Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pion dan Sang Ratu
Di markas Don yang gelap, suasana terasa mencekam. Don baru saja membanting vas bunga kristal ke dinding. Rencana sabotase jalur logistik yang ia tahan hingga pesta usai, ternyata sudah luluh lantak sebelum eksekusi. Tim pembunuh bayarannya ditemukan tewas dengan luka yang sama, yaitu tusukan benda kecil di leher mereka di pinggiran kota.
"Siapa?" Raung Don. "Aku sudah menahan diri agar tidak menyerang Gedung Sapphire karena menghormati keamanan Miguel, tapi kenapa rencana luarku tetap bocor?!"
Asistennya gemetar. "Tuan, pelakunya hanya satu orang. Seorang wanita. Dia bergerak lebih cepat dari sistem radar kita."
Don jatuh terduduk. Ia merasa kalah telak. Rencana yang ia susun rapi selama berbulan-bulan dihancurkan oleh satu sosok bayangan yang bahkan tidak ia ketahui namanya. "Michael... siapa sebenarnya yang menjagamu?"
Di balik kekejamannya, Don adalah produk dari rasa sakit. Bertahun-tahun yang lalu, ia menyaksikan sendiri jerik tangis ibunya dan dikuliti habis kulitnya oleh Martha Tizon. Dan sejak hari itu, Don bersumpah tidak akan pernah mengampuni keluarga Tizon.
Ia mulai membangun kekuasaannya dari bawah—tabungan dari rekening milik ibunya yang ia kumpulkan—ia ambil alih, lalu merambah ke pasar gelap. Kuasanya ia dapatkan setelah berhasil menyelamatkan Ayah Clara dari skandal korupsi besar yang hampir menghancurkan bisnis galeri mereka. Sejak saat itu, Ayah Clara menjadi "mesin pencuci uang" bagi bisnis gelap Don, sementara Don menjadi "pelindung" di balik layar bagi keluarga mereka. Itulah sebabnya Clara begitu berani, ia merasa punya pelindung yang tak terlihat.
Namun, ada satu tempat di mana nama "Don si Penjagal" tidak pernah terdengar di Rumahnya.
Begitu mobil Don memasuki halaman mension pribadinya di pinggiran kota yang tenang, wajah sangarnya luruh. Ia melepas jasnya yang berbau mesiu dan menggantinya dengan senyum hangat.
"Papa pulang!" Teriak seorang gadis remaja cantik berseragam SMA, Vanya, yang langsung berlari memeluk Don.
Vanya adalah dunianya. Bagi Vanya, ayahnya adalah pahlawan yang bekerja keras di bidang logistik internasional. Don tidak pernah membiarkan satu tetes pun darah atau satu sen pun uang haram menyentuh bayangan anaknya.
"Bagaimana sekolahmu, Sayang?" Tanya Don sambil mengelus rambut Vanya, sangat kontras dengan tangannya yang tadi pagi menghancurkan vas bunga karena marah.
"Aku dapat nilai A di ujian biologi, Pa! Tapi aku mau tas baru yang kita lihat di katalog kemarin," rengek Vanya manja.
"Apapun untuk putri kecil Papa," jawab Don lembut. Di meja makan, istrinya sudah menunggu dengan senyum tenang. Di rumah ini, Don adalah suami dan ayah yang sempurna. Tragisnya, ia membunuh ayah orang lain hanya untuk memastikan anaknya bisa tidur nyenyak di atas ranjang sutra.
Sedangkan itu, dua jam setelah pesta pertunangan di Gedung Sapphire selesai, suasana di jalanan pinggiran kota menuju pelabuhan sangat sunyi. Satu mobil SUV hitam yang berisi tim pembunuh bayaran Don sedang bergerak menuju titik kumpul.
Tiba-tiba, ban mobil terdepan meledak akibat ranjau paku mikro. Mobil itu tergelincir hebat.
Dari kegelapan hutan di sisi jalan, sesosok wanita muncul. Ia tidak lagi mengenakan gaun putih gadingnya. Ia memakai bodysuit taktis hitam ketat dengan topeng mawar perak yang berkilat terkena lampu jalan. Itu Shaneen.
"Siapa di sana?!" Teriak salah satu pembunuh bayaran itu sambil keluar dari mobil dengan senapan mesin.
Shaneen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bergerak seperti kilat. Dengan tiga belati lempar perak di tangannya. Gerakannya sangat telaten—setiap tusukan mengincar titik jejak andalannya, yaitu nadi leher.
SLASH!
Hanya dalam waktu tiga menit, tiga pria yang terlatih itu tewas bersimbah darah. Shaneen berdiri di tengah mayat itu, napasnya stabil. Ia mengambil sebuah tablet dari salah satu mayat, meretasnya dalam hitungan detik untuk mendapatkan koordinat gudang Don berikutnya.
"Maaf, Don. Kau mengirim amatir untuk melawan seorang profesional," gumam Shaneen dingin.
Ia membersihkan belatinya di baju salah satu mayat, lalu menghilang kembali ke dalam kegelapan tepat saat mobil Michael—yang sudah mengikuti dari kejauhan tanpa sepengetahuan Shaneen—berhenti di dekat lokasi.
Michael turun dari mobil, melihat tiga mayat itu, lalu melihat siluet wanita yang menghilang di balik pohon. Michael tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana, menatap jejak kaki kecil Shaneen yang berlumuran darah.
Michael tersenyum tipis. Tidak ada rasa ngeri, hanya ada rasa bangga yang luar biasa. "Calon istriku baru saja membersihkan sampah malam ini," bisik Michael. Ia lalu melirik kearah Rans. "Kirim tim pembersih. Jangan sisakan satu helai rambut pun milik 'Wanita Mawar' itu di sini. Aku tidak mau istriku kesulitan menjelaskan noda darah di sepatunya besok pagi."
***
Di dalam penthouse pribadinya, Shaneen sedang membersihkan pisau lempar perak nya kecil, halus namun terukir pinggiran mawar berduri yang mempunyai makna tersendiri. Jika orang itu cukup pintar, dia akan tahu siapa pemilik dari pisau belati kecil itu.
Damian berdiri di sampingnya, memberikan laporan tentang eliminasi tim Don di sektor pelabuhan.
"Nona, kenapa Anda tidak membiarkan unit Alfa atau aku yang menangani ini?" tanya Damian pelan. "Anda baru saja berdansa dengan Michael, tubuh Anda pasti lelah."
Shaneen mendongak, matanya yang sayu namun tajam berkilat. "Anak buah bisa dibeli, Damian. Kesetiaan bisa goyah. Tapi tanganku sendiri? Tanganku tidak pernah berbohong."
"Ada saatnya, kalian akan bergerak semua nanti." Ucapnya kembali.
Shaneen berdiri, menatap pemandangan kota dari balik kaca apartemennya. "Don bukan musuh biasa. Dia punya informan di mana-mana. Jika aku mengirim anak buah, jejak Tizon Tech akan terendus. Tapi jika 'Perempuan Gila' itu yang bergerak, mereka hanya akan menyalahkan hantu. Untuk saat ini, ini bagian ku dulu. Aku harus membantai mereka sendiri untuk memastikan tidak ada satu pun saksi yang hidup untuk bicara pada Michael."
Selain itu, bagi Shaneen, membantai musuh adalah caranya melepaskan penat dari akting "gadis manja" yang menguras emosi. Darah musuh adalah penawar bagi kemuakan yang ia rasakan pada dunia sosialita.
Sementara itu, di dalam Mension pribadi milik Michael berdiri di balkon, dengan tatapan yang jauh lebih tenang namun intens. Perasaan ragunya sudah hilang. Keyakinannya bahwa Shaneen adalah wanita yang menyelamatkannya satu tahun lalu sudah mencapai 100%.
Perubahan dalam diri Michael sangat drastis. Ia tidak lagi menatap Shaneen dengan tatapan penuh selidik atau curiga. Tatapannya kini penuh dengan pemujaan yang gelap.
"Rans, batalkan semua agenda pengintaian pada Shaneen," perintah Michael tiba-tiba.
Rans terkejut. "Tuan? Bukankah Anda ingin membuktikan—"
"Aku sudah membuktikannya," potong Michael dengan seringai tipis. "Dia adalah malaikat mautku. Dan mulai sekarang, aku tidak akan memaksanya membuka topeng. Aku akan mengikutinya masuk ke dalam kegelapan itu. Jika dia ingin bermain sebagai gadis manja, aku akan menjadi pelindungnya. Jika dia ingin menjadi iblis, aku akan menjadi senjatanya."
Michael merasa hidup kembali. Obsesinya pada "Wanita Bertopeng" dan cintanya pada Shaneen kini melebur menjadi satu kekuatan yang obsesif.
Sedangkan di ruang tengah mension Tizon, Nenek Martha duduk di kursi goyangnya, menyesap teh melati. Di bawah kakinya, terdapat sebuah kotak kayu tua berisi lencana militer tingkat tinggi yang sudah usang. Pesta telah usai, dan semua kembali pada tempatnya.
Kenapa Martha ditakuti? Karena sebelum dinasti Tizon menguasai teknologi, Marthalah yang membangun fondasinya dengan darah. Di masa mudanya, Martha adalah pimpinan unit intelijen hitam yang tidak tercatat di sejarah negara. Dia adalah wanita yang bisa meruntuhkan sebuah rezim hanya dengan sepucuk surat kaleng dan satu tusukan belati.
Kekuatan fisiknya mungkin berkurang dimakan usia, tapi koneksi "bawah tanah"-nya masih sangat luas. Para pemimpin mafia lama masih menunduk hormat jika mendengar nama Martha. Itulah sebabnya Don tidak berani menyentuh mension selama ada Martha di sana.