SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KETIKA MATA-MATA MELIHAT
Waktu seolah berhenti berputar bagi Putri. Di antara deretan kontainer besi yang dingin itu, dia berdiri terpaku, mata dan mata Bang Rio saling bertaut. Jantung Putri berdegup begitu kencang hingga dia yakin pria kekar di depannya itu bisa mendengarnya. Dia ketahuan. Bukti yang baru saja dia rekam terasa berat di dalam sakunya, seolah menjadi barang bukti yang akan menjeratnya sendiri.
Bang Rio tidak bergerak. Dia hanya berdiri mematung di ujung lorong sempit itu, tangan di saku celana, wajahnya yang garang tanpa ekspresi. Tatapannya tajam, menembus pertahanan diri Putri. Dalam pikiran Putri, berbagai skenario melintas cepat. Apakah pria ini akan menyerangnya? Apakah dia akan berteriak memanggil anak buah lainnya? Atau lebih buruk lagi, apakah dia akan langsung melaporkannya kepada Pak Hidayat atau Pak Darmawan?
Putri memaksa dirinya untuk bernapas. Ingat, Putri, kamu lulusan hukum. Kamu harus bisa berpikir logis dan tenang, batinnya menyemangati diri sendiri. Dia tidak boleh panik. Dia harus mencari alibi.
Perlahan, Putri meluruskan postur tubuhnya, berusaha menyembunyikan kamera kecil yang masih ada di tangannya ke belakang punggung. Dia mencoba memasang wajah bingung dan sedikit takut—seorang istri muda yang tersesat di tempat asing.
"Maaf... Pak," ucap Putri, suaranya dia buat sedikit bergetar, seolah dia benar-benar ketakutan. "Saya... saya sedang mencari toilet. Tadi saya melihat petunjuk arah di sana, tapi saat berbelok, saya malah tersesat di antara kontainer-kontainer ini. Tempat ini sangat besar dan membingungkan."
Bang Rio masih diam. Dia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Detik demi detik berlalu terasa seperti jam bagi Putri. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Apa yang Ibu lakukan di depan kontainer itu?" tanya Bang Rio akhirnya. Suaranya berat dan serak, namun tidak terdengar marah. Hanya terdengar... menyelidik.
Putri menelan ludah. "Oh, itu... kontainer itu pintunya agak terbuka, kan? Saya hanya penasaran. Saya belum pernah melihat kontainer dari dekat sebelumnya. Saya hanya ingin melihat sekilas, isinya apa. Tapi saya tidak berani mendekat terlalu jauh karena takut dilarang," jawab Putri dengan senyum canggung, seolah dia hanya wanita biasa yang polos dan ingin tahu.
Dia berharap penampilannya yang anggun dan statusnya sebagai istri Rizky bisa sedikit melunakkan kecurigaan pria ini. Dia tahu siapa Bang Rio—khalifah kepercayaan Pak Hidayat, orang yang sangat setia. Tapi dia juga ingat catatan dari Nina bahwa belakangan ini Bang Rio mulai ragu dengan cara kepemimpinan bosnya. Apakah ada celah di sana?
Bang Rio melangkah maju satu langkah. Putri refleks mundur satu langkah, jantungnya hampir copot. Namun, Bang Rio tidak mendekatinya lebih jauh. Dia hanya menatap kontainer biru tua itu, lalu kembali menatap Putri.
"Toilet ada di arah sebaliknya, Ibu," kata Bang Rio datar. Dia tidak menuduhnya, tapi juga tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Area ini adalah area terlarang untuk orang yang tidak berkepentingan. Terutama kontainer-kontainer yang akan dimuat hari ini. Sangat berbahaya jika Ibu tersesat di sini."
"Saya minta maaf sekali, Pak. Saya tidak bermaksud melanggar aturan," ucap Putri dengan nada menyesal, menundukkan kepalanya sedikit. "Saya akan segera pergi dari sini. Tolong jangan laporkan ini pada suami saya atau Pak Hidayat. Saya tidak ingin mereka marah atau khawatir karena saya ceroboh."
Ada keheningan lagi. Putri merasakan tatapan Bang Rio mengamati setiap inci wajahnya, seolah sedang menimbang-nimbang kebenaran dari kata-katanya. Apakah dia percaya? Atau dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan hukuman?
Tiba-tiba, Bang Rio menyingkir ke samping, memberi jalan bagi Putri.
"Pergilah, Ibu. Ikuti jalan ini sampai ujung, lalu belok kanan. Di sana ada toilet," kata Bang Rio, suaranya tetap datar, tidak bisa dibaca emosinya. "Dan lain kali, jangan berjalan sendirian di area pelabuhan. Tidak aman."
Putri ternganga sejenak, tidak menyangka akan dilepaskan begitu saja. Rasa lega membanjiri dirinya, tapi dia tahu dia tidak boleh menunjukkan terlalu banyak emosi.
"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih," ucap Putri cepat, lalu dengan langkah hati-hati, dia berjalan melewati Bang Rio. Saat berpapasan, dia bisa mencium bau tembakau dan keringat dari pria itu. Dia tidak berani menoleh lagi, terus berjalan cepat sampai dia keluar dari lorong kontainer itu dan kembali ke area yang lebih terbuka dan ramai.
Baru saat itu, Putri berhenti dan menyandarkan punggungnya ke dinding beton dingin. Napasnya terengah-engah. Dia menyentuh sakunya, memastikan kamera dan bukti rekaman itu masih ada di sana.
Dia melepaskanku? Kenapa? batin Putri bertanya-tanya. Apakah dia benar-benar percaya alibiku yang konyol itu? Atau... ada alasan lain?
Pertanyaan itu terus menghantuinya, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang. Dia harus segera kembali ke tempat Rizky sebelum suaminya mulai mencarinya. Dia merapikan pakaiannya, menyeka keringat di pelipisnya, dan berjalan menuju lokasi yang ditentukan dengan wajah yang berusaha dia tenangkan.
Saat Putri tiba di tempat berkumpul, Rizky memang sudah terlihat gelisah. Matanya langsung menyapu area itu dan berhenti saat melihat Putri datang. Wajahnya yang cemas langsung berubah menjadi lega, bercampur sedikit kekesalan.
"Putri! Di mana saja kamu? Aku sudah khawatir setengah mati!" Rizky langsung berjalan mendekat dan menggenggam kedua tangan Putri. "Kamu lama sekali. Aku hampir mau menyuruh semua orang mencarimu."
"Maaf, Rizky. Maafkan aku," ucap Putri, memeluk lengan Rizky dan menyandarkan kepalanya sebentar di bahu suaminya, mencari kekuatan. "Tadi aku tersesat. Pelabuhan ini sangat besar dan membingungkan. Aku sampai bingung arah pulangnya. Untung ada seorang petugas yang memberitahu jalan yang benar."
Rizky menghela napas panjang, lalu mengusap kepala Putri lembut. "Sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu selamat dan kembali. Jangan pernah melakukan itu lagi, ya. Jangan pergi sendirian. Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu."
Di dekat mereka, Pak Darmawan yang sedang berbicara dengan beberapa orang menoleh. Matanya menyipit saat melihat Putri dan Rizky. Sepertinya dia memperhatikan kedatangan Putri yang terlambat itu.
"Oh, Nyonya muda sudah kembali," ucap Pak Darmawan dengan nada yang terdengar santai tapi menusuk. "Tadi kelihatannya lama sekali. Apa pelabuhan ini begitu menarik sampai-sampai lupa waktu?"
Putri menatap Pak Darmawan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Tidak, Pak Darmawan. Saya justru tersesat. Tempat ini terlalu luas dan saya belum hafal jalannya. Untung ada petugas yang baik hati menuntun saya kembali."
Pak Darmawan tersenyum miring, matanya menyapu wajah Putri seolah mencari tanda-tanda kebohongan. "Oh, begitu ya. Syukurlah. Tapi lain kali, lebih baik jangan berjalan jauh-jauh sendirian. Di sini banyak orang asing dan pekerja kasar. Tidak pantas bagi istri Rizky untuk berkeliling sendirian."
"Baik, Pak. Saya akan ingat," jawab Putri sopan.
Pak Hidayat yang baru saja menutup teleponnya kemudian berbicara. "Baiklah, karena semua sudah lengkap, mari kita lanjutkan ke dermaga. Kapal sudah siap bersandar."
Perjalanan selanjutnya terasa seperti mimpi buruk bagi Putri. Dia berjalan di samping Rizky, tersenyum dan mengangguk saat diperlukan, tapi pikirannya terus melayang pada pertemuan dengan Bang Rio tadi. Dia terus melirik ke sekeliling, berharap tidak melihat pria itu muncul lagi, tapi juga penasaran. Kenapa dia melepaskanku?
Saat proses pemuatan barang dimulai, Putri memperhatikan dengan saksama. Dia melihat kontainer biru tua tadi diangkat oleh derek raksasa dan dimuat ke atas kapal. Dia lega karena sudah memiliki bukti rekaman di tangannya, tapi juga cemas karena dia tahu barang haram itu kini sedang dikirim ke tempat tujuan. Namun, dia punya rencana lain. Berdasarkan informasi dari Nina, dia tahu jalur pelayaran dan titik-titik pemeriksaan yang biasanya dilewati atau disuap.
Malam harinya, setelah kembali ke kediaman Adinata, Putri segera mengamankan buktinya. Dia memindahkan data dari kamera ke sebuah laptop khusus yang tidak terhubung ke internet, lalu membuat beberapa salinan yang dia sembunyikan di tempat-tempat berbeda—satu di dalam buku tebal di perpustakaan rumah, satu lagi diselipkan di mainan Rara yang jarang dimainkan, dan salinan utama dia simpan di dalam kotak kayu cendana rahasianya.
Setelah merasa aman, Putri duduk di tepi kasur, memijat pelipisnya yang terasa berat. Hari ini terlalu melelahkan secara mental.
Pintu kamar terbuka, dan Rizky masuk. Dia terlihat kelelahan setelah seharian bekerja, tapi saat melihat Putri, senyum lembut selalu terukir di wajahnya.
"Kamu sudah mandi?" tanya Rizky sambil duduk di samping Putri, lalu merangkul bahunya. "Kamu terlihat sangat lelah hari ini. Maaf ya aku memaksamu ikut ke pelabuhan. Seharusnya aku mendengarkan instingku dan membiarkanmu di rumah."
Putri menggeleng, menoleh dan menatap mata Rizky. "Tidak, Rizky. Aku tidak menyesal. Aku memang ingin belajar. Dan... aku senang bisa bersamamu seharian ini." Meskipun di balik itu ada kebohongan, kata-kata itu ada benarnya. Kehadiran Rizky adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman di dunia yang gila ini.
Rizky menatap Putri dalam-dalam, lalu mengelus pipi istrinya dengan ibu jarinya. "Kamu tahu, Putri... semakin hari aku semakin merasa beruntung. Awalnya aku pikir pernikahan ini hanya beban dan kewajiban, tapi sekarang... aku merasa ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku."
Hati Putri terasa perih. Rasa bersalah itu kembali menghantamnya seperti ombak besar. "Rizky..."
"Kadang aku bertanya-tanya," lanjut Rizky pelan, seolah sedang merenung. "Apa yang pernah terjadi dalam hidupmu sebelum bertemu denganku? Kamu terlihat begitu kuat, tapi juga... ada kesedihan yang mendalam di matamu. Seperti kamu sedang memikul beban yang sangat berat sendirian."
Putri menahan napas. Apakah Rizky mulai curiga? Apakah dia melihat sesuatu yang aneh hari ini?
"Aku... aku hanya merindukan orang tuaku, Rizky," jawab Putri jujur, meski tidak sepenuhnya. "Mereka meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu. Sejak itu, aku dan Rara hidup berjuang sendiri. Kadang rasanya berat, tapi aku harus kuat demi Rara."
Rizky mengangguk pelan, tatapannya penuh pengertian. "Aku tahu. Dan aku kagum dengan kekuatanmu. Aku hanya ingin kamu tahu, Putri, bahwa sekarang kamu tidak sendirian lagi. Kamu punya aku. Apapun beban yang kamu rasakan, apapun rahasia yang mungkin kamu simpan... kamu bisa menceritakannya padaku. Aku akan mendengarkan. Aku akan melindungimu."
Kata-kata itu begitu tulus, begitu menggoda Putri untuk menyerah dan menceritakan semuanya. Dia ingin berteriak bahwa ayahnya adalah pembunuh orang tuanya, bahwa dia ada di sini untuk membalas dendam, bahwa dia takut setiap hari. Tapi dia tahu dia tidak bisa. Belum saatnya. Dan jika dia memberitahu Rizky sekarang, dia takut pria itu akan hancur, atau malah membela ayahnya.
Putri memeluk Rizky erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menahan air matanya agar tidak jatuh. "Terima kasih, Rizky. Terima kasih sudah ada untukku," bisiknya. "Aku... aku akan memberitahumu semuanya nanti. Saat waktunya tepat. Aku janji."
Rizky membalas pelukan itu, mengusap punggung Putri dengan lembut. "Tidak apa-apa. Aku akan menunggu. Selamanya, jika perlu."
Malam itu, saat Rizky sudah terlelap dalam pelukannya, Putri masih terjaga. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya kembali pada Bang Rio. Pria itu tahu sesuatu, dia yakin itu. Tapi kenapa dia diam saja? Apakah ini jebakan? Atau... apakah ada kemungkinan bahwa keraguan Bang Rio pada Pak Hidayat itu benar adanya?
Jika itu benar, mungkin Bang Rio bisa menjadi sekutu tak terduga. Tapi itu terlalu berbahaya untuk dipikirkan sekarang. Putri harus berhati-hati. Satu langkah salah, dan semua yang dia perjuangkan—termasuk cintanya pada Rizky—bisa hancur berkeping-keping.
Besok, aku harus mulai merencanakan langkah selanjutnya, batin Putri. Aku punya bukti ini, tapi belum cukup. Aku harus memastikan pengiriman ini gagal, tanpa ada yang tahu itu ulahku.
Dia teringat pada ilmu hukum dan strategi yang pernah dia pelajari. Ada celah dalam sistem bea cukai dan pelabuhan yang bisa dimanfaatkan. Jika dia bisa memastikan bahwa kontainer itu diperiksa secara mendadak... Tapi bagaimana caranya tanpa melibatkan dirinya?
Putri menutup matanya, merasakan detak jantung Rizky yang tenang di sampingnya. Bantu aku, Ayah, Ibu. Beri aku jalan yang benar, doanya dalam hati.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri berhasil mendapatkan bukti dan lolos dari pengawasan Bang Rio, namun dia bingung mengapa pria itu melepaskannya begitu saja. Sementara itu, Rizky semakin dekat dan menawarkan perlindungan sepenuhnya. Jika kamu jadi Putri, apakah kamu akan mencoba mendekati Bang Rio untuk mencari tahu alasannya dan memancingnya menjadi sekutu, atau kamu akan menjauh dan menghindari risiko lebih lanjut?