Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momen Sweet
Malam itu, kamar William yang biasanya terasa dingin dengan nuansa maskulin mendadak dipenuhi aroma parfum bunga lily milik Juliatte. Di atas tempat tidur besar yang rapi, beberapa set pakaian tidur dibeli oleh Mommy Eleanor, dan beberapa kaos milik William sendiri, terserak. Mereka sedang mencari sesuatu yang cukup nyaman untuk dipakai Juliatte tidur.
William baru saja menyodorkan sebuah kaos hitam polos miliknya, namun gerakan tangannya membeku saat suara Juliatte memecah kesunyian.
"William... apa kau memang belum pernah tidur dengan perempuan sebelumnya?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tenang namun tajam, cukup untuk membuat oksigen di dalam kamar itu seolah tersedot keluar. William berhenti bergerak. Ia berdiri mematung, menatap Juliatte yang duduk di tepi ranjang dengan mata besar yang menatapnya penuh selidik, seolah ia bisa membaca semua rahasia di balik jaket kulit pria itu.
William menatapnya dalam, rahangnya mengeras pelan. Sebelum ia sempat memberikan jawaban yang masuk akal, Juliatte sudah berdiri. Ia melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa, dan menarik kerah kaos William hingga pria itu sedikit menunduk.
Juliatte menciumnya.
Kali ini bukan ciuman ragu seperti di pasar malam. Ini adalah ciuman penuh damba, ciuman yang menuntut kepastian dan membakar semua aturan yang selama ini membelenggu mereka. Juliatte memejamkan mata, membiarkan jemarinya menyusup ke rambut William, menariknya lebih dekat seolah ia ingin menyatu dengan pria itu.
William awalnya tertegun, namun insting lelakinya segera mengambil alih. Ia membalas ciuman itu dengan intensitas yang lebih tinggi, tangan besarnya melingkar di pinggang ramping Juliatte, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada tubuhnya.
Namun, tepat saat ciuman itu menjadi semakin panas dan dalam, William merasakan tubuhnya memberikan reaksi yang tidak bisa ia kendalikan. Ada sesuatu yang mulai menegang di balik celana jinsnya, sebuah tanda bahaya yang meneriakkan bahwa jika ia tidak berhenti sekarang, ia akan melanggar janjinya pada sang ayah.
Dengan napas yang sangat memburu, William menarik diri secara tiba-tiba. Ia melepaskan Juliatte seolah-olah gadis itu adalah api yang baru saja membakar tangannya. Matanya gelap penuh gairah sekaligus rasa frustrasi yang luar biasa.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, William berbalik dan lari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Brak!
Suara pintu kamar mandi yang tertutup kencang dan bunyi kunci yang diputar bergema di ruangan itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara kucuran air shower yang sangat deras, William jelas sedang mengguyur dirinya dengan air dingin.
Juliatte berdiri di tengah kamar, rambutnya sedikit berantakan dan bibirnya masih terasa panas. Bukannya merasa tersinggung, ia justru terduduk kembali di ranjang dan tertawa kecil. Tawa itu semakin lama semakin keras, tawa penuh kemenangan karena menyadari bahwa sang pemimpin The Ravens yang garang itu ternyata bisa sangat panik hanya karena godaannya.
"William Wilson," gumam Juliatte di sela tawanya, sambil merebahkan tubuhnya ke bantal yang beraroma seperti pria itu. "Ternyata benar apa kata Ethan, kau memang semanis itu."
Di balik pintu kamar mandi, William menyandarkan kepalanya ke ubin yang dingin sambil membiarkan air mengguyur wajahnya, berusaha keras mengontrol detak jantungnya yang sudah melampaui batas kecepatan motor Triumph-nya sendiri.
Sekitar lima belas menit berlalu sebelum suara kucuran air akhirnya berhenti. Pintu kamar mandi terbuka perlahan, mengeluarkan segumpal uap hangat yang membawa aroma sabun maskulin. William muncul dengan rambut yang basah kuyup, handuk putih tersampir di lehernya, dan wajah yang terlihat sangat... lelah secara mental.
Ia tidak berani menatap langsung ke arah ranjang. Juliatte masih di sana, berbaring miring sambil menopang kepalanya dengan tangan, menatap William dengan senyum jahil yang masih tersisa di sudut bibirnya.
Keheningan di kamar itu terasa sangat canggung, jenis keheningan yang membuat detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum. William berjalan kaku menuju lemari, mengambil kaos bersih seolah-olah Juliatte tidak ada di sana.
"Kenapa diam saja, Will?" suara Juliatte memecah keheningan, nada suaranya terdengar sangat polos, namun penuh provokasi. "Air dinginnya membantu?"
William menghela napas panjang, akhirnya ia menoleh dan menatap Juliatte dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Fontaine, jika kau tidak berhenti tertawa, aku akan mengantarmu tidur di kamar si kembar. Biarkan mereka membangunkanmu jam lima pagi dengan melompat-lompat di atas perutmu."
Juliatte terkekeh, ia duduk tegak dan merapikan rambutnya. "Aku tidak tahu kalau pemimpin The Ravens yang ditakuti seluruh sekolah bisa sekaku ini hanya karena sebuah ciuman."
"Itu bukan hanya sebuah ciuman, dan kau tahu itu," geram William sambil memakai kaosnya dengan kasar. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang, berdiri di depannya dengan tangan bersedekap. "Dengar, aku sedang berusaha menjadi pria terhormat di rumah ayahku sendiri. Jangan membuatnya semakin sulit untukku."
Wajah William yang memerah di bagian telinga tidak bisa berbohong. Meski ia berusaha terlihat galak, kegugupannya terpampang nyata. Ia kemudian mengambil sebuah bantal dan selimut tambahan dari dalam lemari.
"Kau tidur di ranjang," ucapnya tegas, menunjuk kasur empuk itu. "Aku akan tidur di sofa."
"Tapi sofanya terlalu pendek untuk tubuhmu, Will," protes Juliatte, kali ini suaranya melunak, merasa sedikit bersalah karena telah menggoda pria itu terlalu jauh.
"Lebih baik kakiku pegal karena sofa daripada jantungku copot karena kau," jawab William datar. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram.
"Tidur, Juliatte. Besok, mungkin kita punya banyak masalah yang harus dihadapi."
William merebahkan tubuh besarnya di sofa panjang di sudut kamar, kakinya memang menjuntai keluar karena sofa itu tidak dirancang untuk pria setinggi dirinya. Dalam kegelapan, Juliatte bisa mendengar helaan napas berat William berkali-kali.
"Will?" panggil Juliatte pelan dari atas ranjang.
"Apa lagi?"
"Terima kasih. Dan... kau sangat tampan saat sedang panik."
Sebuah bantal kecil melayang dari arah sofa dan mendarat tepat di kepala Juliatte. "Tidur, atau aku benar-benar akan memanggil Mommy Eleanor ke sini."
Juliatte tertawa pelan, memeluk bantal kiriman William, dan akhirnya memejamkan mata dengan perasaan aman yang belum pernah ia rasakan di mansionnya sendiri.
Di sudut ruangan, William menatap langit-langit, mencoba mengosongkan pikirannya dari bayangan bibir Juliatte agar ia bisa tidur tanpa harus kembali ke kamar mandi untuk kedua kalinya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍