Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Tak Berjalan Baik
Suasana makan malam di rumah pak Jodi benar-benar di luar ekspektasi. Nasya sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dia sangat totalitas menunjukkan sisi terbaiknya malam itu. Hanya untuk memikat kedua orang tua Damar. Namun, Bu Kinan dan pak Hendra tidak menunjukkan reaksi apapun. Mereka justru mempertanyakan keberadaan Yumna yang tak kunjung terlihat.
"Yumna mana? Kok belum keluar?" Bu Kinan terlihat sangat tidak sabar bertemu dengan Yumna.
Nasya langsung menatap Damar, dengan penuh tanda tanya.
"Yumna sedang ada acara sama teman-temannya." jawab Bu Indri. "Belakangan ini dia memang jarang makan bersama keluarga, Bu Kinan."
Bu Indri sengaja membuat Yumna terkesan buruk di mata keluarga Damar. Sayangnya, hal itu justru membuat orang tua Damar bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan mereka datang ke kediaman pak Jodi.
"Ada acara di luar?" sahut pak Hendra, lalu menatap istrinya. Seolah mereka memiliki pikiran yang sama.
"Bukannya ini acara makan malam untuk membahas kelanjutan hubungan Damar dan Yumna?"
"Ma..., pa..." sahut Damar.
Damar mulai panik melihat ekspresi Nasya dan reaksi kedua orang tuanya.
"Mari makan dulu, hidangan sudah tersaji di meja makan." sahut pak Jodi, dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Kedua keluarga itu makan malam dengan canggung. Antusias kedua orang tua Damar sudah hilang, sejak mereka tahu Yumna tidak ada di rumah. Nasya pun kehilangan selera makannya, karena dia curiga Damar tidak mengatakan hal yang sejujurnya pada orang tuanya.
"Nasya, makan yang banyak ya. Besok kan kamu ada ujian seleksi untuk turnamen." celetuk Damar.
Nasya mencubit paha Damar, dia memberi kode dengan lirikan matanya. Damar pun bingung dengan sikap Nasya.
"Turnamen?!" sahut pak Jodi.
"Sayang, kamu mau ikut turnamen apa? Kok mama tidak tahu?" tanya Bu Indri.
"Turnamen olahraga." jawab Nasya dengan cepat.
"Kalau begitu benar kata Damar. Kamu harus makan yang banyak. Biar stamina kamu kuat." kata pak Jodi.
Kedua orang tua Nasya terkejut dan bergembira dengan hal itu. Sangat berbeda dengan kedua orang tua Damar. Mereka semakin yakin ada yang tidak beres dengan Damar, lantaran dia begitu perhatian dengan adik Yumna. Tapi mereka masih bisa menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang bisa menyinggung keluarga pak Jodi.
Setelah acara santap malam, mereka ngobrol santai di ruang tamu.
"Ini kue buatan Nasya sendiri, Bu. Silahkan dicicipi." ujar Bu Indri.
"Terimakasih. Saya permisi, mau numpang ke kamar mandi sebentar." ujar Bu Kinan.
"Mari, aku anterin, Tante..." sahut Nasya.
Bu Kinan mengangguk saja. Dia pun mengikuti kemana Nasya melangkah.
"Silahkan, tan." Nasya mempersilahkan Bu Kinan.
"Terimakasih. Kamu kembali saja, mungkin saya agak lama." kata Bu Kinan.
"Baik, tan." Nasya memberikan senyum yang paling manis sebelum beranjak pergi.
___
Sementara di salah satu sudut rumah pak Jodi. Bibi Nuri tampak gelisah setelah mendapat kabar dari Yumna, kalau dia tidak diperbolehkan masuk rumah.
"Ada apa, bi?" tanya Mimin.
"Non Yumna sudah pulang, tapi tidak boleh masuk." jawabnya.
"Oh ya jelas...!! Memang non Nasya tidak mau ada non Yumna di acaranya. Mengganggu!!" balas bi Mimin dengan bibir yang meliuk-liuk.
"Kalian semua itu orang jahat. Suatu hari nanti pasti akan dapat balasannya!!" geram bi Nuri.
"Bodoh amat...!!" Mimin kemudian berlalu dari hadapannya bi Nuri. "Kita ini orang kecil, bi Nuri. Sebaiknya patuh saja yang lebih berkuasa. Daripada nanti kita dipecat. Cari kerjaan sekarang susah..." imbuhnya.
Mimin kemudian melenggang santai meninggalkan bi Nuri.
"Apa maksudnya Yumna tidak boleh masuk, bi...?!"
Suara Bu Kinan mengejutkan bi Nuri. Dia tidak menyangka Bu Kinan akan muncul di sana.
"Bu Kinan..." gumamnya.
"Katakan pada saya, bi. Ada apa sebenarnya?" tanya Bu Kinan lagi.
"Nona Yumna tidak diizinkan masuk karena takut mengganggu acara malam ini." jawab bi Nuri.
"Nona Yumna memang sudah ada janji makan malam sama keluarga bosnya. Dan nona juga tidak bisa asal membatalkan. Apalagi hanya untuk acara yang sangat menyakitkan hati nona Yumna." tutur bi Nuri panjang lebar.
Bi Nuri dengan sadar mengatakan fakta yang terjadi. Karena dia sempat mendengar Bu Indri menjelekkan Yumna sebelumnya. Dia tidak mau diam saja kali ini.
"Sepertinya bibi tahu banyak. Katakan bi, apa Damar benar-benar menjalin hubungan dengan Nasya?" Bu Kinan sudah tak bisa menahan diri lagi.
Bi Nuri pun mengangguk.
"Kurang ajar...!!" geram Bu Kinan.
Bu Kinan kemudian kembali ke tempat dua keluarga berkumpul. Tanpa berpamitan pada bi Nuri.
"Non Yumna, maaf. Bibi sudah melewati batasan. Bibi sangat kesal, non..." batin bi Nuri.
__
Bu Kinan kembali dengan mimik wajah yang benar-benar tidak bersahabat. Dia tidak menyangka, Damar berani mempermainkan orang tuanya.
"Pa, sebaiknya kita pulang. Mama tidak enak badan." ujarnya.
"Tapi..." kalimat Bu Indri menggantung di udara karena Bu Kinan memotongnya dengan cepat.
"Terimakasih atas jamuan makan malamnya." sahut Bu Kinan. "Tadinya saya ingin menunggu Yumna. Tapi, karena dia belum datang juga. Saya titip salam saja buat Yumna. Jangan lupa segera atur jadwal ketemu dengan saya, karena saya sudah menemukan desainer yang cocok untuk membuat gaun pertunangannya." katanya.
"Ma..." sahut Damar.
"Kami permisi dulu ya..." pamit Bu Kinan.
Damar tak menyangka mamanya akan bicara seperti itu.
"Kak Damar..." Nasya menarik tangan Damar.
"Sabar ya, aku akan jelasin lagi sama mama." balas Damar dengan cepat. "Om, Tante. Maaf. Saya permisi dulu..." pamitnya undur diri.
"Mama..., papa..." kali ini Nasya merengek pada kedua orang tuanya.
"Ini ada apa sebenarnya? Apa mereka belum tahu hubungan kalian?" tanya pak Jodi curiga.
Nasya pun terlihat panik, karena dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan papanya.
"Sudah..., sudah..., Bu Kinan lagi kurang sehat. Masa banyak waktu untuk membahas ini." sahut Bu Indri.
"Tidak. Tidak ada waktu lagi. Secepatnya mereka harus tahu kalau Yumna dan kak Damar sudah putus. Dan aku satu-satunya yang dicintai kak Damar selama ini." geram Nasya dalam hati.
"Mamamu benar. Sebaiknya sekarang kamu istirahat, besok kan ada turnamen." ujar papanya.
"Iya, papa..." balas Nasya.
___
Sepanjang perjalanan, Bu Kinan tak mengatakan apapun. Suasana di dalam sangat sunyi. Sampai mereka tiba di rumah.
Bu Kinan langsung melempar tasnya ke sofa. Lalu duduk sambil menyilangkan kakinya. Matanya menyorot tajam hanya pada Damar.
"Ada yang mau kamu jelaskan sama kami?!!" ujarnya dengan tegas.
"Katakan Damar!" sahut papanya.
Damar diam, mengatur nafas dan merangkai kata. Dia harus bisa memilih kata yang pas agar mudah diterima oleh orang tuanya.
"Sebenarnya..."
"Sebenarnya kamu membawa kami datang untuk Nasya, betul begitu?!!" sahut mamanya yang sudah tak sabar.
"Ma, aku mencintai Nasya." balas Damar.
"Apa kamu sudah buta?!!" sahut pak Hendra. "Kamu meninggalkan Yumna, demi Nasya?!!"
"Pa..., Nasya jauh lebih baik dari Yumna." kata Damar.
"Ada dimana sisi baiknya?!" sahut Bu Kinan. "Mama hanya melihat dia sebagai perempuan manja yang suka cari perhatian!" tandas Bu Kinan.
"Nasya tidak seperti itu, mama!" bantah Damar. "Dia memang butuh perhatian." Damar merendahkan suaranya.
"Yumna selalu berusaha mencelakai Nasya. Padahal Nasya sangat butuh perhatian dari kakaknya itu. Dia menganggap aku sebagai kakaknya. Tapi lama-kelamaan kami jadi saling jatuh cinta. Aku pun menjatuhkan pilihan pada Nasya." ujar Damar.
"Yumna mencelakai Nasya?" pak Hendra tampak tak percaya.
"Omong kosong macam apa ini? Bilang saja kamu memang sudah berpaling darinya karena tergoda oleh Nasya. Tidak usah menjelekkan Yumna...!!" imbuhnya.
"Aku bicara fakta, paa. Baru-baru ini Yumna mendorong Nasya ke kolam. Hingga Nasya dirawat di rumah sakit." balas Damar.
"Pokoknya mama tidak akan merestui hubungan kalian!!" ujar Bu Kinan.
"Mama...!!"
Bu Kinan mengabaikan putranya. Dia meninggalkan ruang tamu begitu saja.
"Damar. Kamu sudah dewasa. Papa harap kamu bisa berpikir jernih, dan bisa memilih segala sesuatunya dengan hati-hati. Jangan sampai kamu salah memilih. Karena penyesalan hanya akan muncul di akhir cerita."
Damar tidak menghiraukan nasihat papanya. Dia sibuk memikirkan bagaimana cara agar Nasya diterima oleh keluarganya.
"Sepertinya aku harus turun tangan, membuat mama dan Nasya lebih sering bertemu. Mereka pasti akan segera akrab. Dan mama bisa merestui kami."
......................