Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klub basket
Zea, chacha, dan angel sedang duduk di ruang tamu rumah zea, dikelilingi oleh buku-buku dan kertas-kertas yang berantakan. Mereka bertiga sedang mengerjakan PR matematika sambil memakan cemilan yang mereka beli ketika pulang dari sekolah tadi.
Zea yang sejak tadi diam dan terlihat tidak fokus, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi.
"Huaaaaa..." tiba-tiba gadis itu menghempaskan napas dan mengeluarkan suara yang panjang, sambil menutupi wajahnya dengan buku. Chacha dan angel langsung menoleh ke arah nya dengan heran.
"Lo kanapa sih?" tanya chacha.
"Perasaan tadi enteng-enteng aja dah." timbal angel.
"Gue nggak tau, gue....gue nggak tahan selalu ngehindarin kak leo terus." kata zea dengan nada mengeluh, sambil menundukkan kepala.
"Gue nggak bisa lihat dia kayak biasa nya dan nggak bisa ngobrol lagi sama dia....huaaaaa..." zea kembali mengeluarkan suara keluhan, sambil menggelakkan kepalanya ke sofa.
Chacha dan angel saling menatap, kemudian kembali memandang zea dengan ekspresi yang lebih serius.
"Ze lo harus bisa, ingat kata gue, jangan goyah! lo ngelakuin ini, demi kebaikan lo juga ze." kata angel, sambil mengingatkan zea.
"Biar lo tau ze! biar lo tau perasaan kak leo yang sebenarnya, apa dia juga ada rasa sama lo atau nggak." ujar chacha.
Zea mengangguk perlahan, matanya masih sedikit merah karena menahan air mata. "Gue tau....gue cuma....huaaaaa..." zea kembali mengeluarkan suara keluhan, sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
"Kita selalu ada di sini buat lo ze, kita nggak bakal ninggalin lo!" kata chacha, sambil membelai rambut zea.
"Makasih guys, gue beruntung banget punya lo berdua." kata zea.
"Iya sama-sama." jawab chacha dan angel bersamaan.
"Udah! jangan nangis lagi, ingus lo udah kayak comberan." ucap chacha diiringi dengan candaan.
"Ih jorok banget sih." ujar zea memukul lengan chacha.
"Lah yang jorok lo, kok gue yang ditampol."
"Chacha...." teriak zea kesal.
Chacha dan angel tertawa melihat zea, namun beberapa detik kemudian mereka berdua memeluk zea, mencoba untuk menghiburnya.
Hari yang ditunggu-tunggu zea akhirnya tiba juga, hari dimana ia akan menjadi bagian dari salah satu klub yang populer disekolah.
Zea berdiri di lapangan basket, mengenakan baju olahraga, karena mereka belum menerima jersey basket dan sepatu basket. Dia menatap ke sekeliling dan melihat beberapa anggota tim basket lainnya sudah mulai berkumpul di lapangan.
Coach andi berdiri di tengah lapangan basket, memanggil semua anggota tim basket untuk berkumpul.
"Oke, anak-anak! sebelum kita mulai, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu! perkenalkan nama saya andi suryanto, saya adalah coach atau pelatih basket sekolah ini."
Coach andi kemudian menunjuk ke arah cowok yang berperawakan tinggi dan sedap untuk dipandang, yang berdiri tepat di sampingnya dengan sikap cuek dan percaya diri.
"Dan ini adalah leo, kapten tim basket kita, salah satu pemain terbaik di sekolah ini."
Leo tersenyum sedikit, sambil mengangguk ke arah mereka. Banyak cewek di lapangan basket yang tidak bisa tidak menatapnya dengan kagum.
Namun tidak dengan zea, ia hanya menganggukkan kepalanya ke arah coach andi, tanda bahwa ia benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan pelatih itu. Zea sama sekali tidak menatap ke arah leo.
Serius gadis itu mengabaikan kehadiran nya? leo menatap tajam kerah gadis mungil yang tampak fokus mendengarkan coach andi, padahal dipikir-pikir gadis itu selalu merusak suasana nya setiap hari. Namun sudah 3 hari berturut-turut ini zea sama sekali tidak mencari keberadaan nya lagi seperti biasa.
"Ini dani, pemain basket yang cepat dan lincah." lanjut coach andi, menunjuk ke arah dani.
"Disamping dani ada digo, dia pemain basket yang kuat dan tangguh." kata coach andi, menunjuk ke arah digo.
"Nah....dan yang terakhir sony, pemain basket yang memiliki kemampuan shooting yang luar biasa" tambah coach andi, menunjuk ke arah sony.
"Baiklah, anak-anak. Seperti yang sebagian dari kalian mungkin sudah tahu, ke tujuh kakak kelas kita sudah lulus dan tidak dapat bermain lagi. Oleh karena itu, kita membutuhkan anggota inti baru satu orang, dan kita saat ini memiliki 4 anggota cadangan. Namun, kita masih membutuhkan 6 anggota cadangan lagi untuk melengkapi tim kita.
Coach andi kemudian menunjuk ke arah 4 anggota cadangan yang juga berdiri disamping sony.
"Saya juga ingin memperkenalkan keempat anggota cadangan kita yang sudah ada, yaitu riko, alby, viren, dan dandi. Mereka sudah menunjukkan kemampuan yang baik dan menjadi contoh bagi anggota baru. Saya berharap kalian semua bisa belajar dari mereka dan menjadi bagian dari tim kita."
"Dan jangan khawatir jika kalian tidak terpilih menjadi anggota inti, kalian bisa tetap berkontribusi sebagai anggota cadangan. Tidak masalah! walaupun anggota cadangan cuman butuh beberapa orang lagi, kalian juga bisa menjadi bagian dari tim manajemen, atau membantu dalam pengembangan komunitas kita. Jadi, jangan merasa tidak berguna, karena setiap orang memiliki peran penting dalam tim kita!" ujar coach andi dengan panjang lebar.
Lalu coach andi memperhatikan semua anggota baru yang berkumpul di depannya. Ia memandang mereka mulai dari postur tubuh, ekspresi wajah, dan semangat mereka. Setelah beberapa saat, dia mulai berbicara kembali.
"Saya melihat ada beberapa anggota baru, 4 perempuan dan 17 laki-laki, saya berharap kalian semua bisa bekerja keras dan menunjukkan kemampuan kalian untuk menjadi bagian dari tim basket sekolah ini!" ujar coach andi.
"Dan untuk anggota baru, saya ingin melihat kemampuan kalian di lapangan, mari kita mulai dengan latihan! saya akan sekalian menyeleksi kalian untuk menjadi anggota inti, jadi saya berharap kalian semua bisa menunjukkan kemampuan terbaik kalian. Dan saya ingin tekankan, tidak masalah apakah kamu perempuan atau laki-laki, yang penting kamu bisa menunjukkan kemampuanmu dan menjadi bagian dari tim ini. Saya tidak melihat jenis kelamin, saya hanya melihat kemampuan. Jadi, mari kita lihat siapa yang akan menjadi anggota inti baru kita!" lanjut coach andi dengan tegas.
"Oke, kita akan memulai dengan pemanasan terlebih dahulu, kemudian kita akan membahas strategi tim lalu membagi tim menjadi beberapa kelompok untuk berlatih dan yang terakhir, saya akan menyeleksi kalian satu persatu." ujar coach andi.
"Ayo, kita tunjukkan kemampuan kita ze!" kata zea dalam hati, sambil tersenyum dan siap untuk memulai latihan.
Coach andi memanggil keempat pemain inti. Leo, digo, dani, dan sony, untuk mendekatinya. "Kalian berempat bantu saya untuk melatih dan membuat kelompok. Saya ingin kalian membantu membagi tim menjadi 4 kelompok dan memimpin latihan." pinta coach andi.
"Siap coach." ucap mereka berempat dengan kompak.
"Baiklah, kelompok 1 nanti dipimpin oleh leo dan dandi, saya mau kalian berdua melatih 6 orang, kelompok 2 dipimpin oleh sony dan viren dengan 5 orang, kelompok 3 dipimpin oleh dani dan riko dengan 5 orang, dan yang terakhir kelompok 4 yang dipimpin oleh digo dan alby dengan 5 orang! saya ingin kalian sendiri yang memilih mereka dan menentukannya." kata coach andi.
Keempat pemain inti itu mengangguk, dan mulai berpencar untuk memilih anggota kelompok mereka. Leo langsung menghampiri dandi untuk mencari anggota baru buat dilatih, begitu pun dengan digo dan juga sony mereka melakukan hal yang sama, memilih anggota yang akan bergabung dengan kelompok masing-masing, dani pun melakukan hal yang serupa, ia dengan cepat berjalan ke arah beberapa anggota baru yang siap akan dipilih.
Leo menatap zea yang masih berdiri diam.
"Lo! gabung disini." perintah leo.
Zea merasa jantungnya berdetak kencang ketika leo menatapnya, apakah dia harus bergabung dengan kelompok itu atau tidak? zea masih berdiri diam, dia merasa panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. bahkan dia tidak berani bergerak atau menjawab panggilan cowok tersebut.
"Gabung sini!" perintah leo sekali lagi.
Zea merasa jantungnya hampir berhenti ketika leo melihat ke arah nya lagi. Dia sudah bersiap-siap untuk menolak atau bisa saja berlari.
"Gue-
"Gua kak?" tanya seseorang.
Baru saja akan menjawab, namun sebuah suara dari belakang punggung nya lebih dulu menyelah, seketika membuat zea langsung berbalik badan, dan mendapati seorang cowok yang tidak asing dimata zea.
"Rafael?" gumam zea, cowok itu adalah teman kelasnya, lebih tepatnya ketua kelas X-1.
"Iya! siapa lagi." jawab leo.
"Siap kak!" rafael mengangguk dan berjalan mendekat ke arah leo.
"Huft...." zea melepaskan napas lega.
"Hampir aja." gumamnya dalam hati sambil tersenyum lega.
Namun belum sempat zea menikmati rasa leganya, tiba-tiba digo menunjuk dirinya. "Zea! lo juga gabung ke kelompok leo."
Zea merasa jantungnya kembali berdegup kencang. "Tapi ka-
"Gak usah takut! nggak bakal di gigit sama dia, paling di terkam dikit sama aa leo." potong digo dengan nada santai dan senyum nakal, membuat zea merasa wajahnya memanas. Ia hanya bisa tersenyum canggung, tidak tahu harus merespon apa.
Sedangkan leo hanya berdiri diam, seolah-olah tidak ada yang terjadi, tapi tatapannya tidak sengaja bertemu dengan zea, membuat gadis itu semakin merasa tidak nyaman.
"Yaudah, zea! gabung sana! gua cuma bercanda doang." ujar digo kembali, ia mengulangi ajakannya, kali ini dengan nada yang lebih persuasif.
"Dan lo! yang disamping zea, gabung sini dikelompok gua!" digo menunjuk cewek yang berdiri di sebelah zea.
Zea masih terlihat ragu, tapi tatapan digo membuatnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok Leo. "Oke..." katanya lirih, sambil melangkah perlahan menuju kelompok leo.
Sedangkan cewek yang disampingnya bergabung dengan kelompok digo.
"Selamaaaaat datang! siapa nama lo?" tanya digo dengan ramah.
"Nasya kak." jawab nasya dengan pelan.
"Nama yang cantik." kata digo.
Sementara itu, leo masih berdiri diam, tapi zea bisa merasakan tatapannya yang tajam dari sisi matanya.
Bersambung