"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Mawar menarik nafas dalam agar tidak seperti menangis lalu mengangkatnya, "Hallo, Aura? Kamu kenapa ga ikut foto year book?" tanya Mawar yang terdengar seperti tidak tau apa-apa dan khawatir dengan Aura.
"Aku di rumah sakit War. Kemarin aku kecelakaan terus Kak Arfan nolongin aku, tapi...." kalimat Aura menggantung sebentar, "Kak Arfan terluka parah dan sekarang masih di dalam ruang ICU."
Sebenernya Mawar sudah tau apa yang terjadi dengan Aura. Kemarin ia hanya menjenguk Arfan sebentar karena Mawar yakin jika ada Aura disana, dan Mawar tidak ingin Aura berpikir macam-macam tentangnya, lalu tidak mau menunggu Arfan hingga sadar.
Seperti apa yang Zahra pikirkan tentangnya. Mawar ingin menjelaskan semuanya tetapi ia menunggu waktu yang tepat dulu karena sekarang ada yang lebih penting yang harus Mawar selesaikan, sebelum semuanya terlambat.
"War? Kok kamu diem, kamu ga denger suara aku?" tanya Aura dengan nafa khawatir.
"Dengar kok Ra, aku turut berduka cita ya. Aku nanti kesana," ucap Mawar lalu mematikan panggilan mereka secara sepihak.
Sementara di rumah sakit, Aura merasa sedikit aneh dengan tingkah Mawar, "Kok di matiin? Terus suara Mawar juga kayak habis nangis?" lirih Aura.
Aura sempat melamun sebentar tetapi Bima datang dengan membawa makanan, aroma makanan yang tercium membuat perut Aura berbunyi.
Wajar saja karena dari kemarin, Aura belum makan apapun.
"Gue bawain makanan nih buat lo," ucap Bima dengan mengeluarkan begitu banyak makanan dari dalam plastik.
Bima tadi pulang sebentar untuk mandi lalu memberitahukan kepada Bunda tentang keadaan Arfan dan di rumah Bunda ingin ikut tetapi Bima melarang karena Bunda masih dalam pemulihan.
"Bunda baik baik aja kan kak?" tanya Aura.
"Baik kok Bunda, tapi lo yang ga baik. Muka lo tuh pucet kayak mayat hidup aja!" ledek Bima dengan cengengesan.
"Aku ga nafsu makan kak, nanti aja lah. Nunggu Kak Arfan sadar dulu, aku baru mau makan," tolak Aura karena walaupun perut nya berbunyi minta di isi tetapi mulut Aura terasa malas untuk mengunyah makanan dan pikirannya masih belum tenang.
Bima menarik nafas dalam, sampe kapan Aura terus begini. Bima rasanya sudah tidak tahan lagi dengan keadaan seperti ini.
"Ra, lo harus makan. Nanti Arfan sembuh, giliran lo yang masuk rumah sakit. Jadi lah cerita sepasang kekasih langganan rumah sakit," omel Bima dengan berbicara asal.
Perkataan Bima membuat Aura tertawa kecil, ia merasa lucu dengan omelannya Bima. Biasanya Bima sangat begitu galak, kini Bima sedikit melembut.
Bima tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut Aura, ia membuka nasi kotak yang berisi nasi goreng.
"Lo makan deh nasi goreng ini, gue beli nya tuh ngantrinya lama banget. Sampe kaki gue pegel banget, masa lo ga mau makan sih? Sia sia dong gue antri lama lama cuman sekotak nasi goreng ini?" omel Bima tanpa henti, ia menyodorkan sendok berisi nasi goreng kepada Aura.
Sebagai Kakak yang baik, Bima sangat berniat hati untuk menyuapi Aura makan. Tetapi, Aura terdiam sejenak, sendok plastik yang sudah disodorkan Bima tertahan di udara. Ia teringat kembali nada bicara Mawar di telepon tadi. Dingin, singkat, dan terburu-buru. Tidak biasanya Mawar mematikan telepon secara sepihak, apalagi dalam situasi Genting seperti ini.
Kenapa Mawar seolah menghindar? batin Aura. Padahal tadi Mawar yang berkali kali menelfon Aura tetapi saat Aura telfon balik, malahan telfon Aura di matiin sepihak tiba tiba.
"Woi! Malah ngelamun. Ini nasi gorengnya keburu dingin, nggak enak nanti kalau nasinya udah kayak kerikil," tegur Bima, membuyarkan lamunan Aura.
Aura akhirnya membuka mulut, menerima suapan pertama. Rasa gurih nasi goreng itu perlahan mengisi perutnya yang kosong, tapi pikirannya tetap tidak bisa tenang.
"Kak Bima," panggil Aura pelan di tengah kunyahannya.
"Hm?" Bima menjawab sambil sibuk membuka botol air mineral.
"Tadi kan aku telepon Mawar, suaranya beda banget. Kayak... kayak dia lagi nyembunyiin sesuatu yang besar dari aku."
Bima menghentikan gerakannya. Ia menatap Aura lurus-lurus, lalu menghela napas panjang. "Ra, setiap orang punya cara sendiri buat sedih. Mungkin dia syok denger kabar Arfan. Atau mungkin dia lagi pusing urusan sekolah. Lo jangan nambah beban pikiran lo sendiri dengan mikirin tingkah orang lain. Sekarang fokus lo cuma satu, makan, sehat, terus tungguin si Arfan bangun."
Aura hanya mengangguk pelan, meski jauh di lubuk hatinya, rasa penasaran itu tetap mengganjal.
...****************...
Matahari perlahan mulai tenggelam, hawa dingin mulai menggantikan terik yang sejak tadi membakar. Di bawah langit yang mulai menggelap, kepenatan itu akhirnya mencapai puncaknya, sebuah akhir hari yang bukannya membawa ketenangan, justru membawa beban pikiran yang semakin berat.
Aura mencoba untuk masuk kembali, menjenguk Arfan untuk kedua kalinya di hari ini. Tadi ia di izinkan namun hanya sebentar, tentu Aura masih belum puas.
Kali ini Aura mencoba izin kembali tetapi tanpa batasan waktu dan Suster memperbolehkannya, selama Aura mematuhi prosedur dan tidak menganggu pasien.
Setelah mendapatkan izin, Aura segera memakai pakaian dan perlindungan lengkap. Ia perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat Arfan terbaring lemah.
Aura menatap Arfan cukup lama, sudah seharian Aura menunggu tetapi tak juga ada perkembangan dari Arfan. Tubuh Arfan masih di penuhi selang selang dan Arfan masih belum menunjukan akan sadar.
"Assalamualaikum Kak," lirih Aura, ia duduk di kursi sebelah ranjang Arfan lalu perlahan memegang tangan Arfan.
Tangan yang paling anti menyentuh Aura, kini telah di genggam erat oleh Aura. Memang Arfan selama ini Arfan tidak pernah menyentuh Aura secara langsung, ia sangat menjaga Aura.
"Kak, aku mohon bangun dong. Jangan tidur terus..... jangan bikin aku terus ketakutan kayak gini," ucap Aura dengan meneteskan air matanya.
"Aku takut kalau Kak Arfan tidur terus nanti Kak Arfan ga bangun lagi, dan..... itu semua gara gara aku," lirih Aura.
Air matanya sudah mengalir deras, ia mengusap tangan Arfan lalu menopang kan nya di pipi nya. Tangan Arfan pun basah karena air mata Aura.
Tanpa Aura sedari, air mata Arfan menetes. Mungkin sebenarnya Arfan sudah mendengar sekitarnya tetapi tidak bisa membuka matanya.
Aura terdiam cukup lama disana, ia terus berdoa dan membaca al quran agar berharap Arfan cepat sadar.
Dari kejauhan sana, Bima juga ikut masuk tetapi tanpa di ketahui oleh Aura. Ia melihat dari kejauhan, sosok Arfan yang tidak berdaya.
Sebenernya dengan kondisi lo seperti ini, gue bisa dengan mudah nyingkirin lo, Arfan. Tapi gue ga sejahat lo, gua masih punya hati nurani dan gue ga mau Aura terus terusan nangisin lo, batin Bima.
Bima menggepal tangannya kuat, ia benci melihat Aura yang begitu sedih, begitu peduli dengan Arfan.
"Gue tau, sebenernya ini semua karena perbuatan lo sendiri kan Fan? Biar lo bisa terlihat jadi pahlawan bagi Aura dan Aura merasa punya hutang nyawa sama lo," lirih Bima dengan mengertakan giginya.
Bersambung.......
Terimakasih banyak aku ucapkan kepada pembaca yang sudah mau membaca karyaku sampai bab ini.
Maaf jika alur ceritanya terlihat acak acakan, maaf jika kadang bingung, maaf jika banyak typo atau membuat hati pembaca tidak suka.
Saya ucapkan kembali, terimakasih. Setiap dukungan kalian, berupa like dan komen sangat berarti bagi saya🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰