Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di jemput sang bos
Keesokan paginya, suasana di kediaman Aldrin sudah mulai sibuk. Julian tampil sangat rapi, wangi parfum mahalnya tercium hingga ke ruang makan saat ia menuruni tangga dengan langkah mantap.
"Udah siap banget nih anak Mama. Mau jemput siapa?" goda Wiona sambil menyesap teh paginya.
"Nggak ada, Ma. Ya udah, Julian berangkat dulu, permisi," jawab Julian singkat, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.
Arum, sang nenek, hanya menggelengkan kepala menatap cucunya yang buru-buru itu. "Putramu itu benar-benar... apakah dia tidak normal? Kenapa kelihatannya senang sekali?"
"Tenang, Bu. Dia sudah menemukan pujaan hatinya," bisik Wiona pada Arum. "Saya mendengar dia mengantar karyawan perempuannya kemarin. Padahal dia dari dulu tidak pernah mau direpotkan seperti itu."
"Benarkah? Kalau begitu aku ingin bertemu dengan gadis itu!" seru Arum penuh semangat.
.........
Di sisi lain kota, kediaman Syren masih jauh dari kata rapi. Syren masih tertidur pulas, kakinya menindih guling dengan posisi tidur yang sangat tidak estetik.
"MBAKKKKKKKK! CEPETAN BANGUN! OM JULIAN MAU JEMPUT MBAK TAU!" teriak Ardi sambil menggedor pintu kamar kakaknya.
"Di, udah deh diem dulu... berangkat sekolah gih," gumam Syren dengan suara serak, bahkan matanya pun enggan terbuka.
"Yaudah gue berangkat dulu, beyyyyyy!"
Saat Ardi keluar rumah, ia melihat mobil mewah Julian sudah terparkir manis di depan gerbang. Julian baru saja turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"Ehh Om! Masuk Om, gue mau sekolah dulu," sapa Ardi ceria.
"Kakak kamu sudah siap?" tanya Julian sambil melirik jam tangannya.
"Masih molor! Coba Om bangunin sendiri deh di kamarnya. Saya duluan ya, Om!" jawab Ardi tanpa beban.
"Ya sudah, berangkatlah."
Ardi pun berpamitan dan segera tancap gas. Julian menghela napas, ia melangkah masuk ke rumah yang pintunya memang tidak dikunci itu. Dengan langkah pelan, ia menuju kamar serba biru milik Syren. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depannya benar-benar ajaib. Syren masih mendengkur halus, memeluk gulingnya erat dengan rambut yang sudah seperti sarang burung.
Julian berdiri di samping tempat tidur, melipat tangan di dada. Ia menatap gadis yang semalam terlihat begitu anggun di dalam pelukannya, namun sekarang terlihat seperti "monyet rusuh" sungguhan.
Julian pun menggoyangkan tubuh Syren dengan gemas. "Syren, bangun," ucapnya dengan suara bariton yang berat.
"Aelah Di, udah deh berangkat sana! Gue masih mau dapet jackpot nih di mimpi!" racun Syren tanpa membuka mata, malah semakin erat memeluk guling birunya.
Julian menghela napas, suaranya naik satu oktav. "Syren bangun! Saya bos kamu!"
Mendengar suara yang sangat familiar tapi tidak seharusnya ada di kamarnya, Syren pun tersentak. Ia membuka mata lebar-lebar, menoleh, dan mendapati sosok Julian Aldrin sedang berdiri tegak di samping ranjangnya dengan setelan kantor yang sempurna.
"Pa-Pak Bos?! Ngapain di kamar saya?!" teriak Syren histeris sambil menarik selimut menutupi dadanya. "Apa jangan-jangan Pak Bos mau 'unboxing' saya?! Pak Bos jangan, saya masih perawan!"
Julian memutar bola matanya, merasa harga dirinya sebagai CEO jatuh seketika. "Astaga Syren, pikiran kamu itu benar-benar... Ini sudah sangat pagi! Saya ke sini untuk menjemputmu karena motor Scoopy kamu masih tertinggal di kantor!"
Syren terdiam sejenak, otaknya mulai memproses kenyataan. "Iyakah Pak? Oh iya... motor gue..." gumamnya polos. Kesadaran penuh langsung menghantamnya. "KALAU GITU TUNGGU DULU PAK! SAYA MANDI DULU!"
Syren pun menyambar handuknya secepat kilat dan berlari tunggang langgang menuju kamar mandi, hampir saja tersandung kabel kipas angin di lantai.
Julian hanya bisa berdiri mematung di tengah kamar yang penuh boneka itu, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. "Kenapa saya bisa terjebak dengan gadis sepertinya?" bisiknya pelan, namun matanya tak sengaja melirik boneka Gio yang s
emalam membuatnya penasaran.
Syren, yang mengira Julian sudah menunggu di ruang tamu, keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk. Di tengah kamar, ia mendapati Julian sedang berdiri menatap sebuah figura foto keluarga yang terpajang di dinding.
"Ini kan Pak Ridwan? Teman Papa," gumam Julian, sedikit terkejut mengenali sosok ayah Syren.
Syren yang baru saja keluar dan melihat Julian masih di kamarnya langsung memekik kaget. "Pak Boss mau apa sih sebenernya? Mesum banget!" gerutu Syren sambil buru-buru menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Julian menoleh, matanya membulat sempurna melihat pemandangan Syren yang hanya mengenakan handuk. Sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya.
"Kamu mau saya melakukannya di sini, Syren?" goda Julian, suaranya terdengar serak.
"PAK BOSSS! KELUAR!" teriak Syren panik. "Nanti kalau ada tetangga ke sini dikiranya kita... enggak-enggak, Pak!"
Julian malah tertawa kecil, menikmati ekspresi panik Syren. "Biarin. Emang saya mau enggak-enggak sama kamu."
Setelah puas menggoda Syren, Julian pun melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan Syren yang masih mematung dengan wajah merah padam.
Julian menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil memikirkan fakta yang baru ia temukan. "Apa benar Pak Ridwan melakukan hal ini? Sampai membiarkan putri dan putranya hidup mandiri dan berhemat begini?" gumamnya tak percaya. Keluarga kelas menengah seperti Syren ternyata punya prinsip yang kuat.
Penasaran, Julian pun menelepon ayahnya, Anjas.
"Halo Pa, Papa masih di luar kota ya?"
"Iya, Papa sama Om Ridwan lagi bangun sektor industri ini. Mungkin sekitar satu bulan lah baru pulang," jawab Anjas dari seberang telepon.
"Ohhh, ya sudah Pa," Julian pun mematikan teleponnya. Sekarang ia tahu pasti, ayah mereka memang rekan bisnis yang sedang berjuang bersama.
Sementara itu, di dalam kamar, Syren sibuk membongkar lemari. "Pake baju apa ya?" gumamnya bingung. Akhirnya, pilihannya jatuh ke kemeja biru dan celana putih. Ia pun mengepang rambutnya menjadi dua di bahu, memberikan kesan manis namun tetap rapi. Setelah memoles sedikit make-up tipis, ia pun keluar kamar dengan penuh percaya diri.
"Ayo Pak Bos mesum! Saya sudah siap berangkat," seru Syren dengan gaya somplaknya.
Julian berdiri, matanya tidak bisa lepas dari penampilan Syren yang terlihat segar dengan rambut dikepang dua. "Berhenti panggil saya mesum, atau saya benar-benar akan jadi mesum sekarang juga," ancam Julian datar, meski hatinya sedikit berdesir melihat kecantikan alami sekretarisnya itu.
"Dih, galak amat! Ayo ah, nanti telat!" Syren melangkah mendahului Julian menuju mobil.
Syren yang baru saja hendak membuka pintu belakang mobil mewah itu langsung terhenti karena teguran Julian.
"Kenapa duduk di belakang? Di depan sini, Syren. Saya bukan sopir kamu," ucap Julian dengan nada dingin namun tegas.
"Ahh... iya Pak," jawab Syren kikuk. Ia pun memutar langkah dan duduk di kursi sebelah Julian.
Julian pun melajukan mobilnya membelah jalanan pagi yang mulai padat. Suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, hanya terdengar suara mesin yang halus, sampai tiba-tiba...
Kruyuuukk...
Suara nyaring itu berasal dari perut Syren yang belum sempat diisi sejak bangun tidur tadi. Syren langsung memegangi perutnya dengan wajah yang sudah sewarna kepiting rebus karena malu.
"Kamu lapar, Syren?" tanya Julian sambil melirik sekilas, sudut bibirnya tampak sedikit terangkat menahan tawa.
"Emmm... iya Pak, mau sarapan dulu," jawab Syren jujur dengan suara pelan.
"Lain kali jangan membiasakan diri pergi bekerja dengan perut kosong. Itu merusak produktivitas," ujar Julian formal, namun ia segera memutar kemudinya menuju sebuah restoran sarapan eksklusif yang searah dengan kantor mereka.
Syren hanya bisa diam menurut, dalam hati ia merutuki perutnya yang tidak bisa diajak kompromi di depan sang Bos Peot.
Mereka pun sampai di sebuah restoran mewah dan segera memesan makanan untuk sarapan. Suasana pagi itu terasa cukup tenang, namun di sela-sela obrolan mereka, Syren yang memang dasarnya tidak bisa menjaga mulut tiba-tiba nyeletuk.
"Pak Bos... masih ingat tubuh saya kemarin?" tanya Syren dengan wajah tanpa dosa.
Uhuk! Julian tersedak ludahnya sendiri seketika. Ia terbatuk-batuk kecil sambil meraih gelas air di meja dengan gerakan panik. Ia tidak menyangka bagaimana gadis ini bisa dengan begitu santainya membicarakan hal memalukan yang sejak semalam berusaha ia hapus dari pikirannya.
Tak lama kemudian, pesanan makanan pun datang dan diletakkan oleh pelayan di atas meja mereka.
"Sudah, ayo makan. Saya tidak mau jam kerja saya terganggu hanya karena membahas hal yang tidak penting," ucap Julian berusaha mengalihkan pembicaraan, meski telinganya mulai memerah karena malu.
Syren hanya terdiam dan mulai menyuap makanannya, sambil merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Aduh, peol banget sih lo, Ren! Kenapa juga harus nanya gitu?! batinnya kesal, merasa ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke bawah meja saat itu juga.
Setelah melewati keheningan yang canggung selama perjalanan, mobil mewah Julian akhirnya membelah jalanan Jakarta menuju gedung kantor. Julian yang sesekali melirik Syren lewat kaca spion tengah merasa gemas sendiri melihat sekretarisnya itu mendadak jadi pendiam.
"Syren, kenapa diam saja?" ucap Julian memecah kesunyian, suaranya terdengar sengaja ingin memancing reaksi Syren.
"Emm... anu Pak, nggak usah dipikirin Pak omongan saya tadi," ucap Syren terbata-bata, tangannya sibuk memilin ujung kemeja biru yang ia kenakan.
Julian menyeringai tipis, matanya menatap lurus ke depan namun auranya terasa sangat mengintimidasi. "Bagaimana tidak kepikiran? Saya melihatnya dengan jelas, Syren," ucap Julian sedikit sinis, seolah sengaja mengingatkan Syren pada setiap detail yang ia lihat di kamar mandi kemarin.
Gleek... Syren menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Jantungnya sudah berdebar tak karuan, merasa ingin loncat saja dari mobil saat itu juga.
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti tepat di depan lobi kantor. Syren buru-buru melepas seatbelt-nya, namun belum sempat ia membuka pintu, tangan Julian menahan lengannya.
"Ingat satu hal, Syren. Karena saya sudah melihat 'aset' kamu, jangan harap kamu bisa bersikap biasa saja di depan saya mulai sekarang," bisik Julian tepat di samping telinganya sebelum akhirnya melepaskan pegangannya.
Syren mematung, lalu segera keluar dari mobil dan berlari menuju lift tanpa menoleh lagi. Di kubikelnya, Gaby sudah menunggu dengan wajah penuh gosip.
"Ren! Kok lo bareng Pak Bos lagi? Muka lo kenapa merah banget kayak abis kena rebus gitu?!" tanya Gaby penuh selidik.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui