Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan yang Tak Terlupakan
Dua tahun telah berlalu sejak Rizky berhasil melewati godaan Vina di Surabaya. Hidup berjalan dengan ritme yang tenang dan bahagia. Rakha kecil kini berusia 2,5 tahun, aktif dan lucu, sangat mirip dengan Rizky. Kirana sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, tumbuh menjadi remaja yang cantik dan pintar.
Dian tetap menjadi istri dan ibu yang luar biasa. Ia mampu membagi waktu antara mengurus anak-anak, mendukung karir Rizky, dan tetap menjaga kehangatan rumah tangga. Rizky tak henti-hentinya bersyukur memiliki Dian.
Di Balikpapan, Ima juga menjalani hidupnya dengan bahagia bersama Firman. Aisyah kini berusia 7 tahun, sudah masuk SD. Firman adalah ayah yang baik bagi Aisyah, dan hubungan mereka semakin erat setiap hari.
Wira dan Laras juga baik-baik saja. Rakha, putra sulung Wira, kini duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia tumbuh menjadi remaja yang tampan dan berprestasi. Adik perempuannya, Kirana kecil (yang dinamai sesuai sahabat mereka), sudah berusia 4 tahun dan sangat lucu.
Semua tampak sempurna. Hingga suatu hari, sebuah undangan datang mengagetkan mereka semua.
---
Rizky menerima undangan itu melalui pos. Amplop putih sederhana, dengan tulisan tangan yang elegan. Ia membukanya di ruang tamu, ditemani Dian yang sedang menyuapi Rakha.
Isinya singkat:
"Kepada Bapak Rizky Pratama dan Keluarga,
Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir dalam acara Syukuran 10 Tahun Berdirinya Yayasan Pendidikan Al-Hidayah yang akan diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 15 Oktober 2023
Waktu: 09.00 WITA - selesai
Tempat: Pondok Pesantren Al-Hidayah, Balikpapan
Acara ini juga akan menjadi momen silaturahmi dan temu kangen para pendiri, pengurus, serta sahabat yayasan.
Kami sangat berharap kehadiran Bapak/Ibu untuk memeriahkan acara ini.
Hormat kami,
Ima Nurjanah, S.Pd.
Ketua Yayasan Pendidikan Al-Hidayah"
Rizky membaca undangan itu berulang kali. Perasaannya campur aduk. Ima. Namanya kembali muncul, sepuluh tahun setelah semua kekacauan itu.
Dian melihat ekspresi suaminya. "Dari siapa, Sayang?"
Rizky menyerahkan undangan itu. Dian membacanya dengan saksama.
"Wah, Ima. Dia mau mengadakan syukuran sepuluh tahun yayasannya." Dian tersenyum. "Kamu mau datang?"
Rizky menghela napas. "Aku nggak tahu, Sha. Mungkin... aneh?"
"Aneh kenapa? Dia teman lama. Kalau aku nggak salah, kamu masih punya hubungan baik sama dia, kan?"
"Iya. Tapi..."
"Tapi apa?" Dian meraih tangannya. "Rizky, masa lalu udah lama berlalu. Sekarang kalian sama-sama punya keluarga. Nggak ada salahnya datang, silaturahmi."
Rizky memandang istrinya. Dian selalu begitu—bijaksana, dewasa, dan penuh pengertian.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Malah kita semua bisa datang. Aku, kamu, Kirana, Rakha. Jadi liburan keluarga sekalian."
Rizky tersenyum. Ia memeluk Dian. "Makasih, Sayang."
---
Di Balikpapan, Ima sibuk mempersiapkan acara syukuran. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dari sebuah pesantren kecil dengan sepuluh santri, kini Al-Hidayah memiliki tiga cabang dengan ratusan santri.
Firman membantu persiapan dengan antusias. Ia bangga pada istrinya.
"Umi, undangan buat Rizky udah dikirim?" tanya Firman suatu malam.
Ima mengangguk. "Udah. Tapi Umi nggak tahu dia akan datang atau nggak."
"Kenapa ragu?"
Ima diam sejenak. "Kita punya sejarah, Bi"
Firman meraih tangannya. "Abi tahu. Tapi itu dulu. Sekarang kalian sama-sama punya keluarga. Abi yakin dia akan datang, dan kalian bisa bertemu sebagai teman lama."
Ima tersenyum. "Makasih, Abi. Kamu selalu ngertiin Umi"
---
Hari acara tiba. Rizky dan keluarga tiba di Balikpapan sehari sebelumnya. Mereka menginap di hotel dekat pesantren. Kirana excited bisa liburan, Rakha senang melihat pemandangan baru.
Pagi harinya, mereka bersiap menuju pesantren. Dian memilihkan baju untuk Rizky—kemeja batik lengan panjang, celana bahan, tampak rapi dan santun.
"Gimana penampilanku?" tanya Rizky.
Dian tersenyum. "Tampan. Aku yakin Ima akan seneng lihat kamu bahagia."
Mereka berangkat. Sesampainya di pesantren, acara sudah dimulai. Tenda-tenda putih berjajar di halaman, dihiasi balon dan bunga. Ratusan tamu memadati lokasi.
Rizky melihat Ima dari kejauhan. Ia berdiri di atas panggung, menyampaikan sambutan dengan mikrofon. Ia tampak anggun dalam balutan gamis warna ungu dan hijab senada. Firman di sampingnya, sesekali tersenyum padanya.
Mata Ima mengitari kerumunan. Lalu bertemu dengan mata Rizky.
Untuk sesaat, mereka saling memandang. Lalu Ima tersenyum—senyum tulus, hangat, tanpa beban. Rizky membalas senyum itu.
Acara berlangsung meriah. Ada pemotongan tumpeng, penampilan hadroh dari para santri, dan berbagai hiburan lainnya. Setelah sambutan selesai, Ima turun dari panggung dan menghampiri Rizky.
"Rizky! Dian!" serunya bahagia. "Makasih udah datang."
Dian memeluknya. "Selamat ya, Ma. Sepuluh tahun, luar biasa."
Ima terharu. "Makasih, Sha. Nggak nyangka kalian semua datang."
Mereka mengobrol hangat. Firman bergabung, memperkenalkan diri pada Dian dan anak-anak. Kirana dan Rakha langsung akrab dengan Aisyah yang seumuran.
---
Di sore hari, saat acara sudah usai, Ima mengajak Rizky berkeliling pesantren. Bukan untuk nostalgia, tapi untuk menunjukkan perkembangan yayasannya.
"Ini gedung baru buat asrama putri. Dibangun dua tahun lalu," jelas Ima.
Rizky mengamati dengan kagum. "Keren, Ma. Kamy bener-bener berhasil."
"Ini semua berkat banyak orang. Termasuk doa kamu"
Rizky tersenyum. Mereka berjalan ke taman kecil di belakang pesantren. Di sana ada bangku taman sederhana di bawah pohon rindang.
"Duduk sebentar?" ajak Ima.
Rizky mengangguk. Mereka duduk, menjaga jarak sopan.
"Rizky, Ima mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
"Ini mungkin terakhir kalinya kita ketemu." Ima menatapnya. "Bukan karena ada apa-apa, tapi Ima rasa, kita udah di titik di mana masing-masing punya kehidupan sendiri."
Rizky mengangguk. "Iya. Aku juga ngerasa gitu."
"Ima seneng lihat lo bahagia sama Dian. Dia perempuan baik."
"Kamu juga sama Firman. Dia laki-laki baik."
Mereka diam sejenak. Angin berhembus pelan, membawa dedaunan kering berterbangan.
"Rizky, Ima mau minta maaf sekali lagi."
"Udah, Ima. Nggak usah."
"Tapi Ima perlu. Buat penutup." Ima meraih tangannya, sebentar saja. "Makasih udah pernah jadi bagian hidup Ima. Makasih udah ngajarin Ima arti cinta. Maaf kalau Ima banyak salah."
Rizky menggenggam tangannya balik, lalu melepas. "Aku juga minta maaf, Ima. Buat semuanya. Tapi gue bersyukur pernah kenal kamu. Dari kamu, aku belajar banyak hal."
Ima tersenyum. Air matanya jatuh. "Ima ikhlas, Rizky. Ikhlas banget."
Rizky mengusap air matanya sendiri. "Aku juga."
Mereka berpelukan—pelukan terakhir, pelukan perpisahan. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai dua insan yang pernah melewati api bersama dan kini berdamai dengan masa lalu.
---
Dari kejauhan, Dian dan Firman memandang. Mereka tersenyum, tahu bahwa ini adalah momen yang diperlukan kedua orang itu.
"Kamu nggak cemburu?" tanya Firman pada Dian.
Dian menggeleng. "Nggak. Justru aku ikut lega. Mereka butuh penutupan."
Firman mengangguk. "Iya. Ima juga. Dia sering cerita tentang masa lalunya. Mungkin ini saatnya dia benar-benar move on."
---
Malam harinya, di hotel, Rizky duduk di balkon. Dian menghampiri, membawa dua cangkir cokelat panas.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Dian.
Rizky mengangguk. "Lebih dari baik. Aku lega, Sayang."
"Lega?"
"Iya. Akhirnya aku bisa benar-benar melepaskan Ima. Bukan dengan benci, tapi dengan damai."
Dian memeluknya. "Aku bangga sama kamu."
Rizky mengecup puncak kepalanya. "Makasih udah selalu dukung aku."
Mereka berpelukan di bawah langit malam Balikpapan. Di kamar sebelah, Kirana dan Rakha tidur nyenyak setelah seharian bermain.
---
Keesokan harinya, mereka kembali ke Jakarta. Di pesawat, Rizky memandangi foto-foto yang ia ambil di acara itu. Ada foto bersama Ima dan Firman, foto anak-anak bermain, foto pesantren yang indah.
Ia menyadari sesuatu: masa lalu tak perlu dilupakan, tapi juga tak perlu diingat dengan sakit. Cukup disimpan sebagai kenangan, sebagai pelajaran, sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih baik.
Ponselnya berdering. Pesan dari Ima.
"Rizky, selamat jalan. Makasih buat semuanya. Ima akan selalu doain kamu dan keluarga. Semoga bahagia selalu."
Rizky membalas: "Makasih, Ima. aku juga doain kamu. Semoga pesantrennya makin maju, keluarga makin bahagia. Selamat tinggal, Ima."
Ia mematikan ponsel. Memandangi awan di luar jendela.
Di sampingnya, Dian tertidur dengan kepala di pundaknya. Di kursi belakang, Kirana dan Rakha asyik bermain game di tablet.
Rizky tersenyum. Inilah kebahagiaannya. Sederhana, nyata, dan ada di hadapannya.
---
Di Balikpapan, Ima membaca pesan Rizky. Air matanya jatuh, tapi ia tersenyum.
"Umi baik-baik aja?" Firman bertanya dari samping.
Ima mengangguk. "Aku baik, Sayang. Malah... sangat baik."
Ia memeluk Firman. Aisyah berlari menghampiri, ikut memeluk mereka.
Ima memandangi keluarganya. Suami yang mencintainya, anak yang lucu, pesantren yang ia bangun dengan susah payah. Inilah kebahagiaannya.
Dan ia tahu, di Jakarta, Rizky juga menemukan kebahagiaannya sendiri.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun bergulat dengan masa lalu, mereka semua menemukan jalan masing-masing. Bukan sebagai kekasih, bukan sebagai musuh, tapi sebagai dua insan yang pernah saling melukai, saling memaafkan, dan akhirnya saling melepaskan dengan damai.
Karena cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang ikhlas melepaskan.