Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kekuatan Terlarang
Malam itu, sekte tidak pernah benar-benar tidur.
Namun bagi Qiu Liong, malam terasa lebih hidup dari biasanya.
Ia duduk bersila di kamar kecilnya, lampu minyak berpendar redup di sudut ruangan. Bayangannya menempel di dinding, memanjang dan sedikit terdistorsi seolah-olah bukan hanya satu sosok yang duduk di sana.
Ia memejamkan mata.
Perlahan, ia menarik napas, menenggelamkan kesadarannya ke dalam ruang batin.
Kehampaan menyambutnya.
Sunyi.
Luas.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Di tepi kegelapan, tampak garis samar seperti retakan tipis pada permukaan yang tak terlihat.
Qiu Liong mendekat dalam kesadarannya.
Retakan itu berdenyut pelan.
Dan dari dalamnya, ia merasakan aliran energi yang tidak sepenuhnya miliknya.
Bukan liar.
Namun asing.
“Jejak…” gumamnya dalam hati.
Ia teringat fluktuasi qi yang disebut para tetua.
Apakah ini yang mereka rasakan?
Sisa dari kekuatan yang ia sentuh di gua itu?
Tiba-tiba, ingatan tentang pertarungan kecil dua hari lalu muncul di benaknya.
Seorang murid inti mencoba mengujinya di halaman latihan. Qiu Liong tidak berniat melukai, hanya menangkis.
Namun saat telapak tangan mereka bertemu
ia merasakan sesuatu mengalir masuk.
Seperti kabut tipis yang terserap tanpa izin.
Ia mengernyit.
Waktu itu ia tidak memikirkannya.
Kini, ia menyadari.
Inti Kekosongan bukan hanya menyerap serangan.
Ia meninggalkan jejak.
Seperti tanda tak kasatmata pada aliran qi orang lain.
Jejak kekuatan yang tidak dikenal.
Dan jika seseorang cukup peka
mereka akan merasakannya.
Mata Qiu Liong terbuka perlahan.
Jantungnya berdetak lebih berat.
“Jika ini terus terjadi…”
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Pagi berikutnya, bisik-bisik mulai terdengar lebih jelas.
Seorang murid dari Balai Timur jatuh pingsan saat latihan. Tidak terluka parah, namun qi-nya kacau seperti tersentuh sesuatu yang tidak selaras.
“Kau dengar?” bisik seorang murid saat Qiu Liong lewat. “Katanya seperti tersedot.”
“Siapa yang terakhir berlatih dengannya?”
Suara itu merendah.
Namun Qiu Liong tahu jawabannya.
Ia tidak berhenti melangkah.
Namun setiap kata seperti batu kecil yang dilempar ke dalam dadanya.
Di sudut halaman, Mei Lanyue berdiri dengan wajah tegang.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya pelan saat mereka berpapasan.
Qiu Liong menatapnya.
Untuk sesaat, ia ingin mengatakan semuanya.
Tentang inti.
Tentang jejak.
Tentang ketakutannya sendiri.
Namun bayangan tatapan para tetua kembali terlintas.
“Tidak ada,” jawabnya singkat.
Mei Lanyue tidak terlihat percaya.
“Kau tidak sendirian di sekte ini,” katanya pelan. “Berhenti mencoba menanggung semuanya sendiri.”
Kata-kata itu menyentuh sesuatu yang dalam.
Namun Qiu Liong hanya tersenyum tipis.
“Aku hanya tidak ingin menyeret siapa pun.”
Ia berjalan pergi sebelum ia berubah pikiran.
Siang harinya, Penatua Han memeriksa murid yang pingsan itu.
Aura penyelidikan kembali menyebar di sekte.
Kali ini lebih tajam.
Lebih fokus.
Qiu Liong berdiri di bawah pohon tua di tepi halaman, merasakan angin menggerakkan rambutnya.
Di dalam dirinya, inti itu berputar pelan.
Tenang.
Seolah-olah semua ini bukan masalah besar.
Namun Qiu Liong tahu.
Kekuatan yang meninggalkan jejak
adalah kekuatan yang sulit disembunyikan.
Dan setiap jejak adalah bukti.
Setiap bukti adalah alasan.
Dan setiap alasan bisa menjadi hukuman.
Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan kekuatan itu, ia merasakan penyesalan tipis.
Bukan karena menjadi kuat.
Namun karena belum memahami sepenuhnya apa yang ia pegang.
Ia mengepalkan tangan.
“Jika ini kekuatan terlarang…”
Suara di dalam dirinya menjawab lembut.
“Bukan kekuatannya yang terlarang. Yang terlarang adalah bagaimana dunia memahaminya.”
Qiu Liong mengangkat wajahnya ke langit.
Awan bergerak lambat, seolah waktu sendiri sedang berpikir.
Jejak itu mungkin belum cukup untuk menjatuhkannya.
Namun ia tahu
semakin kuat ia menjadi,
semakin jelas jejak itu akan terlihat.
Dan suatu hari,
rahasia yang ia jaga tidak lagi tersembunyi di balik kehampaan.
Ia harus memilih.
Belajar mengendalikan jejak itu
atau bersiap menghadapi dunia yang menyebutnya sesat.
Dan pilihan itu…
tidak akan bisa ditunda selamanya.
jangan bikin kecewa ya🙏💪