Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Teman Sekamar
Mobil itu benar-benar hilang di tikungan jalan kecil yang diteduhi pohon-pohon tinggi. Debu tipis yang terangkat perlahan turun kembali ke tanah. Sunyi.
Hanin masih berdiri di tempatnya beberapa detik, seperti berharap mobil itu akan mundur lagi, pintunya terbuka, dan Abi berkata, “Sudah, pulang saja.”
Tapi tidak ada yang terjadi.
“Sudah, Nak.”
Suara lembut itu membuat Hanin menoleh. Ustaz Hamid berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tetap teduh.
“Masuklah. Biar saya panggilkan santri untuk mengantar.”
Hanin mengangguk pelan. Ia mengusap air mata dengan ujung jilbabnya. Malu jika terlihat terlalu lemah di hari pertama.
Tak lama, seorang santri perempuan mendekat. Usianya mungkin tak jauh berbeda dari Hanin. Tubuhnya ramping, wajahnya bersih tanpa riasan, kerudung lebarnya menjuntai rapi sampai dada.
“Ini Aisyah,” kata Ustaz Hamid. “Tolong antar Hanin ke asrama putri. Kamar lantai dua, ya.”
“Iya, Ustaz,” jawab gadis itu sigap.
Hanin menunduk hormat lagi. “Terima kasih, Ustaz.”
“Selamat memulai lembaran baru,” ucap beliau singkat.
Kalimat itu kembali membuat dada Hanin bergetar. Lembaran baru. Ia berharap benar-benar bisa begitu.
Aisyah tersenyum kecil. “Ayo, ikut saya.”
Hanin meraih gagang koper. Roda kopernya berdecit pelan saat diseret melewati halaman yang luas. Beberapa santri melirik sekilas, lalu kembali ke kegiatan masing-masing. Ada yang menyapu halaman, ada yang duduk melingkar membaca kitab, ada pula yang berjalan cepat sambil membawa buku.
Udara desa terasa berbeda. Lebih bersih. Lebih dingin. Tapi juga membuatnya merasa kecil.
“Asramanya di belakang bangunan utama,” jelas Aisyah sambil berjalan di sampingnya. “Yang ini aula. Kalau itu ruang makan. Nanti kamu akan hafal sendiri.”
Hanin hanya mengangguk. Suaranya masih terasa tertahan di tenggorokan.
“Kamu pindahan dari mana?” tanya Aisyah ramah.
“Dari kota kecil,” jawab Hanin singkat.
“Oh.” Aisyah tersenyum lagi. “Biasanya yang dari kota butuh waktu buat adaptasi. Tapi tenang saja. Di sini semua saling bantu.”
Kalimat sederhana itu sedikit menghangatkan hati Hanin.
Mereka tiba di depan bangunan dua lantai bercat putih dengan jendela-jendela besar. Di terasnya tergantung papan kayu bertuliskan: Asrama Putri An-Nur.
Hanin menarik napas pelan. Inilah tempatnya.
Aisyah membantu mengangkat koper ke tangga. “Kamar kamu di lantai dua, ujung.”
Tangga kayu itu berderit setiap kali diinjak. Bau kayu dan sabun cuci menyeruak samar-samar. Di lorong lantai dua, beberapa pintu kamar terbuka. Terdengar suara santri mengobrol pelan, ada juga yang sedang mengulang hafalan.
“Ini kamarnya,” kata Aisyah berhenti di depan pintu cokelat muda.
Ia mengetuk pelan. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Masuk saja,” terdengar suara perempuan dari dalam.
Aisyah membuka pintu, lalu menoleh ke Hanin. “Silakan.”
Hanin melangkah masuk sambil menyeret koper. Kamar itu tak terlalu besar, tapi bersih dan terang. Ada dua tempat tidur kayu sederhana dengan seprai warna biru muda. Di antara keduanya terdapat meja kecil. Lemari pakaian berdiri di sudut. Di dekat jendela, ada rak buku yang sudah terisi beberapa kitab dan novel tipis.
Seorang gadis berdiri dari duduknya di atas sajadah. Kerudungnya putih bersih, wajahnya teduh, dengan senyum yang langsung terasa tulus.
“Kamu Hanin, ya?” tanyanya.
Hanin sedikit terkejut. “Iya.”
“Aku Ghania.”
Namanya terdengar lembut. Ghania.
Aisyah tersenyum. “Nah, sudah lengkap. Aku tinggal dulu, ya. Kalau butuh apa-apa, kamar aku di seberang.”
“Terima kasih,” ucap Hanin pelan.
“Iya, sama-sama.”
Pintu tertutup. Kini hanya mereka berdua.
Hanin berdiri canggung dengan koper di sampingnya. Ia tak tahu harus berkata apa.
Ghania melangkah mendekat dengan langkah ringan. “Tenang saja. Waktu pertama datang ke sini, aku juga bingung mau ngomong apa.”
Nada suaranya santai, tidak menghakimi.
“Aku boleh panggil kamu Hanin, kan?” lanjutnya.
“Iya, boleh.”
“Kita sekamar berdua saja. Jadi nggak terlalu ramai. Enak buat belajar.”
Hanin mengangguk pelan. Ia memperhatikan wajah Ghania lebih jelas. Cantik, tapi bukan tipe yang mencolok. Ada ketenangan di sorot matanya.
“Koper kamu taruh sini saja,” kata Ghania sambil menunjuk ruang kosong di dekat tempat tidur yang masih rapi tanpa barang. “Itu tempat tidur kamu.”
Hanin mendorong koper ke sana. Tangannya masih terasa sedikit gemetar, tapi tak separah tadi.
“Terima kasih,” ucapnya lagi.
Ghania tersenyum kecil. “Kamu nggak perlu formal banget. Santai saja. Kita teman sekamar.”
Teman. Kata itu terasa asing sekaligus menenangkan.
Hanin duduk perlahan di tepi tempat tidur. Ia menatap sekeliling kamar sekali lagi. Semuanya tampak sederhana, tapi rapi.
“Kamu sudah tahu jadwal kegiatan di sini?” tanya Ghania.
“Belum terlalu.”
“Nanti aku jelaskan. Pagi setelah Subuh ada setoran hafalan. Siang kita kadang mengajar. Sore ngaji lagi. Malam biasanya murajaah atau kajian.”
Padat. Hanin menelan ludah. Mungkin ini yang ia butuhkan. Kesibukan yang membuatnya tak sempat memikirkan hal lain.
Beberapa detik hening. Ghania memperhatikan wajah Hanin yang masih sembap.
“Kamu habis nangis, ya?” tanyanya pelan, tanpa nada ingin tahu yang berlebihan.
Hanin spontan menunduk. “Sedikit.”
“Wajar.” Ghania duduk di kursinya, menghadap Hanin. “Berpisah dari orang tua memang nggak mudah.”
Hanin mengangguk, tapi ia tahu bukan hanya itu alasannya.
Ghania tidak memaksa bertanya lebih jauh. Ia hanya berkata, “Kalau kamu butuh waktu sendiri, nggak apa-apa. Tapi kalau mau cerita juga boleh. Aku pendengar yang lumayan baik.”
Ada nada bercanda tipis di akhir kalimatnya.
Hanin tanpa sadar tersenyum tipis. Senyum pertamanya sejak pagi.
“Makasih.”
Ghania berdiri lagi. “Sekarang kamu beres-beres dulu saja. Nanti sebelum Dzuhur biasanya kita kumpul di aula untuk perkenalan santri baru.”
“Oh.”
“Iya. Nggak banyak kok. Cuma biar saling kenal.”
Hanin membuka koper perlahan. Ia mulai mengeluarkan pakaian, melipatnya lagi dan memasukkannya ke lemari kayu yang kosong separuh. Setiap kali mengeluarkan baju, ia teringat kamar lamanya. Lemari jati besar. Cermin panjang. Meja belajar di sudut.
Sekarang semuanya berbeda.
“Kalau lemari kurang, kita bisa atur bareng,” kata Ghania dari belakangnya.
“Cukup kok.”
Ghania mendekat dan membantu menyusun beberapa buku di rak. “Kamu suka baca?”
“Lumayan.”
“Nanti kita bisa tukeran buku. Aku punya beberapa novel juga. Tapi jangan bilang ke santri lain, nanti mereka pinjam nggak balik-balik.” Ia terkekeh pelan.
Hanin kembali tersenyum. Ada kehangatan yang pelan-pelan mencairkan kekakuan di dadanya.
“Kamu sudah lama di sini?” tanya Hanin akhirnya.
“Sejak kecil.”
“Hah?”
Ghania tertawa kecil melihat ekspresi kaget Hanin. “Iya. Aku anaknya Abah.”
“Abah?”
“Ustaz Hamid.”
Hanin terdiam sesaat. “Oh.”
Pantas saja kamar ini hanya berdua dan terasa lebih tenang.
“Tapi jangan khawatir,” lanjut Ghania cepat. “Di sini aku sama saja seperti santri lain. Kalau salah juga tetap dihukum.”
“Serius?”
“Serius. Abah paling nggak suka kalau aku merasa istimewa.”
Hanin mengangguk pelan. Entah kenapa, mengetahui bahwa Ghania adalah putri pemilik pondok justru membuatnya sedikit gugup.
“Kamu jangan jadi canggung begitu,” kata Ghania, seolah bisa membaca pikirannya. “Aku juga cuma manusia biasa.”
Hanin tersenyum kecil. “Iya.”
Hanin tampak menarik napas. Dalam hatinya berkata, inilah duniaku selama dua tahun. Pondok pesantren ini bukan hanya untuk sekolah formal, tapi juga untuk menitipkan anak agar mengetahui agama lebih dalam. Dan dia merupakan salah satu anak titipan bukan untuk sekolah formal.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??