Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan yang Bangkit
Cengkeraman pada pergelangan kaki Lauren terasa sekuat catut baja yang baru saja dikeluarkan dari lemari es. Dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang, melumpuhkan saraf-sarafnya seketika. Tubuh Lauren terseret perlahan di atas seprai yang kusut. Kasur berderit pelan, sebuah suara yang terdengar memekakkan telinga di tengah sunyi yang mati.
Lauren mencoba membuka mulut untuk berteriak, namun tenggorokannya terasa seperti disumbat oleh gumpalan pasir kasar. Oksigen seolah menghilang dari kamar itu. Ia hanya bisa menatap mata merah di atasnya—dua lubang api yang membara dengan kepuasan jahat. Bayangan tinggi itu kini membungkuk, wajahnya yang kabur dan hitam pekat berjarak hanya beberapa inci dari wajah Lauren.
Akhirnya... kau menyerah, bisik suara itu di dalam benaknya. Suaranya terdengar seperti gesekan pisau berkarat di atas batu nisan.
Lauren merasakan tubuhnya mulai melewati tepi tempat tidur. Di bawah sana, lantai kamarnya tidak lagi terlihat seperti ubin biasa. Lantai itu telah berubah menjadi pusaran kegelapan kental yang menanti untuk menelannya bulat-bulat. Kepanikan yang murni menyergapnya, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah titik api yang menyala di ulu hatinya, sebuah percikan yang lahir dari rasa lelah menjadi korban.
Tidak. Tidak lagi.
Jari-jari tangan kanan Lauren yang tadinya kaku mulai bergetar. Dengan sisa tenaga yang seolah ditarik dari kedalaman jiwanya, ia merogoh ke dalam kerah kausnya. Jemarinya menyentuh permukaan dingin medali perunggu itu. Benda itu mendadak berdenyut panas, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri yang merespons kemarahan Lauren.
"Lepaskan... aku!" Lauren berhasil memaksa suara itu keluar, meski terdengar seperti geraman tertahan.
Bayangan itu justru mempererat cengkeramannya. Lauren merasakan tulangnya merintih di bawah tekanan tangan dingin itu. Rasa sakitnya luar biasa, menyebar cepat menuju pangkal paha. Namun, Lauren justru menggunakan rasa sakit itu sebagai pemantik. Ia memejamkan mata rapat-rapat, memusatkan seluruh kesadarannya pada energi biru yang selama bertahun-tahun ia coba sembunyikan.
Keluar! jeritnya dalam batin.
Secara instingtif, Lauren melepaskan semua bendungan yang menahan kekuatannya. Ia tidak lagi mencoba mengendalikan atau mengarahkan energi itu. Ia membiarkannya meledak begitu saja.
Cahaya indigo yang sangat terang meledak dari tubuh Lauren. Cahaya itu bukan hanya sekadar sinar, melainkan gelombang kejut fisik yang menghantam udara dengan suara dentuman berat. Seluruh kamar bergetar hebat seolah diguncang gempa.
Sensasi seperti ribuan jarum panas yang membara menusuk setiap inci pembuluh darah Lauren. Ia merasakannya—kekuatan itu merobek jalurnya keluar dari batin menuju kulitnya. Rasa sakitnya begitu hebat hingga pandangan Lauren mendadak memutih. Rasanya seolah-olah tubuhnya sedang dipaksa menjadi wadah bagi sebuah badai yang terlalu besar untuk ukurannya.
"Aaaaaakh!"
Lauren memekik saat gelombang energi itu memuncak. Cahaya indigo itu mementalkan bayangan hitam besar tersebut dengan kekuatan meriam. Makhluk itu melengking, sebuah suara frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga sebelum akhirnya terlempar menembus dinding dan lenyap menjadi serpihan asap kelabu.
Lauren jatuh terjerembap di atas kasurnya yang kini berantakan. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan berat. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, sementara otot-ototnya bergetar hebat karena sisa kejutan listrik yang tadi melewati sarafnya.
Hening kembali menyergap. Lampu kamar yang tadinya mati mendadak berkedip-kedip sebelum akhirnya menyala dengan cahaya kuning yang stabil. Aroma tanah makam dan belerang yang tadi menyesakkan kini menguap, digantikan oleh bau hangus yang tipis di udara.
"Lauren?"
Sesosok pendar perak muncul di samping tempat tidur. Herza menampakkan diri dengan wajah yang dipenuhi keterkejutan yang murni. Arwah remaja itu melayang rendah, matanya yang kelabu menatap Lauren dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu... kamu melakukan itu sendiri?" bisik Herza. Suaranya bergetar antara tidak percaya dan kekaguman.
Lauren tidak langsung menjawab. Ia masih mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Ia mengangkat tangan kanannya di depan wajah. Tangan itu masih gemetar, namun di bawah permukaan kulit telapak tangannya, Lauren bisa melihat sisa-sisa cahaya biru tipis yang masih menari-nari seperti urat nadi baru.
"Dia... ditarik ke bawah kasur," kata Lauren lirih. Suaranya masih serak.
"Aku tidak punya pilihan, Herza."
Lauren bangkit duduk perlahan. Tubuhnya terasa remuk, setiap sendinya merintih protes. Namun, di balik rasa sakit fisik itu, ada sebuah perasaan asing yang mulai tumbuh di dalam dadanya. Rasa takut yang selama ini mendominasi batinnya mulai menyusut, digantikan oleh kesadaran baru yang dingin dan tajam.
Selama belasan tahun, ia selalu menunggu Herza untuk menyelamatkannya. Ia selalu menunggu orang lain untuk memberi tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menganggap kemampuannya sebagai kutukan yang membuatnya lemah. Namun barusan, dalam kegelapan yang paling pekat, ia menyadari bahwa ia memiliki taring.
"Energi tadi... itu bukan lagi sekadar reaksi protektif," Herza melayang mendekat, tangannya yang transparan mencoba menyentuh tangan Lauren namun terhenti beberapa inci karena sisa energi yang masih panas.
"Itu adalah serangan aktif. Kamu baru saja memaksa duniamu bersatu dengan dunianya untuk mengusirnya."
Lauren menatap medali di tangannya. Simbol mata api itu tampak lebih berkilau, seolah baru saja dipoles oleh ledakan energi tadi. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa sakit akibat ledakan tadi masih berdenyut di bahunya, namun ia menyambut rasa sakit itu. Itu adalah pengingat bahwa ia masih hidup. Bahwa ia bukan lagi sekadar mangsa yang pasrah.
"Aku lelah menjadi korban, Herza," kata Lauren. Ia mendongak, menatap mentornya dengan sorot mata yang berbeda. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang tersisa hanyalah tekad yang mengeras seperti baja.
"Mereka menginginkan tubuhku? Mereka ingin menjadikanku wadah? Kalau begitu, mereka harus siap terbakar kalau berani menyentuhku lagi."
Herza terdiam selama beberapa saat. Ia menatap Lauren seolah sedang melihat orang asing yang baru saja masuk ke dalam tubuh muridnya. Perlahan, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di wajah arwah remaja itu. Sebuah senyum yang penuh dengan rasa bangga sekaligus kewaspadaan.
"Selamat datang di medan perang yang sesungguhnya, Lauren," bisik Herza.
"Kamu baru saja bertransformasi. Kamu bukan lagi sekadar anak indigo yang ketakutan. Kamu adalah seorang pejuang."
Lauren tidak tersenyum. Ia menoleh ke arah jendela kamarnya. Di luar sana, kegelapan malam masih terlihat pekat, namun ia tidak lagi merasa terintimidasi. Ia merentangkan jari-jarinya, merasakan denyutan energi yang ritmis di telapak tangannya. Kekuatan itu kini terasa patuh, menunggu perintah selanjutnya.
"Adiwangsa, Sang Arsitek... siapa pun mereka," gumam Lauren. Ia berdiri tegak, mengabaikan rasa nyeri di kakinya.
"Katakan pada mereka, Herza. Permainan defensifku sudah berakhir malam ini."
Lauren berjalan menuju cermin di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya. Di tengah remang cahaya, matanya tampak berpendar biru tipis sejenak sebelum kembali normal. Ia menyeka sisa darah di sudut bibirnya yang pecah akibat tekanan energi tadi.
Tiba-tiba, Lauren merasakan sebuah getaran hebat kembali muncul. Kali ini bukan dari kamarnya, melainkan dari arah kejauhan. Sebuah sinyal yang tertangkap oleh radar batinnya yang kini jauh lebih sensitif.
"Lauren, ada apa?" tanya Herza cepat saat melihat ekspresi Lauren berubah tegang.
"Banyu," bisik Lauren.
Ia bisa merasakannya. Di suatu tempat di kota ini, energi kegelapan yang sama dengan yang menyerangnya tadi sedang berkumpul dalam jumlah yang jauh lebih besar. Dan di tengah pusaran itu, ia bisa merasakan frekuensi batin Banyu yang merintih kesakitan, memanggilnya melalui jalinan takdir yang kini terikat lebih kencang dari sebelumnya.
"Mereka tidak menyerangku hanya untuk membunuhku, Herza," kata Lauren sambil menyambar jaketnya.
"Serangan tadi hanya pengalih perhatian agar aku tidak menyadari apa yang mereka lakukan pada Banyu malam ini."
Lauren melangkah menuju jendela, tidak lagi merasa perlu keluar melalui pintu rumah yang terkunci. Ia menatap langit malam yang mendung. Tangannya kembali berdenyut, seolah-olah kekuatan di dalamnya sudah tidak sabar untuk dilepaskan kembali.
"Kamu mau ke mana?" tanya Herza panik.
"Menjemput kunci yang lain," jawab Lauren dingin. Ia melompat dari balkon lantai dua, mendarat dengan ringan di atas rumput taman berkat dorongan energi indigo di kakinya.
Di belakangnya, Herza hanya bisa terpaku menatap transformasi drastis itu. Lauren tidak lagi berlari menjauh dari bahaya. Ia sedang berlari menuju jantung kegelapan.