NovelToon NovelToon
Rahasia Pernikahan Sang Dokter

Rahasia Pernikahan Sang Dokter

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:437.5k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Caniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.

"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"

"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."

Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.


Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.

Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sekar bersedia tinggal sementara di kediaman nenek Arka, tapi dengan syarat tetap diizinkan bekerja di rumah sakit sesuai shift.

"Tentu saja saya setuju, Sekar," nyonya Pratiwi akan pikirkan nanti jika seandainya Arka tetap tidak bisa Sekar tinggal kerja, tapi setidaknya siang ini hingga malam nanti Sekar menemani Arka.

Setelah melalui pertimbangan yang menegangkan, Sekar akhirnya memberanikan diri menelepon Dokter Rayyan. Di luar dugaan, meski suara Dokter Rayyan terdengar datar dan dingin tidak seperti biasanya, tapi ia memberikan izin dengan satu syarat tegas.

"Saya izinkan kamu membantu keluarga Arka, Sekar," ucap Dokter Rayyan di ujung telepon. "Tapi ingat, kewajiban utamamu adalah di rumah sakit. Kamu hanya boleh ke sana di luar shift kerja. Jangan sampai saya mendengar kamu terlambat masuk atau terlihat kelelahan saat menangani pasien lain. Jika itu terjadi, izin ini saya cabut seketika."

"Tentu saja, Dokter," Sekar menghela napas, padahal ia juga sudah memikirkan seperti itu. Sebenarnya Sekar merasa terbebani dengan keputusan yang ia ambil. Itu artinya, ia harus merelakan waktu istirahatnya untuk bolak-balik antara rumah sakit dan kediaman mewah nenek Arka, tapi Sekar harus siap menerima konsekuensinya.

Begitu mendengar kabar itu, wajah Arka langsung cerah. Meskipun masih ada sisa air mata di pipinya, bocah itu akhirnya mau melepas pelukannya pada kaki Sekar. "Jadi Mama kecil tetap di sini kan? Mama nggak tinggalin Arka?" tanyanya dengan mata berbinar.

"Iya, sayang... Tapi Suster besok-besok harus kerja dulu pagi sampai sore. Nanti sore setelah selesai kerja, Suster baru ke sini menemani Arka bobo, ya?" janji Sekar sambil mengusap kepala Arka dengan lembut.

"Oke..." Arka mendekatkan jari kelingkingnya yang mungil itu di hadapan Sekar. Sekar tersenyum menyambut jemari Arka.

Ibu Pratiwi yang mendengar keputusan itu pun tersenyum puas. Ia segera memerintahkan sopir pribadinya ke esokan paginya untuk selalu siap sedia menjemput Sekar di rumah sakit setiap kali shift-nya berakhir. Bagi Sekar, ini adalah awal dari rutinitas yang melelahkan namun juga memberikan harapan baru bagi kondisi finansialnya.

Namun, di hari pertama ia mulai menjalankan tugas ganda ini, Sekar menyadari sesuatu. Bekerja di bawah pengawasan Dokter Rayyan yang perfeksionis di pagi hari, lalu menghadapi kemanjaan Arka di rumah mewah itu benar-benar menguras energinya. Belum lagi tatapan Dokter Rayyan yang seolah selalu cemburu setiap kali ia bersiap-siap pulang ke rumah Arka.

"Papa Arka itu duda ya?" Tanya Rayyan, menghentikan tangan Sekar yang melepas apron perawatnya.

"Saya tidak tahu, Dok, sampai hari ini belum tahu orang tua Arka," jawab Sekar. "Memang kenapa kalau Papa Arka duda?" Lanjut Sekar.

"Tidak-tidak, kamu aku antar," Rayyan menarik tangan Sekar keluar, seolah tidak mau dibantah mengajaknya pulang bareng.

"Ciee-cieee..." lirih Intan yang tiba-tiba sudah mengikuti di belakang mereka.

Sekar cepat-cepat melepas tangan Rayyan, wajahnya memerah ketika menatap Intan yang senyum-senyum memergoki dirinya.

"Kan, apa aku bilang? Dokter Rayyan suka sama kamu," bisik Intan seolah siap menjadi mak comblang antara sahabat dengan dokter muda dan tampan itu.

"Kamu..." Sekar berdecak meninggalkan Intan yang tertawa cekikikan. Sekar melangkah lebih cepat hingga berjalan di sebelah dokter Rayyan yang sudah berjalan lebih dulu.

"Kalau setiap malam tinggal bersama Arka, berarti kamu nggak kost lagi?" Tanya Rayyan yang tengah menyetir menuju rumah Arka.

"Untuk sementara ini biar saja dulu Dok," Sekar tidak akan keluar dari kost, setelah orang tua Arka kembali ia tentu akan pergi dari rumah itu.

.

Di taman halaman rumah, nenek Arka sedang merapikan tanaman kesayangan. Setelah kehadiran Sekar, wanita 60 tahun itu mulai melanjutkan aktivitasnya seperti itu.

Derung mobil berhenti di luar pagar, setelah dibukakan pagar oleh satpam, suara langkah kaki yang terburu-buru dan aroma parfum mahal menyeruak di hidung nenek.

"Mama... Arka di mana? Bagaimana keadaannya?" Cecar wanita itu, ia adalah mommy Arka yang baru pulang dari luar negeri, berprofesi sebagai artis.

Nyonya Pratiwi tidak langsung menjawab, ia meletakkan gunting rumput lalu mencuci tangan. "Sudah lebih baik," jawab nenek dingin.

"Bagaimana kejadiannya Ma? Kenapa Arka bisa ketabrak?!" Menantu nenek itu kembali mencecar dengan nada tinggi.

"Jadi, kamu menyalahkan Mama, Luna? Sebenarnya siapa ibunya Arka? Mama atau kamu?!" Nyonya Pratiwi menjawab tak kalah kencang. Malas ribut dengan menantunya ia memilih masuk ke rumah.

.

Sementara Sekar sedang bermain bersama Arka menyusun Puzzle disertai canda tawa. Namun, tawa itu berhenti ketika seorang wanita cantik dengan kacamata hitam besar, pakaian desainer ternama, dan aura yang sangat dingin melangkah masuk.

"Mommy!" teriak Arka yang awalnya sedang duduk bersama Sekar di ruang tengah. Bocah itu berlari memeluk ibunya.

Namun, reaksi Luna tidak sehangat yang Sekar bayangkan. Alih-alih mommy Arka menanyakan kondisi putranya, Luna hanya mengusap bahu Arka sekilas, lalu perhatiannya langsung tertuju pada Sekar yang berdiri kaku di dekat sofa. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Sekar dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik dan tidak suka.

"Siapa kamu?" tanya Luna dengan nada ketus, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sekar.

Sekar hendak menjawab, tapi Arka berceloteh lebih dulu. "Itu Mama kecil Alka, Mommy. Jangan malah sama Mama ya..." Arka mendongak, tahu jika raut wajah mommy menatap Sekar sedang marah.

"Ini Suster Sekar, Non. Perawat dari rumah sakit yang diminta Ibu Pratiwi untuk menjaga Den Arka selama masa pemulihan," jawab Rini dengan kepala tertunduk.

Luna mendengus sinis. "Perawat? Untuk apa? Terus apa gunanya saya membayar kamu, Rini?! Saya tidak suka ada orang asing yang tinggal di rumah ini tanpa seizin saya. Apalagi melihat penampilannya... apa dia benar-benar kompeten atau hanya silau dengan harta di rumah ini?" Tanyanya angkuh dan sombong.

Rini masih menunduk, meremas baju seragam warna merah muda yang ia kenakan.

Sementara Sekar merasa wajahnya memanas. Kata-kata Luna sangat tajam dan merendahkan. Ia mencoba tetap profesional dengan membungkuk sopan. "Selamat sore, Bu... Saya Sekar. Saya di sini hanya menjalankan tugas medis untuk memastikan kondisi kesehatan Arka stabil, sesuai permintaan Ibu Pratiwi dan izin dari dokter yang menangani Arka."

Mendengar nama Ibu Pratiwi disebut, Luna tampak semakin kesal. Ia merasa perannya sebagai ibu tersaingi oleh kehadiran perawat muda yang tampak begitu dekat dengan anaknya, bahkan memanggil 'Mama'.

"Karena sekarang Ibu sudah kembali, saya permisi..." Sekar pamit pulang.

"Nggak boleh, Mama kecil di sini saja," Arka justru berjalan tertatih-tatih memegang tangan Sekar, seolah mencari perlindungan, membuat Luna semakin meradang.

"Arka, kenapa kamu memanggil Suster ini seperti itu?" Tanya Luna membungkuk menatap wajah Arka. Namun, tidak ada jawaban dari Arka, Luna menghentakkan kaki yang masih mengenakan sepatu menuju kamar nenek.

"Aku harus bicara dengan Mama, seenaknya saja menerima orang asing!" guman Luna tanpa mengetuk pintu kamar mama mertua. Ia dorong begitu saja menunjukkan aksi protes.

...~Bersambung~...

1
YuWie
kesalahan rayyan krn gak jujur sama sekar..jadi jelek kan namamu. Mana sekar sdh nunggi sampe malam kedatanganmu san
YuWie
mesake men rayyan..hy krn mau dibalikin sekar ke ilham aja dibuat noda padanya..hah
YuWie
Luar biasa
juwita
klo emg itu anak sekar apa tujuan si dr gadungan nyembunyiin dr sekar?
juwita
udh 3 thn sj g kerasa🤣🤣
guntur 1609
dasar begok. wanita tu ahli ilmu sejarah. mknya jangan sok mancing2
guntur 1609
kwkkwk🤣🤣 kapok kau kan. harus banyak betsabatlt lah kau ilham
guntur 1609
gak sadar diri
guntur 1609
berusaha lh kau ioham
Alvian Denis
pirasatku arka anak Sekar sama Ilham..bayi yang di lahir kan Sekar sebetulnya tidak meninggal 🙏🙏
Saryanti Yahya
yaah kasihan ilham, gagal maning gagal maning son.
guntur 1609
jangan bilang nanti orang tua Rayyan gak suka sama sekar. terakhir sekar dan Rayyan gak jadi sama
guntur 1609
aku setuju sm Rayyan. asal Rayyan jangan berulah. biarkan saja ilham hidup dalam penyesalnya
Ita Mei Lestari
kyaknyA anknya diambil dr ilham😄
guntur 1609
mampus kalian. tinggal si biadab ilham
guntur 1609
aku pingin ilham hancur sehancurnya. biar dia tahu rasa
guntur 1609
tuntut semuanya. baik ilham Luna dan Siska. dan semua yg terlibat. biar hancur semua reputasi mereka
guntur 1609
tuntut sj mereka
Misaza Sumiati
sepertinya arka anaknya Sekar , jadi waktu lahir mungkin bohong Ilham mengatakan meninggal
guntur 1609
masa di rumah gak ada foto keluarganya arka.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!