NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 - Jejak Pertama

...Kadang, yang membuat sebuah tempat berarti bukan dindingnya—melainkan siapa yang memastikan kita pulang dengan hati dan perut yang sama-sama terisi....

Happy Reading!

...----------------...

Ada satu fase dalam hidup yang tidak pernah ditandai dengan perayaan apa pun, tapi diam-diam menggeser banyak hal. Tidak besar. Tidak dramatis. Hanya langkah kecil—yang entah bagaimana, membuat jarak terasa lebih pendek dari sebelumnya.

Hari itu dimulai seperti hari biasa.

Tugas kelompok.

Kerja kelompok—atau yang biasa kami sebut kerkom—adalah alasan paling aman untuk berada di tempat yang bukan rumah sendiri, tanpa harus menjelaskan terlalu panjang. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya berlebihan. Semua terdengar wajar.

Rencananya sederhana. Weekend ini kami hanya akan mengerjakan tugas bersama di rumah Raven. Rame-rame. Tidak ada yang istimewa.

Setidaknya, itu yang kupikirkan.

Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri. Rumah Raven hanya sekitar sepuluh menit dari rumahku. Aku punya motor, dan jalannya sudah sangat kukenal. Tidak ada alasan untuk merepotkan siapa pun.

Tapi pagi itu, sebelum aku sempat benar-benar memutuskan apa pun, ponselku sudah lebih dulu berbunyi.

Dari Raven.

“Aku jemput kamu ya.”

Aku membacanya sambil berdiri di depan cermin. Kaus santai sudah kupakai, celana panjang masih belum licin benar. Rambutku masih setengah diikat, tasku tergeletak di atas kasur, dan aku bahkan belum memastikan semua perlengkapanku masuk ke dalam tas.

“Sayang… aku bisa sendiri kok,” balasku, sambil tersenyum kecil pada bayanganku sendiri di cermin.

Balasannya datang nyaris tanpa jeda.

“Aku jemput aja, sayang. Sekalian.”

Sekalian.

Kata itu terdengar sepele, tapi dari Raven, kata itu selalu berarti lebih. Seperti ada keinginan kecil yang sengaja tidak dijelaskan—seolah sepuluh menit perjalanan itu layak ditempuh hanya untuk memastikan aku sampai dengan nyaman.

Aku menatap layar ponsel lebih lama dari sebelumnya. Jari-jariku sempat ragu di atas keyboard, tapi pada akhirnya aku tidak mengetik apa pun. Tidak menolak, tidak juga membantah.

Aku hanya menghela napas pelan, lalu menyimpan ponsel.

Ada perasaan hangat yang menyusup tanpa izin, membuat kegiatan bersiap-siap terasa sedikit lebih ringan. Aku merapikan rambutku dengan lebih teliti, memastikan laptopku masuk ke dalam tas, dan sesekali melirik ponsel—menunggu, tanpa benar-benar ingin mengakuinya.

Karena ternyata, dijemput olehnya bukan tentang jarak sepuluh menit itu. Tapi tentang caranya membuat hal sederhana terasa diperhatikan.

...----------------...

Beberapa menit kemudian, suara motor berhenti di depan rumah.

Aku keluar, dan Raven sudah menunggu. Helm di tangannya. Sikapnya santai seperti biasa, seolah menjemputku adalah hal paling normal di dunia. Padahal, tujuan utama kami kan ke rumahnya—dia seharusnya bisa saja menunggu duduk manis di rumah sendiri.

“Pagi,” sapaku sambil tersenyum canggung, tangan sedikit mengacak-acak ujung rambut yang masih setengah diikat. Aku menahan sedikit gemetar di tangan, tapi mencoba terlihat santai.

“Pagi,” jawabnya santai, matanya menatapku sekilas sebelum menoleh ke motor, tangannya meraih helm dengan gerakan ringan tapi pasti. “Siap?”

Aku mengangguk, menekuk bibir sedikit, mencoba menyembunyikan perasaan aneh di dada. “Siap.”

Kami berangkat. Angin pagi menampar wajah, rambutku sedikit beterbangan, dan aku menyesuaikan posisi, memegang pinggangnya ringan untuk keseimbangan. Rasanya… nyaman. Bahkan dalam keheningan, ada sesuatu yang membuatku merasa aman.

Perjalanan singkat itu terasa… berbeda. Tidak ada yang berubah secara nyata. Jalan yang sama. Suara motor yang sama. Tapi duduk di belakangnya, aku tiba-tiba sadar—ini pertama kalinya aku benar-benar pergi ke rumahnya.

Bukan sekadar lewat. Tapi benar-benar masuk ke dunianya.

Saat sampai, ternyata kami bukan yang pertama.

Beberapa teman sudah lebih dulu datang. Keno dan Fadly sudah duduk santai di teras, dua teman lain bersandar di pagar sambil bercanda. Dari dalam rumah, terdengar suara obrolan yang saling bersahutan—ramai, hidup, seperti rumah yang memang sering jadi tempat berkumpul.

Entah kenapa, aku justru tersenyum kecil. Tanpa sadar, aku dan Raven hampir selalu satu kelompok. Seolah semesta punya cara sendiri untuk terus mempertemukan kami di lingkaran yang sama.

Aku turun dari motor, menurunkan helm, lalu mengusap rambut yang sedikit berantakan karena angin. Dengan langkah ringan tapi agak kikuk, aku mengucapkan salam kecil.

“Assalamualaikum.” Suaraku terdengar agak pelan, tapi penuh perhatian.

“Waalaikumsalam,” sahut Raven sambil mengangkat satu alisnya, tersenyum tipis, matanya menatapku sekilas sebelum menoleh ke arah teman-teman yang sudah menunggu.

“Eh, Shaira,” sapa Fadly sambil melirik jam di ponselnya, tangannya masih menempel di saku celana. “Cepet juga.”

Aku menoleh sekilas ke Raven, menatapnya sebentar, lalu menunduk sedikit sebelum menjawab, bibirku menekuk tipis. “Dijemput.”

“Wah,” sela Keno sambil terkekeh, tangannya menepuk pahanya sendiri ringan, “beda perlakuan ya sekarang.”

Aku memutar mata, menahan senyum yang hampir lolos. “Berisik.”

Raven hanya berdiri di sampingku, tangan dimasukkan ke saku celana, tubuhnya tegap tapi santai, bibirnya membentuk senyum tipis seperti biasa—tidak menyangkal, tidak juga membela diri. Matanya sempat menatapku sekilas, seolah menenangkan aku yang masih merasa sedikit canggung.

“Motor lo padahal ada kan?” tanya salah satu teman dengan nada iseng, tangan menunjuk ke arah motor.

“Ada,” jawabku jujur, bahuku diangkat ringan, wajah tetap datar tapi sedikit senyum sarkastik.

“Terus?”

Aku mengangkat bahu lagi, menoleh ke Raven. “Dia yang maksa.”

“Bukan maksa,” Raven angkat suara, nada datarnya tetap santai, tangan yang tadinya di saku, ia geser sedikit ke belakang pinggang. “Niat.”

“Cieee niat,” sahut Keno cepat sambil menepuk punggungnya sendiri.

Aku menepuk lengan Keno pelan, menatapnya dengan ekspresi setengah serius setengah geli. “Keno, tugas.”

“Iya, iya,” katanya sambil tertawa ringan. “Tugas dulu, gosip belakangan.”

Kami tertawa kecil. Suasana hangat, santai, tapi cukup untuk membuatku sadar—kehadiranku di sini sudah dianggap biasa. Seolah aku memang pantas ada di tengah mereka.

Raven memarkirkan motor, lalu melangkah ke sampingku. Bahunya hampir bersentuhan dengan bahuku saat ia berdiri di sana. “Masuk aja dulu. Yang lain ada di ruang tamu.”

Aku mengangguk, menunduk sedikit, lalu menatap sekeliling sebentar sebelum melangkah masuk. Langkahku pelan tapi mantap. Rambutku tersapu sedikit ke depan bahu, tangan menggenggam tali tas ringan.

Dan saat kami masuk ke rumah itu, aku baru benar-benar menyadari satu hal: rumah ini bukan cuma alamat. Ini ruang tempat ceritanya tumbuh—dan tanpa sadar, aku mulai mengambil bagian di dalamnya, perlahan tapi pasti.

Kami langsung duduk melingkar di ruang tamu.

Kerja kelompok dimulai. Atau setidaknya, usaha untuk terlihat seperti kerja kelompok.

Karena pada kenyataannya, lebih banyak obrolan yang melenceng ke mana-mana. Ada yang membuka laptop, ada yang sibuk dengan ponsel, ada yang berdebat soal tugas tapi ujung-ujungnya membahas hal lain.

Aku duduk di lantai, bersandar ke sofa. Raven duduk tidak jauh dariku.

Dan entah sejak kapan, keberadaanku di rumah itu mulai terasa… biasa.

Beberapa saat kemudian, pintu depan terbuka.

Seorang cowok masuk. Lebih tinggi dari Raven, bahunya lebar, langkahnya santai. Wajahnya sedikit mirip—terutama di bagian mata, yang terlihat hangat dan bersahabat. Senyumnya lebar, tapi tidak terlalu menyilaukan, hanya cukup untuk membuat suasana terasa hidup.

“Eh,” sapanya ringan, tangan di saku celana, badan sedikit condong ke depan. “Rame.”

Raven mengangkat kepala, menoleh sejenak. “Bang,” sapanya tenang, nada suaranya santai. “Ini lagi kerkom.”

Aku baru sadar.

Sepupunya.

Cowok itu menatap sekeliling ruang tamu, matanya cepat menelusuri teman-teman yang ada, lalu pandangannya berhenti di arahku. Matanya menatap cukup lama, seperti menilai—tapi bukan menilai buruk. Lebih ke rasa ingin tahu yang tulus.

“Heh,” katanya sambil menunjuk ke arahku dengan jari telunjuknya, bahu sedikit diangkat. “Cantik tuh temen lo.”

Aku refleks menoleh, kaget. Bibirku sedikit terkatup rapat, jantung berdetak lebih cepat, pipiku hangat. Aku menunduk sebentar, mencoba menahan senyum yang nyaris lolos.

“Kenalin dong,” lanjut sepupunya, tangan kiri di pinggang, sikap santai tapi antusias.

Suasana mendadak hening sepersekian detik. Telingaku seakan terlalu peka, bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Sebelum aku sempat bereaksi—

“Dia punya gue, Bang.”

Suara Raven tenang, pendek, tapi tegas. Tidak ada nada bercanda. Bibirnya membentuk garis tipis serius, matanya tetap menatapku, tapi ada sedikit senyum di sudut mulutnya, seperti menenangkan aku tanpa perlu kata-kata.

Jantungku seperti berhenti satu detik. Aku menelan ludah, menunduk sedikit, tangan di pangkuan kaku, rasanya hangat dan aneh sekaligus.

Beberapa teman langsung ribut. “WOI!” “ANJIR—” “KEREN JUGA!” Suara mereka bersahutan, beberapa menepuk tangan, beberapa mengangkat bahu sambil tertawa.

Sepupunya tertawa lepas, menepuk bahu Raven ringan. “Santai, santai. Bercanda.” Matanya berkilau, tapi ekspresinya hangat, tidak menggoda.

Aku menunduk, menutupi sebagian wajah dengan tangan, pipiku panas. Napasku pendek, dada terasa sedikit sesak, tapi dalam hati ada rasa lega aneh—Raven memang selalu ada, bahkan dalam momen canggung sekalipun.

Raven tidak menambahkan apa-apa. Tidak membela, tidak mengoreksi. Hanya duduk kembali di sampingku, tubuh tegap tapi santai, tangan disilangkan di pangkuan. Matanya sempat menatapku sekilas, lalu tersenyum tipis, menenangkan aku tanpa kata.

Dan anehnya—tidak ada satu pun bagian dari diriku yang ingin menyangkal kalimat itu. Memang benar, kan? Aku pacarnya.

...----------------...

Kerja kelompok akhirnya benar-benar selesai menjelang sore.

Satu per satu, mereka pamit. Suara langkah kaki, tas digendong, tawa kecil—semua perlahan menjauh. Ruang tamu yang tadinya ramai, perlahan sepi.

Tinggal aku dan Raven.

Sunyi yang tidak canggung. Aku masih duduk di lantai, bersandar sedikit ke sofa, tangan memegang mug kosong, tapi mataku tetap mengawasi Raven yang berdiri di seberang. Dia menunduk sebentar, memikirkan sesuatu, lalu menatapku sambil tersenyum tipis.

“Aku ambil minum dulu,” katanya sambil berdiri, tangan meraih gelas di meja. “Kamu mau roti?”

Aku mengangguk, menatapnya dengan mata sedikit berbinar. “Mau.”

Raven masuk ke dapur, gerakannya santai tapi pasti, seolah sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil seperti ini. Aku duduk tetap di ruang tamu, tangan menumpu di lantai, kaki disilangkan, mata melayang menatap sekeliling. Ada foto keluarga di dinding, rak buku yang sedikit berantakan, jam dinding berdetak pelan—semua terasa tenang.

Beberapa menit kemudian, Raven kembali, membawa piring dengan roti tawar dan selai. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati, memastikan piring tidak goyah. “Ini rotinya,” katanya sambil tersenyum lembut. “Selainya ada. Kamu oles sendiri ya.”

Aku tertawa kecil, menunduk sambil mengambil roti. “Serasa di rumah sendiri.”

“Ya emang,” jawabnya santai, bahu sedikit naik turun, senyum tipis di wajahnya.

Kalimat itu sederhana. Tapi terasa besar.

Kami makan roti sambil duduk bersebelahan. Tanganku mengoles selai perlahan, mata sesekali mencuri pandang ke Raven. Dia duduk dekat, kaki menyentuh sedikit kakiku, tangan sibuk memotong rotinya sendiri. Tidak ada obrolan berat. Hanya hal-hal kecil. Tentang tugas. Tentang hal-hal yang tidak penting. Tapi aku merasakan hangatnya kebersamaan.

Saat langit mulai menggelap, Raven berdiri. Gerakannya lembut, tangan di saku celana sebentar sebelum mengusap rambutnya ke belakang.

“Aku anter kamu pulang.”

Aku mengangguk, menatapnya sebentar dengan senyum malu.

Tapi kali ini, kami tidak naik motor.

“Pake mobil aja ya,” katanya sambil membuka pintu mobil, gerakannya natural. “Ayahku mau pake motor.”

Aku mengangguk lagi, menunduk sebentar sambil merapikan baju.

Di dalam mobil, suasananya lebih hening. Lampu jalan menyala satu per satu, bayangan pohon menari di wajah kami. Aku menoleh ke jendela, tapi mata tetap tertarik pada sosok Raven yang memegang kemudi dengan santai.

“Kamu udah makan nasi?” tanyanya sambil sesekali menoleh ke arahku.

Aku menggeleng, tangan memegang tas di pangkuan. “Belum.”

“Kamu kan ada maag.”

Aku menoleh padanya, alis sedikit terangkat. “Kamu inget?”

Dia melirik sebentar, mulut membentuk garis tipis tapi matanya penuh perhatian. “Iya, kita beli nasi dulu.”

Kami berhenti di tempat makan dekat rumahku. Aku hendak membuka pintu.

“Eh,” katanya cepat, menaruh tangan di handle pintu. “Aku aja.”

Aku terdiam, mata menatapnya sejenak. “Kenapa?”

“Kamu di dalam aja.” Dia menatapku dengan serius tapi lembut. Suasana mobil terasa hangat.

Dia turun, langkahnya ringan tapi pasti. Membeli makan dengan gerakan cepat, tapi tetap santai. Tak lama kemudian, Raven kembali. Tangannya kosong, bahunya santai. “Abis,” katanya ringan, senyum tipis di wajahnya.

Aku menatapnya, terdiam sebentar, kaki menggoyang-goyang pelan di pedal. “Yaudah… nggak apa-apa.”

Dia menoleh padaku, mata menatap serius tapi lembut, bahu sedikit naik turun. “Kamu harus makan.”

“Aku bisa makan di rumah,” jawabku, suara pelan.

Raven menyalakan mobil, tangannya memegang kemudi dengan gerakan santai tapi stabil. “Nggak, kita cari lagi.”

Aku menatapnya, setengah protes, setengah geli. “Kamu mau muter lagi?”

“Iya,” jawabnya santai, pundak sedikit digerakkan ke belakang, bibir membentuk senyum tipis.

Padahal menurutku… nggak perlu. Padahal bensin mahal. Padahal ribet. Padahal aku bisa saja menahan lapar sebentar karena pasti di rumah juga ada makanan.

Tapi dia tetap melakukannya. Tetap muter demi memastikan aku makan. Bahkan akhirnya kami berhenti di satu warung dekat rumah Raven. Aku tersenyum kecil, menunduk sebentar. Rambutku jatuh sedikit ke wajah, aku menyibakkan dengan jari, menatap Raven yang turun dari mobil dan membuka pintu untukku. Dia tersenyum ringan, seolah mengatakan: “Tenang aja, aku selalu ada.”

Aku menatapnya sebentar, perasaan hangat menjalar di dada. Bukan cuma karena nasi, tapi karena perhatian di baliknya.

Dan saat akhirnya aku sampai di depan rumah, ada kantong makanan di tanganku. Tangan kecil yang terasa berat karena isinya—tapi hangat, bukan cuma karena makanan, tapi karena perhatian di baliknya.

Aku menatap Raven sebentar sebelum dia pergi, lalu tersenyum kecil. “Hati-hati ya,” kataku pelan.

Dia menoleh, tersenyum ringan. “Iya, aku hati-hati kok,” jawabnya santai.

Aku tersenyum lagi, sedikit malu, sedikit lega. “Terima kasih ya,” bisikku pelan, hampir tak terdengar.

Dan begitu mobilnya pergi, aku tetap berdiri sebentar, menatap kantong makanan itu. Kadang, hal-hal kecil… bisa terasa begitu besar. Hangat. Penting. Dan membuat hati sedikit lebih ringan.

Dan malam itu, aku sadar—kadang, kedekatan tidak datang dari hal besar.

Kadang, kedekatan datang dari hal-hal kecil.

Seperti dijemput, padahal bisa sendiri.

Seperti dipastikan makan, padahal bisa ditunda.

Seperti rumah yang awalnya hanya alamat. Lalu pelan-pelan… menjadi tempat yang terasa dekat.

Aku menatap langit malam sebentar, menarik napas panjang. Semua hal kecil itu, yang terlihat sepele, terasa berarti karena dia yang melakukannya. Karena dia selalu ada—di sampingku.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar tersenyum, merasa… di rumah, meskipun rumah itu bukan rumahku sendiri.

...----------------...

“Shaira – hal kecilnya terasa besar.”

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!