Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Debu yang Tersisa(fix)
"Lepaskan! Kakek, lepaskan!"
Fang Yuan meronta hebat. Tangan kecilnya mencakar lengan keriput Fang Shou, namun sang kakek mencengkeramnya lebih erat, seolah jika ia melepasnya sedikit saja, cucunya akan tertelan oleh maut yang sedang menari di langit.
Di atas mereka, cakrawala seolah robek. Benturan energi antara dua kultivator itu menciptakan guntur yang memekakkan telinga.
Setiap kali senjata mereka beradu, percikan cahaya raksasa melesat jatuh seperti meteor, menghanguskan apa pun yang disentuhnya.
"Jangan, Fang Yuan! Itu bunuh diri!" teriak Fang Shou. Suaranya bergetar, tertelan oleh gemuruh ledakan.
Asap hitam tebal mulai membumbung dari arah sawah—tempat Fang Chen dan Lin Yue berada.
Asap itu bukan sekadar jelaga, melainkan pertanda hancurnya sebuah kehidupan yang damai.
"LARI! CEPAT LARI KE HUTAN!"
"KULTIVATOR GILA! MEREKA AKAN MENGHANCURKAN DESA KITA!"
Puluhan warga desa berlari tunggang-langgang melewati mereka.
Wajah-wajah yang biasanya ramah kini pucat pasi, dipenuhi ketakutan primitif manusia fana saat berhadapan dengan kekuatan kultivator.
"Kek ... hiks ... Ibu dan Ayah masih di sana ..." Fang Yuan mulai terisak, tenaganya habis karena memberontak. Matanya yang sembab menatap gumpalan asap itu dengan harapan yang hancur.
Fang Shou menatap langit, lalu menatap cucunya. Hatinya tercabik antara naluri pelindung dan rasa takut yang melumpuhkan.
"Fang Yuan, dengarkan Kakek," ucapnya sambil memegang kedua bahu bocah itu. "Tetap di sini. Jangan bergeser sejengkal pun! Kakek akan mencari mereka."
"Kek ..."
"Kakek pasti kembali! Demi leluhur, Kakek janji!"
Tanpa menunggu jawaban, Fang Shou berbalik dan berlari secepat yang kakinya sanggup lakukan.
Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Sial! Kenapa mereka harus bertarung di sini? Bagi mereka kita hanya semut yang terinjak tanpa sengaja!"
Sesampainya di area sawah, langkah Fang Shou terhenti. Dunianya seolah runtuh.
Tidak ada lagi hamparan padi yang menguning. Yang tersisa hanyalah kawah raksasa sedalam tiga meter dengan tanah yang menghitam dan masih membara.
Air irigasi mengalir masuk ke dalam lubang itu, menciptakan suara mendesis yang mengerikan.
Ia mendongak ke langit. Dua kultivator itu sudah menghilang, melesat jauh mengejar ambisi mereka tanpa menoleh sedikit pun pada kehancuran yang mereka tinggalkan. Bagi mereka, ini hanyalah debu di pinggir jalan.
"Fang Chen ... Lin Yue ..." gumam Fang Shou dengan bibir gemetar.
PLAK!
Ia menampar pipinya sendiri dengan keras. "Tidak! Mereka pasti sempat lari ke rumah! Ya, mereka pasti di rumah!"
Fang Shou berlari lagi menuju rumah kayu sederhana itu. Ia tersandung akar pohon, jatuh tersungkur hingga lututnya berdarah, namun ia segera bangkit.
"Jangan mati ... Kumohon jangan mati. Fang Yuan masih terlalu kecil untuk menjadi yatim piatu ..."
Namun, langkahnya terhenti sepuluh meter di depan rumah itu.
Rumah itu sudah tidak berbentuk. Sebuah bongkahan energi sepertinya telah menghantam bagian tengah bangunan, meruntuhkan pilar-pilarnya dan membakar sisanya hingga menjadi puing-puing berserakan.
Fang Shou jatuh berlutut. Kekuatannya hilang seketika. "T-tidak mungkin ..."
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah.
Bayangan Fang Chen saat bayi, saat ia belajar berjalan, hingga saat pria itu membawa Lin Yue pulang dengan wajah penuh cinta, berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Kenangan-kenangan indah itu kini terasa seperti belati yang dihunus tepat ke jantungnya.
"FANG CHEN! LIN YUE! JAWAB AYAH!" teriaknya histeris. suaranya parau, bergema di antara puing-puing yang sunyi. "JANGAN TINGGALKAN ANAK KALIAN SENDIRIAN! JAWAB!"
Hening. Hanya suara deru angin dan sisa kayu yang terbakar yang menyahut.
Dengan langkah sempoyongan dan pandangan kosong, Fang Shou kembali ke tempat Fang Yuan menunggu.
Dari kejauhan, ia melihat sosok kecil itu berdiri kaku, matanya tak lepas dari jalan setapak.
"Kakek! Di mana Ayah? Mana Ibu?" Fang Yuan berlari menyongsongnya dengan wajah penuh harap.
Fang Shou berhenti. Lidahnya terasa kelu. Bagaimana cara mengatakan pada seorang bocah lima tahun bahwa dunianya telah musnah dalam sekejap mata?
"Kek, jawab aku! Kenapa Kakek diam saja?!" Fang Yuan menarik-narik baju kakeknya, suaranya mulai naik satu oktav karena panik.
Tanpa sepatah kata pun, Fang Shou berlutut dan menarik cucunya ke dalam pelukan yang sangat erat.
Ia membenamkan wajahnya di bahu kecil Fang Yuan, bahunya terguncang hebat karena tangis yang tak lagi bisa dibendung.
Fang Yuan terdiam sesaat. Keheningan kakeknya adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Detik berikutnya, tangis bocah itu pecah. Ia melolong, memanggil nama orang tuanya berkali-kali hingga suaranya serak.
Beberapa hari kemudian, pejabat pemerintah wilayah datang.
Mereka mencatat kerusakan, membagikan beberapa kantong gandum kering sebagai "bantuan", lalu pergi tanpa rasa bersalah.
Bagi mereka, selama desa masih bisa menghasilkan pajak di masa depan, nyawa satu atau dua petani tidaklah berarti.
Dunia tetap berputar, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayo, Fang Yuan." bisik Fang Shou sambil memegang tangan mungil yang kini terasa dingin itu. "Kita pergi ke Desa Batu. Mulai sekarang, hanya ada kita berdua."
Sambil menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya pada puing-puing rumahnya, Fang Yuan berjalan menjauh.
Di dalam hati kecilnya yang hancur, sebuah benih kebencian terhadap langit mulai tumbuh.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.