Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu ditengah profesionalitas
Dunia kampus DKV sedang berada di puncak kegilaan. Minggu ini adalah tenggat waktu pengumpulan maket interaktif, yang artinya perpustakaan pusat menjadi rumah kedua bagi Aruna. Namun, takdir sedang hobi bercanda ketika Aruna terjebak dalam satu kelompok dengan Dante, sang pangeran playboy yang kepedeannya lebih tinggi daripada monas.
"Aruna, fokus dong. Garis perspektif ini harus seanggun lekuk wajahku," ujar Dante sambil menyisir rambutnya menggunakan penggaris segitiga, membuat Aruna ingin melakukan sinkronisasi penggaris tersebut dengan ubun-ubun Dante.
"Dante, kalau kamu nggak berhenti tebar pesona dan mulai bantu ngelem foam board ini, aku bakal pastiin nama kamu nggak ada di lembar pengesahan," ancam Aruna, matanya sudah merah karena kurang tidur dan terlalu banyak menghirup aroma lem aibon.
Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Perpustakaan mulai sepi, hanya menyisakan aroma buku tua dan keputusasaan mahasiswa tingkat akhir.
DI sisi lain kota, di bawah sorot lampu neon ruang tunggu stasiun televisi swasta, Javier sedang dipersiapkan untuk penampilan live Luminous yang akan disiarkan ke seluruh negeri. Penata rias sedang sibuk memoles wajahnya yang sudah tanpa cela, namun sang idola justru tidak bisa diam. Matanya terpaku pada layar ponsel tersembunyi di balik jubah panggungnya, menampilkan titik GPS Aruna yang berkedip di area perpustakaan kampus.
"Kenapa koordinat Majikan tidak bergerak selama empat jam? Apakah terjadi pembekuan sistem pada motorik kakinya?" gumam Javier, suaranya rendah dan penuh kecurigaan sistem.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Unit Intelijen 02, alias suruhan rahasia Javier yang ia tugaskan memantau radius sepuluh meter di sekitar Aruna dengan menyamar sebagai penjual siomay di depan kampus.
Laporan Unit Intel,
"Target terdeteksi sedang melakukan sinkronisasi jarak dekat dengan Unit Dante. Posisi: Pojok perpustakaan. Aktivitas: Saling memegang penggaris dan tertawa kecil. Deteksi ancaman: Sangat Tinggi."
Mendengar nama Dante, prosesor di otak Javier seolah mengalami short circuit. Matanya mendelik tajam, membuat penata riasnya terhenyak kaget hingga salah mengoleskan eyeliner.
"Unit Dante? Pria dengan pola perilaku predator visual yang kelebihan hormon itu?!" geram Javier.
"Sistem saya mendeteksi adanya ancaman level merah pada kedaulatan hati Aruna! Batalkan penampilan! Saya harus melakukan dekontaminasi area perpustakaan sekarang juga!"
"Javi! Sepuluh menit lagi naik panggung! Cepat pakai in-ear monitor-mu!" teriak Manajer Han yang tiba-tiba mendobrak pintu, seolah sudah tahu bahwa artisnya sedang merencanakan pemberontakan.
"Manajer Han, ini keadaan darurat nasional! Majikan sedang berada dalam jangkauan radar pria lain!"
Javier mencoba bangkit, namun Manajer Han menahan bahunya dengan kekuatan yang tak kalah besar.
"Duduk, Javier! Kamu itu profesional!" bentak Manajer Han.
"Satu langkah kamu keluar dari gedung ini tanpa tampil, saya pastikan kacamata renangmu saya sita dan saya sumbangkan ke panti asuhan!"
Javier terdiam. Ancaman penyitaan kacamata renang adalah serangan mental tingkat tinggi. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suhu mesin di dadanya yang mulai overheat akibat api cemburu.
"Baiklah," ucap Javier dengan nada dingin yang dramatis.
Ia merapikan jas panggungnya yang berkilau, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan tajam.
"Saya akan tampil. Saya akan memberikan performa yang begitu menyilaukan hingga sinyal pria bernama Dante itu meredup. Tapi setelah lagu terakhir selesai, saya butuh prosedur Evakuasi Darurat. Saya harus melakukan inspeksi lapangan terhadap integritas maket Aruna... dan merestorasi posisi wajah pria itu agar tidak terlalu dekat dengan unit pusat saya."
Manajer Han hanya bisa mengurut dada, sementara Javier melangkah menuju panggung dengan aura membara, siap membakar panggung televisi sebelum membakar semangat Dante di perpustakaan.
Pukul sepuluh malam, perpustakaan kampus sudah sangat sunyi. Aruna dan Dante masih berkutat dengan tumpukan kertas di pojok ruangan yang remang-remang.
Tiba-tiba, seorang pria dengan penampilan yang sangat mencurigakan masuk. Ia mengenakan jaket almamater kampus yang kekecilan hingga lengan bawahnya menggantung kaku, memakai wig kribo raksasa yang sangat miring, kumis palsu tebal yang hampir menutupi bibirnya, dan tentu saja kacamata renang biru yang ia selipkan di balik poni kribonya.
"Permisi, apakah ini zona radiasi cemburu?" tanya pria itu dengan suara yang diberat-beratkan, mencoba terdengar seperti mahasiswa pascasarjana yang stres.
Aruna mendongak dan hampir tersedak kopi instannya.
"J-Javi?! Kamu ngapain pake rambut sarang burung gitu?!"
"Saya adalah Unit Mahasiswa Baru bernama... Bambang Dua," sahut Javier tanpa ekspresi, meskipun kumis palsunya hampir lepas karena ia terlalu emosi melihat tangan Dante yang berada terlalu dekat dengan tangan Aruna saat memegang penggaris.
Dante mengernyitkan dahi.
"Heh, Mas Kribo! Ini area terbatas untuk mahasiswa yang lagi serius. Kamu siapa? Kurir wig nyasar?"
Javier melangkah maju, meletakkan sebuah kantong plastik besar di atas meja maket.
"Saya adalah asisten logistik Aruna. Saya membawa energi cadangan berupa es mambo melon dan... instruksi agar pria di sebelah ini menjaga jarak minimal 1,5 meter dari Unit Aruna demi stabilitas nasional."
Dante berdiri, mencoba menantang pria kribo misterius itu.
"Dengar ya, saya nggak tahu kamu siapa, tapi saya dan Aruna lagi punya momen kreatif di sini. Mending kamu pergi sebelum saya panggil satpam."
Javier melepaskan wig kribonya dengan satu sentakan dramatis, menampakkan rambut peraknya yang sedikit acak-acakan namun tetap mempesona. Ia juga melepaskan kumis palsunya dan menatap Dante dengan tatapan Ice Prince yang mematikan.
"Momen kreatif?" tanya Javier dengan nada dingin yang sanggup membekukan AC perpustakaan.
"Sistem saya mendeteksi bahwa desain Anda sangat medioker, Tuan Dante. Dan yang lebih medioker lagi adalah cara Anda mencoba melakukan pendekatan pada asisten pribadi saya."
Dante melongo.
"J-Javier?! Idola itu?!"
"Javi, stop!"
Aruna menarik lengan Javier ke balik rak buku bagian Sejarah Arsitektur agar tidak terlihat oleh CCTV.
"Kamu bisa kena skandal! Ini kampus, Javi! Bukan panggung konser!"
Javier menyudutkan Aruna di antara rak buku tua. Ia meletakkan kedua tangannya di rak, mengunci Aruna dalam ruang sempit di antara tubuhnya. Napasnya memburu, matanya memancarkan kecemburuan yang murni dan intim.
"Kenapa Anda harus bersama dia sampai malam, Aruna?" bisik Javier.
"Apakah desain saya kurang menarik dibanding desain pria itu? Apakah kacamata renang saya kalah keren dari kacamata hitamnya?"
Aruna menatap mata Javier, melihat kerapuhan di balik kemarahannya.
"Ini cuma tugas kelompok, Javi. Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Dante. Dia itu cuma teman sekelompok yang menyebalkan."
"Tapi dia melihat Anda dengan cara yang tidak saya sukai," gumam Javier.
Ia merunduk, menempelkan keningnya ke kening Aruna.
"Sistem saya merasa terancam saat Anda tidak berada dalam jangkauan sensor saya. Saya merasa... seperti kehilangan sinyal utama."
Di tengah aroma buku lama dan cahaya redup perpustakaan, Javier perlahan meraih tangan Aruna dan menempelkannya ke dadanya. Aruna bisa merasakan detak jantung Javier yang sangat kencang, seolah sedang melakukan konser solo di dalam sana.
"Jangan pernah biarkan pria lain membantu Anda memegang penggaris sesering itu," bisik Javier intim.
Ia mengecup ujung jari Aruna satu per satu dengan penuh pemujaan.
"Tangan ini... tugasnya adalah memegang sistem kendali saya, bukan bekerja sama dengan predator visual seperti dia."
Aruna merasakan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Javi, kamu posesif banget sih..."
"Bukan posesif," koreksi Javier sambil menatap bibir Aruna dengan tatapan yang lapar.
"Ini adalah prosedur Proteksi Aset Berharga. Anda adalah satu-satunya kode program yang tidak boleh diduplikasi oleh siapa pun."
Javier mendekat, memberikan kecupan singkat namun sangat dalam di sudut bibir Aruna, membuat Aruna lupa caranya bernapas selama beberapa detik.
"Selesaikan tugas ini dalam sepuluh menit, atau saya akan melakukan prosedur Pengangkutan Majikan secara paksa menggunakan wig kribo tadi sebagai alat penyamaran."
Aruna tertawa kecil di pelukan Javier.
"Iya, iya. Kamu tunggu di mobil sana, jangan sampai Manajer Han tahu kamu kabur pake wig kribo."
"Manajer Han sedang saya suap menggunakan lima kilo lele dari Mas Bambang yang saya temukan di jalan tadi," sahut Javier dengan wajah tanpa dosa.
Aruna kembali ke meja maket dengan wajah berseri-seri, sementara Dante masih mematung seperti patung pancoran karena terkejut melihat Javier asli.
"Dante, lanjutin sendiri ya. Aku udah dapet inspirasi dari Yayasan Kacamata Renang," ujar Aruna sambil membereskan tasnya.
"Tapi Ar, maketnya belum jadi!" teriak Dante.
"Anggap saja itu tugas mandiri untuk meningkatkan kualitas mediokermu!" teriak Aruna sambil berlari keluar menuju parkiran, di mana seorang pria dengan wig kribo yang sudah dipakai dengan benar sedang melambai-lambaikan tangan dengan semangat dari jendela van.