NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DETAK JANTUNG YANG TERHENTI

Pintu ruang tindakan terbuka dengan suara yang terasa begitu memekakkan di tengah keheningan lorong rumah sakit. Arsen, yang sejak tadi duduk termenung dengan noda darah yang mulai mengering di kemejanya, langsung melonjak berdiri. Ayah dan Ibu Rosa, serta Bram dan Vino yang baru saja tiba dengan napas terengah, ikut merapat.

Dokter melangkah keluar, melepaskan masker bedahnya dengan gurat wajah yang sulit diartikan. Ia menatap Arsen cukup lama sebelum akhirnya menghela napas berat.

"Dok, bagaimana istri saya? Bagaimana bayi kami?" suara Arsen bergetar hebat. Ia mencengkeram lengan Bram untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa tak bertulang.

Dokter itu menunduk sejenak, lalu menatap seluruh anggota keluarga satu per satu. "Kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menghentikan pendarahannya. Kondisi Ibu Rosa saat ini sudah stabil, namun..." Dokter itu menjeda kalimatnya, sebuah jeda yang terasa seperti hukuman mati bagi Arsen. "Trauma fisik dan stres yang sangat hebat menyebabkan kontraksi dini yang tidak bisa dibendung. Kami sangat menyesal, tapi janin di dalam kandungan Ibu Rosa tidak bisa diselamatkan. Ibu Rosa mengalami keguguran."

Hening. Detik itu juga, dunia seolah berhenti berputar.

Ibu Rosa langsung terisak di pelukan suaminya, sementara Bram dan Vino mematung dengan kepalan tangan yang mengeras menahan amarah yang membuncah. Namun, reaksi Arsen adalah yang paling memilukan. Ia tidak berteriak. Ia hanya mundur selangkah, menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit, dan perlahan merosot jatuh ke lantai.

"Enggak..." bisik Arsen lirih. "Tadi dia masih ada... tadi kami masih bicara soal Arlo yang mau punya adik."

Arlo, yang berada di gendongan Vino, tampak bingung melihat semua orang menangis. Ia mengulurkan tangan kecilnya ke arah Arsen. "Papa... Mama mana? Adek mana?"

Pertanyaan polos Arlo itu justru menjadi sembilu yang menyayat hati semua orang. Arsen menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah tanpa suara. Ia merasa gagal. Ia merasa telah gagal melindungi kebahagiaan yang baru saja mereka rakit kembali.

"Bajingan itu..." desis Vino, giginya bergeletuk. "Hadi, Laras... mereka benar-benar sudah membunuh nyawa di keluarga kita."

Bram segera memegang pundak Arsen, mencoba memberikan kekuatan di tengah badai yang kembali menghantam. "Sen, bangun. Rosa butuh kamu di dalam. Dia baru saja kehilangan anaknya, dia jangan sampai kehilangan suaminya juga karena terpuruk. Kita harus kuat buat dia."

Arsen menghapus air matanya dengan kasar. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia berdiri. Matanya memerah, memancarkan kesedihan mendalam sekaligus dendam yang kini mengakar lebih dalam dari sebelumnya. Ia harus menemui Rosa, harus memeluk wanita yang baru saja kehilangan separuh jiwanya itu, meskipun hatinya sendiri sudah hancur berkeping-keping.

Pintu kamar perawatan terbuka perlahan. Arsen melangkah masuk paling depan, diikuti oleh kedua orang tua mereka, Bram, Vino, dan Arlo yang berada di gendongan Arsen. Aroma karbol rumah sakit yang tajam seolah mempertegas suasana duka yang menyelimuti ruangan itu.

Di atas ranjang, Rosa terbaring pucat dengan selang infus di tangannya. Matanya sembab, merah, dan bengkak, namun ekspresi wajahnya justru jauh lebih tenang dari yang dibayangkan semua orang. Tidak ada raungan histeris, hanya ada ketegaran yang terasa menyakitkan untuk dilihat.

Begitu melihat Arlo, Rosa langsung merentangkan tangannya yang bergetar. Arsen segera mendekat dan mendudukkan Arlo di sisi ranjang. Rosa memeluk putra kecilnya itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, mencium puncak kepalanya berkali-kali seolah ingin memastikan bahwa setidaknya satu dari dunianya masih ada di sana.

"Aku nggak apa-apa," ucap Rosa lirih, memecah keheningan. Ia menatap Arsen dan seluruh keluarganya satu per satu dengan tatapan yang berusaha kuat.

"Ini salahku. Aku yang kecapean, aku yang terlalu stres sampai nggak bisa jaga kandunganku sendiri. Jangan ada yang salahin Arlo... tolong, jangan ada yang menyalahkan kejadian di playground tadi pada Arlo," tambahnya dengan suara serak namun tegas.

Arsen berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Rosa dan mengecupnya lama. "Nggak ada yang salahin kamu, apalagi Arlo, Sayang. Nggak ada," bisik Arsen dengan suara pecah. "Ini semua karena kejahatan mereka, bukan karena kamu."

"Nggak, Mas," Rosa menggeleng pelan, air mata kembali luruh di pipinya yang tirus. "Tuhan mungkin tahu aku belum siap. Tuhan mau aku fokus dulu jagain Arlo. Tolong... jangan benci Laras karena kejadian ini. Biarkan hukum yang urus dia, tapi jangan biarkan kebencian itu merusak kita lagi. Aku cuma mau Arlo aman."

Ibu Rosa tidak tahan lagi, ia maju dan memeluk putrinya sambil terisak. Semua orang di ruangan itu tertunduk. Ketegaran Rosa justru membuat hati mereka semakin teriris. Di tengah kehilangan yang begitu besar, Rosa masih memikirkan perasaan Arlo dan berusaha melindungi kedamaian keluarganya dari dendam yang lebih luas.

Arlo yang polos mengusap air mata di pipi Mamanya. "Mama... jangan nangis. Arlo di sini," ucapnya cadel.

Rosa tersenyum getir, didekapnya Arlo lebih erat. Kehilangan ini adalah luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, namun bagi Rosa, melihat Arlo kembali ke pelukannya adalah satu-satunya alasan baginya untuk tetap waras dan terus bertahan.

Arsen menutup pintu kamar perawatan dengan sangat pelan, seolah tidak ingin suara sekecil apa pun mengganggu Rosa yang sedang berusaha tenang. Namun, begitu punggungnya menyentuh pintu dan ia berbalik menghadap Dana, wajahnya berubah drastis. Ketenangan palsu di depan istrinya tadi menguap, digantikan oleh amarah yang mendidih.

Dana menghampiri Arsen dengan gurat wajah yang serba salah. Ia memegang pundak Arsen, namun suaranya terdengar sangat berat saat harus menyampaikan kabar dari kepolisian.

"Sen... ada kendala di kantor polisi," buka Dana dengan suara rendah. "Pihak penyidik bilang Laras nggak bisa dijerat pasal penculikan berat. Secara hukum, statusnya masih ibu kandung Arlo karena belum ada pencabutan hak asuh secara permanen dari pengadilan. Polisi bilang itu bukan penculikan murni, salahnya Laras hanya karena dia membawa pergi anak itu tanpa izin."

Mata Arsen membelalak, urat-urat di keningnya menonjol seketika. Ia menyentak tangan Dana dari pundaknya.

"Nggak salah gimana, Mas?! Anakku meninggal!" desis Arsen dengan suara tertahan namun penuh penekanan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang tajam.

"Gara-gara dia bawa Arlo, Rosa lari-larian! Rosa stres! Rosa pendarahan sampai bayi kami nggak tertolong! Kamu mau bilang itu bukan kesalahan?" Arsen mencengkeram kerah kemeja Dana, matanya merah padam karena duka dan amarah yang bercampur menjadi satu. "Dia membunuh calon anakku, Mas! Secara tidak langsung, tangan wanita itu berlumuran darah anakku!"

Dana tidak melawan, ia membiarkan Arsen menumpahkan emosinya. "Aku tahu, Sen. Aku paham. Tapi hukum di negeri ini melihat fakta bahwa tidak ada kekerasan fisik langsung dari Laras kepada Arlo saat kejadian. Dia hanya membawa Arlo makan es krim. Sulit menghubungkan secara langsung antara tindakan Laras di mal dengan keguguran yang dialami Rosa di mata hukum pidana penculikan."

Arsen melepaskan cengkeramannya, lalu tertawa getir—sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di lorong rumah sakit yang sunyi.

"Oh, jadi hukum nggak bisa menyentuhnya?" Arsen mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Dana dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang belum pernah Dana lihat sebelumnya selama mereka berteman.

"Kalau hukum nggak bisa menghukum dia atas kematian anakku, maka aku sendiri yang akan memastikan hidupnya seperti di neraka. Mas Dana, pakai semua koneksi yang kita punya. Aku nggak peduli soal pasal penculikan. Cari celah lain. Penipuan, eksploitasi anak, atau apa pun! Masukkan dia ke dalam sel dan buang kuncinya. Kalau dia keluar, aku nggak bisa jamin apa yang akan aku lakukan pada wanita itu."

Arsen berbalik, menatap kaca kecil di pintu kamar tempat Rosa dan Arlo berada. Di dalam sana ada kehidupan yang tersisa, tapi di dalam hatinya, sesuatu telah mati bersama calon bayi yang tak sempat ia timang.

1
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!