Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Wan Jin
Malam di istana terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus melalui celah-celah pilar, membawa bisikan dingin yang mencurigakan. Di balik keremangan paviliun, Bai Hua dan Wan Long sudah bersiap. mereka mengenakan pakaian gelap yang memudahkan pergerakan.
"Ingat," bisik Wan Long sambil mengikat kain hitam di pergelangan tangannya. "Jika kita tertangkap, aku akan kembali menjadi si idiot yang tersesat. Kau harus berpura-pura mengejarku karena aku mencuri kursi rodamu."
Bai Hua mendengus, tangannya dengan lincah memeriksa mekanisme pegas pada kursi roda peraknya. "Lakukan saja bagianmu dengan benar, Jenderal. Jangan sampai kau benar-benar terlihat bodoh."
Kediaman Pangeran Kedua, Wan Jin, dijaga ketat oleh prajurit bersenjata lengkap. Namun, bagi dua manusia yang sudah terbiasa menembus sistem keamanan laser di masa depan, penjagaan ini hanyalah barisan patung yang mudah dilewati.
Wan Long bergerak lebih dulu. Ia memanjat tembok setinggi tiga meter dengan kelincahan seekor macan tutul, lalu menjatuhkan seutas tali sutra untuk menarik kursi roda Bai Hua ke atas. Dengan teknik pengungkit yang presisi, mereka berhasil masuk ke halaman dalam tanpa menimbulkan suara sekecil pun.
"Choi bilang Bai Rui terlihat dibawa ke arah sayap barat," bisik Bai Hua sambil memutar rodanya yang telah diberi pelumas khusus agar senyap.
Mereka sampai di depan sebuah perpustakaan tua yang tampak tidak terawat. Wan Long berjongkok, telinganya menempel di lantai kayu. "Ada getaran di bawah sini. Langkah kaki, tapi sangat halus."
Wan Long menemukan sebuah rak buku yang engselnya sedikit aus. Dengan satu sentakan kuat namun terukur, rak itu bergeser, menampakkan tangga menuju kegelapan bawah tanah.
Di bawah sana, bau lembap dan anyir menyapa mereka. Di ujung lorong yang remang, terdengar suara isakan yang tertahan.
"Tolong... lepaskan aku... aku tidak akan bicara pada Ayah..." Itu suara Bai Rui.
Mereka mengintip dari balik pilar batu. Di dalam sebuah jeruji besi, Bai Rui terduduk lemas dengan pakaian yang berantakan. Di depannya berdiri Wan Jin, namun wajah sang Pangeran Kedua tidak lagi tampak elegan. Matanya merah penuh kemarahan.
"Kau bodoh, Rui'er," desis Wan Jin. "Kau menyimpan surat kontrak antara ibumu dan pejabat perbatasan utara. Jika surat itu jatuh ke tangan Bai Hua atau Wan Long, rencana pengambilalihan tahta saat Kaisar pergi akan hancur!"
Bai Hua dan Wan Long saling melirik. Kontrak dengan pejabat perbatasan? Ini adalah makar.
"Aku hanya ingin menjaganya sebagai jaminan agar kau menikahiku!" teriak Bai Rui sambil menangis.
Wan Jin mencengkeram rahang Bai Rui. "Kau pikir kau cukup berharga untuk tahtaku? Kau hanya alat."
Saat Wan Jin mengangkat tangannya untuk menampar Bai Rui, sebuah benda melesat dari kegelapan.
Sret! Jleb!
Sebuah sumpit bambu menancap tepat di lengan baju Wan Jin, memaku kainnya ke dinding kayu di belakangnya.
"Siapa?!" teriak Wan Jin panik.
"Eh? Kakak Jin main apa di bawah sini?" Wan Long muncul dari bayang-bayang sambil memegang kincir anginnya yang sudah patah. Wajahnya tampak polos, namun matanya menatap Wan Jin dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Wan Long cari kucing, tapi malah ketemu Kakak Jin yang sedang marah-marah."
Di belakangnya, Bai Hua keluar dengan kursi roda peraknya, tangannya memutar-mutar tusuk konde emas yang kini sudah terhunus.
"Adik Rui, kau terlihat sangat menyedihkan," ujar Bai Hua dingin. "Pangeran Kedua, sepertinya kau punya hobi baru. menculik wanita dari keluarga menteri. Apa Permaisuri tahu kau menyimpan koleksi seperti ini di bawah tanahmu?"
Wan Jin meronta melepaskan lengannya dari sumpit itu. "Kalian... bagaimana bisa kalian masuk ke sini?!"
"Pintu rumahmu sangat ramah, Kakak Jin," sahut Wan Long sambil berjalan mendekati jeruji besi Bai Rui. Ia menatap Bai Rui dengan senyum idiot yang mengerikan. "Nona Cantik, kau punya surat bagus ya? Wan Long suka kertas! Boleh Wan Long lihat?"
Bai Rui menatap Wan Long dengan ngeri, namun ia menyadari bahwa hanya dua orang aneh inilah yang bisa menyelamatkannya. "Di balik bantal... di kamarku... ada laci rahasia..." bisiknya lirih sebelum ia pingsan karena ketakutan.
Wan Jin berteriak memanggil pengawalnya, namun tidak ada jawaban.
"Jangan repot-repot," potong Bai Hua. "Dua belas pengawal pribadiku yang tua itu ternyata sangat ahli dalam melumpuhkan saraf penjagamu tanpa suara. Sekarang, Pangeran Kedua... haruskah kita bicara tentang Kontrak Perbatasan ini, atau kau ingin aku memanggil Dewan Kekaisaran sekarang juga?"
Wan Jin gemetar. Ia baru menyadari bahwa pria idiot dan gadis lumpuh di depannya ini adalah pemangsa yang selama ini bersembunyi di balik luka dan kegilaan.
"Kau berpura pura idiot ternyata dan kau, bagaimana puteri sampah menteri bai berkata demikian?!" tanya Wan Jin dengan suara rendah.
"Itu tidak penting, Wan Jin. Anggap saja aku sudah cukup tersiksa hingga memunculkan kepribadian baru. Dan untuk wan long, dia memang gila, kadang waras kadang kambuh, tapi kebanyakan kambuh sih."
"Ck! Apa maumu?"
Bai Hua mendekat, kursi rodanya berhenti tepat di depan Wan Jin. "Aku ingin kau tetap hidup... untuk saat ini. Sebagai pionku. Kau akan menjadi orang yang memberitahuku setiap langkah Permaisuri, atau aku akan memastikan surat itu sampai ke tangan Kaisar sebelum ia kembali dari utara."
Wan Long tertawa cempreng, suaranya menggema di ruang bawah tanah yang dingin. "Hihihi! Kakak Jin sekarang jadi teman main Wan Long! Ayo, kita main jadi mata-mata!"
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa