Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Gedung fakultas kedokteran tampak begitu megah dan dingin, sama seperti suasana hati Luna saat ini. Di dalam ruang kuliah anatomi yang luas, Luna hanya menatap kosong ke arah buku teks tebal di hadapannya. Sebagai mahasiswi kedokteran tahun pertama, setiap detik waktunya seharusnya berharga, namun hari ini, semua istilah medis itu terasa seperti bahasa asing yang tidak masuk ke otaknya.
Pikirannya masih tertahan di taman belakang gedung olahraga. Pada tatapan es Zayn dan kata-kata tajamnya yang menghujam jantung.
Setelah jam kuliah usai, Luna membereskan buku-bukunya dengan gerakan lambat. Ruangan mulai sepi, menyisakan kesunyian yang justru membuat ingatannya berkelana jauh ke masa lalu.
Dulu, Zayn adalah pria paling sabar yang pernah Luna kenal. Pria itu akan duduk di atas motornya selama berjam-jam di depan studio balet atau di bawah jendela ruang musik, hanya untuk bisa melihat Luna selama lima menit sebelum sopir pribadinya datang menjemput. Zayn selalu siap menunggunya, tidak peduli seberapa sibuk Luna dengan jadwal anak konglomerat nya.
Hingga hari itu tiba. Hari yang meruntuhkan segalanya.
Luna ingat betul getaran suara Zayn di telepon sore itu. Suaranya pecah, penuh kerapuhan yang belum pernah Luna dengar sebelumnya. Ayah Zayn, meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung.
"Luna... aku butuh kamu. Tolong, ke rumah sakit sekarang. Aku butuh kamu sayang," isak Zayn di seberang telepon.
Luna sudah siap untuk lari. Ia sudah memegang gagang pintu kamarnya. Namun, Alexander Storm berdiri di sana dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kau ada ujian resital piano internasional malam ini, Luna. Kolega Ayah dari Eropa akan datang. Jika kau pergi sekarang, Ayah tidak akan pernah menganggapmu anak lagi," ucap sang Ayah dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan.
Luna terjepit. Ia menangis, memohon pada ayahnya agar diizinkan pergi hanya satu jam. Tapi ayahnya tetap bersikeras. Dan pada akhirnya... Luna adalah seorang pengecut. Ia memilih untuk duduk di depan piano besar itu, memainkan tuts dengan jari yang gemetar dan mata yang sembab, sementara di sisi lain kota, Zayn sedang berdiri di depan peti mati ayahnya.
Keesokan harinya, Zayn menemuinya di sekolah. Tidak ada amarah, tidak ada teriakan. Hanya ada kekecewaan yang sangat dalam di matanya.
"Aku tidak butuh pacar yang sempurna, Luna. Aku butuh manusia yang bisa membantah sekali saja demi aku," ucap Zayn datar sebelum akhirnya ia memutuskan hubungan mereka dan menghilang ke luar negeri.
Luna menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya saat berjalan menyusuri lorong fakultas. Sekarang ia mengerti kenapa Zayn begitu dingin. Ia telah meninggalkan Zayn di saat tergelap pria itu, hanya demi sebuah resital piano yang kini bahkan nadanya tidak ia ingat lagi.
Di kejauhan, ia melihat Hera sedang bersandar di gerbang kampus, seolah sedang menunggunya. Hera memperhatikan Luna dengan mata tajamnya, seolah bisa membaca setiap penyesalan yang tertulis di wajah kembarannya.
Hera tahu soal tato Zayn. Ia tahu nama Luna Storm tersembunyi di balik garis-garis abstrak itu. Namun, sesuai niatnya, Hera tidak akan mengatakannya. Ia ingin Luna belajar untuk berjuang. Ia ingin Luna berhenti menjadi boneka dan mulai menjadi badai, seperti nama belakang mereka.
"Masih memikirkan si pria tato itu?" goda Hera saat Luna mendekat.
Luna menunduk, bibirnya bergetar. "Aku benar-benar jahat padanya dulu, Hera. Aku pantas mendapatkan tatapan dingin itu."
Hera mendengus, lalu melemparkan sebuah helm cadangan ke arah Luna. "Kalau kau tahu kau salah, berhenti menangis di kelas kedokteran yang membosankan ini. Zayn dan gengnya Arlo, Ben, dan Clark biasanya nongkrong di The Pit di pinggiran Malibu jam tujuh malam."
Luna menangkap helm itu, terkejut. "Hera... apa yang kau lakukan?"
"Memberimu pilihan," Hera menyeringai miring. "Tetap jadi Nona Manis yang patuh pada Ayah, atau ikut aku ke Malibu dan buktikan pada Zayn kalau kau punya nyali. Dia tidak butuh permintaan maafmu, Luna. Dia butuh kau menunjukkan kalau kau masih punya jiwa."
Luna menatap helm di tangannya. Bayangan Zayn yang tinggi, putih, dan penuh tato kembali muncul. Ia ingat bagaimana Zayn dulu selalu siap menunggunya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰