, ada tamu yang ingin menyapa secara pribadi," pesanku sambil bersiap untuk menghadapi serangan terakhir mereka malam ini.