NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Menikah

Oliver melepaskan helm fullface-nya dan menaruh di atas motor.

Cowok berseragam putih abu-abu itu langsung berlari memasuki gedung sekolah, menyusuri koridor lantai 2, gedung IPA.

"Aqqela mana? Udah berangkat, kan?" tanya Oliver mengerakkan bola mata memutari isi kelas.

Seluruh perhatian anak 11 IPA 1 teralihkan padanya. Agak merinding melihat badboy nomor satu sekolah muncul di kelas mereka.

"Belum sih, Oliv. Kayaknya masih di jalan," jawab Jolina yang lagi menyapu.

"Ck, nggak mungkin. Ini udah mau jam 7. Dia nggak biasanya se-telat ini," gumamnya cemas.

"Atau di ruang OSIS kali, ya? Biasanya dia suka ke sana du-"

"Oh, oke. Makasih! Kalau dia udah datang, langsung kasih tau gue, Jo!" potong Oliver cepat sambil berlari pergi.

Oliver tampak gelisah saat menuruni tangga menuju ke ruang OSIS yang ada di dekat gedung pramuka.

Brakk!!

Anak OSIS di dalam sana terkejut setengah mati saat pintu di buka oleh Oliver.

"Kak Oliver cari siapa?" Fabian memberanikan diri bertanya.

"Aqqela di sini, kan?"

"Enggak. Kak Aqqela belum ke sini dari tadi."

Bahu Oliver langsung melemas dengan hembusan napas kasar.

"Oh gitu... thanks, ya!" katanya dan berbalik pergi dengan langkah berat.

Oliver menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya frustasi.

"Kamu dimana sih sebenarnya?" ucapnya serak sambil memegang kawat pagar pembatas lapangan.

"OLIV!"

Oliver mendecak dan menoleh ke lapangan melihat anggota Xlovenos sedang bermain basket di sana.

"APA?" balasnya mengamuk.

Mood Oliver lagi ambruk sekarang.

"Buset bos, nge-gas bener. Bom ya lo? Mau ikut main basket nggak?" tanya Jimmy.

"Nggak," balas Oliver dan melangkah pergi.

Para anggota Xlovenos memandangi itu dengan ekspresi kebingungan.

"Si Oliver kenapa, dah? Galau bener mukanya."

"Kan nyariin ceweknya dari kemarin. Belum ketemu kali, makanya sedih."

"Emang Oliver beneran suka Aqqela?"

***

Oliver menaiki tangga hendak menuju kelasnya, tapi dia berhenti sebentar saat seorang siswi berpapasan dengannya di tangga.

Mereka bertatapan sebentar, sebelum akhirnya Oliver memutus kontak mata lebih dulu dan meneruskan langkah lagi.

"Oliver, aku mau ngomong," kata Vicky tegas sambil menahan lengannya.

Oliver mendesah dan menepisnya kasar, "Gue sibuk."

"Kapan taruhannya mau selesai? Aku udah capek."

Ekspresi wajah Oliver langsung memucat.

"Aku denger dari Jolina katanya kamu nyariin Aqqela ke kelas, iya? Maksud kamu apa? Kamu nggak bener-bener suka dia, kan?" tanya Vicky.

Rahang Oliver mengeras, "Jangan bahas di sini! Gue nggak mau ada orang lain denger."

"Oliv, kamu lupa pacar kamu yang sebenarnya siapa? Aku. Kamu pikir nggak sakit lihat pacar aku mesra-mesraan sama sahabat aku terus? Kamu juga udah lama nggak hubungin aku, maksud kamu apa?"

"Elo udah setuju waktu itu," balasnya tak mau kalah.

"Aku setuju karena tujuan taruhan kamu buat balas dendam ke Aqqela doang. Kamu marah karena papanya bikin mama kamu di penjara.

Makanya aku mau."

Dari awal hubungan mereka memang backstreet, sehingga baik Aqqela dan Jolina tidak ada yang tau.

Tapi satu Minggu setelah hubungan itu, Oliver justru meminta izin untuk pacaran dengan Aqqela dalam misi balas dendamnya.

"Kamu udah menangin taruhannya, kan?

Taruhan kamu sama anggota Xlovenos? Sekarang udah waktunya kamu berhenti dan balik sama aku!"

Oliver menghembuskan napas kasar dan menaiki tangga lagi dengan tidak peduli.

"Oliver, aku belum selesai ngomong. Kamu beneran sayang sama Aqqela? Oliv, kamu gila? Terus aku gim-"

"YA UDAH, PUTUS!" bentak Oliver marah, membuat Vicky membekap mulutnya kaget dengan mata memerah.

Oliver mendesah berat, menekan pipi dalamnya dengan lidah.

"Sorry! Gue nggak mau bohong lagi. Gue ngaku, gue udah kalah di sini. Gue beneran sayang banget sama Aqqela sekarang," kata Oliver sambil beranjak pergi menaiki tangga.

Meninggalkan Vicky yang menangis terisak, dengan perasaan tertohok.

***

Aqqela sejak tadi di landa kebingungan hebat.

Pertama, dirinya di bawa ke salon dan di make up sedemikian rupa.

Kedua, dia di suruh memakai kebaya putih, khas seorang pengantin.

Sungguh, pikiran Aqqela sudah bergerak kemana-mana. Awalnya dia mikir di suruh foto jadi model atau apalah, tapi masa bajunya begini?

"Please deh, kalian di suruh apain gue sih sebenarnya?"

Kebingungan Aqqela kembali berlanjut saat mobil berhenti di sebuah gedung megah, dan halaman yang luas.

"Turun!"

"Bos besar sudah datang. Siapkan pengamanan!"

Suara berisik bersumber dari helikopter yang mendekat membuat kepala Aqqela terdongak sepenuhnya.

Putaran angin besar yang di sebabkan baling-baling, membuat mata Aqqela sampai menyipit saat debu dan pasir berterbangan semua.

Pintu helikopter di buka ajudan berseragam rapi, menyilakan bos besar mereka turun, di susul sosok tampan yang jauh lebih muda.

Fattah. Dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, lengkap dengan kaca matanya.

juga. "Om Tio?" Aqqela terkejut melihat pamannya

Fattah menoleh ke Aqqela. Tertegun melihat perubahan drastis penampilan cewek itu.

"Mana berkasnya?" tanya Jordan meminta, membuat Fattah mengerjap pelan.

"Ini tuan berkasnya!"

Jordan merunduk membaca ulang berkas itu,

lalu mendekat ke Aqqela yang tampak menegang.

Melihat itu, membuat Fattah segera maju.

"Aku aja yang ngomong," kata Fattah meraih berkas itu.

Jordan mengangkat alis, "Oh, ya udah silahkan!"

Fattah berdiri di depan Aqqela, masih dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.

"Tanda tangan!"

Aqqela mengerutkan kening tak paham, "Tanda tangan apa?"

gue." "Surat persetujuan, kalau lo mau nikah sama

Aqqela membelalak, "Lo gila, ya? Otak lo udah konslet apa gimana, sih? Setelah apa yang lo lakuin, lo pikir gue mau gitu nikah sama lo?"

Fattah mendelik dan menggerakkan lidah di dalam mulutnya menahan emosi.

Sialan.

"Gue juga nggak mau kali nikah sama lo," kata Fattah sewot.

"Ya terus kenapa lo suruh gue nikah sama lo?"

"Bokap gue yang nyuruh," jawab Fattah menahan kesal.

"Nggak, gue nggak mau nikah sama lo. Apa-apaan coba?" tanyanya naik pitam.

Fattah menghembuskan napas jengkel. Agak tersinggung sebenarnya.

"Pi, nggak ada cara lain selain harus nikahin Aqqela? Dia aja nggak mau," adunya.

"Nggak ada." Jordan menggeleng.

Fattah menatap Aqqela kesal, "Nurut aja! Tanda tangan dan nikah sama gue."

"Gue nggak mau. Nggak usah bikin marah-marah gue terus ya," kata Aqqela hampir menendangnya kalau ajudan tidak menahan-nahannya panik.

Fattah melengos dan memandang Aqqela kesal, "Cepetan tanda tangan! Ribet lo."

"Udah gue bilang nggak mau, ya nggak mau. Apaan sih kok lo jadi kayak om-om mesum maksa gue kawin sama lo gini?" omelnya kasar.

Fattah ternganga, "Ck, ini buat-"

"Gue udah punya pacar," kata Aqqela tegas membuat Fattah diam.

"Dan gue sayang sama Oliver. Gue nggak mau dia kecewa kalau tau soal ini," katanya serius.

Fattah menatapnya tajam, "Gue nggak akan suruh lo putus dari dia. Lo pikir gue suka sama lo apa?"

Aqqela tersenyum sinis, "Gue tau lo emang iblis. Tapi gue nggak nyangka lo akan sejauh ini. Apa tujuan lo yang sebenarnya? Gue tau lo lagi main-main sekarang."

Fattah menekan pipi dalamnya dengan lidah, berusaha tenang, "Nikah sama gue! Seenggaknya sampai lo cukup dewasa buat bisa hidup mandiri," katanya tegas.

Mata Aqqela melebar sepenuhnya, menatap Fattah tercengang. Dia menelan ludah samar, sedikit mengerti tujuan Fattah.

Karena Fattah tau dirinya sebatang kara sekarang. Dia berniat merawat Aqqela. Begitu, kan?

Entah apa yang salah, tapi air mata Aqqela mendesak untuk keluar tanpa di minta.

Perasaannya terasa lebih berat.

"Sorry, tapi gue tetep nggak bisa," balas Aqqela sambil menghapus bulir yang jatuh di pipinya, "Gue cuma pengen pulang. Gue pengen ketemu Oliver. Dia pasti nyariin gue sekarang. Dia bakalan marah kalau tau ini."

Fattah mengalihkan wajah, merasa tenggorokanya tercekat.

"Lepasin dia!" suruhnya pada ajudan, membuat mereka melepaskan tangan Aqqela.

Alis Jordan terangkat sebelah, menatap aneh putranya itu.

Aqqela memandang Fattah agak kaget. Tapi seulas senyum getir terbit dari bibirnya.

"Makasih, ya!" katanya dengan mata berkaca dan berbalik badan cepat ingin pergi.

"Tapi gue nggak janji buat nggak bongkar semua kebusukan bokap lo selama ini," ujar Fattah tajam.

Aqqela berhenti melangkah. Tubuh gadis itu membeku.

"A-apa?"

Dia berbalik badan, menatap Fattah tercengang.

Fattah menarik smirk samar, mengangkat dokumen di tangannya.

"Di sini, nggak cuma satu. Ada banyak kasus yang berhasil dia manipulasi," katanya datar.

"Dan lo tau, dia pernah kasih vonis hukuman mati ke orang nggak bersalah."

Aqqela membelalak kaget sambil membekap mulutnya syok.

"Lo nggak mau kan, bokap lo di cap sebagai penjahat, bahkan saat dia udah nggak ada?"

Tangis Aqqela seketika tumpah di sana.

Tubuhnya gemetar, dadanya sesak ketika mengetahui ayah yang selalu dia puja, ternyata bukan orang baik seperti yang dia pikirkan sebelumnya.

Ya Tuhan, Aqqela harus apa? Gimana ini?

***

Keduanya duduk di depan penghulu yang akan menikahkan mereka.

Tio sebagai pihak wali dari Aqqela juga sudah siap di sana mengenakan baju batiknya.

Menatap tidak tega keponakan yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan kosong.

"Bagaimana? Sudah siap semuanya?" tanya penghulu.

Fattah melirik dan mendelik saat Aqqela malah melamun. Cowok itu segera menyenggolnya membuat Aqqela terkejut.

"Apa sih lo?"

"Udah siap belum? Di tanyain tuh," kata Fattah kesal.

Aqqela mengalihkan wajah, "Terserah," katanya singkat.

"Apaan sih, pundungan banget. Jadi nikah, nggak?" omel Fattah.

Aqqela menatap Fattah sengit, "Gue nggak setuju juga tetep lo paksa, kan? Ngapain masih nanya-nanya?"

Fattah mengangkat alis, menatapnya cuek.

Penghulu mengulum bibir, "Mohon maaf pak Jordan, mereka ini di jodohkan, ya?"

"Oh, enggak. Mereka saling mencintai. Tapi suka ribut gini memang," balas Jordan tersenyum maklum.

"Penipu." Aqqela menghardik pelan.

"Nggak usah sok cantik! Gue juga nggak suka sama lo," ketus Fattah membuat Aqqela meliriknya tajam.

"Baik. Bisa kita mulai?"

Aqqela menghembuskan napas berat. Melirik tangan Fattah yang mulai menjabat tangan penghulu. Dia menggigit bibir, mulai cemas sendiri.

"Saudara Fattah Andara Fernandez, saya nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan Aqqela Calista binti Donny Michael dengan mas kawin uang sebesar sepuluh juta rupiah di bayar tunai."

Fattah melirik Aqqela, lalu memandang penghulu lagi.

"Saya terima nikah dan kawinnya, Aqqela Calista binti Donny Michael dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai!"

"Bagaimana saksi? Sah?"

"SAH!!"

Pembacaan do'a mulai di lakukan, dengan helaan napas pelan keluar dari hidung gadis itu.

Mata Aqqela sendiri kembali memerah, mengingat takdir yang mungkin akan mempermainkannya setelah ini.

"Aqqela, ayo cium tangannya Fattah! Kan udah sah suami istri sekarang," suruh Jordan membuat Aqqela menatap pria itu bingung.

"Nggak usah-"

"Heh, nggak usah gimana? Ayo cepetan, biar om fotoin!" omel Jordan membuat Aqqela agak ternganga saat pria itu mengangkat HP.

"Ck, buruan! Gue capek mau pulang," suruh Fattah menjulurkan tangannya membuat Aqqela dengan kesal meraihnya dan mencium punggung tangannya.

"Yang ikhlas!" gerutu Fattah membuat Aqqela memandangnya sinis.

"Ka, cium kening Aqqela, yang kayak di fotonya mami sama papi dulu!" kata Jordan membuat gantian Fattah yang mendelik.

"Apaan, sih? Ogah."

"Buruan!" kata Jordan.

Tio sendiri malah ternganga heran, tidak menyangka monster gila itu bisa jadi se-aneh ini.

"Pih, apaan sih? Fattah nggak mau."

Fattah mendecak saat kepalanya di dorong-dorong papanya agar maju, sementara Aqqela sudah meronta tidak mau di cium, tetapi para ajudan sodor-sodorin dia ke arah Fattah.

CUP!!!

Mata keduanya kompak memejam rapat, saat ciuman dari bibir Fattah berhasil mendarat di kening Aqqela, membuat para ajudan bersorak.

Anjing!

Aqqela segera mengusap-usap kasar keningnya dengan perasaan kesal luar biasa.

Tidak berbeda jauh dengan Fattah yang mengusap-usap bibirnya dan menatap Aqqela sengit.

"Lo kenapa maju, sih?" omel Fattah.

"Nggak lihat gue di dorong? Elo juga kenapa cium-cium gitu?"

"Gue di dorong juga ya," balas Fattah tak terima.

***

Di salah satu club di Jakarta Pusat, anak-anak XLOVENOS hanya bisa menghela napas pelan, melihat ketua mereka-Oliver Glenn Roberts terus menerus meneguk birnya dengan wajah putus asa.

Walaupun Oliver kuat minum, tetapi teman-temannya tetap tidak tega juga melihatnya.

"Oliv, udah anjir! Elo udah minum kebanyakan," omel Jimmy berusaha menjauhkan botol dari Oliver.

"Gue masih mau minum," kata Oliver serak.

"Elo udah teler goblok."

"Elo segitu frustasinya Aqqela pergi? Emang lo beneran suka? Bukannya lo cuma mau main-main dari awal?"

Oliver menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memejamkan mata.

Tanpa terasa, ada air mata menetes ke pipinya, membuat Jimmy dan lainnya diam, menyadari jika Oliver memang tak baik-baik saja sekarang.

"Kamu dimana sih, Qell? Aku harus cari kamu kemana lagi?" gumamnya serak dan lirih.

Oliver bahkan datang ke kos Aqqela setelah mendapatkan info dari anak XLOVENOS yang lain.

Tapi Aqqela tidak ada di sana.

"Bisa jadi dia ikut om sama tantenya ke Kalimantan, kan?"

Oliver menggeleng, "Nggak mungkin. Dia bahkan nggak bilang apa-apa," katanya pelan.

"Coba lo chat atau telpon!"

"Kalau emang bisa gue telpon, gue nggak akan se-panik ini anjing," katanya emosi membuat mereka mingkem.

Oliver mendesah berat. Tangannya terulur melihat ponsel. Kelopak mata Oliver menyendu, memandang layar wallpaper yang menampilkan foto selfie dirinya dan Aqqela.

Di foto itu, mereka saling menempelkan pipi dan meringis lucu ke kamera.

Hanya Aqqela yang bisa membuat Oliver seceria itu di kamera.

Oliver tersenyum getir, "Aku kangen banget sama kamu!"

Jimmy menipiskan bibir, memilih merogoh HP-nya. Tapi matanya melebar saat melihat sesuatu di HP-nya.

"Brengsek!" umpat Jimmy dengan rahang mengeras.

Oliver menoleh, "Kenapa?"

"Kalian lihat ini!" Jimmy mengangkat HP-nya, membuat anak XLOVENOS jadi merapat, "Anak-anak Levian bakar logo geng motor kita. Sengaja banget mau cari ribut."

Oliver menegak dan mengeraskan rahang tak senang.

"Siapin anggota! Kita langsung ke Jakarta Selatan besok siang. Kita serang sekolah mereka."

Para anggotanya langsung mengangguk patuh.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!