NovelToon NovelToon
Married To My Enemy

Married To My Enemy

Status: tamat
Genre:Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.

Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.

Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.

୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persoalan Adik & Kakak

Stella bergidik. “Makasih pujiannya.” Dia menarik ujung kausnya.

Kayson berkedip dan memiringkan kepala. “Oke Maaf. Harusnya gue bilang … lo cantik, tapi karena lo pucat banget, dan gue barusan lihat lo gemetar, jadi gue mau bawa lo pergi dari sini. Itu bakal lebih cocok buat lo?”

Stella mulai menoleh ke arah Riggs, Kayson bergerak ke samping, menghalangi pandangan Stella. Memaksanya agar menatap langsung padanya. “Kita harus hentikan kebiasaan itu!"

Stella kehilangan arah. “Maksud lo apa?”

Kayson tersenyum. Senyum lambat yang menarik sudut bibirnya hingga bekas luka di pipinya terlihat.

Ada satu rahasia tentang senyum miringnya itu … biasanya itu akan membuat jari-jari kaki Stella melengkung. Dan meskipun situasinya begini, jari kakinya tetap melengkung di dalam sepatu ketsnya.

“Bisa tolong siapin tas, Stella?” tanya Kayson.

Astaga, dia barusan bisa bilang tolong.

“Oke. Gue siapin!” jawab Riggs dengan sigap. “Dan lo bisa pulang ke rumah gue, Stella. Gue sudah bilang itu. Lagian bukan sekali dua kali lo nginep di tempat gue. Gue enggak ngerti kenapa semalam lo enggak tinggal di sana.” Langkah kaki Riggs bergema saat dia menuju kamar Stella.

Kayson tampak berubah menjadi batu. Dia menatap Stella. Hanya menatap.

“Uh, Kayson?” Stella hampir melambaikan tangan di depan wajahnya.

Dia menelan ludah. Lubang hidungnya mengembang. Lalu dia mengangguk. “Lo bisa tinggal bareng gue. Tempat gue luas.”

“G—gue nginep di motel semalam.”

“Motel yang nyebelin itu?” teriak Riggs riang dari arah kamar. “Tempat itu serem banget. Enggak mungkin lo balik ke sana lagi! Gue udah bilang, kan!”

Mendengar teriakan Riggs, Kayson berputar di tumitnya dan berjalan menyusuri lorong. Stella bergegas mengikutinya. Begitu mereka masuk ke kamar, Kayson mendadak berhenti.

Kondisinya jauh lebih parah daripada bagian rumah lainnya.

Kasurnya disayat berkali-kali. Celana dalamnya berserakan di lantai. Kotak perhiasannya hancur. Pakaiannya ditarik keluar dari lemari. Sebagian disayat, sebagian dilempar ke seberang ruangan.

“Bajingan.” Suara Kayson terdengar seperti geraman serigala.

“Ya gini. Polisi cuma ninggalin semuanya kayak gini.” Riggs menggeleng sambil membungkuk mengambil celana yoga dari lantai. “Lo percaya enggak sih?”

“Iya jelas lah. Mereka bukan cleaning service. Biarkan saja semua ini. Kita beli yang baru buat dia.” Kayson menatap Stella. “Pakaian ini sudah rusak.”

Beberapa masih bisa diselamatkan, pikir Stella.

“Gue yang urus.” Kayson berjanji. “Anggap saja sudah selesai. Lo enggak perlu khawatir.”

Rasa lelah menarik tubuh Stella. “Aneh banget waktu lo bersikap baik. Itu malah bikin gue takut.”

Sudut bibir Kayson bergerak. Namun saat dia kembali memandang kamar itu, sisa-sisa kehangatan langsung lenyap.

“Kita pulang.” Kayson menggenggam tangan Stella.

Stella berusaha tidak tersentak, tidak menarik diri, atau memberi tanda bahwa sengatan panas baru saja menjalar dari ujung jarinya. Hal itu selalu terjadi ketika pria itu menyentuhnya.

“Eh, tunggu! Dia bisa tinggal sama gue!” Riggs melompat mendekat dengan wajah masam. “Gue manggil lo buat konsultasi soal masalah keamanan, bukan buat bawa Stella pulang bareng lo. Gue bisa jagain dia.”

“Gak kali ini!”

Kerutan muncul di antara alis Riggs.

“Stella.” Kayson mengangguk ke arah Stella. “Boleh gue bicara sebentar sama adik gue? Berdua saja?”

Serius?

“Lo mau gue keluar dari kamar gue sendiri supaya kalian bisa ngobrol?”

Kayson mau mengusirnya dari kamarnya sendiri?

“Iya. Itu akan membantu. Terima kasih.” Kayson menambahkan terima kasih, berusaha mengingat sopan santun.

Stella melongo sesaat. Tidak masuk akal. Dia memutar tumitnya lalu berjalan keluar.

Pintu tertutup.

Aroma lavender masih tertinggal di udara bahkan setelah Stella pergi. Kayson berdiri terpaku beberapa saat, seluruh otot tubuhnya menegang seperti batu.

Amarahnya menggelegak, berusaha keluar. Setiap kali memikirkan apa yang terjadi pada Stella, apa yang sudah dilakukan bajingan itu pada barang-barangnya, dan apa yang mungkin terjadi pada Stella seandainya dia ada di rumah saat penguntit itu masuk lagi.

Tangan Riggs mencengkeram bahunya. “Dia enggak bakal pulang bareng lo. Makasih udah mau bantu. Gue tahu lo bisa pasang sistem keamanan terbaik di dunia cuma buat dia, tapi gue yang bakal bawa dia pulang sama gue. Gue bakal … aduh?!!”

Kayson langsung menangkap tangan adiknya. Menariknya keras. Lalu mendorong Riggs hingga tubuhnya terbentur pintu.

Terdengar dentuman keras.

“Hei!” suara Stella dari luar. “Semua baik-baik aja di situ?”

Riggs menatap Kayson dengan mata membelalak.

“Aman!” teriak Kayson. “Cuma lagi beresin sedikit urusan.” Urusan yang seharusnya sudah dibereskan sejak lama.

“Lo udah gila?” bisik Riggs. “Serius deh, gue takut hari ini bakal datang juga. Itu karena lo terus-terusan kerja tanpa jeda, tanpa hidup yang normal. Itu bukan cara hidup manusia, Kayson. Gue tahu lo bakal meledak suatu hari nanti.”

“Gue kira lo emang mau nikah sama dia.”

Mata Riggs makin melebar, hampir dua kali lipat.

“Sama siapa?”

Jangan bunuh adik sendiri.

Jangan.

“Stella.” Suara Kayson rendah, hanya untuk Riggs.

Ekspresi kaget melintas di wajah Riggs.

“Kenapa lo mikir gitu?”

“Karena kalian berdua enggak pernah pisah udah bertahun-tahun. Karena dia sering tidur di rumah lo terus-terusan. Karena lo tahu hampir semua rahasianya, dan dia tahu semua rahasia lo.” Rahang Kayson mengeras. “Gue nungguin hari di mana lo ngumumin kabar itu. Terus hari ini lo telepon gue, bilang harus ke rumah Stella secepatnya. Katanya ada hal penting yang mau lo omongin.”

Kayson hampir kehilangan akal.

Kenapa?

Karena dia menginginkan Stella. Sejak dulu. Hanya saja dia tidak menyadari betapa dalam perasaan itu sampai dia membayangkan kalau adiknya akan mengambil Stella darinya.

“Uh, ya, kita enggak bakal nikah.” Riggs melirik tangan Kayson yang masih menekan dadanya. “Dan bisa enggak lo lepasin tangan lo dari gue?”

“Jadi lo cuma bakal terus main-main sama dia?” Kayson menggeleng. Dengan tangan yang bebas, dia mengunci pintu. “Mulai sekarang. Aturannya berubah!”

Mulut Riggs terbuka. Tertutup. Terbuka lagi. Dia tampak seperti ikan yang kehabisan air. Lalu akhirnya dia bergumam pelan, “Gue? Astaga itu enggak pernah terjadi.”

Suaranya begitu lirih sampai Kayson hampir tidak mendengarnya.

“Apa?”

“Gue … gue enggak tahu lo dapet wangsit dari mana, tapi gue sama Stella … kita enggak pernah ngapa-ngapain, serius, sueeer. Dia tuh sahabat gue.”

Detak jantung Kayson terdengar keras di telinganya sendiri.

Terlalu keras.

“Tapi dia itu udah jadi yang pertama buat lo, Riggs!”

“Apa-apaan sih?” Suara Riggs tidak lagi pelan. Dia berteriak.

Terdengar langkah kaki Stella berlari mendekati pintu yang tertutup. “Ada apa di dalam sana?”

“Kakak gue lagi gila, nih! Dan ngaco!” teriak Riggs.

Tidak, dia tidak gila. Kayson hanya muak untuk selalu diam dan tidak mengambil apa yang diinginkannya. Jika dia tidak bertindak, dia akan kehilangan Stella.

“Dia dalam bahaya,” balas Kayson. “Lo tahu itu, kalau enggak, lo enggak bakal nelpon gue. Gue bisa melindungi dia dengan cara yang enggak akan pernah bisa lo lakukan. Kalau ada orang bodoh ngikutin dia, kalau dia punya penguntit, gue bakal menghilangkan ancamannya. Dia butuh gue sekarang. Gue, bukan lo!"

Riggs tidak bisa memperbaiki masalah Stella, tapi Kayson bisa. Jadi dia akan melakukannya.

Wajah Riggs menunjukkan frustrasinya. “Dia bahkan enggak suka sama lo!”

Situasi yang menyedihkan, dan semoga bisa Kayson perbaiki.

“Gue bisa menjaga dia tetap aman. Rumah gue kayak Fort Knox, dan lo tahu itu. Sampai kita tahu pasti apa yang kita hadapi, dia harus bareng gue.”

Riggs menatap matanya.

Pintu di belakangnya bergetar.

“Lo ngunci pintunya?” tuntut Stella. “Lo ngunci gue di luar kamar gue sendiri?”

“Jangan sakitin dia,” gumam Riggs.

“Enggak bakal pernah.”

Riggs menahan tatapannya beberapa detik lagi, lalu akhirnya mengangguk.

Kayson melepaskan tangannya dan mundur selangkah.

Riggs mulai bergerak maju, tapi pada saat yang sama, pintu terdorong di punggungnya, dan dia tersungkur gara-gara pintu terbuka.

“Apa sih yang sebenarnya terjadi?” kejut Stella.

1
Rita
like seru tegang
DityaR: Maacii kak
total 1 replies
Rita
bagus biarpun awal2 bingung ma obrolan nya ceritanya seru tebak2an siapa penjahaty semangat terus
Rita
sdh g sabar nervous
Rita
hhhmmmmmmm👀
Rita
😂😂😂😂saking kuaty
Rita
tegang,trauma,kecewa,sedih takut jadi satu kmu sdh bener
Rita
buruan mumpung lengah
Rita
seru g diduga
Rita
nah lho👀👀👀👀
Rita
😂😂😂😂
Rita
ini diluar pengamanan 🥰🥰🥰
Rita
👍👍👍👍👍👍bener
Rita
Mudah2n beneran selesai
DityaR: pembunuhnya aja belum ketemu, selesai gimana wkwkwk
total 1 replies
Rita
akhirnya
Rita
bikin deg2an Kayson
Rita
nikahin lah
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhmmm bnr2 sdh selesai blm?
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!