Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PERANGKAP UNTUK SANG IBU
BAB 8: PERANGKAP UNTUK SANG IBU
Pagi hari di Kota Simla kembali datang dengan kabut yang menyelimuti perbukitan, namun suasana di depan gerbang keluarga Kashyap terasa lebih berat dari biasanya. Arlan terbangun dengan tubuh yang kaku. Luka di punggungnya, berkat obat yang diberikan Vanya semalam, mulai sedikit mengering, meski rasa perihnya masih menyengat setiap kali ia bergerak.
Ia menatap ke arah jendela kamar Vanya yang masih tertutup rapat. Arlan tersenyum kecil, mengingat keberanian gadis itu semalam. Namun, senyum itu segera pudar saat ia melihat sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan tendanya.
Bukan Hendra yang turun, melainkan seorang pria berpakaian rapi yang mengaku sebagai perwakilan dari dinas kesehatan kota, dikawal oleh beberapa pria berbadan tegap suruhan Hendra.
"Arlan?" pria itu bertanya dengan nada dingin. "Kami menerima laporan bahwa sapi-sapimu membawa wabah penyakit dan lingkungan tendamu ini sangat tidak higienis. Kami harus membawa sapi-sapimu untuk dikarantina, dan area ini harus segera dikosongkan."
Arlan berdiri tegak, menghalangi mereka. "Karantina? Sapi-sapiku adalah yang paling sehat di seluruh Simla! Kalian tidak punya surat tugas resmi untuk melakukan ini di trotoar publik!"
"Kami punya kuasa, Arlan. Itu lebih dari cukup," jawab pria itu sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk mulai menarik paksa sapi-sapi Arlan.
Keributan pun pecah. Arlan berusaha mempertahankan mata pencahariannya, namun di saat yang sama, ia harus melindungi ibunya yang baru saja keluar dari tenda dengan wajah pucat.
Dari balkon lantai atas, Vanya melihat keributan itu dengan hati yang mencelos. Ia ingin lari ke bawah, namun pintunya kini dijaga ketat oleh dua orang pria suruhan Gani.
"Biarkan aku keluar! Mereka menyiksa orang yang tidak bersalah!" teriak Vanya sambil menggedor pintu kayu jati yang kokoh itu.
"Ini perintah Tuan Hendra, Nona. Anda tidak boleh keluar sampai urusan di bawah selesai," jawab salah satu penjaga dengan nada datar.
Vanya jatuh terduduk di balik pintu. Air matanya mengalir deras. Ia merasa tidak berdaya saat melihat dari kejauhan bagaimana Arlan didorong hingga terjatuh ke aspal karena mencoba melindungi sapinya. Namun, yang paling mengerikan adalah saat ia melihat ayahnya, Hendra, berdiri di taman bawah dengan senyum dingin, menyaksikan kehancuran Arlan seolah itu adalah sebuah hiburan.
"Berhenti!" teriak Sujati, mencoba melerai saat salah satu pria hendak memukul Arlan dengan tongkat. "Jangan sakiti anakku! Ambil saja semuanya, tapi jangan sakiti dia!"
Sujati yang malang, ia tidak menyadari bahwa dirinya adalah target utama. Saat suasana sedang kacau, salah satu pria suruhan Hendra dengan sengaja menyenggol Sujati dengan sangat keras hingga wanita tua itu terpental ke arah jalan raya.
Pada saat yang sama, sebuah truk pengangkut susu melaju dengan kecepatan tinggi dari arah tikungan.
"IBUUUU!" Arlan menjerit dengan suara yang membelah langit Simla.
Arlan melompat, tubuhnya meluncur di atas aspal untuk menangkap ibunya. Ia berhasil menarik Sujati tepat sebelum truk itu menghantamnya, namun benturan tetap terjadi. Kepala Sujati terbentur pinggiran trotoar yang keras, dan Arlan sendiri terseret beberapa meter di atas aspal, membuat luka-luka di punggungnya kembali terbuka dan bersimbah darah.
Keheningan seketika menyelimuti area itu. Truk tersebut melaju pergi tanpa berhenti—sebuah tabrak lari yang sudah direncanakan dengan sangat rapi oleh Hendra.
Arlan merangkak, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, menuju sosok ibunya yang tergeletak tak berdaya. "Ibu... Ibu, bangun... Kumohon, buka matamu..." bisik Arlan dengan suara parau. Darah mengalir dari pelipis Sujati, membasahi tangan Arlan.
Warga Simla mulai berkumpul, namun tidak ada yang berani mendekat karena takut pada Hendra yang masih berdiri di balik gerbangnya.
Arlan mendongak, matanya yang penuh amarah dan air mata menatap langsung ke arah Hendra. Hendra hanya menatapnya dengan pandangan kosong, seolah nyawa seorang wanita tua tidak lebih berharga dari debu di sepatunya.
"Panggil ambulans! Seseorang, kumohon panggil ambulans!" teriak Arlan histeris.
Vanya, yang melihat kejadian itu dari jendela, merasa dunianya benar-benar berhenti berputar. Ia tidak lagi peduli pada penjaga di pintunya. Ia mengambil sebuah vas bunga berat dan menghantamkannya ke kaca jendela kamarnya hingga pecah berantakan.
PRANG!
Vanya melompat keluar jendela ke balkon, lalu dengan nekat turun menggunakan tali selendang yang ia ikat ke pagar. Ia berlari keluar gerbang, mengabaikan teriakan kemarahan ayahnya.
"ARLAN!" Vanya jatuh berlutut di samping Arlan yang sedang memangku ibunya. "Ya Tuhan... Ibu Sujati..."
Vanya segera melepas selendangnya untuk menekan luka di kepala Sujati. "Arlan, kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang! Gunakan mobilku, kuncinya ada di laci depan!"
"VANYA! MASUK KE DALAM!" suara Hendra menggelegar dari kejauhan.
Vanya berdiri, berbalik menatap ayahnya dengan kebencian yang begitu murni hingga Hendra sendiri terdiam sejenak. "Jika terjadi sesuatu pada Ibu Sujati, aku bersumpah, Ayah... aku tidak akan pernah menganggapmu ayahku lagi seumur hidupku! Kau bukan manusia, kau iblis!"
Vanya membantu Arlan mengangkat tubuh Sujati yang lunglai ke dalam mobil. Arlan mengemudikan mobil itu dengan gila-gilaan menuju rumah sakit pusat Simla, sementara Vanya memangku kepala Sujati di kursi belakang, terus membisikkan doa agar wanita itu bertahan.
Sesampainya di rumah sakit, suasana menjadi sangat tegang. Sujati segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Arlan berdiri di lorong rumah sakit, pakaiannya robek, tubuhnya penuh dengan darah dan debu jalanan. Ia tampak seperti pria yang telah kehilangan segalanya.
Vanya mendekat, mencoba menyentuh lengan Arlan. "Arlan... Ibu pasti akan baik-baik saja..."
Arlan menepis tangan Vanya dengan perlahan, namun wajahnya terlihat sangat hancur. "Lihat apa yang dilakukan keluargamu, Vanya. Ayahmu tidak hanya ingin aku pergi, dia ingin aku mati dengan cara yang paling menyakitkan—dengan melihat ibuku menderita."
"Aku akan bicara padanya, Arlan. Aku akan menghentikan ini..."
"Tidak," Arlan menggeleng, matanya menatap pintu ruang operasi dengan pandangan hampa. "Kau tidak bisa menghentikan iblis. Perang ini bukan lagi tentang tenda atau susu, Vanya. Ini tentang nyawa. Dan sekarang, aku bersumpah demi nyawa ibuku... aku tidak akan berhenti sampai aku melihat kerajaan ayahmu di Simla ini runtuh berkeping-keping."
Vanya terdiam. Ia melihat Arlan yang biasanya penuh sarkasme dan semangat, kini berubah menjadi pria yang dipenuhi oleh api dendam yang dingin. Ia takut, sangat takut bahwa cinta mereka akan menjadi korban dari perang besar yang baru saja dimulai ini.
Tiba-tiba, seorang dokter keluar. "Keluarga Ibu Sujati?"
Arlan berlari menghampiri. "Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?"
Dokter itu menghela napas panjang. "Benturan di kepalanya sangat parah. Beliau sedang koma. Kami butuh biaya deposit yang besar untuk operasi segera, karena ada pendarahan internal."
Arlan tertegun. Ia tidak punya uang sebanyak itu. Semua hartanya adalah sapi-sapinya yang baru saja disita. Ia menatap ke arah Vanya, lalu ke arah lantai. Harga dirinya yang setinggi gunung itu kini sedang diuji oleh kenyataan pahit.
"Aku akan membayarnya," ucap Vanya tanpa ragu. "Aku punya tabungan, aku punya perhiasan... aku akan memberikan semuanya."
"Tidak," sebuah suara dingin terdengar dari ujung lorong.
Hendra Kashyap berdiri di sana bersama Gani dan beberapa pengawal. Ia berjalan mendekat dengan angkuh. "Uangmu adalah uangku, Vanya. Dan aku tidak akan memberikan sepeser pun untuk menyelamatkan wanita ini. Kecuali..."
Hendra menatap Arlan dengan senyum licik. "Kecuali Arlan sendiri yang datang bersujud di kakiku, meminta maaf secara publik di depan warga Simla, dan pergi dari kota ini selamanya tanpa menoleh ke belakang. Pilih, Arlan. Harga dirimu, atau nyawa ibumu?"
Vanya menatap Arlan dengan air mata memohon. "Jangan lakukan itu, Arlan... kita cari cara lain..."
Namun Arlan hanya diam. Tangannya mengepal hingga mengeluarkan darah dari luka yang baru.