NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perisai Besi di Kamar Nomor Tujuh

Pedal gas itu terasa seperti lempengan amarah di bawah telapak kakiku. Aku memacu kendaraan menembus arus lalu lintas yang mendadak terasa seperti barisan semut yang lamban. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik: kamar hotel tempat Seeula berada. Tuan Gautama baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan mencoba menyentuh wilayah privasiku bahkan sebelum kami duduk di satu meja yang sama.

Aku sampai di lobi hotel dengan ban yang berdecit keras di atas lantai marmer area penjemputan. Tanpa memberikan kunci pada petugas valet, aku langsung melompat keluar dan berlari menuju lift khusus tamu penting. Para staf hotel hanya bisa terpaku melihat pria yang biasanya tampil sangat tenang kini menunjukkan aura predator yang siap menerkam siapa saja.

"Tuan Yansya, keamanan di lantai tujuh sudah kami perketat sesuai perintah," lapor kepala pengawal yang mencegatku di depan pintu lift.

Aku hanya memberikan anggukan tajam tanpa menghentikan langkah. Saat pintu lift terbuka di lantai tujuan, aku melihat barisan pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga berdiri siaga di sepanjang lorong. Aku langsung menuju kamar nomor tujuh nol satu, tempat di mana Seeula sedang menungguku dengan sejuta kegelisahan.

"Yansya!" seru Seeula saat melihatku masuk.

Gadis itu langsung berdiri dari sofa, matanya menunjukkan binar kelegaan sekaligus kecemasan yang mendalam. Di atas meja di tengah ruangan, aku melihat sebuah buket bunga mawar hitam yang tampak sangat kontras dengan dekorasi kamar yang cerah. Di samping bunga itu, terdapat sebuah amplop berwarna krem yang masih tertutup rapat.

"Kau tidak menyentuh bunga itu, kan?" tanyaku dengan nada bicara yang sangat protektif.

Seeula menggelengkan kepalanya perlahan, tangannya sedikit gemetar saat menunjuk ke arah meja. "Pria itu hanya bilang dia temanmu. Dia meletakkannya begitu saja dan langsung pergi sebelum para pengawal sempat menghentikannya."

Aku mendekati meja tersebut, memindai buket bunga itu dengan tatapan mata yang sangat tajam. Gautama tidak sedang mengirimkan salam persahabatan; dia sedang mengirimkan pesan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman jika dia sudah mengincar seseorang. Aku mengambil amplop itu menggunakan sapu tangan, merobeknya dengan gerakan yang sangat presisi agar tidak merusak isinya.

Bunga yang indah untuk wanita yang sedang berada di sangkar yang salah.

Hanya ada satu kalimat di dalam surat itu, ditulis dengan tinta emas yang mengilap. Kalimat itu adalah sebuah penghinaan sekaligus ancaman terselubung bagi kemampuanku dalam melindungi Seeula. Aku meremas surat itu hingga hancur di dalam kepalan tanganku, merasakan panas amarah yang semakin membakar dadaku.

"Jangan takut, Seeula. Aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi dari sini," janjiku sambil menatap matanya untuk memberikan ketenangan.

Aku segera menghubungi Rian melalui saluran telepon yang sudah dienkripsi. Aku memerintahkannya untuk melacak rekaman kamera pengawas di sekitar hotel dan mencari tahu identitas pria yang mengirimkan bunga tersebut. Aku tidak ingin ada satu pun celah yang bisa dimanfaatkan oleh Gautama untuk mengacaukan rencanaku malam ini di Klub Merah Delima.

"Yansya, kau terlihat sangat berbeda. Siapa sebenarnya Tuan Gautama itu?" tanya Seeula dengan suara yang mulai kembali stabil.

Aku berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota, membelakanginya agar dia tidak melihat kilat gelap di mataku. "Dia adalah orang yang merasa memiliki kota ini, Seeula. Tapi dia lupa bahwa setiap penguasa selalu memiliki masa berakhirnya."

Aku memutuskan untuk menambah jumlah pengawal pribadi di depan kamar Seeula menjadi dua kali lipat. Aku juga meminta tim keamanan internal untuk melakukan pemindaian elektronik di seluruh ruangan untuk memastikan tidak ada alat penyadap yang dipasang secara diam-diam. Bagiku, keamanan Seeula adalah fondasi dari seluruh kekuatanku di masa ini.

Pukul delapan malam, aku bersiap untuk berangkat menuju Klub Merah Delima. Aku mengenakan rompi antipeluru tipis di balik kemeja putihku, sebuah tindakan pencegahan yang sangat logis mengingat reputasi Gautama yang sering menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah bisnisnya. Aku juga membawa sebuah jam tangan yang sudah dimodifikasi oleh Rian untuk mengirimkan sinyal darurat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Tetaplah di sini dan jangan keluar untuk alasan apa pun. Aku akan kembali sebelum tengah malam," pesanku pada Seeula sebelum aku melangkah keluar dari kamar.

Seeula hanya memberikan anggukan kecil, tatapan matanya seolah ingin menahanku namun dia tahu bahwa aku harus menyelesaikan urusan ini. Aku menutup pintu kamar dengan rapat, mendengarkan bunyi kunci elektronik yang berbunyi klik sebagai tanda bahwa ruangan itu sudah terkunci sempurna dari dalam.

Aku menuruni lift dengan pikiran yang sudah terfokus sepenuhnya pada strategi negosiasi di klub nanti. Aku tahu Gautama akan mencoba meruntuhkan mentalku dengan memamerkan kekuasaannya, namun dia tidak tahu bahwa aku memiliki data tentang setiap transaksi ilegalnya selama sepuluh tahun ke depan. Di duniaku yang lama, aku adalah ahli dalam menghancurkan hegemoni yang terlalu sombong.

Sesampainya di lobi, sebuah mobil sedan hitam dengan logo singa emas sudah menunggu di depan pintu masuk. Itu adalah kendaraan jemputan khusus yang dikirim oleh Gautama. Aku masuk ke dalam kursi belakang tanpa ragu, membiarkan sopir yang berwajah kaku itu membawaku menuju pusat distrik hiburan yang paling eksklusif di kota ini.

Klub Merah Delima tampak sangat megah dengan pencahayaan merah temaram yang memberikan kesan misterius. Aku turun dari mobil dan disambut oleh dua pria bertubuh raksasa yang langsung melakukan pemeriksaan fisik secara kasar padaku. Aku membiarkan mereka bekerja, memberikan senyum tipis yang meremehkan setiap gerakan mereka.

"Tuan Gautama sudah menunggu di ruang pribadi di lantai paling atas," ucap salah satu penjaga dengan nada bicara yang sangat kaku.

Aku berjalan masuk melewati lorong-lorong yang dipenuhi oleh suara musik jaz yang halus. Di setiap sudut, aku melihat orang-orang penting di kota ini sedang berbincang dengan suara rendah, seolah sedang merencanakan sesuatu yang besar. Aku terus melangkah menuju lift emas yang akan membawaku ke puncak kekuasaan Tuan Gautama.

Saat pintu lift terbuka, aku langsung disambut oleh ruangan yang sangat luas dengan pemandangan kota tiga ratus enam puluh derajat. Di tengah ruangan, seorang pria dengan rambut putih yang tertata rapi sedang duduk di kursi kulit besar sambil menghisap cerutu. Dia menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk menguasai.

"Selamat datang, Yansya. Aku sudah menunggumu untuk melihat seberapa besar nyali yang kau miliki," sapa Tuan Gautama dengan suara berat yang memenuhi ruangan.

Aku berjalan mendekat tanpa rasa takut, menarik kursi di depan mejanya yang terbuat dari kayu jati kuno. Aku menyilangkan kakiku, menunjukkan bahwa aku berada di level yang sama dengannya meskipun usiaku jauh lebih muda.

"Aku datang bukan untuk memamerkan nyali, Gautama. Aku datang untuk memberikan penawaran yang tidak akan bisa kau tolak jika kau masih ingin melihat kerajaanmu berdiri besok pagi," balasku dengan nada bicara yang sangat tajam dan penuh penekanan.

Gautama tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam yang berkarat. Dia meletakkan cerutunya di asbak perak, lalu memajukan tubuhnya hingga wajah kami hanya terpaut jarak satu meter.

"Kau sangat menarik, anak muda. Tapi kau baru saja membuat kesalahan dengan masuk ke sarangku tanpa membawa senjata apa pun," ancam Gautama sambil memberikan isyarat pada para pengawalnya yang berada di sudut ruangan.

Aku hanya tersenyum dingin, tanganku perlahan menyentuh jam tangan modifikasiku. Aku tahu bahwa di luar sana, Rian sudah mulai meluncurkan serangan digital ke seluruh rekening luar negeri milik Gautama sebagai tanda pembuka dari negosiasi kami malam ini.

"Siapa bilang aku datang dengan tangan kosong?" tanyaku sambil menatap langsung ke dalam bola matanya yang gelap.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!