Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Putus
Ziya bangkit setelah menghabiskan air kelapa mudanya, “Neng mau lagi, ini masih ada,” ucap Asep sambil mendongak menatap Ziya.
“Udah ah, entar perut gue kembung lagi kebanyakan minum air kelapa,” tolaknya.
“Neng mau kemana?” tanya Asep saat melihat Ziya berjalan meninggalkannya.
“Mau ke atas nyari sinyal,” sahutnya sambil berlalu lebih dulu.
“Mau saya temenin?” tawar Asep, dia sudah bersiap hendak mengikuti Ziya.
“Gak usah, gue pergi sendiri aja. Lu balik kerja sono, entar disangkanya gue Istri manja yang suka gangguin suaminya yang lagi kerja,” balas Ziya.
“Yakin Neng gak mau saya temani?”
“Yakin, udah pergi sanah,” usir Ziya tatkala Asep hendak mengikuti langkahnya.
Sebenernya bukan Ziya tak ingin Asep menemaninya, hanya saja dia hendak menelpon Regan untuk mengakhiri hubungan mereka, Ziya tak ingin Asep mendengar semua pembicaraannya itu, karena menurutnya itu sangat memalukan.
“Emh Neng!” panggilnya lagi, membuat Ziya yang sudah berjalan cukup jauh menghentikan langkahnya sejenak, kemudian menoleh.
“Apa?”
Dia tak langsung bicara dia hanya diam sambil menatap kearah Ziya, “Ini hari ke 40 Neng disini kan, bagaimana perasaan Neng?” tanyanya.
“Perasaan gue disini, ya lumayan,” sahutnya.
“Jadi Neng betah tinggal disini?”
“Hem, sedikit,” ungkap Ziya.
Asep mendengus senyum, “Neng yakin gak mau saya temani, takutnya ada serangga lagi di atas, Neng kalau teriak manggil saya dari atas dan saya disini gak mungkin saya bisa datang secepat kilat kaya superman,” kekehnya.
“Yakin, pokonya kali ini gue mau sendiri, ada hal penting yang harus gue omongin sama seseorang,” ungkap Ziya, dia tak ingin bicara lebih detil lagi.
“Ya sudah kalau begitu, kalau ada apa-apa Neng teriak aja, saya usahakan akan langsung datang nyamperin Neng,” dia tersenyum pahit.
“Oke,” sahut Ziya, seraya berlalu.
Asep menatap kepergian Ziya dengan perasaan sedih, sejujurnya dia hendak mengungkapkan tentang perasaannya tadi, namun dia tak punya cukup keberanian untuk mengatakannya.
Apa lagi Asep bisa menebak siapa yang ingin di hubungi Ziya tanpa di dengar orang lain, siapa lagi kalau bukan pacarnya.
‘Asep, Asep, kamu teh siapa atuh, sadar diri Sep kamu bukan siapa-siapa udah syukur Neng Ziya mau tinggal disini selama tiga bulan dan kamu bisa deket sama dia walau pun cuma sebentar, sekarang kamu malah menginginkan lebih. Perasaan ini hanya akan menyakiti diri kamu sendiri, sep,’ batinnya mengingatkan.
Sementara Ziya, dia naik sendiri ke tempat yang lebih tinggi tak sampai benar-benar keatas seperti bersama Asep waktu itu, yang penting ponselnya sudah ada sinyal saja.
Dia pun lekas membuka layar gawainya sambil menghembuskan nafas kasar mencoba menenangkan diri. Dan dia pun mulai menghubungi orang yang di maksud.
Tut...tut... Suara sambungan telpon, satu panggilan, dua panggilan, Regan tak kunjung mengangkatnya, namun di panggilan ke tiga akhirnya dia pun mengangkatnya.
“Halo Yang, maaf sayang hp nya aku silent tadi jadi gak kedengeran pas kamu nelpon,” ucapnya.
“Iya gak papa,” sahut Ziya.
“Ada apa sayang? Tumben banget kamu nelpon duluan, kangen ya?” kekehnya.
Ziya menarik napas dalam, “Aku mau ngomong sesuatu yang penting,” ungkap Ziya.
‘Dek Regan, udah belum nelponnya?’ terdengar suara wanita memanggilnya.
“Sebentar lagi aku ke sana,” Regan menyahutinya lebih dulu.
“Yang jangan sekarang ya, aku lagi ada urusan penting, nanti aku telpon lagi,” ucapnya.
Ziya mendengus kasar, “kenapa aku harus menunggu nanti, kalau begitu aku langsung saja supaya gak membuang waktu kamu yang berharga itu. Regan, Aku mau kita putus!” tegas Ziya.
“Hah putus?! Kamu jangan bercanda sayang, gak ada angin gak ada hujan kamu tiba-tiba minta putus, kayak gini, aku gak mau!” tolaknya.
“Terserah kamu mau terima atau enggak, yang jelas aku udah gak bisa mempertahankan lagi hubungan kita setelah aku tahu semua yang kamu lakukan,” ujar Ziya.
“Maksud kamu apa, aku ngelakuin kesalahan apa sih Yang, sampai kamu mendadak minta putus gini?” suaranya terdengar frustasi.
“Kesalahan seperti yang sedang kamu lakukan sekarang.”
Regan terdiam seketika.
“Aku tahu apa yang kamu lakuin di belakang aku Re, dan aku gak bisa terima itu, jadi lebih baik kita putus.”
“Ehem, kamu salah faham sayang, suara yang kamu denger tadi itu Tante aku, kami lagi kumpul-kumpul,” dustanya.
“Gini Yang, lain kali aku jelasin ya, sekarang kamu tenangin dulu pikiran kamu, walau bagaimanapun aku gak mau kita putus, aku cinta sama kamu Ziya.”
“Terserah, tapi bagi aku hubungan kita sudah berakhir.”
Tut... Ziya pun mengakhiri sambungan teleponnya secara sepihak. Huft, dia menghela nafas lega, “akhirnya selesai juga. Aku harap dia gak ganggu aku lagi.”
🤣😄😍💪❤❤❤
dari bemci jadi bucin.
🤣😄😍❤💪💪❤❤
jgn2 sarah ikutan ngabisin dueit ziya..
❤❤❤❤
2x up hari ini ..
😍😍❤❤❤💪💪
keren banget Asseeepppp..
😄😍❤💪💪❤❤😍😍
🤣😄😍😍😍💪❤❤❤💪💪
biar tuh regan kena mental....
😄😍😍💪💪💪