Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Beberapa minggu kemudian... Lampu indikator di ruang ICU rumah sakit Charité berkedip stabil, namun atmosfer di dalamnya berubah drastis saat jemari pucat Nadine mulai bergerak ritmis. Dokter Hans segera mendekat, sementara Joy dan Nenek Noah menahan napas di balik kaca pembatas. Noah bersimpuh di lantai, bibirnya terus melantunkan ayat-ayat suci dengan suara bergetar.
Keajaiban itu akhirnya tiba. Kelopak mata Nadine yang selama empat tahun tertutup rapat, perlahan terbuka. Ia mengerjap, mencoba melawan silau lampu operasi yang menusuk matanya.
Nadine mencoba menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah. Suaranya hampir tak terdengar, hanya berupa bisikan kering yang memilukan.
"Mas... Mas Adit..."
Air mata langsung membasahi bantalnya. Nama itu, nama yang menjadi ingatan terakhir sebelum kegelapan menyergapnya di tepi jurang, adalah satu-satunya hal yang ia bawa kembali dari tidur panjangnya.
"Mas Adit... di mana, bagaimana keadaan nya?" rintihnya lagi, matanya yang sayu bergerak liar mencari sosok pria yang ia cintai.
Dokter Hans memberikan instruksi dalam bahasa Jerman agar perawat segera mengganti cairan infus dan memeriksa kesadaran Nadine. Joy segera menerjemahkan situasi tersebut kepada Nenek Noah yang sudah menangis tersedu-sedu.
" Nek...Nadine sudah sadar,namun dia hanya mengingat suaminya saat kecelakaan itu" ucap Joy pada nenek Noah.
Lalu mamanya Nadine ikut masuk sesuai perintah dokter.
Nadine mulai meraba perutnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Perutnya yang terakhir kali ia ingat sudah membuncit sembilan bulan, kini terasa datar. Rasa perih bekas luka operasi caesar yang sudah lama mengering terasa seperti luka baru di hatinya.
"Perutku..." suara Nadine meninggi, penuh ketakutan. "Ibu! Mas Adit! Di mana anakku? Kenapa... kenapa perutku kosong?"
Nadine mulai menangis histeris. Ia mencoba bangun namun tubuhnya yang sangat lemah justru membuatnya terjatuh kembali. Dalam pikirannya, ia baru saja mengalami kecelakaan beberapa jam yang lalu. Ia mengira bayinya telah hilang atau meninggal dalam tragedi di jurang itu.
"Anakku hilang... Ya Allah, bayiku tidak ada!" rintihan Nadine memenuhi ruangan, sangat memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Nenek Noah mendekat, memegang tangan Nadine yang gemetar. "Nadine... Nak, istighfar. Lihat Ibu, Sayang. Kamu sudah tertidur lama sekali..."
"Ibu? Kenapa wajah Ibu banyak kerutan? Di mana Mas Adit?" tanya Nadine linglung. Ia merasa ada yang salah dengan waktu.
Joy kemudian memberikan kode kepada Noah untuk mendekat. Bocah itu melangkah ragu, ia menatap wanita yang selama empat tahun hanya ia lihat melalui foto saat membuka mata dan tersenyum. Dan Inilah pertama kalinya ia melihat mata ibunya terbuka.
"Ibu..." panggil Noah lirih.
Nadine menoleh. Ia melihat seorang anak laki-laki tampan berpipi tembam sedang berdiri di samping ranjangnya. Mata anak itu sangat mirip dengan mata Aditya, tegas namun teduh.
"Siapa... siapa kamu, Nak...kenapa anak kecil berada di sini ?" tanya Nadine bingung.
Nenek Nadine menangis sambil mengusap kepala Noah. "Nadine, ini anakmu. Namanya Muhammad Noah Aditya, Gus Azmi yang memberikan nama untuk putramu. Dia sudah menunggumu selama empat tahun, Nak. Kamu tidak kehilangan kandunganmu... Allah menjaganya melalui doa-doa anak ini."
Nadine terpaku. Ia menatap Noah dengan pandangan tidak percaya. "Empat tahun? Jadi... aku sudah tidur selama itu?"
Ia meraih tangan kecil Noah, menyentuh kulit hangat putranya. Begitu jari mereka bersentuhan, memori tentang cinta Aditya seolah berpindah pada diri Noah. Nadine menarik Noah ke dalam dekapan lemahnya, menangis sejadi-jadinya di bahu kecil anaknya.
"hiks...hiks....Noah... anakku... Maafkan Ibu, Sayang. Maafkan Ibu sudah tidur terlalu lama," isak Nadine.
" maafkan ibu, ibu telah gagal mengurus mu nak....hiks "
Noah membalas pelukan ibunya, air matanya jatuh.... tidak ada kata yang terucap di bibir mungilnya selain isakan yang menyayat hati...sudah lama Noah menahan air matanya, karena kata nenek, kalau ibu tidur,Noah tidak boleh menangis, kalau Noah menangis maka ,ibu tidak akan bangun.
" Nak.... jangan menangis sayang, maafkan ibu" ucap Nadine di sela-sela tangisannya...
" Ibu.... maaf kan Noah, karena Noah sudah menangis" Isak Noah yang masih sesenggukan.
Nadine menggeleng, menangkup wajah putranya" tidak sayang, Noah tidak salah, ini adalah air mata bahagia....ibu bahagia karena bisa melihat mu nak" Nadine mencium putranya bertubi-tubi.
Aroma balita pada tubuh putranya, membuat hatinya merasa tenang,meski ia masih memikirkan suaminya yang entah berada di mana.
___
Setelah beberapa hari pemulihan, fisik Nadine memang masih sangat lemah. Ia harus belajar duduk dan menggerakkan kakinya kembali dari nol. Dokter Hans menyarankan Nadine untuk tinggal lebih lama di Jerman guna fisioterapi tingkat lanjut.
Namun, Nadine menolak. Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia terkejut melihat sosok wanita yang tampak lebih dewasa dan sedikit kurus, ia teringat satu hal, Aditya.
"Tuan Joy...," panggil Nadine pada asisten Alendra itu. "Terima kasih sudah membawaku ke sini. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di negeri asing ini. Aku ingin kembali ke desa." ucap Nadine sopan, ibunya sudah menceritakan semuanya pada Nadine, bahkan Noah dan Nadine sudah mengucapkan terima kasih lewat sambungan video call ke kang Asep yang ternyata bernama Alendra.
"Tapi nona Nadine, pengobatan Anda belum selesai," cegah Joy.
Nadine menggeleng dengan mata yang kini memancarkan kekuatan seorang ibu. "Aku harus melatih fisikku di rumahku sendiri. Aku harus kuat untuk Noah, dan aku harus mencari suamiku. Aku yakin Mas Adit masih hidup. Aku merasakannya melalui jantung Noah yang berdetak setiap kali aku memeluknya."
Joy melihat keteguhan itu. Ia sadar, Nadine bukan lagi gadis belia yang bisa ditindas. Penderitaan empat tahun ini telah menimpa jiwanya menjadi sekeras baja.
"Baiklah. Kita akan kembali ke desa. Tuan Alendra sudah menyiapkan segalanya untuk proses pemulihan Anda di sana," ucap Joy patuh.
Nadine menatap ke arah jendela rumah sakit yang menampilkan salju Berlin, namun pikirannya terbang ke sebuah ruko bengkel dan toko kue di desanya. “Mas Adit, tunggu aku. Aku akan menjemputmu, tidak peduli siapa yang menghalangi jalan kita sekarang.” gumamnya dalam hati penuh tekad.
tiba-tiba tangan kecil itu menyentuh lengan Nadine yang bengong"ibu... apakah kita akan menyusul ayah?, kata nenek... Ayah sedang pergi jauh untuk bekerja" tanya Noah dengan wajah polosnya.
Nadine tersentak lalu memeluk putranya"insya Allah sayang.... kalau ibu sudah benar-benar pulih... kita akan menyusul Ayahmu " jawab Nadine dengan lembut.
Lalu Nadine mengalihkan pembicaraan"Noah sayang... selama ibu tidur, ibu selalu mendengar suara anak kecil yang sedang mengaji, apakah itu kamu Nak?"tanya Nadine lembut yang membuat putranya tersipu...
Noah mengangguk, menundukkan pandangannya karena malu , membuat semua yang melihatnya merasa gemas... pada anak kecil yang berwajah Tampan itu.
"Noah sudah hafal juz 30 Bu"ucap Noah malu-malu...
"Masya Allah... sayang itu luar biasa... hiks..."Nadin terisak dan mencium wajah putranya bertubi-tubi... iya tidak menyangka, Allah memberikan malaikat yang begitu cerdas padanya.