NovelToon NovelToon
TYPO DI ANTARA KITA

TYPO DI ANTARA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Topeng yang Retak

Malam penganugrahan pun riba. ​Lampu ballroom hotel berbintang ini rasanya terlalu silau, seolah sengaja ingin memamerkan betapa berantakannya perasaan gue malam ini. Gue berdiri di sudut ruangan, meremas clutch bag kecil yang warnanya senada dengan gaun merah marun yang gue pakai. Wangi parfum mahal dan obrolan basa-basi para penulis besar berdengung di telinga gue, tapi fokus gue cuma satu, sosok tinggi yang berdiri di barisan depan.

​Genta. Pria itu kelihatan sangat tenang dengan tuksedo hitam yang membalut tubuh tegapnya. Nggak ada lagi kemeja kantor yang sedikit kusut atau bau kopi pahit. Malam ini, dia benar-benar kelihatan kayak karakter utama di novel-novel romance yang sering gue edit. Sempurna, tapi tetap terasa jauh.

​Gue teringat pesan terakhir Kaka's soal "kotak rahasia". Dada gue makin sesak. Apakah malam ini kotak itu bakal terbuka, atau malah gue buang selamanya ke tempat sampah?

​"Selamat malam, para pejuang kata!" Suara pembawa acara menggema, memecah lamunan gue. "Malam ini, kita akan mengumumkan pemenang kategori Penulis Pendatang Baru Terfavorit pilihan pembaca NovelToon..."

​Jantung gue kayak mau copot dari tempatnya. Gue memejamkan mata sesaat.

​"... jatuh kepada: Senja_Sastra!"

​Riuh tepuk tangan pecah. Gue melangkah ke panggung dengan kaki yang terasa seperti jeli. Saat gue naik ke podium, mata gue tanpa sadar langsung mencari Genta. Dia nggak bertepuk tangan. Dia cuma berdiri di sana, menatap gue lurus-lurus. Tatapannya nggak lagi tajam kayak mau revisi naskah, tapi ada semacam kebanggaan yang disembunyikan rapat-rapat.

​Gue berdeham, mencoba menata suara gue yang bergetar di depan mik.

​"Terima kasih..." kata gue pelan. "Penghargaan ini bukan cuma buat gue. Tapi buat seseorang yang selalu ada di kolom komentar, yang tahu kapan gue lagi putus asa cuma lewat tanda baca yang salah. Kaka’s... tanpa lo, mungkin Kastara nggak akan pernah punya nyawa, meskipun akhirnya gue bunuh dengan tragis."

​Gue sempat melihat rahang Genta mengeras saat gue menyebut nama itu.

​Acara berlanjut, dan kejutan berikutnya datang saat kategori Kritikus Paling Inspiratif diumumkan. Nama Kaka's dipanggil ke atas panggung. Seluruh ruangan hening sejenak karena akun itu anonim. Tapi kemudian, seorang pria maju dengan langkah mantap.

​Seluruh oksigen di paru-paru gue rasanya hilang seketika saat melihat Genta yang melangkah naik. Jadi benar. Tebakan gue, insting gue, semua kemarahan gue selama ini... pelakunya adalah orang yang sama. Walaupun dari awal kecurigaan terang benderang, namun hati ini serasa belum siap.

​Gue nggak sanggup lama-lama di sana. Begitu acara selesai, gue langsung melipir keluar menuju balkon hotel yang sepi, butuh udara segar sebelum kepala gue meledak.

​"Aruna."

​Suara bariton itu bikin gue mematung. Gue nggak perlu menoleh buat tahu siapa yang berdiri di belakang gue. Bau parfum itu sudah jadi bagian dari mimpi buruk sekaligus mimpi indah gue selama ini.

​"Mau sampai kapan Bapak main-main kayak gini?" tanya gue tanpa berbalik. Suara gue serak, menahan tangis yang sudah di ujung mata. "Menghina saya di kantor, tapi muji saya di aplikasi. Bapak pikir saya ini apa? Bahan eksperimen Bapak?"

​Langkah kaki terdengar mendekat. Genta sekarang berdiri di samping gue, menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon. Dia melepas kacamatanya, mengusap wajahnya dengan kasar.

Saya nggak pernah main-main, Aruna," ucapnya, suaranya rendah dan kedengaran capek banget. "Saya kaku. Saya nggak tahu cara komunikasi sama orang tanpa kelihatan kayak robot. Menjadi Kaka's adalah satu-satunya cara supaya saya bisa jujur sama kamu tanpa harus merusak profesionalitas kita."

​"Lalu soal skandal itu?" potong gue, teringat ancaman Pak Hermawan yang bikin kita hampir gila beberapa hari ini. "Gimana Bapak bisa setenang ini di atas panggung tadi sementara naskah kita dituduh plagiat?"

​Genta menghela napas panjang, menatap pendar lampu Jakarta dari balkon. "Sudah beres. Saya sudah bicara dengan Pak Hermawan dan tim hukum tadi sore. Saya mengakui siapa Kaka's sebenarnya di depan mereka. Begitu mereka tahu Kaka's adalah Editor Kepala mereka sendiri, tuduhan plagiarisme itu gugur dengan sendirinya. Mana mungkin perusahaan menuntut karyawannya karena memplagiat karyanya sendiri?"

​Genta terkekeh hambar, sebuah suara yang jarang banget gue dengar. "Saya cuma perlu menanggung konsekuensi... diceramahi Pak Hermawan tiga jam soal profesionalitas dan etika anonimitas. Mungkin jabatan saya bakal ditinjau ulang, tapi itu nggak penting."

​Gue melongo. "Bapak ngaku? Bapak mempertaruhkan karier dan jabatan Bapak demi bersihkan nama Senja_Sastra?"

​"Saya nggak cuma bersihin nama Senja, Aruna. Saya lagi nyelamatkan satu-satunya alasan saya masih betah kerja di industri yang ngebosenin ini."

​"Jujur?" Gue menoleh, menatapnya tajam meski mata gue mulai berkaca-kaca. "Jujur bagian mana, Pak? Bagian Bapak bilang tulisan saya lambat kayak kura-kura, atau bagian Kaka's bilang tulisan saya punya jiwa?"

​Genta perlahan menatap gue. Matanya yang biasanya nggak terbaca, sekarang kelihatan sangat... telanjang. Tanpa pelindung.

​"Dua-duanya jujur," kata Genta pelan. "Saya keras di kantor karena saya pengen kamu jadi penulis hebat yang tahan banting. Tapi sebagai Kaka's... saya cuma pria biasa yang jatuh cinta sama cara kamu melihat dunia lewat kata-kata."

​Gue tertegun. Kata "jatuh cinta" itu keluar dari mulutnya sesederhana dia memesan kopi, tapi efeknya bikin dunia gue jungkir balik.

​"Jangan bunuh Kastara lagi, Aruna," bisiknya, kali ini tangannya bergerak ragu, lalu perlahan menggenggam tangan gue yang dingin. "Karena Kastara yang asli sekarang lagi berusaha buat nggak jadi pengecut lagi di depan penulisnya. Dan soal kotak rahasia yang kamu tulis... kuncinya memang ada di kamu. Kamu mau lanjutin cerita ini bareng saya, atau mau nulis 'Tamat' sekarang juga?"

​Malam itu, di bawah kerlip lampu Jakarta, gue sadar kalau bab paling sulit dalam hidup gue baru saja dimulai. Bukan bab tentang dendam atau typo, tapi bab tentang bagaimana gue harus menghadapi pria yang ternyata punya hati jauh lebih lembut daripada naskah paling romantis yang pernah gue tulis.

1
-Thiea-
apa nih? cinta diam-diam kah.
Kaka's: 🤭🤭.. 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
-Thiea-
jangan-jangan mereka orang yg sama 🤔
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
awal yang menarik 👍
Kaka's: mkasih kak
total 1 replies
Serena Khanza
wah genta udah tau senja ya 🤭
Hunk
hahah ternyata malah chatan sama orang yg di sebelah.🤣
Hunk
Berawal dari benci. Malah jadi suka🤣
Hunk
Jodoh nih🤣
Sean Sensei
cieee... saling lirik melirik nih 🤭
Hunk
Tsundere kah ni si genta?
Kaka's: yah sedikit kaku sih alias professional.. tapi bakal terjawab semua di salah satu bab nantinya🤭
total 1 replies
Serena Khanza
puitis banget tp keren kata katanya🤭
Sean Sensei
/Hey/ promosikan noveltoon /Ok/
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣 pusing masa apk F🤭
total 1 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Serena Khanza
yaah ketahuan deh gegara mati lampu 🤭 coba ada lagu nassar thor 🤣
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
SarSari_
Kak, aku mau kasih sedikit masukan yaa 🙏 Karena ini pakai sudut pandang orang pertama (gue), mungkin bagian “ada rasa kagum yang selama ini dia tutup rapat-rapat” bisa dibuat lebih seperti dugaan si tokoh, bukan kepastian. Soalnya di POV orang pertama kan kita cuma tahu apa yang dia lihat dan rasakan.
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.

Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻
Kaka's: menarik.. terima kasih masukannya kaks
total 1 replies
Sean Sensei
/Sweat/ : punya dendam kayaknya tuh
Hunk
Masih mening pak dari pada sianida.🤣
Hunk
kenapa ga biji kopi dari luwak nya langsung🤣
®Astam
Nah kan... betul🤭
®Astam: Okay bang😆
total 4 replies
®Astam
Bagus👍, kadang-kadang bikin penasaran dengan bab selanjutnya.
Kaka's: makasih kaks🤭
total 1 replies
®Astam
Kayaknya si genta, adakah kaka's deh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!